Lily mati akibat kanker usus setelah hidupnya habis hanya untuk bekerja. Begitu membuka mata, ia telah menjadi Luvya Vounwad, gadis 12 tahun yang nantinya ditakdirkan menjadi antagonis tragis dalam novel yang pernah dibacanya. Ia bertekad mengubah alur agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti nasib asli Luvya.
Namun, saat Luvya mulai bergerak mengubah nasibnya, Kael muncul sebagai anomali. Bukannya menjadi kakak angkat yang mewarisi gelar ayahnya, ia justru hadir sebagai Duke Grandwick yang berkuasa dan sangat terobsesi pada Luvya. Naskah yang ia tahu kini hancur total. Di tengah jalan cerita yang berantakan, bagaimanakah cara Luvya merubah segalanya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Rahasia yang Terkubur
Setahun telah berlalu sejak malam di mana Luvya pertama kali menginjakkan kaki di perempatan naga. Kini, tubuhnya yang sudah menginjak usia 13 tahun bergerak dengan jauh lebih lincah dan tenang. Luvya bukan lagi anak kecil yang tampak rapuh. Bahunya sedikit lebih tegap, dan wajahnya mulai menunjukkan fitur remaja yang tegas namun tetap cantik dengan aura yang misterius.
Ia telah menjadi "anak emas" di bawah tanah. Sosok yang dipercaya Desmond karena ketenangannya dan kegilaannya pada buku. Di sebuah ruangan tersembunyi yang pengap oleh bau kertas tua, Luvya menghabiskan waktu berjam-jam mempelajari literatur politik yang dilarang kerajaan.
Luvya duduk bersila, matanya menelusuri baris demi baris hukum negara Wryen. Tiba-tiba, ia mendengus geli.
"Hukuman mati hanya karena menjelekkan nama keluarga kerajaan?" gumam Luvya dengan nada tidak percaya.
Pikiran Lily di dalam tubuh Luvya langsung melayang ke dunia modern. Ia membayangkan betapa berbedanya aturan di sana. Di duniaku dulu, orang-orang bisa membuat meme sindiran tentang presiden atau keluarga pejabat setiap hari. Mereka mengedit foto, memberi teks lucu, dan menyebarkannya ke seluruh internet. Tapi apa mereka ditangkap? Tidak, mereka malah dapat banyak 'like'. Di sini? Baru satu kata sindiran keluar dari mulut saja, kepala sudah bisa menggelinding.
Namun, kekagumannya muncul saat ia membaca bab mengenai korupsi. Di Wryen, hukumannya sangat brutal: seluruh aset koruptor akan disita tanpa sisa, keluarganya kehilangan gelar, dan pelakunya diasingkan dengan cara yang paling memalukan ke wilayah perbatasan yang mematikan.
Wah, kalau soal ini, duniaku kalah jauh, batin Luvya. Di duniaku, para koruptor terkadang masih bisa tersenyum di depan kamera, memakai baju oranye seolah-olah itu tren fashion, dan tetap dipuja-puja. Di sini, kau benar-benar dihancurkan sampai ke akar-akarnya.
Luvya kemudian beralih ke buku yang lebih tebal: Ensiklopedi Fauna dan Botani Sihir. Ia terpaku pada bab tentang naga. Naga adalah penguasa kasta tertinggi dalam dunia hewan. Ada berbagai jenis, dari naga tanah yang sisiknya keras seperti baja hingga naga langit yang memiliki mana murni. Hewan yang memiliki kemampuan sihir termasuk naga adalah makhluk langka yang kehadirannya bisa mengubah peta kekuatan sebuah negara.
Ia juga mempelajari tanaman aneh seperti Akar Bayangan, tanaman yang bisa bergerak sendiri saat merasakan mana manusia di dekatnya, atau Bunga Embun Darah yang kelopaknya bisa menyerap racun dari tubuh jika diletakkan di atas luka. Luvya sering membayangkan bagaimana tanaman-tanaman ini bisa menjadi kunci untuk rencananya di masa depan.
Selama setahun ini, hubungannya dengan Matilda juga semakin dekat. Matilda bukan sekadar teman, dia adalah mentor yang mengajari Luvya cara "merasakan" aliran mana di sekitar mereka. Dalam setahun, Luvya sudah menyerap ilmu sejarah, politik, botani, hingga dasar-dasar sihir seperti spons.
Luvya menutup buku besarnya, debu tipis terbang di antara cahaya obor.
Aku sudah berusia tiga belas tahun, pikir Luvya sambil menatap telapak tangannya yang kini terasa lebih bertenaga. Waktuku tidak banyak. Dalam beberapa tahun lagi, aku harus siap untuk menghancurkan kuil ini dan keluar sebagai pemenang.
Luvya bangkit dari posisinya, menyapukan pandangan ke arah rak-rak buku yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit batu yang lembap. Rasa ingin tahunya tidak pernah terpuaskan. Ia berjalan menyusuri lorong perpustakaan, jari-jarinya menyentuh punggung-punggung buku yang berdebu, sampai langkahnya terhenti di sebuah rak yang letaknya paling tersembunyi, tertutup oleh tumpukan gulungan perkamen tua.
Di sana, terselip sebuah buku dengan sampul kulit hitam yang sudah mengelupas. Tidak ada judul di punggungnya, hanya sebuah simbol sabit kecil yang hampir pudar. Berbeda dengan buku politik atau botani yang biasa ia baca, buku ini memancarkan aura dingin yang membuat bulu kuduknya meremang.
Buku terlarang, batin Luvya. Rasa penasarannya sebagai Lily yang terbiasa dengan teori konspirasi langsung bangkit.
Begitu ia membukanya, lembaran-lembaran kertas yang sudah menguning itu menyingkap sejarah yang tidak pernah diajarkan di kuil atas. Di dunia ini, awalnya ada dua kekuatan besar yang seimbang: Dewa Matahari sebagai pemberi cahaya dan kehidupan, serta Dewa Kematian yang bertugas menjaga kegelapan dan memberikan waktu istirahat terakhir bagi setiap makhluk.
Luvya mengernyitkan dahi saat membaca bagaimana persepsi manusia mulai berubah. Dewa Matahari dipuja habis-habisan karena dianggap memberi kehangatan. Sementara Dewa Kematian yang sebenarnya hanya menjalankan tugas alaminya justru dibenci. Karena tugasnya adalah menjemput nyawa, manusia menganggapnya sebagai kutukan. Nama sang dewa perlahan dilupakan, pengikutnya habis, dan eksistensinya pun memudar dari ingatan dunia.
"Kasihan sekali," gumam Luvya pelan. "Padahal hidup tanpa kematian hanya akan menjadi penderitaan yang abadi."
Namun, halaman berikutnya membuat mata Luvya membelalak. Karena posisi Dewa Kematian yang asli telah lama kosong dan terlupakan, sebuah celah besar tercipta di alam kegelapan. Kekosongan itu dimanfaatkan oleh sebuah entitas haus kuasa dari neraka. Makhluk ini tidak ingin hanya menjadi iblis, ia ingin disembah. Ia ingin menduduki takhta Dewa Kematian yang kosong agar bisa berdiri setara dengan Dewa Matahari yang angkuh.
Tangan Luvya gemetar saat membaca deskripsi makhluk itu: Ia yang menjanjikan kekuatan dengan bayaran nyawa, entitas yang bangkit dalam bentuk naga kegelapan yang tak terlihat,
Luvya langsung teringat pada simbol tengkorak naga di perempatan lorong yang sering dikunjunginya. Ternyata, selama ini sekte ini bukan menyembah dewa sejati yang adil, melainkan "makhluk neraka" yang sedang berusaha mengudeta posisi dewa yang asli.
Jadi Zargous itu, dia hanya penipu yang ingin naik takhta? Luvya menutup buku itu dengan suara keras, menimbulkan gema di ruangan yang sunyi tersebut.
Pikirannya melayang pada kebenaran yang baru saja ia temukan. Jika Zargous adalah kegelapan yang jahat, maka Dewa Kematian yang asli sebenarnya adalah pihak yang netral dan jauh lebih kuat jika ia kembali terbangun.
Satu hal lagi yang membuat Luvya terpaku adalah paragraf terakhir di halaman yang hampir hancur itu. Dengan sisa-sisa tenaga, ia membalik lembaran itu dan menemukan sebuah peta kasar yang digambar dengan tinta merah kusam.
Luvya menyipitkan mata, mencoba membaca tulisan cakar ayam di bawah gambar tersebut.
"Keberadaan Dewa Kematian yang asli..." gumam Luvya, jantungnya berdegup kencang. "Ternyata dia tidak benar-benar menghilang."
Di sana tertulis bahwa Sang Penguasa Kegelapan yang sejati sedang tertidur dalam keheningan yang abadi. Lokasinya berada di pusat sebuah Danau Sihir yang airnya sedalam palung jiwa. Danau itu tidak mudah dijangkau, karena letaknya tersembunyi di tengah-tengah Bukit Terkutuk yang puncaknya selalu tertutup kabut hitam. Tidak berhenti sampai di sana, bukit itu sendiri dikelilingi oleh Hutan Terlarang yang sangat luas, tempat di mana waktu seolah berhenti dan monster-monster sihir liar berkeliaran.
Luvya menarik napas panjang. Tempat itu terdengar seperti lokasi bunuh diri bagi manusia biasa. Ia segera menutup buku itu dengan gerakan cepat, seolah takut jika membacanya lebih lama, kutukan dari lembaran-lembaran tua itu akan menjalar ke tangannya.
Jantungnya berdebu kencang. Danau Sihir? Bukit Terkutuk? Hutan Terlarang? Nama-nama itu saja sudah cukup untuk membuat nyali siapapun menciut. Luvya menyandarkan punggungnya ke rak buku yang dingin, mencoba menenangkan pikirannya yang kalut.
"Tidak," bisiknya pada diri sendiri. "Aku tidak segila itu untuk mencari tahu lebih jauh."
Meskipun ia memiliki jiwa Lily yang pemberani dan haus akan informasi, ia tetap sadar diri. Ia sekarang berada di tubuh seorang gadis berusia tiga belas tahun yang bahkan belum sepenuhnya menguasai mana. Pergi ke tempat yang dijaga oleh monster sihir liar dan kabut hitam abadi sama saja dengan mengantarkan nyawa secara sukarela.
Baginya, mengetahui bahwa Zargous adalah penipu dari neraka sudah cukup menjadi informasi yang mengerikan. Mengetahui keberadaan dewa kematian yang asli bukanlah sebuah peluang, melainkan ancaman yang terlalu besar untuk ia tanggung saat ini.
Luvya menyelipkan kembali buku hitam itu ke celah paling dalam di antara tumpukan perkamen tua, memastikan posisinya benar-benar tersembunyi hingga tak ada mata lain yang bisa menemukannya. Ia menarik tangan dan mengusapnya ke pakaian, seolah ingin menghilangkan sisa-sisa aura dingin yang tertinggal.
Cukuplah ia tahu sejarah kelam itu. Ia tidak akan pernah menginjakkan kaki ke Danau Sihir atau hutan mengerikan itu. Fokusnya sekarang hanya satu: memanfaatkan kekuatan yang ia pelajari dari sekte ini untuk bertahan hidup dan membalaskan dendamnya di Kuil Penitensi, tanpa harus terlibat lebih jauh dalam urusan para dewa yang menyeramkan.
Luvya berbalik dan melangkah pergi dari sudut perpustakaan yang pengap itu, membiarkan rahasia tentang dewa yang tertidur tetap terkubur dalam kegelapan, bersama debu dan keheningan.
Luvya baru saja melangkah menjauh dari rak buku itu ketika pintu perpustakaan bawah tanah yang berat berderit terbuka. Ia tersentak, refleks menyembunyikan tangannya di balik jubah, berusaha mengatur ekspresi wajah agar tampak sedatar mungkin.
Matilda masuk dengan langkah terburu-buru. Wajahnya yang biasa tenang kini tampak tegang, cahaya lampu minyak yang dibawanya bergoyang mengikuti langkahnya yang cepat.
"Luvya! Ternyata kau masih di sini," bisik Matilda. Suaranya bergema di antara rak-rak buku yang tinggi.
"Ada apa, Matilda? Kau tampak terburu-buru," tanya Luvya, mencoba menetralkan detak jantungnya yang masih berpacu akibat rahasia buku tadi.
Matilda mendekat dan mencengkeram lengan Luvya pelan, memberikan isyarat agar mereka segera keluar dari sana. "Desmond memanggil semuanya. Ada rapat mendadak di aula pusat sekarang juga. Edmun dan anggota lainnya sudah berkumpul di depan meja tengkorak naga."
Luvya mengernyit. Rapat mendadak di luar jadwal ritual biasanya bukan pertanda baik. "Kenapa mendadak sekali? Bukankah jadwal doa kita baru besok malam?"
"Ada kabar buruk dari 'mata-mata' kita di bagian atas kuil," Matilda merendahkan suaranya sampai nyaris tak terdengar. "Katanya para penjaga kuil mulai curiga karena ada barang di gudang yang bergeser. Mereka sedang melakukan penggeledahan di aula atas sekarang. Kita harus segera memutuskan apakah akan menutup akses palka kayu itu secara permanen atau ada rencana lain."
Luvya hanya bisa mengangguk, namun pikirannya berkecamuk. Baru saja ia membaca tentang sejarah Zargous yang seorang penipu, sekarang tempat persembunyian mereka terancam terbongkar.
"Ayo, cepat!" Matilda menarik tangan Luvya keluar dari perpustakaan.
Luvya mengikuti langkah cepat Matilda menuju lorong perempatan bulat. Di dalam hatinya, Luvya merasa ini adalah saat yang krusial. Jika rahasia bawah tanah ini terbongkar sekarang, rencananya untuk belajar lebih lama akan hancur total.
Tanpa banyak bicara, mereka berdua berlari kecil menuju pusat aula, di mana bayangan Desmond sudah terlihat berdiri kaku di samping tengkorak naga yang tersiram cahaya obor kemerahan.