Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Pagi itu, sinar matahari musim dingin Seoul yang pucat menembus jendela kaca besar di area Hydrotherapy Center rumah sakit.
Uap air hangat membumbung tinggi dari kolam renang khusus yang dirancang dengan teknologi pemulihan saraf tercanggih.
Liana sudah mengenakan pakaian renang khusus rehabilitasi, duduk di tepi kolam dengan kaki yang masih terkulai lemas.
Di sampingnya, Dokter Kim Min-jun tampak gagah dengan kaos polo putih yang pas di tubuhnya dan celana pendek tahan air.
Ia memeriksa suhu air sekali lagi sebelum menatap Liana dengan senyum menenangkan.
"Jangan takut, Nona Liana. Air hangat ini akan membantu otot-otot Anda rileks dan mengurangi tekanan pada saraf tulang belakang," ucap Dokter Kim lembut.
Tanpa ragu, Dokter Kim membungkuk dan dengan gerakan yang sangat profesional namun protektif, ia membopong tubuh Liana.
Satu tangannya menyangga punggung Liana, sementara tangan lainnya berada di bawah lipatan lutut wanita itu.
Jarak mereka begitu dekat, hingga Liana bisa mencium aroma samar parfum maskulin yang bercampur dengan bau kaporit yang bersih.
Dua perawat Korea sudah menunggu di dalam air setinggi pinggang, siap menyambut Liana untuk memulai latihan gerak dasar.
Namun, pemandangan itu bak adegan film romantis yang menyiksa bagi dua pria yang berdiri kaku di balik pembatas kaca ruang tunggu.
Adrian dan Erwin menempelkan wajah mereka ke kaca, mata mereka melotot tajam mengikuti setiap gerak-gerik tangan Dokter Kim.
"Lihat itu! Tangannya! Kenapa dia harus membopong seerat itu?" desis Adrian, rahangnya mengeras hingga otot lehernya menegang.
"Ada kursi roda khusus air, kan? Kenapa harus pakai tenaga manusia?"
Erwin yang biasanya tidak pernah setuju dengan Adrian, kali ini mengangguk mantap.
"Benar. Dan kenapa dia harus tersenyum begitu lebar? Itu terapi medis atau audisi drama Korea?"
"Aku akan masuk ke sana," gumam Adrian sambil memegang gagang pintu.
"Jangan bodoh, Adrian! Kita tidak pakai baju renang, kita akan diusir satpam sebelum sampai ke tepi kolam," tahan Erwin sambil menarik kerah jaket Adrian, meski matanya sendiri tidak lepas dari tangan Dokter Kim yang sekarang perlahan menurunkan tubuh Liana ke dalam air.
Di dalam kolam, Liana sempat memegang bahu Dokter Kim karena merasa goyah saat pertama kali menyentuh air.
Dokter Kim dengan sigap menstabilkan posisi Liana, membiarkan Liana bersandar sejenak pada dadanya yang bidang.
"Bagus, Nona Liana. Rasakan airnya. Sekarang, coba gerakkan jemari kaki Anda perlahan," instruksi Dokter Kim, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Liana.
Adrian di balik kaca nyaris meledak. "Dia menyentuh bahunya! Erwin, dia menyentuh bahu Liana!"
"Aku lihat! Aku tidak buta!" sahut Erwin, suaranya naik satu oktav karena cemburu yang membakar.
"Kalau saja aku tahu terapinya seperti ini, aku sudah kursus bedah saraf dari sepuluh tahun yang lalu!"
Liana yang merasakan air hangat menyentuh kulitnya mulai merasa lebih tenang.
Ia sempat melirik ke arah kaca ruang tunggu dan melihat dua wajah yang tampak seperti kepiting rebus karena menahan amarah.
Liana kembali menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil, membuat Dokter Kim ikut tersenyum.
"Teman-teman Anda sepertinya sangat protektif," bisik Dokter Kim ramah.
"Mereka hanya sedang melakukan tugas tambahan sebagai 'satpam' pribadiku, Dok," jawab Liana jenaka, sementara di balik kaca, Adrian dan Erwin masih sibuk berdebat tentang siapa yang harus masuk lebih dulu untuk menginterupsi "momen romantis" medis tersebut.
"Pelan-pelan saja, Nona Liana. Biarkan air yang menopang berat tubuhmu, jangan dipaksa," ucap Dokter Kim dengan suara bariton yang menenangkan.
Tangannya tetap kokoh menyangga pinggang Liana, memastikan wanita itu merasa aman di tengah riak air hangat kolam rehabilitasi.
Liana menatap permukaan air dengan tatapan rindu yang mendalam.
"Dokter, apakah aku nanti benar-benar bisa berjalan lagi? Aku sudah sangat rindu menari. Panggung adalah duniaku."
Dokter Kim terdiam sejenak. Ia menatap mata Liana yang berkaca-kaca, lalu sebuah senyum tipis—jenis senyum yang sangat menawan namun sarat makna—terulas di bibirnya.
Ia mendekatkan wajahnya sedikit, seolah ingin memberikan privasi pada percakapan mereka.
"Bagi saya, seorang penari tidak hanya menari dengan kaki, tapi dengan jiwa," bisik Dokter Kim lembut.
"Dan selama Anda memiliki jiwa yang kuat seperti sekarang, saya akan melakukan apa pun untuk memastikan Anda kembali ke panggung itu.
Bahkan jika saya harus menjadi sandaran Anda setiap hari di kolam ini."
Kalimat itu, meski bernada medis dan suportif, terdengar seperti deklarasi perang bagi dua pria di balik kaca.
"Apa dia baru saja bilang mau jadi sandaran?!" Adrian meledak. Wajahnya sudah semerah kepiting rebus, tangannya mengepal hingga buku-jarinya memutih di atas kaca.
"Cukup. Aku tidak tahan lagi," Erwin menimpali dengan napas memburu.
"Kalau aku terus di sini, aku bisa memecahkan kaca ini dan menceburkan dokter itu ke mesin penyaring kolam."
Adrian menoleh ke arah Erwin, dan untuk pertama kalinya, mereka memiliki pemikiran yang benar-benar selaras.
"Ayo ke kantin. Aku butuh kafein dosis tinggi atau sesuatu yang dingin sebelum kepalaku benar-benar berasap."
"Setuju. Kopi hitam pekat. Tanpa gula. Sepahit kenyataan melihat dokter itu memegang pinggang Liana," gerutu Erwin.
Keduanya berbalik dengan langkah menghentak, meninggalkan area kolam dengan aura kemarahan yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang berpapasan dengan mereka.
Mama Liana, yang sejak tadi duduk tenang di kursi tunggu sambil memperhatikan semuanya, hanya bisa menarik napas panjang.
Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali melihat punggung kedua pria dewasa itu menghilang di balik pintu otomatis.
"Nak Adrian, Nak Erwin," gumam Mama pelan sambil tersenyum tipis.
"Sudah seperti anak kecil yang berebut mainan. Padahal Liana hanya sedang terapi."
Mama kembali menatap ke arah kolam, melihat Liana yang tampak mulai rileks dalam bimbingan Dokter Kim.
Di tengah drama cemburu yang konyol itu, Mama hanya berdoa dalam hati agar mukjizat benar-benar datang untuk kaki putrinya.
Sesi terapi di kolam air hangat itu berakhir dengan sebuah keajaiban kecil yang tak terduga.
Saat Dokter Kim perlahan mengangkat tubuh Liana kembali ke tepi kolam, air yang menetes dari kulitnya seolah membawa aliran listrik statis.
Liana memejamkan mata, memusatkan seluruh seleruh jiwanya pada ujung kaki kanannya yang selama ini mati rasa.
Tiba-tiba, sebuah denyut halus—seperti detak jantung kecil yang lemah namun nyata—terasa di jemari kakinya.
"Dokter Kim!" bisik Liana, suaranya gemetar karena haru.
"Tadi, jemari kakiku. Aku merasakannya. Ada denyut di sana!"
Dokter Kim segera berlutut di depan Liana, memeriksa reaksi sarafnya dengan telaten.
Senyumnya melebar, menampakkan binar kepuasan yang tulus.
"Ini perkembangan yang luar biasa, Nona Liana. Respon saraf Anda terhadap air hangat sangat positif. Ini awal yang sangat baik."
Ia menatap Liana dengan tatapan yang sangat dalam, lalu membantu perawat menyelimuti bahu Liana dengan handuk tebal.
"Besok pagi kita lakukan lagi," ucap Dokter Kim lembut. "Dan, omong-omong, karena progres hari ini begitu baik, maukah Nona Liana makan siang bersama saya? Ada restoran sehat di dekat taman yang sangat bagus untuk ibu hamil."
Liana, yang hatinya sedang berbunga-bunga karena harapan kesembuhan, langsung menganggukkan kepalanya tanpa ragu.
"Tentu, Dokter. Aku akan sangat senang."
Dua perawat Korea segera membantu Liana menuju ruang ganti untuk mengganti pakaiannya dengan baju hangat yang tebal.
Sementara itu, di lantai bawah, Adrian dan Erwin masih duduk di kantin, mengaduk kopi hitam mereka dengan wajah masam, sama sekali tidak menyadari bahwa "pertahanan" mereka baru saja jebol.
"Aku rasa kita harus menyewa pengawal tambahan untuk berjaga di pintu kolam besok," gerutu Adrian sambil menyesap kopinya yang pahit.
"Setuju. Dan pastikan dokternya tidak pakai baju ketat lagi," timpal Erwin ketus.
Mereka berdua terlalu sibuk menyusun strategi "pertahanan" di kantin, hingga tidak melihat saat Dokter Kim dengan sangat protektif mendorong kursi roda Liana keluar melalui pintu samping rumah sakit.
Dengan gerakan yang sangat sopan, Dokter Kim membantu Liana berpindah ke dalam mobil SUV mewahnya yang sudah dipanaskan mesinnya agar Liana tidak kedinginan.
Mobil itu meluncur mulus membelah jalanan Gangnam, membawa Liana pergi makan siang berdua saja dengan sang dokter tampan, meninggalkan Adrian dan Erwin yang masih asyik berdebat tentang kafein dan rasa cemburu mereka yang membara.
ditunggu crazy upnya