Yvaine, ratu es yang legendaris di pasukan khusus, mengalami pengkhianatan dalam misinya. Dua tembakan menghantam tubuhnya, dan dia jatuh tak bernyawa di tempat.
Namun, ketika Yvaine membuka matanya lagi, dunia telah berubah. Kini dia menjadi nyonya rumah dari keluarga besar yang menyepelekan dirinya, seorang istri yang marah tapi diabaikan suaminya, dan seorang ibu yang anaknya juga tak pernah memperhatikannya.
“Kalau aku tidak salah, kita sudah bercerai. Sekarang kamu malah masuk ke rumahku, mantanku tercinta,” suara dingin sang mantan terdengar.
Yvaine mengangkat dagu, duduk di ujung sofa dengan kaki terlipat, menebarkan aura sombong yang tak terbantahkan. “Kalau begitu… kita bisa menikah lagi,” ujarnya dengan tenang tapi penuh tantangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Setelah berkeliling sebentar, Yvaine langsung bekerja. Ia menyingsingkan lengan bajunya.
Ia mulai membersihkan tempat itu, meski tempat ini terlihat sudah dirawat dengan baik, namun Yvaine tetap ingin memastikan semuanya rapi sesuai standar dirinya.
Ia membersihkan kamar tidur utama, lalu kamar kosong yang ada disana.
Kamar itu nantinya akan menjadi milik Joy. Ia bahkan sudah membayangkan adanya mainan, robot dan semua hal yang seharusnya dimiliki anak seusia Joy.
“Besok kita akan pergi membeli mainan, ya,” bisiknya.
Joy tersenyum mendengar itu.
Setelah semua selesai, tubuh Yvaine terasa lelah. Namun kelelahan itu terasa ringan, tidak seperti saat berada di vila Raguel, di mana setiap hari ia merasa tertekan.
Ia menggendong Joy ke kamar, lalu mereka berbaring bersama.
Anak itu langsung memeluknya. Seolah memastikan bahwa ia tidak akan ditinggalkan lagi.
Yvaine memejamkan mata, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidur dengan tenang tanpa mimpi buruk, kecemasan maupun beban
***
Sementara itu, di sisi lain kota.m
Suasana sangat berbeda.
Sebuah suara keras memecah keheningan di mansion keluarga Frey.
PRANG!
Gelas anggur pecah berkeping-keping di lantai.
Laura tersentak. Ia menarik napas tajam, tubuhnya sedikit gemetar.
“Harris.." panggilnya pelan pada pria yang berdiri membelakanginya itu.
Perlahan pria itu berbalik, menunjukkan sorot matanya yang merah, penuh amarah.
Seperti binatang buas yang terpojok.
“Beraninya dia..” suaranya berat, tertahan emosi. “Beraninya dia menceraikan Tobias!”
Laura terkejut.
“Perceraian?” ulangnya. “Siapa?”
“Siapa lagi kalau bukan Vaine!” bentak Harris. “Dia benar-benar menceraikan Tuan Muda Raguel!”
Ia kembali melempar gelas ke arah lantai, itu membuat Laura dan putrinya refleks mundur.
Namun di balik keterkejutan itu, ada kilatan kelegaan yang nyaris tak terlihat di mata mereka.
“Sejak kapan ini terjadi?” tanya Laura, berusaha terdengar tenang.
“Pagi ini!” jawab Harris kesal. “Tanpa bicara apa pun! Tanpa izin! Dia benar-benar sudah gila!”
Wajahnya menggelap.
“Dulu dia mati-matian mengejar pria itu! Bahkan punya anak! Tapi sekarang dia pergi begitu saja?!”
Ia mengepalkan tangan. “Apa dia pikir dia sudah hebat? Sampai berani mengabaikan keluarga sendiri?!”
Amarah itu bukan tanpa alasan. Sebagai anak kedua dalam keluarga Frey, posisi Harris selalu canggung.
Dari dulu, kakaknya lebih unggul dan lebih disukai, sementara dirinya tidak lebih dari pelengkap yang tidak memiliki kekuasaan.
Hanya hidup dari nama keluarga.
Satu-satunya kebanggaannya adalah ketika Vaine menikah dengan keluarga Raguel.
Selama putrinya menjadi nyonya di sana, maka ia juga memiliki status, koneksi dan keuntungan lainnya. Ia bahkan tidak peduli bagaimana cara Vaine mendapatkan posisi itu selama hasilnya menguntungkan.
Namun sekarang.. Semua itu hilang dalam sekejap.
“Apa dia sudah gila?!” teriaknya. “Bahkan kalau ingin cerai, kenapa harus mempermalukan Tobias di depan umum?!”
Kata-kata itu membuat Laura terdiam sejenak, ia melirik putrinya.
Situasinya mulai serius. Tobias bukan orang biasa, ia adalah pewaris keluarga Raguel.
Salah satu keluarga terbesar di Negara Z dengan pengaruhnya luas serta jaringan yang mendunia.
Jika mereka menyinggungnya, maka keluarga Frey bisa hancur.
Laura mendekat, menepuk punggung Harris. “Tenang,” katanya lembut. “Mungkin dia hanya terbawa emosi..”
Namun Harris langsung menyela. “Emosi?!” ia tertawa sinis. “Di zaman sekarang, pria mana yang tidak punya wanita di luar?!”
Kata-kata itu tajam.
“Selama dia tetap menjadi nyonya.. apa masalahnya?!”
Ia mendengus.
“Dia benar-benar bodoh. Sama seperti ibunya.”
Kalimat itu membuat wajah Laura menegang.
Ia terdiam karena ia tahu lebih dari siapa pun bahwa posisi yang ia miliki sekarang didapat dengan menjatuhkan ibu Vaine.
Dan kini ucapan Harris terasa seperti tamparan untuk dirinya sendiri.
cerita nya bagus
seruuuuu 👍😆