Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.
Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.
Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.
Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.
Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Kuda Emas yang Berselimut di Bayangan Masa Lalu
Dua raga kini berdiri berhadapan di tengah pelataran yang dikepung pepohonan tua layaknya pria sejati. Tak ada yang bergerak, apalagi berbicara. Seekor rusa menjulurkan leher dari balik semak belukar, mengamati pemandangan itu selama dua kedipan mata, lalu menghilang kembali ke dalam labirin dedaunan. Ada pula di dahan pohon beringin, seekor burung kecil bertengger dengan kepala menoleh ke kanan dan kiri bergantian. Makhluk bersayap itu lekas terbang manakala angin pagi menggerakkan ranting tempatnya berpijak.
Daun-daun kering bergulung di atas tanah, terbawa angin semilir yang tidak cukup kuat untuk mendinginkan ketegangan di antara dua pria sejati itu. Kupu-kupu dengan sayap senja terbang melintas, tidak menyadari bahwa sepuluh detik yang lalu, tempat ini adalah titik nol dari sesuatu yang akan meninggalkan bekas luka permanen di atas tanah.
Xin Jielong berdiri dengan kedua kaki terbuka selebar bahu, menyebarkan berat badannya secara merata. Pedang di tangan kanannya digenggam dengan ujung mengarah ke bumi, sementara tangan kirinya dibiarkan kosong. Kuda-kudanya rendah, menyerupai gaya bertarung seseorang yang sudah terlalu sering jatuh dan belajar bahwa semakin dekat dengan tanah, maka semakin keras tebasan yang bisa dilepaskan.
Adapun Huang Shen berdiri dengan postur yang tidak bisa disebut kuda-kuda dalam pengertian umum. Telapak tangan kanannya menggenggam erat gagang pedang hitam yang baru saja ia terima. Bilahnya mengarah ke depan, sejajar dengan mata. Tak sampai lima detik waktu berlalu. Mungkin tiga… atau empat. Seekor burung lain melesat dari dahan, dan pada saat yang sama, pupil Huang Shen membesar.
Xin Jielong sudah bergerak layaknya badak yang mengamuk. Gerakannya tidak lincah, namun terasa berat dan padat. Setiap langkahnya terasa mantap sebelum tangan kirinya mengayunkan pedang kedua dari pinggang. Kini dua bilah baja berkilauan di tangannya. Xin Jielong menyerang dengan pola yang tidak beraturan, kadang kanan mendahului, kadang kiri, kadang keduanya menghantam bersamaan.
Sementara Huang Shen tidak punya pilihan selain terus menangkis, menghindar, dan membalas. Tentu, pedang di tangannya terasa asing, lebih berat dari yang ia perkirakan, lantaran logam itu membawa jiwa pemilik aslinya. Kendati demikian, berat itu tidak cukup untuk membuatnya melambat. Puncak bentrokan terjadi manakala Xin Jielong mengayunkan kedua pedangnya ke arah yang berlawanan, menciptakan celah di tengah dan Huang Shen memanfaatkannya dengan melompat, melewati rintangan itu sebelum berputar di udara, lalu mendarat di belakang punggung lawan dengan ujung pedang mengarah ke sasarannya.
Akan tetapi Xin Jielong tidak berhenti. Tubuhnya berputar menyerupai angin puyuh. Kedua pedangnya menciptakan lingkaran baja yang tidak bisa ditembus. Huang Shen maju untuk menebas, namun untuk pertama kalinya, pedang di tangannya tidak mencapai target. Ada sesuatu yang salah. Gerakannya terasa lebih lambat dari yang seharusnya. Bukan lantaran kelelahan apalagi terluka, melainkan ada sesuatu yang mengacaukan ritmenya.
Ia mendengar lonceng. Suara lonceng-lonceng kecil dari caping Xin Jielong yang tergeletak di pinggir pelataran, maupun lonceng-lonceng yang tergantung di beberapa bagian jubah orang itu. Suaranya begitu menggema di dalam kepala Huang Shen. Bergemerincing dengan irama tidak teratur, membuat setiap langkahnya terasa berat seperti berjalan melawan arus atau berjalan di rawa penuh lumpur.
Sementara Xin Jielong berhenti menyerang. Ia berdiri dengan kedua pedang terhunus ke bawah, harap-harap dirinya bisa menyelesaikan duel ini dengan cepat.
“Kau mendengar lonceng itu, kan?” tanya Xin Jielong sembari menunjuk kepalanya sendiri. “Suaranya tidak masuk melalui telinga, melainkan langsung ke dalam sini.”
Lonceng-lonceng itu sejatinya memang bukan hiasan belaka, Huang Shen pun sudah menduganya sejak awal. Itu adalah sebuah teknik tinggi. Getarannya mengganggu irama jiwa musuh, membuat gerakan mereka melambat dan memicu keraguan dalam hati.
“Selama dua puluh tahun, aku tidak pernah gagal dalam misi tingkat Sulit ke atas,” sambung Xin Jielong. “Itu semua karena aku tahu bahwa kemenangan lahir dari siapa yang paling sedikit melakukan kesalahan.”
Mendengar itu, Huang Shen hanya memposisikan pedangnya lebih mantap lagi, sejajar dengan tatapan matanya. Adapun Gerbang Iblis di dadanya mulai memancarkan cahaya, namun ia menahan diri untuk tidak membukanya, dan ia memilih untuk menurunkan pedangnya hingga ujung bilah menyentuh tanah.
“Aku kalah,” ucap Huang Shen begitu datar.
Lantas Xin Jielong mengerutkan dahi. “Kau tidak mengeluarkan seluruh kemampuanmu?”
“Aku tahu hasilnya akan tetap sama. Jadi tidak perlu.”
Xin Jielong menatapnya dalam waktu yang lama, lalu tertawa singkat. “Kau memilih kalah lantaran kau tidak ingin aku melihat kekuatanmu yang sebenarnya. Itu cerdik, namun juga bodoh. Sekarang aku tidak tahu apakah kau bisa diandalkan atau tidak.”
“Kau tetap akan mengajakku dalam misi itu,” balas Huang Shen tanpa nada tanya.
Sementara Xin Jielong tersenyum pun tipis. “Kau benar.”
Beberapa jam kemudian, mereka duduk di bawah pohon besar di tepi hutan. Xin Jielong mengeluarkan gulungan kertas dari balik jubah, membentangkannya di atas batu datar. Adapun sasaran utama mereka adalah sebuah patung kuda emas seukuran telapak tangan dengan berat sekitar dua kati. Benda itu sendiri tentu saja bukanlah sekadar pajangan belaka, melainkan pusaka keluarga yang dicuri oleh bangsawan bernama Zhao Yuan dua tahun silam.
Ada sasaran sekunder yang tidak disarankan, yakni Zhao Yuan sendiri. Ia adalah bangsawan yang gemar menyiksa pelayanannya dan memeras orang-orang kalangan bawah. Dan masalahnya adalah bagaimana penjagaan rumah itu begitu ketat, minimal ada tiga kultivator tingkat Inti Emas di setiap pintu, dan satu tingkat Jiwa Baru yang berpatroli di dalam. Seluruh area juga dilindungi formasi Qi yang akan berbunyi manakala ada penyusup yang melintas tanpa izin.
Rumah Zhao Yuan terletak di ujung timur kota, dibentengi tembok tinggi yang dilapisi pecahan kaca tajam. Xin Jielong menyusup dari sayap barat, sementara Huang Shen mengambil jalur timur. Sementara lorong-lorong di dalam kediaman itu gelap, hanya diterangi lentera kertas yang berkedip tidak konsisten akibat angin malam.
Di sana, Huang Shen bergerak merayap di sepanjang dinding untuk menghindari cahaya, sebelum langkah kakinya terhenti manakala ia melihat seorang bocah laki-laki.
Usianya sekitar dua belas tahun, rambutnya awut-awutan dengan baju tidur yang terlalu longgar. Punggungnya membelakangi Huang Shen, namun cara ia berdiri dan memiringkan kepala membuat sesuatu di dada Huang Shen berhenti berdetak. Masalahnya adalah bagaimana mana bisa wajah bocah itu sangat mirip dengan bocah yang dulu pernah ia bunuh. Senyumannya, matanya.
Huang Shen mengikuti bocah itu secara sembunyi-sembunyi. Mereka melewati lorong panjang, taman kecil, hingga kolam ikan koi yang airnya memantulkan cahaya bulan. Sampai bocah itu mendadak berhenti di depan sebuah kamar, lalu terduduk di lantai sambil membenamkan wajah ke dalam pelukan tangannya sendiri.
Huang Shen menghampiri perlahan. “Kau… .”
Bocah itu pun mendongak. Matanya basah oleh air mata, namun tidak ada tanda ketakutan di sana. “Kau siapa? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya.”
Huang Shen hanya mengernyitkan dahi sebelum bocah itu tiba-tiba berdiri dan berlari menuju ujung lorong. Huang Shen mengejar dengan langkah seringan mungkin agar tidak bersuara, hingga aksi kejar-kejaran itu berlangsung di antara tiang-tiang kayu dan layar lipat bersulam sutra. Bocah itu terus berlari seolah tahu persis di mana letak ubin yang akan berbunyi jika diinjak. Sampai akhirnya, si bocah berhenti di depan sebuah pintu kayu yang sedikit terbuka dan menunjuk ke arah dalam, lalu menghilang ditelan kegelapan lorong.
Dengan hati-hati Huang Shen mendekat. Kamar itu sangat mewah dengan dinding berlapis sutra merah dan lantai kayu jati yang dipoles mengkilap. Di atas meja di tengah ruangan, patung kuda emas itu berdiri berkilauan di atas bantalan beludru hitam.
Tatkala Huang Shen hendak melangkah masuk, suara teredam terdengar dari balik dinding tipis di ruangan sebelah. Seorang wanita mengerang panjang layaknya sedang menikmati sesuatu. Sementara seorang pria menimpali dengan dengusan napas berat di setiap suara benturan tubuh yang beradu terdengar jelas.
Huang Shen mengintip melalui celah sempit di dinding kayu. Di sana, Zhao Yuan sedang menyetubuhi seorang wanita dalam posisi menungging dari belakang. Keduanya dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun. Rambut wanita itu terurai panjang, menyapu punggungnya yang melengkung di bawah cengkeraman Zhao Yuan. Sementara di ruangan ini, patung kuda emas itu tetap tersenyum diam di atas bantalannya, menanti untuk diambil. Dua sasaran kini berada dalam jangkauan tangannya di waktu yang bersamaan dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk menentukan pilihan.