Mary terpaksa pulang kampung setelah cita-citanya untuk menjadi desainer pakaian harus kandas.
Di kampung, ia dijodohkan dengan Jono, calon anggota dewan yang terobsesi pada Mary.
Demi terhindar dari perjodohan yang dilakukan orang tuanya dan pergi dari kampung halamannya, Mary nekat memaksa seorang duda galak dan dingin bernama Roseo untuk menikahinya.
Sandiwara tergila-gila duda itu akankah berhasil atau justru membuatnya tergila-gila duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vlav, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
032
“Haha”.
Tawa Mary langsung memecahkan keheningan yang terjadi saat Alex mengutarakan keinginannya untuk berkencan dengan Mary.
“Alex, Alex, kau sungguh masih belum berubah, bercandamu masih tetap sama dari dulu hingga kini,” kata Mary.
“Haha, begitu ya, padahal aku selalu serius saat mengajakmu berkencan, Mary,” balas Alex seraya tertawa.
Mary mengulas senyumnya pada Alex dan kepercayaan diri pria itu begitu tinggi yang entah mengapa membuat Mary teringat pada Jono. Hanya saja, Alex versi lebih tampan dan tidak senorak Jono.
“Haha, Alex, aku sudah bilang kan, aku tidak mau berkencan denganmu karena kau bukan tipeku,” sahut Mary.
“Haha, ya ampun Mary, kau ini benar-benar ya, memangnya apa yang kurang dariku sampai aku bukanlah tipe pria idamanmu! Aku tampan, dan sekarang aku bahkan sudah mapan karena telah bekerja di perusahaan negara! Kehidupanmu jelas akan terjamin saat kau bersamaku, Mary,” tukas Alex.
“Oh, dan juga, kau tidak perlu repot-repot menjahit semua pakaian yang menyita waktu tidurmu. Aku bisa memberikan semua pakaian yang kau inginkan. Aku menjamin bahwa hidupmu akan benar-benar sangat terjamin, Mary,” lanjut Alex.
Mary mengulas senyumnya mendengar ucapan Alex yang sudah didengarnya sejak Mary masih menempuh pendidikan di sekolah kejuruan. Pria yang tidak mendukung apa yang disukai Mary adalah pria yang tidak akan pernah menjadi pria yang diidamkan oleh Mary.
“Alex, sungguh beruntung sekali wanita yang bisa berkencan denganmu,” kata Mary.
“Tentu saja! Aku pasti akan menjadikanmu ratu,” sahut Alex penuh dengan kebanggaan.
Roseo hanya diam dengan alis terkerut. Apa semua pria kota memang begitu arogan dalam membanggakan diri?
Roseo jadi teringat ucapan Leo bahwa pria yang hidup di kota besar, harus memiliki segala hal yang besar, termasuk omongan yang besar.
“Alex, tapi sungguh, aku tak pernah terpikir dalam mimpiku sekalipun untuk bisa berkencan denganmu,” ucap Mary sambil tersenyum cerah.
Roseo menahan diri untuk tidak tertawa melihat ekspresi Alex yang seakan baru saja ada seseorang yang melemparkan kotoran sapi ke wajah pria itu.
Alex terlihat begitu terkejut hingga tak bisa berkata apa-apa.
“Haha,” Alex tertawa.
Pria itu lalu menepuk bahu Roseo.
“Hei bung, lihat baik-baik ya, aku yang tampan dan mapan saja, selalu ditolak oleh Mary. Jadi, kau yang seperti ini harus sadar diri, tahu diri, dan paham posisimu. Maaf ya, aku hanya bicara apa adanya,” kata Alex sambil menyeringai.
“Haha, ya ampun, Alex, jangan bicara yang aneh-aneh,” Mary tertawa.
“Aku tidak bicara aneh-aneh, aku hanya bicara realita saja. Lebih baik pria ini kecewa sekarang daripada nantinya terlalu dalam,” cerocos Alex.
“Ehem, ya, kau benar,” sahut Roseo.
Entah mengapa rasanya Roseo ingin mengatakan pada Alex, bahwa ia adalah pria yang tidak sadar diri, tidak tahu diri, dan tak paham posisi lantaran wanita pujaan Alex itulah yang memaksa agar Roseo menikahinya.
Mary menatap lurus ke arah Roseo, terlihat jelas wanita itu berharap bahwa Roseo tidak perlu menanggapi Alex.
Pelayan pun akhirnya datang mengantar pesanan ke meja mereka.
Roseo melihat permukaan cangkir milik Alex bergambar hati, sama dengan minuman yang dipesan Mary.
Melihat Mary dan Alex menikmati minuman mereka, membuat Roseo berpikir, betapa orang-orang kota besar terlihat keren dan bergaya.
“Ada apa Roseo?” Tanya Mary pada Roseo yang menatapnya lekat-lekat.
Roseo langsung mengulurkan tangannya, menyeka sisa foam dari latte di sudut bibir Mary dengan jempolnya.
“Ada bekas minuman yang kau minum,” sahut Roseo sambil menjilat jempolnya. “Hmm, manis”.
“Haha,” Mary tertawa untuk menutupi rasa salah tingkahnya.
Bagaimana bisa pria itu terang-terangan menggoda Mary di depan matanya?
Itulah yang dipikirkan oleh Alex saat ini.
“Oh ya, Mary, ngomong-ngomong, sekarang kau tinggal dimana?” Tanya Alex.
“Aku sekarang tinggal di kampung orang tuaku,” jawab Mary.
“Orang tuamu? Bagaimana kabar mereka, sehat?” Tanya Alex.
“Mereka baik-baik saja,” jawab Mary.
“Aku sungguh ingat, setiap kali orang tuamu datang berkunjung, mereka selalu membawa banyak sayuran segar. Kubis, mentimun, labu, semua itu menjadi kesukaan ibuku. Ibuku bahkan berharap kita bisa menikah agar langsung ke kampung halamanmu dan memetik sendiri semua sayuran itu,” cerocos Alex.
“Haha,” Mary kembali tertawa.
“Tapi sejak kau pindah dari rumahku, ibuku jadi rindu karena sudah tidak ada lagi yang membagikan sayuran segar dari kampungmu,” kata Alex.
Jika diingat kembali, selama dua puluh tahun Mary tinggal di kota, orang tua Mary memang selalu datang membawa banyak sayuran segar seperti kubis, mentimun, dan labu yang pada akhirnya dibagikan Mary karena terlalu banyak.
Tiba-tiba Mary tersadar, ibu dan ayahnya tidak menanam kubis, mentimun, dan labu di kebun mereka.
“Sebentar ya, aku harus menjawab telepon,” pamit Alex.
“Roseo,” kata Mary sambil menatap pria itu lekat-lekat.
Roseo balas menatap mata Mary.
“Apa semua sayuran yang dibawa orang tuaku setiap kali mereka datang mengunjungiku, semuanya berasal dari ladangmu?” Tanya Mary.
“Oh, itu dari nenekku,” jawab Roseo.
“Nenekmu?” Tanya Mary.
“Ya, nenekku sudah menganggap ayahmu seperti anaknya sendiri, makanya setiap kali ayahmu akan pergi ke kota untuk menemuimu, nenekku pasti menyuruhku untuk mengantar semua sayuran itu karena berpikir bahwa di kota tidak ada sayuran segar,” sahut Roseo.
“Oh begitu,” kata Mary. “Tapi, bukankah kau bilang nenekmu sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Nyatanya hingga tahun ini, saat orang tuaku datang, mereka masih tetap membawa semua sayuran itu”.
“Oh, itu, aku hanya melanjutkan yang biasa nenekku lakukan,” kata Roseo.
“Oh, jadi kau hanya melanjutkan yang biasa nenekmu lakukan,” Mary mengangguk.
“Memangnya apa yang kau pikirkan?” Tanya Roseo.
“Aku berpikir, kau terus memikirkanku di kota, kau ingin aku memakan sayur-sayuran segar yang kau tanam hingga kau panen sendiri sambil berharap, suatu hari aku akan kembali pulang ke kampung halaman dan mencarimu,” jawab Mary.
“Oh, aku cukup sadar diri dan tahu diri untuk tidak berharap padamu seperti itu,” sahut Roseo kemudian meneguk air mineral yang dipesannya.
“Roseo, apa kau tahu, sekarang rasanya aku benar-benar ingin menciummu,” kata Mary.
“Uhuk..uhuk!” Roseo terbatuk karena tersedak air mineral yang diminumnya.
Mary melemparkan senyumnya melihat Roseo yang terlihat jelas salah tingkah saat menyeka mulutnya. Mary membantu Roseo menyeka dengan tisu.
Mary langsung mendekat dan memberikan sebuah kecupan di pipi Roseo.
“Terima kasih ya,” kata Mary.
Roseo tertegun karena Mary mencium pipinya lalu tersenyum cerah.
“Mary! Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau mencium pria ini?!”
Tiba-tiba Alex muncul dengan ekspresi begitu terkejut.
“Kau bilang pria ini bukan kekasihmu, tapi kenapa kau menciumnya?!” Sergah Alex.
“Alex, Roseo memang bukan kekasihku. Lagipula Roseo adalah suamiku, jadi, apa salahnya aku menciumnya,” kata Mary.
Roseo kembali tertegun mendengar ucapan Mary. Rasanya ada jutaan kupu-kupu yang sedang menggelitik perutnya.
Mary mengakuinya sebagai seorang suami?
Rasanya Roseo ingin berlari lalu melakukan aksi selebrasi pemain sepak bola yang berhasil mencetak gol.
“Apa?! Suami?!” Jeritan Alex tertahan.
“Bagaimana bisa pria jelek, dan berpenampilan macam gembel ini adalah suamimu??”
“Alex, meskipun Roseo ini jelek dan berpenampilan macam gembel, itu tidak akan mengubah kenyataan bahwa Roseo adalah suamiku,” sahut Mary.
Seketika Roseo mengurungkan niatnya untuk melakukan selebrasi kemenangan karena Mary menyebutnya sebagai pria jelek dan berpenampilan macam gembel.