Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.
Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.
Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14: Gerbang Antarbidik dan Cahaya Harapan
Matahari sudah benar-benar tenggelam, dan malam yang pekat kini menyelimuti Hutan Aethelgard. Namun, kegelapan itu tidak membuat perjalanan Alexandria dan Leonard terhenti. Leonard memimpin jalan dengan langkah pasti, matanya yang keemasan bersinar lembut di tengah gelap, membimbing mereka melewati rintangan-rintangan alam yang semakin sulit.
"Tidak jauh lagi, Alex," bisik Leonard, menoleh sedikit ke arah kekasihnya yang berjalan di sampingnya. Ia menggenggam tangan Alexandria lebih erat, memberikan rasa aman.
"Menurut ingatanku dan petunjuk di buku ayahmu, gerbang itu harusnya ada di dekat air terjun tersembunyi yang dikelilingi oleh pohon-pohon perak."
Alexandria mengangguk, napasnya sedikit memburu karena kelelahan, tapi semangatnya tetap menyala.
"Aku bisa jalan terus, Leo. Jangan khawatir. Lagipula, udaranya di sini terasa makin aneh... ada rasa bergetar, kan?"
"Ya, itu tandanya kita sudah dekat dengan batas antar dunia," jawab Leonard.
"Sihir di sini sangat pekat. Hati-hati, langkahmu hati-hati. Tanahnya mungkin tidak stabil."
Benar saja, semakin mereka berjalan, tanah di bawah kaki mereka terasa semakin lunak dan bergetar samar. Pohon-pohon di sekitar mereka pun berubah warnanya—dari hijau pekat menjadi keperakan di bagian kulit batangnya, dan daun-daunnya berkilauan seperti dilapisi debu bintang di bawah sinar bulan.
Tiba-tiba, suara gemuruh air yang keras terdengar dari depan, memecah keheningan hutan. Suara itu semakin keras seiring mereka berjalan mendekat.
"Itu dia!" seru Leonard, matanya berbinar. "Air terjun itu!"
Mereka mempercepat langkahnya, melewati semak belukar yang agak lebat, hingga akhirnya mereka keluar ke sebuah tempat terbuka yang indah namun misterius. Di hadapan mereka, sebuah air terjun besar mengalir dari tebing tinggi yang menghitam, airnya tampak berkilauan dengan cahaya kebiruan yang aneh. Di depan air terjun itu, terdapat sebuah lingkaran batu besar yang tertanam di tanah, dengan ukiran-ukiran rumit yang bercahaya samar berwarna ungu dan emas.
Itulah gerbangnya. Gerbang menuju Eldoria.
"Akhirnya kita sampai..." bisik Alexandria, matanya terbelalak takjub melihat pemandangan di depannya. "Indah sekali... tapi juga menakutkan."
Leonard menatap gerbang itu dengan tatapan penuh rindu dan juga ketegangan. Ia bisa merasakan panggilan dari dunia asalnya yang semakin kuat, seolah menarik jiwanya untuk kembali. Namun, ia segera menoleh ke arah Alexandria, dan tatapan itu melembut.
"Ya, kita sampai, sayangku," kata Leonard lembut. Ia mengusap pipi Alex dengan punggung tangannya.
"Tapi gerbang ini tidak bisa dibuka begitu saja. Di sana ada penjaganya."
Belum habis kalimat Leonard, tiba-tiba air di depan air terjun itu berputar kencang, menciptakan pusaran air yang besar. Dari dalam pusaran itu, muncullah sosok makhluk yang luar biasa besar. Tubuhnya setinggi pohon kelapa, terdiri dari air dan kabut yang padat. Wajahnya samar, namun memiliki sepasang mata yang menyala berwarna biru es. Di tangannya, ia memegang sebuah trisula besar yang terbuat dari es batu yang keras.
Itu adalah penjaga gerbang, elemen air yang hidup.
"Siapa yang berani mengganggu ketenangan gerbang Antarbidik?" suara penjaga itu bergema, terdengar seperti suara gemuruh air yang bercampur dengan guntur.
Matanya yang tajam menatap Leonard dan Alexandria.
"Aku, Leonard dari Eldoria," jawab Leonard dengan tegas, maju selangkah di depan Alexandria namun tetap menggenggam tangan kekasihnya. "Aku adalah putra mahkota kerajaan Eldoria. Aku kembali untuk mengambil kembali apa yang menjadi hakku. Izinkan kami lewat, Penjaga."
Penjaga itu menatap Leonard lama, matanya menyapu tubuh pria itu seolah sedang memindai sesuatu. "Aku merasakan aura darah kerajaan di dalam dirimu, Leo. Tapi kau juga memiliki aura dunia lain. Dan kau membawa seorang manusia biasa bersamamu. Aturan gerbang mengatakan bahwa hanya mereka yang memiliki darah Eldoria atau izin khusus yang boleh lewat. Manusia biasa tidak boleh masuk. Itu berbahaya baginya, dan berbahaya bagi keseimbangan dunia."
"Alex bukanlah manusia biasa!" bantah Leonard cepat, suaranya tegas dan penuh perlindungan.
"Dia adalah belahan jiwaku. Ikatan kita telah membebaskan sebagian dari kutukanku. Dia memiliki kekuatan cinta yang murni, dan dia berhak ada di sisiku, di mana pun aku berada. Jika gerbang ini tidak mau membuka untuknya, maka aku tidak akan masuk juga. Lebih baik aku tetap di dunia ini bersamanya daripada kembali ke Eldoria sendirian."
Alexandria terharu mendengar kata-kata Leonard. Ia meremas tangan Leonard, lalu maju sedikit berdiri di sampingnya, menatap Penjaga itu dengan berani.
"Tuan Penjaga," panggil Alexandria pelan namun tegas.
"Aku tahu aku bukan berasal dari Eldoria. Tapi aku mencintai Leonard lebih dari apa pun. Aku siap menghadapi bahaya apa pun di sana. Aku tidak akan menjadi beban, aku berjanji. Aku ingin bersamanya, mendukungnya, dan membantunya melawan kejahatan yang ada di negerinya. Tolong izinkan kami lewat bersama-sama."
Penjaga itu terdiam sejenak, matanya bergantian menatap Leonard dan Alexandria. Suasana menjadi hening, hanya terdengar suara air terjun yang gemuruh. Jantung Alexandria dan Leonard berdegup kencang, menunggu keputusan yang akan menentukan nasib perjalanan mereka.
"Aku melihat ketulusan di mata kalian," akhirnya suara Penjaga itu terdengar lagi, kali ini tidak terdengar sekeras sebelumnya.
"Aku melihat cinta yang begitu kuat hingga mampu melintasi batas dunia. Mungkin memang benar bahwa aturan kaku tidak bisa mengikat sesuatu yang murni seperti cinta."
Penjaga itu mengangkat trisulanya ke atas.
"Namun, gerbang ini tidak akan terbuka begitu saja untuk kalian berdua. Kalian harus membuktikan bahwa kalian layak. Kalian harus melewati satu ujian kecil. Ujian kepercayaan dan kesatuan."
"Apa ujiannya?" tanya Leonard siap.
"Gerbang ini akan terbuka jika disinari oleh cahaya yang berasal dari gabungan kekuatan kalian berdua," jelaskan Penjaga itu. "Leonard, gunakan sihirmu. Alex, gunakan keberanian dan cintamu sebagai kunci. Satukan kekuatan kalian, dan arahkan ke tengah lingkaran batu itu. Jika kalian benar-benar satu, cahaya itu akan cukup kuat untuk membuka gerbang."
Leo menoleh ke arah Alex, tersenyum yakin. "Kita bisa melakukannya, kan, Alex?"
Alex tersenyum balik, mengangguk mantap.
"Tentu saja, Leo. Bersamamu, aku bisa melakukan apa saja."
Mereka pun berdiri berhadapan dengan lingkaran batu besar itu. Leonard melepaskan genggaman tangan Alex sejenak, lalu mengangkat kedua tangannya ke depan. Cahaya keemasan yang hangat mulai memancar dari telapak tangannya, semakin terang dan semakin besar.
"Alex, pegang tanganku," perintah Leonard lembut.
Alexandria segera menggenggam kedua tangan Leonard yang sedang memancarkan cahaya itu. Saat kulit mereka bersentuhan, sesuatu yang ajaib terjadi. Cahaya keemasan dari Leonard tidak hanya bersinar sendiri, tapi kini bercampur dengan cahaya putih lembut yang memancar dari tubuh Alexandria—cahaya yang berasal dari jiwanya yang murni dan penuh cinta.
Dua cahaya itu, emas dan putih, menyatu menjadi satu cahaya yang sangat terang dan indah, memancar dari gabungan tangan mereka berdua langsung ke tengah lingkaran batu itu.
Ukiran-ukiran di batu itu mulai bersinar, merespons cahaya yang diberikan oleh Leonard dan Alexandria. Perlahan-lahan, lingkaran batu itu mulai berputar, mengeluarkan suara gemuruh yang rendah namun tidak menakutkan. Pusaran air di depan air terjun itu pun semakin kencang, dan di tengahnya, terbukalah sebuah lubang besar yang memancarkan cahaya warna-warni yang indah—pintu masuk ke Eldoria.
"Berhasil! Kita berhasil!" seru Alexandria bahagia, tidak melepaskan genggaman tangan Leonard.
Penjaga gerbang itu menganggukkan kepalanya yang terbuat dari air dan kabut.
"Kalian telah membuktikannya. Kalian memang satu jiwa. Silakan lewat, Leonard dari Eldoria, dan Alex dari dunia manusia. Semoga cinta kalian menjadi cahaya yang menerangi jalan kalian di masa depan."
"Terima kasih, Penjaga!" ucap Leonard dan Alexandria serentak dengan penuh rasa syukur.
Mereka pun berjalan mendekati gerbang yang terbuka itu. Di sana, mereka bisa melihat sekilas pemandangan dunia di seberang sana—langit berwarna ungu tua dengan dua bulan yang bersinar terang, dan pohon-pohon yang berkilauan dengan cahaya alami. Itu adalah Eldoria.
Sebelum melangkah masuk, Leonard berhenti sejenak, menoleh ke arah hutan yang gelap di belakang mereka—hutan yang telah menjadi rumah bagi Alexandria dan tempat di mana kisah cinta mereka bermula. Lalu ia menoleh ke arah Alexandria.
"Siap untuk melangkah ke babak baru, Alex?" tanya Leonard, matanya berbinar penuh harapan.
Alexandria menatap gerbang yang memikat itu, lalu menatap Leonard. Ia menarik napas panjang, lalu tersenyum lebar. "Siap, Leo. Ayo kita pergi. Ke masa depan kita."
Dengan tangan yang saling menggenggam erat, Leonard dan Alexandria pun melangkah maju, melewati gerbang cahaya itu, dan menghilang dari dunia manusia, menuju dunia baru yang penuh keajaiban, bahaya, dan takdir yang menanti mereka.