Dimas hanyalah seorang pegawai kantoran biasa yang hidup dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, di balik pintu apartemennya, menanti sebuah rahasia yang tidak akan dipercayai oleh siapapun: seorang istri cantik luar biasa bernama Linda, yang berasal dari ras siluman rubah.
Linda bukan sekadar istri biasa. Ia memiliki kasih sayang yang meluap-luap, namun berbanding lurus dengan sifatnya yang sangat posesif. Baginya, keterlambatan Dimas pulang kerja adalah "kejahatan besar" yang hanya bisa ditebus dengan perhatian penuh dan kemanjaan yang intens. Linda tidak segan-segan menggunakan pesona silumannya untuk memastikan Dimas tidak pernah berpaling darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNOWBIRDS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
...~ Sudut Pandang Linda ~...
Lantai marmer gerai perlengkapan bayi eksklusif di pusat perbelanjaan Jakarta ini terasa terlalu dingin di bawah alas kaki ku, namun suhu tubuh ku justru sedang mendidih. Aku berdiri di tengah-tengah lautan kain katun lembut, dikelilingi oleh rak-rak yang didominasi oleh dua warna yang menurut ku sangat membosankan: merah muda yang pucat dan biru langit yang terlalu standar.
“Pink atau Biru?” keluh ku sembari memicingkan mata, menatap deretan jumper bayi bermotif jerapah.
“Apa mereka pikir Elkan adalah boneka plastik? Dia adalah pewaris darah rubah ekor sembilan. Dia memiliki api spiritual yang berdenyut di nadinya. Memberinya baju warna biru bayi adalah penghinaan terhadap martabat klan. Dia butuh sesuatu yang memancarkan otoritas. Sesuatu yang... bersinar.”
Aku memutar tubuh ku, membiarkan daster longgar yang aku pakai berkibar sedikit, dan mata ku langsung tertuju pada sebuah manekin di sudut ruangan. Di sana, tergantung sebuah setelan kecil berbahan sutra sintetis berwarna emas metalik dengan aksen bordir hitam.
"Dimas! Sini! Aku menemukannya!" teriak ku, mengabaikan tatapan beberapa calon ibu lain yang tampak terganggu dengan suara ku yang terlalu bersemangat.
Dimas datang dengan napas terengah-engah, tangannya penuh dengan keranjang belanja yang berisi botol susu anti-sedak, tisu basah non-alkohol, dan deterjen khusus bayi. Ia tampak seperti kuli angkut yang baru saja selamat dari badai gudang.
"Apa, Linda? Kau menemukan popok kain yang bisa menyerap energi kinetik?" tanya Dimas sambil menyeka keringat di dahinya.
"Bukan!" aku menunjuk setelan emas itu dengan bangga.
"Lihat. Ini adalah warna klan. Emas melambangkan matahari yang tak pernah tenggelam dan kesucian mananya. Elkan akan terlihat seperti pangeran kecil yang siap memimpin pasukan rubah dalam baju ini."
Dimas meletakkan keranjangnya ke lantai, lalu menatap baju emas itu dengan dahi berkerut. Ia mendekat, memegang bahu baju itu, dan menggelengkan kepala dengan ekspresi profesional seorang manajer operasional.
"Linda, sayang... ini bukan baju bayi. Ini kostum panggung penyanyi dangdut atau seragam pahlawan super tahun 80-an," kata Dimas datar.
"Bahannya kaku, panas, dan lihat kancingnya ini kancing besi tajam. Kalau Elkan menendang dan kancing ini terlepas, dia bisa melukai dirinya sendiri. Belum lagi warnanya... dia akan terlihat seperti piala berjalan di tengah desa nanti."
"Piala berjalan?" aku mendesis, ekor ku yang aku sembunyikan di balik jubah panjang mendadak berkedut karena tersinggung.
"Ini emas, Dimas! Warna keagungan! Kau ingin anak ku memakai warna biru pudar itu? Dia akan terlihat seperti asisten administrasi di kantor mu!"
"Biru itu praktis, Linda! Biru tua menyamarkan noda muntah dan kotoran," Dimas mengambil sebuah jumper biru tua berbahan kaos katun yang sangat lembut dari rak sebelah.
"Lihat ini. Bahannya menyerap keringat, kancingnya dari plastik yang aman, dan ada ruang ekstra di bagian belakang untuk... yah, untuk 'aset' tambahannya jika nanti ekornya mendadak muncul saat dia sedang tidur siang. Ini logis. Ini efisien."
"Logis? Efisien?" aku tertawa sinis, melangkah maju hingga wajah kami hanya berjarak beberapa senti.
"Kau sedang memilih baju untuk anak siluman, bukan sedang memesan palet kayu untuk gudang mu! Elkan butuh identitas! Dia butuh kebanggaan!"
“Dia tidak mengerti,” keluh ku sembari menatap mata cokelat Dimas yang keras kepala.
“Baginya, pakaian hanyalah fungsi pelindung. Bagi ku, pakaian adalah pernyataan perang terhadap siapa pun yang berani meremehkan keturunan ku. Jika Genta melihat Elkan memakai baju biru bergambar paus, dia akan menertawakan kita selamanya!”
"Linda, coba pikirkan," Dimas menurunkan nada suaranya, mencoba mode diplomasi.
"Kita akan ke lereng Merapi. Di sana udaranya dingin dan banyak debu tanah. Baju emas mengkilap ini akan menarik perhatian semua orang dari jarak satu kilometer. Kita ingin sembunyi, ingat? Kita tidak ingin menjadi pusat perhatian."
"Kita bisa memasang sihir pengalihan mata pada bajunya!" usul ku.
"Dan menghabiskan energi mu setiap hari hanya untuk membuat baju itu terlihat kusam? Itu pemborosan sumber daya sihir yang sangat tidak efisien," Dimas mengangkat jumper biru itu lagi.
"Ini biru. Tenang. Netral. Tidak mencolok."
"Aku benci warna netral!" aku menyambar sebuah baju warna merah muda (pink) yang sangat terang di rak lain hanya untuk memancing emosinya.
"Kalau begitu, bagaimana kalau warna ini? Setidaknya ini lebih hidup daripada biru mu yang membosankan itu!"
Dimas membelalak. "Tapi Elkan laki-laki, Linda! Kau sendiri yang lihat di USG kemarin!"
"Warna tidak punya gender di dunia siluman, Dimas! Ayah ku dulu memakai jubah sutra warna fanta saat memimpin upacara bulan purnama dan tidak ada yang berani protes!" aku mengangkat baju pink itu tinggi-tinggi.
"Pink adalah warna keberanian di beberapa sub-klan kita!"
"Tapi di Jawa Tengah, kalau bayi laki-laki pakai pink fanta, orang-orang akan mengira aku salah beli!" Dimas mulai terlihat frustrasi yang lucu. Ia mengacak-acak rambutnya.
"Oke, begini saja. Kita cari jalan tengah. Hijau?"
"Hijau lumut? Tidak. Aku bukan rubah rawa," aku menolak.
"Kuning?"
"Terlalu mirip jeruk purut."
"Putih?"
"Terlalu cepat kotor!"
Perdebatan kami mulai mengundang perhatian pramuniaga toko. Seorang gadis muda dengan seragam rapi mendekati kami dengan ragu-ragu. "Maaf Bapak, Ibu... ada yang bisa saya bantu? Mungkin sedang mencari warna yang netral gender?"
"Istri saya ingin baju warna emas metalik untuk bayi laki-laki," kata Dimas sambil menunjuk manekin dengan wajah pasrah.
Gadis itu menatap baju emas itu, lalu menatap ku, lalu menatap Dimas. "Oh... itu sebenarnya koleksi terbatas untuk acara formal atau... um, pemotretan bayi tema 'Royal'. Tapi biasanya bahannya memang kurang direkomendasikan untuk penggunaan sehari-hari karena kurang sirkulasi udara."
"Dengar kan? Kurang sirkulasi udara!" Dimas membusungkan dada seolah baru saja memenangkan tender besar.
Aku mendengus, menyilangkan tangan di bawah dada. "Lalu apa saran mu, Nona?"
Gadis pramuniaga itu tersenyum profesional. "Bagaimana kalau warna mustard atau terakota? Bahannya katun organik, lembut di kulit, warnanya tetap elegan dan memiliki kesan 'bumi' yang kuat, tapi tetap praktis untuk bayi."
Ia mengambilkan sebuah setelan kecil berwarna kuning tua kecokelatan (mustard) dengan tekstur kain yang sangat mewah namun terasa dingin saat disentuh.
Aku meraba kainnya. “Hm. Lembut. Dan warnanya... hampir mendekati warna bulu ekor ku saat terkena cahaya senja. Ini bukan emas murni, tapi ini memiliki aura kekuatan tanah yang cukup stabil.”
"Bagaimana, Dimas?" tanya ku, masih mencoba mempertahankan harga diri rubah ku.
Dimas mengambil baju itu, mengecek label harganya, lalu menarik-narik kainnya untuk mengetes elastisitas. "Katun organik. Tanpa pewarna kimia berbahaya. Kancingnya tertutup lapisan kain sehingga tidak akan menggores kulit. Warnanya juga... oke, ini cukup bagus. Tidak terlalu mencolok seperti emas dangdut tadi, tapi tetap terlihat berkelas."
"Pilihan yang logis?" goda ku.
"Sangat logis," Dimas mengangguk puas.
"Dan harganya diskon dua puluh persen kalau beli tiga setel. Itu efisiensi finansial yang luar biasa."
Aku memutar bola mata. “Efisiensi finansial. Pria ini benar-benar manusia sampai ke sumsum tulangnya.”
Kami akhirnya memutuskan untuk membeli beberapa setel warna mustard, terakota, dan hijau hutan. Saat kami menuju kasir, aku melewati rak aksesoris dan melihat sebuah topi bayi kecil dengan telinga kelinci yang panjang.
"Dimas, lihat! Topi ini!" aku mengambilnya.
"Elkan punya telinga yang sudah berkedut. Kalau kita pakai topi ini, orang akan mengira telinga aslinya adalah bagian dari topi!"
Dimas menatap topi itu, lalu menatap ku dengan tatapan jenius yang tiba-tiba muncul. "Linda... kau jenius! Itu adalah kamuflase terbaik yang pernah aku dengar! Kita beli sepuluh topi dengan berbagai bentuk telinga hewan. Kelinci, beruang, kucing... kalau telinga rubahnya bergerak, orang hanya akan pikir itu ada mekanik getar di dalam topinya!"
"Akhirnya kau paham nilai dari estetika, suami ku," aku menepuk bahunya dengan bangga.
"Bukan estetika, Linda. Itu namanya 'Penyembunyian Aset Strategis dalam Kemasan Konsumen'," balasnya sambil tertawa.
Setelah membayar semua belanjaan yang jumlahnya cukup untuk membuka toko bayi kecil sendiri, kami berjalan menuju tempat parkir. Dimas membawa kantong-kantong besar itu dengan penuh semangat, sementara aku berjalan di sampingnya sambil mengelus perut ku yang kini terasa sangat tenang.
“Elkan,” keluh ku sembari merasakan kehangatan dari tangan Dimas yang menggandeng ku.
“Kau dengar itu? Ayah mu sudah menyiapkan kamuflase untuk mu. Kau akan lahir di desa, memakai baju warna bumi dan topi telinga kelinci. Mungkin bagi dunia kau akan terlihat konyol, tapi bagi ku, kau adalah pangeran emas yang sedang menyamar.”
Malam ini adalah malam terakhir kami di Jakarta. Di dalam mobil, aku melihat gedung-gedung tinggi yang mulai menyalakan lampunya. Perasaan sedih mendadak menyelinap masuk ke dalam hati ku. Apartemen 404, tempat di mana aku pertama kali jatuh cinta pada kepolosan Dimas, tempat di mana aku pertama kali tahu aku hamil... besok akan kami tinggalkan.
"Sedih meninggalkan Jakarta?" tanya Dimas, seolah bisa membaca pikiran ku.
"Sedikit," aku mengaku.
"Tapi aku lebih takut jika kita tetap di sini. Genta tidak akan berhenti mencari celah. Dan Elkan butuh ruang untuk tumbuh tanpa harus terus-menerus disembunyikan di balik celana olahraga longgar."
"Kita akan membangun sarang yang lebih baik di sana," Dimas memutar setir, membawa kami membelah kemacetan terakhir yang mungkin akan kami rasakan untuk waktu yang lama.
"Aku sudah menyiapkan semuanya. Truk pengangkut sudah jalan sore tadi. Besok subuh, kita berangkat."
“Kehidupan di Desa,” pikir ku sembari menyandarkan kepala di bahu Dimas.
“Akan ada banyak sindiran dari Bibi Sari, aroma tanah Merapi, dan mungkin tantangan baru dari klan. Tapi dengan baju bayi warna mustard dan topi telinga kelinci di tangan kami, aku merasa siap menghadapi apa pun.”
Komedi belanja hari ini berakhir dengan rasa manis yang tertinggal di lidah. Di antara perdebatan warna emas dan biru, kami menemukan sebuah kesepakatan bahwa identitas Elkan adalah sesuatu yang kami jaga bersama, dengan sihir rubah ku dan logika manusia Dimas.
"Dimas?"
"Ya?"
"Aku tetap ingin satu setel emas itu. Untuk foto pertamanya saat lahir nanti."
Dimas menghela napas panjang, namun aku bisa melihat senyum di sudut bibirnya. "Baiklah... satu setel emas. Tapi hanya untuk foto. Jangan biarkan dia merangkak di tanah memakai itu, atau aku harus menyikat suteranya sampai pagi."
"Janji," jawab ku sambil tertawa kecil, menutup hari ini dengan kehangatan yang lebih cerah dari warna emas mana pun di dunia ini.
100000/10
would recommend
semangat terus up nyaaa👍👍👍😍😍