Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Memeluk Masa Lalu, Melangkah ke Masa Depan
Dua bulan telah berlalu sejak Aisha mengetahui kebenaran tentang Sari dan Cahaya. Dua bulan yang diisi dengan percakapan panjang di malam hari, tangis yang tertahan, dan pelukan yang saling menguatkan. Aisha dan Arka memutuskan untuk tidak terburu-buru memperbaiki hubungan mereka. Mereka memilih untuk fokus pada Baskara terlebih dahulu, membiarkan luka-luka lama sembuh dengan sendirinya.
Arka kini lebih sering datang ke rumah. Bukan setiap hari, tapi setidaknya tiga atau empat kali seminggu. Ia datang untuk Baskara, tapi seringkali berakhir dengan Aisha dan Arka berbincang lama setelah Baskara tidur. Mereka membahas banyak hal—tentang masa lalu, tentang kesalahan yang pernah mereka buat, tentang bagaimana mereka bisa menjadi orang tua yang lebih baik.
Tidak ada janji untuk bersama kembali. Tidak ada harapan yang dibangun terlalu tinggi. Hanya dua orang dewasa yang belajar untuk saling memaafkan dan melanjutkan hidup.
---
Pagi itu, Aisha sedang menyiapkan sarapan ketika Baskara turun dari kamar dengan wajah berseri-seri.
“Bu, hari ini aku mau main ke rumah teman! Dikasih izin sama orang tuanya.”
“Teman siapa, Nak?”
“Adit. Kita mau main game di rumahnya. Boleh, kan, Bu?”
Aisha tersenyum. “Boleh. Tapi kamu harus selesai PR dulu.”
“Udah, Bu! Aku kerjain semalam.”
“Baik, kalau begitu. Nanti Ibu antar.”
“Iya, Bu!”
Baskara makan dengan lahap, sesekali bercerita tentang Adit dan teman-temannya yang lain. Aisha mendengarkan dengan saksama, sesekali bertanya, sesekali tertawa. Ia senang melihat Baskara mulai memiliki kehidupan sosial yang sehat. Anak itu tidak lagi menarik diri seperti dulu.
---
Setelah mengantar Baskara ke rumah Adit, Aisha pulang dan membersihkan rumah. Ia sedang mengepel lantai ketika bel pintu berbunyi.
Aisha membuka pintu, dan terkejut melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.
Mia.
Wanita itu berdiri dengan gaun panjang berwarna krem, rambut sebahu yang ditata rapi, dan senyum tipis di wajahnya. Ia terlihat lebih sehat dari terakhir Aisha lihat di rumah sakit jiwa. Matanya lebih jernih, kulitnya lebih cerah, dan ada ketenangan yang terpancar dari dirinya.
“Mia?” Aisha masih tidak percaya.
“Selamat pagi, Aisha. Maaf mengganggu. Aku minta Arka mengantarku ke sini. Dia di dalam mobil, kalau kau tidak percaya padaku.”
Aisha menengok ke jalan. Benar, mobil Arka terparkir di depan rumah. Arka melambai dari balik kaca.
“Apa yang kau inginkan, Mia?”
“Aku hanya ingin bicara. Sebentar saja. Aku janji tidak akan macam-macam.”
Aisha ragu sejenak, tapi akhirnya membuka pintu lebar-lebar. “Masuklah.”
Mia masuk, duduk di sofa ruang tamu. Aisha duduk di hadapannya, menjaga jarak.
“Kau mau minum?” tanya Aisha.
“Tidak, terima kasih. Aku tidak akan lama.”
Mia menarik napas panjang. “Aisha, aku datang untuk minta maaf. Bukan hanya karena hampir menyakiti Baskara, tapi karena telah membebanimu dengan cerita tentang Sari dan Cahaya. Aku tahu itu menyakitkan.”
“Kau hanya mengatakan kebenaran, Mia. Aku berhak tahu.”
“Tapi caraku menyampaikannya salah. Aku melakukannya dengan niat buruk. Aku ingin kau membenci Arka, sama seperti aku membencinya dulu.”
Aisha menunduk. “Dan sekarang?”
“Sekarang aku sadar bahwa kebencian tidak menyelesaikan apa pun. Arka sudah berubah. Ia berusaha menjadi lebih baik. Ia berusaha memperbaiki kesalahannya. Aku tidak bisa terus membencinya.”
“Apa kau sudah memaafkannya?”
Mia tersenyum pahit. “Aku masih dalam proses. Tapi setidaknya, aku tidak lagi ingin melihatnya menderita.”
Mereka berdua diam. Suara burung berkicau di taman belakang terdengar jelas.
“Aisha, aku juga ingin mengucapkan terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Karena kau masih mau menerima Arka. Karena kau masih mau menjadi ibu yang baik untuk Baskara. Karena kau tidak membenciku, meskipun aku pantas dibenci.”
Aisha menghela napas. “Aku tidak sebaik yang kau kira, Mia. Aku juga punya banyak kesalahan. Aku berselingkuh, aku menghancurkan keluarga sendiri, aku hampir membuat Baskara membenciku selamanya.”
“Tapi kau berubah, Aisha. Itu yang membedakanmu dengan orang-orang yang tidak mau berubah.”
Aisha tersenyum tipis. “Kita sama-sama berubah, Mia. Kita sama-sama belajar dari kesalahan.”
Mia mengangguk. “Aku harus pergi sekarang. Terima kasih sudah mau menerima kedatanganku.”
Aisha berdiri, mengantar Mia ke pintu. Sebelum keluar, Mia menoleh.
“Aisha, jika suatu hari nanti Baskara bertanya tentang bibinya... tolong katakan bahwa bibinya sayang padanya. Dan bahwa bibinya minta maaf karena tidak pernah bisa menjadi bibi yang baik untuknya.”
“Aku akan sampaikan, Mia. Jika waktunya tepat.”
Mia tersenyum, lalu berjalan ke mobil Arka. Aisha melihat Arka membuka pintu untuk Mia, lalu melambai padanya sebelum mobil itu pergi.
Aisha berdiri di teras, memandangi mobil yang semakin menjauh. Ada rasa lega di hatinya. Mia telah berubah. Mia telah memaafkan Arka, setidaknya sebagian. Mungkin suatu hari nanti, mereka semua bisa benar-benar damai.
---
Sore harinya, Aisha menjemput Baskara dari rumah Adit. Baskara tampak lelah tapi bahagia. Ia bercerita tentang game yang mereka mainkan, tentang Adit yang jago sekali, tentang camilan enak yang disediakan ibu Adit.
Aisha mendengarkan dengan saksama, sesekali bertanya, sesekali tertawa. Ia senang melihat Baskara memiliki teman baik.
“Bu, besok aku boleh main lagi ke rumah Adit?”
“Besok kamu sekolah, Nak. Mainnya akhir pekan saja.”
“Iya, Bu. Akhir pekan aku main lagi, ya.”
“Boleh, kalau PR kamu selesai.”
Baskara tersenyum senang. Ia menggandeng tangan Aisha, berjalan bersamanya di trotoar yang rindang.
“Bu, aku kangen Ayah.”
“Ayah akan datang nanti malam, Nak. Dia janji mau makan malam bersama.”
“Seru, Bu! Aku minta Ayah belikan bakso!”
Aisha tertawa. “Kamu memang suka bakso, ya. Nanti Ibu bilang sama Ayah.”
---
Malam harinya, Arka datang dengan membawa bakso untuk Baskara. Anak itu senang sekali, makan dengan lahap sambil bercerita tentang harinya. Aisha dan Arka hanya tersenyum melihat antusiasme Baskara.
Setelah Baskara tidur, Aisha dan Arka duduk di teras belakang. Langit malam cerah, bintang-bintang bertaburan.
“Mia datang ke rumahku pagi ini,” kata Aisha.
“Aku tahu. Aku yang mengantarnya. Dia ingin minta maaf secara langsung. Maaf aku tidak bilang sebelumnya.”
“Tidak apa-apa, Arka. Aku senang Mia mau berdamai.”
“Dia benar-benar berubah, Aisha. Terapi di panti rehabilitasi mengubahnya. Dia tidak lagi seperti dulu.”
“Aku melihatnya. Ada ketenangan di matanya.”
Arka mengangguk. “Aisha, aku ingin bertanya sesuatu.”
“Apa?”
“Apa kau masih mau mencoba lagi? Bukan hanya sebagai teman, tapi sebagai pasangan?”
Aisha terdiam. Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya rumit.
“Arka, aku masih sayang padamu. Tapi aku masih punya luka. Luka karena perselingkuhanku sendiri, luka karena kebohonganmu, luka karena semua yang terjadi.”
“Aku tahu. Aku tidak memintamu untuk melupakan semua itu. Aku hanya ingin kau tahu, aku siap menunggumu. Berapa pun lama.”
Aisha tersenyum tipis. “Kau sabar sekali, Arka.”
“Aku belajar bersabar. Dulu aku terlalu sibuk dengan pekerjaan, dengan masa laluku, sampai aku tidak menyadari bahwa kau kesepian. Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama.”
Mereka berdua diam, menikmati malam yang sunyi. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma bunga melati dari taman tetangga.
“Arka, aku ingin kita melakukan sesuatu.”
“Apa?”
“Aku ingin kita pergi ke makam Sari dan Cahaya. Aku ingin memberkati mereka. Aku ingin... melepaskan.”
Arka menunduk. Air matanya jatuh. “Kau yakin, Aisha?”
“Aku yakin. Aku sudah memikirkan ini sejak lama. Aku tidak bisa terus membenci masa lalu yang tidak bisa aku ubah. Aku harus melepaskannya, demi ketenanganku sendiri.”
“Baik. Aku akan atur. Minggu depan kita pergi ke Bandung.”
---
Minggu berikutnya, Aisha, Arka, dan Baskara pergi ke Bandung. Baskara tidak tahu tujuan sebenarnya. Ia hanya tahu bahwa mereka akan berlibur sebentar ke kota kembang.
Setelah menginap satu malam di hotel, Arka membawa mereka ke sebuah pemakaman umum di pinggiran Bandung. Makam itu sederhana, hanya dua batu nisan kecil dengan tulisan yang mulai pudar.
“Bu, kita ke kuburan siapa?” tanya Baskara bingung.
Aisha berlutut di hadapan Baskara. “Nak, ini makam bibimu. Bukan Bibi Mia, tapi bibi yang lain. Namanya Sari. Dan ini makam anaknya, namanya Cahaya. Mereka adalah keluarga Ayah.”
Baskara mengerutkan kening. “Ayah punya keluarga lain?”
“Bukan keluarga lain, Nak. Ini adalah keluarga yang... yang Ayah kenal sebelum menikah dengan Ibu. Ceritanya panjang. Tapi yang penting, Ibu ingin mereka tahu bahwa kita mendoakan mereka.”
Baskara mengangguk, meski tidak sepenuhnya mengerti. Ia membawa bunga yang Aisha belikan, meletakkannya di atas kedua makam itu.
“Semoga tenang di sana, Bibi Sari dan Mbak Cahaya,” kata Baskara polos.
Aisha dan Arka menangis. Mereka berdoa bersama, memohon ampunan untuk semua kesalahan, dan melepaskan semua beban yang selama ini mereka pikul.
---
Di perjalanan pulang, Baskara tertidur di kursi belakang. Aisha duduk di kursi depan, sesekali menatap Arka yang menyetir dengan konsentrasi.
“Arka, terima kasih sudah membawaku ke sini.”
“Aku yang berterima kasih, Aisha. Kau tidak tahu betapa berat beban yang terangkat dari pundakku setelah hari ini.”
“Kita sama-sama melepaskan, Arka. Aku melepaskan kebencianku pada masa lalumu. Kau melepaskan rasa bersalahmu pada Sari dan Cahaya.”
“Apa ini berarti kita bisa memulai lagi?”
Aisha tersenyum. “Kita sudah memulai, Arka. Sejak kita memutuskan untuk berubah. Sejak kita memutuskan untuk jujur satu sama lain. Sejak kita memutuskan untuk tidak menyerah.”
Arka meraih tangan Aisha. “Aku mencintaimu, Aisha. Aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu.”
“Aku juga mencintaimu, Arka. Meskipun kadang cinta itu sakit, aku tetap memilih untuk mencintaimu.”
Mereka berdua tersenyum, melanjutkan perjalanan pulang dengan hati yang lebih ringan.
---
Malam harinya, setelah Baskara tidur, Aisha dan Arka duduk di ruang tamu. Mereka berbincang tentang masa depan, tentang rencana-rencana yang ingin mereka wujudkan.
“Aisha, aku ingin kita menikah lagi.”
Aisha terkejut. “Apa?”
“Bukan sekarang. Tapi suatu hari nanti, ketika kita benar-benar siap. Aku ingin kita menjadi keluarga yang utuh lagi. Bukan karena Baskara, tapi karena kita saling mencintai.”
Aisha menunduk. “Arka, aku masih takut. Aku takut kita mengulangi kesalahan yang sama.”
“Kita tidak akan mengulanginya, Aisha. Karena kita sudah berubah. Kita sudah belajar dari kesalahan. Kita tidak akan membiarkan masa lalu menghancurkan masa depan.”
Aisha mengangkat wajahnya, menatap Arka. “Kau yakin?”
“Aku yakin. Aku belum pernah seyakin ini dalam hidupku.”
Aisha tersenyum. “Baik. Kita nikah lagi. Tapi jangan sekarang. Beri aku waktu.”
“Berapa pun waktu yang kau butuhkan, aku akan menunggu.”
Mereka berdua tersenyum, saling menggenggam tangan. Di luar, bintang-bintang bertaburan, bulan tersenyum tipis.
Badai telah berlalu. Luka akan sembuh. Dan mereka, yang pernah hancur, kini belajar untuk bangkit kembali.
Bersama.