Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.
Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.
Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.
Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan
Sore itu, langit di atas kampung itu berwarna jingga keemasan. Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, menyisakan cahaya kemerahan yang menembus celah-celah awan tipis.
Udara terasa dingin, seperti biasa di daerah kaki gunung. Angin bertiup pelan, menerbangkan dedaunan kering di halaman rumah kecil Rafiq. Pohon beringin besar di belakang rumah itu berdiri tegak, akar-akarnya yang menjalar seperti urat-uratan hitam di atas tanah.
Di antara dahan-dahannya, burung-burung mulai pulang ke sarang, bersuara riuh sejenak sebelum sunyi.
Kyai Mansur berjalan pelan di jalan setapak menuju rumah itu. Di belakangnya, dua orang santri mengikuti dengan langkah waspada.
Santri pertama bernama Badrun, pemuda berusia dua puluh lima tahun dengan tubuh tegap dan wajah serius. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang yang sudah sedikit kusut karena perjalanan, sarung coklat gelap, dan peci hitam di kepalanya.
Di tangannya, ia membawa tas kain berisi bekal dan beberapa botol air zamzam yang sudah dibacakan doa. Santri kedua bernama Lukman, lebih muda, sekitar dua puluh tahun, dengan tubuh kurus dan wajah polos yang berusaha terlihat berani. Ia membawa Al-Qur'an dan tongkat kayu untuk Kyai Mansur.
Kyai Mansur sendiri berjalan di depan dengan langkah mantap, tidak tergesa meskipun jarum jam menunjukkan hampir Maghrib. Ia mengenakan pakaian putih bersih—koko putih lengan panjang yang terbuat dari katun halus, sarung putih dengan motif garis tipis berwarna krem, dan sorban putih yang melilit kepalanya dengan rapi.
Di tangan kanannya, ia memegang tasbih butiran hitam yang sudah halus karena usia. Di tangan kirinya, sebuah botol kecil berisi air zamzam yang sudah ia baca doa sejak malam sebelumnya.
Jenggot putihnya yang panjang menjuntai hingga dada, bergerak pelan tertiup angin sore. Matanya yang tajam menatap ke depan, ke arah rumah kecil yang mulai terlihat di balik rimbunan pohon pisang dan pepaya.
"Ini dia," gumamnya pelan.
Badrun dan Lukman bertukar pandang. Mereka sudah mendengar cerita tentang Rafiq dari Kyai Mansur selama perjalanan.
Tentang pria yang dulu agamis, yang menjadi imam masjid di komplek perumahan, yang istrinya berselingkuh dengan sahabatnya, yang anaknya meninggal, yang kemudian menghilang dan dikabarkan berubah menjadi sesuatu yang menakutkan.
Mereka juga mendengar tentang Ustad Salim, yang kini terbaring koma di rumah sakit setelah mencoba meruqyah Pak RT yang diganggu oleh bayangan yang sama.
"Kyai," Badrun bersuara pelan, "apakah kita tidak perlu menunggu sampai besok pagi? Hampir Maghrib. Tempat ini... tempat ini terasa aneh."
Kyai Mansur tidak menjawab. Ia terus berjalan, tongkatnya yang dipegang Lukman dari belakang belum ia ambil. Ia merasa tidak perlu. Rumah itu sudah di depan mata.
Rumah itu kecil. Dinding kayu yang sudah menghitam karena usia, atap seng yang berkarat di beberapa bagian, teras sempit dengan dua kursi bambu lapuk. Halaman depannya ditumbuhi ilalang setinggi lutut, tidak terawat.
Tidak ada tanda-tanda kehidupan—tidak ada suara televisi, tidak ada suara orang berbicara, tidak ada asap dapur. Rumah itu seperti rumah mati, rumah yang ditinggalkan, meskipun Kyai Mansur tahu ada yang tinggal di sana.
Sampai di halaman depan, Kyai Mansur berhenti. Ia menatap rumah itu dari ujung ke ujung. Matanya yang tajam menyipit. Ia merasakan sesuatu. Bukan dingin. Bukan panas. Tapi tekanan.
Tekanan di udara yang tidak terlihat, seperti ada sesuatu yang berat yang menggantung di atas rumah itu. Seperti ada kehadiran yang tidak mau pergi.
"Allahu Akbar," bisiknya. Ia mengangkat tasbih di tangannya, mulai membaca doa perlindungan dengan suara pelan.
Pintu rumah itu terbuka. Tidak sepenuhnya. Hanya setengah. Seperti sengaja dibiarkan terbuka untuk menyambut, atau mungkin untuk menguji.
Kyai Mansur melangkah naik ke teras. Kayu anak tangga berderit pelan di bawah kakinya. Badrun dan Lukman mengikuti di belakang, badan mereka tegang, mata mereka waspada ke segala arah.
Kyai Mansur mendorong pintu kayu yang sudah setengah terbuka itu. Pintu itu terbuka lebar dengan suara engsel yang berdecit panjang.
Ruang tamu rumah itu gelap. Cahaya matahari sore yang mulai redup masuk melalui celah-celah dinding dan jendela yang beberapa kacanya pecah, menciptakan garis-garis cahaya tipis di lantai kayu yang berdebu. Udara di dalamnya lembab dan dingin. Dan ada bau.
Bau dupa. Dupa yang aneh, bukan dupa yang biasa digunakan untuk pengajian atau selamatan. Bau dupa yang lebih tajam, lebih menusuk, bercampur dengan aroma tanah basah dan sesuatu yang anyir.
Kyai Mansur berjalan masuk. Matanya langsung tertuju pada lantai ruang tamu.
Lingkaran.
Lingkaran abu di lantai kayu. Lingkaran yang sempurna, dengan diameter sekitar satu meter, di tengah-tengah ruangan. Abu itu bukan abu kayu biasa.
Warnanya abu-abu pucat, hampir putih, dengan kilau aneh ketika terkena cahaya dari luar. Di dalam lingkaran itu, ada bekas lilin—lima titik hitam di lima sudut lingkaran.
Lilin-lilin itu sudah padam, hanya menyisakan genangan lilin beku di lantai.
Badrun yang masuk di belakang Kyai Mansur langsung menghela napas. "Kyai... ini..."
"Aku tahu," potong Kyai Mansur. Suaranya tenang, tapi ada nada serius yang tidak biasa.
Ia berjalan mengelilingi lingkaran itu, tidak menginjaknya. Matanya mengamati setiap detail. Abu itu tidak tersebar. Tidak berantakan.
Lingkaran itu dibuat dengan sengaja, dengan teliti, dengan tujuan. Dan di beberapa tempat di tepi lingkaran, ada sisa-sisa sesuatu yang terbakar—mungkin kemenyan, mungkin dupa, mungkin bahan lain yang tidak ingin ia pikirkan.
Ia mengalihkan pandangan ke sudut ruangan. Di atas meja kayu kecil di dekat dinding, ia melihat sebuah benda yang membuat dadanya terasa sesak.
Al-Qur'an usang dengan sampul hijau tua yang sudah lusuh di tepi-tepinya.
Halaman-halamannya menguning karena usia. Al-Qur'an itu terbaring di atas meja, tertutup debu. Tidak pernah dibuka. Tidak pernah disentuh.
Debu yang menumpuk di sampulnya menunjukkan bahwa kitab itu sudah lama tidak tersentuh, mungkin berminggu-minggu, mungkin berbulan-bulan.
Kyai Mansur mendekat. Ia mengulurkan tangan, menyentuh sampul Al-Qur'an itu dengan ujung jarinya. Debu menempel di jari telunjuknya. Ia mengusapnya, membaca huruf-huruf di sampul yang sudah mulai pudar.
"Mushaf warisan," gumamnya. "Ditinggalkan. Tidak dibaca. Tidak dihormati."
Ia menarik tangannya. Ia tidak membuka Al-Qur'an itu. Bukan karena tidak berani, tapi karena ia merasa tidak perlu. Kitab itu tidak lagi memiliki tempat di rumah ini. Ia hanya menjadi saksi bisu dari kejatuhan pemiliknya.
"Kyai, kita harus segera pergi," bisik Lukman dari belakang. Suaranya gemetar. "Hampir Maghrib. Tempat ini... tempat ini tidak baik."
Kyai Mansur tidak bergerak. Ia berdiri di tengah ruangan, di samping lingkaran abu, dengan wajah yang serius. Ia menutup matanya, mengangkat kedua tangannya, dan mulai membaca doa perlindungan.
"Bismillahirrahmanirrahim. Allahumma inni a'udzu bika minal kufri wal faqri wa 'adzabil qabri..."
Suaranya lantang, mengisi ruangan yang gelap. Badrun dan Lukman mengamini di belakang, suara mereka berusaha tegas meskipun jantung mereka berdegup kencang.
Angin dari luar bertiup kencang, membuat jendela-jendela yang masih utuh bergetar. Daun-daun kering di halaman berputar-putar, seperti ada sesuatu yang bergerak di sekeliling rumah.
Kyai Mansur terus membaca. Ayat-ayat kursi. Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas. Diulang-ulang. Suaranya semakin keras, semakin mantap, seperti sedang melawan sesuatu yang tidak terlihat.
Tapi sesuatu di ruangan itu tidak berubah. Udara tetap dingin. Bau dupa tetap menusuk. Lingkaran abu tetap diam di lantai. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang merespons.
Kyai Mansur berhenti.
Ia membuka matanya.
Ia merasakannya. Doa-doanya tidak sampai. Bukan karena Allah tidak mendengar. Tapi karena sesuatu di ruangan ini menolaknya. Sesuatu yang lebih kuat dari doa biasa.
Sesuatu yang sudah terlalu lama berada di sini, terlalu dalam meresap ke dalam dinding, ke dalam lantai, ke dalam tanah di bawah rumah ini.
Ia menurunkan tangannya.
"Kita sudah ditemukan," katanya pelan. Badrun menoleh ke kiri dan kanan. "Apa maksud Kyai?"
Kyai Mansur berbalik menghadap pintu. Matanya menatap ke arah teras, ke arah halaman depan, ke arah jalan setapak yang mereka lalui tadi.
"Kita tidak datang ke sini tanpa sepengetahuannya. Dia tahu kita datang. Dia sudah menunggu."
Dan di ambang pintu, sesosok pria berdiri.
Tidak ada suara langkah kaki. Tidak ada suara pintu yang terbuka. Tiba-tiba saja ia sudah ada di sana, seperti tercipta dari kegelapan yang mulai merayap dari sudut-sudut ruangan.
Rafiq.
Ia berdiri di ambang pintu dengan tubuh tegak. Kemeja hitam lengan panjang yang ia kenakan gelap seperti malam, tanpa satu pun noda, tanpa satu pun kerutan.
Celana bahan hitam, rapi, seperti baru disetrika. Sepatu kets hitam tanpa tali—atau mungkin talinya sengaja tidak diikat. Rambutnya yang mulai panjang dibiarkan tergerai sedikit di dahi, tapi tidak cukup untuk menutupi apa yang tertera di jidatnya.
Tiga huruf.
ك ف ر
Kaf. Fa. Ro.