" Nak. Ayo kita pulang, tak baik loh melamun di waktu senja, apalagi kamu melamun nya di bawah pohon randu." Tegur wanita tua, lembut dan tersenyum hangat kepada pemuda berusia 20 tahun.
" Ehk. Nek... Ayo.." Jawab pemuda itu tak beraturan ucapannya. Lalu bangkit dari tempat duduk di bawah pohon itu.
" Kamu kenapa Nak. Akhir akhir ini Nenek perhatikan kamu suka melamun seorang diri?"
" Gak kenapa-kenapa kok Nek." Jawab nya.
" Hmmmmmmm.." Gumam Nenek tak puas dengan jawaban dari pemuda yang kini berjalan berbarengan pulang ke rumah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Episode 29 : Pertarungan kecerdasan.
Lukman menyebarkan foto-fotonya di atas tikar dengan gerakan yang kasar. Suaranya seperti dentuman batu yang menusuk suasana:
"Lihatlah sendiri Pak Langit! Ini kamu dengan Sri di balik pohon teh – wajahmu berdekatan, seolah sedang membicarakan hal yang tidak boleh diketahui orang lain. Dan ini, kamu sedang menggendong anak Intan sambil menatap Dewi dengan pandangan yang penuh makna! Bukti ini sudah cukup untuk membuat kamu dikenai tuntutan pidana dan kehilangan semua hak untuk menyentuh mereka!"
Suara ombak sungai yang dulu menenangkan kini terdengar seperti desisan ancaman. Udara menjadi berat, bahkan hembusan angin yang menerbangkan dedaunan kering pun terasa seperti isyarat dari bahaya yang akan datang. Uno menggerakkan jari telunjuknya perlahan ke arah para preman, dan mereka mulai menyebar mengelilingi saung – bayangan tubuh mereka panjang dan mengancam di atas tanah basah.
Sri menggigit bibirnya hingga memerah, tangannya gemetar saat memeluk bayi Putri. Dewi menatap Lukman dengan mata yang menyala, tapi suara yang keluar sedikit bergetar: "Itu bukan seperti itu... kami hanya sedang berbicara tentang anak-anak dan bagaimana cara melindungi mereka dari..."
"Tutup mulutmu!" teriak Uno dengan wajah memerah. "Kalian sudah membuat kesalahan dengan dekatnya kamu pada anak kampung ini sekarang tanggunglah akibatnya!"
Intan meraih tangan Langit dengan kuat, kuku nya menusuk kulit. Kedua anak kembar mengerutkan kening, mulai menangis karena suasana yang mengerikan. Langit menepuk tangan Intan dengan lembut, lalu berdiri perlahan matanya seperti dua buah batu yang telah dibakar oleh bara api, tapi wajahnya tetap tenang:
"Pak Lukman bilang punya bukti kuat? Kalau itu benar, kenapa foto-foto ini hanya mengambil bagian tertentu dari kejadian? Kenapa tidak ada satu pun gambar yang menunjukkan kami melakukan hal yang salah?"
Lukman tersenyum sinis, mengambil amplop lagi: "Bukti lain ada di kantor saya, Pak Langit. Dan jika kamu tidak mau mundur dari urusan orang lain sekarang juga, saya jamin, besok paginya seluruh kampung akan tahu bahwa kamu adalah pelakor yang tidak bertanggung jawab!" Ancaman penuh dengan makna, tujuan utama memprovokasi agar perkelahian terjadi, alasannya kuat karna membela diri, aneh dunia ini.
Saat itu, suara ranting kayu yang patah terdengar dari arah semak belukar. Semua orang menyadap pandangan ke sana sebuah bayangan mengendap ngendap bergerak menunggu waktu yang sangat tepat.
Lukman mengangkat tangan sebagai isyarat. Uno langsung memberi tanda kepada para preman:
"Tangkap mereka semua! Utamanya dua bocah itu jadikan mereka sandera agar anak kampung ini taat!"
Dua preman besar melompat ke arah Intan, yang langsung meraih Adi dan Adel dengan erat. Satu orang lain hendak menyerang Sri untuk merampas bayi Putri. Langit melompat cepat, menendang tangan preman yang ingin menyentuh Sri, lalu menepung dagu preman yang menyerang Intan hingga dia terjatuh.
"Tidak ada yang boleh menyentuh mereka!" teriak Langit, tubuhnya siap menghadapi serangan berikutnya.
Uno langsung menghadang Langit dengan pukulan keras – Langit membendungnya dengan lengan, tapi terpental ke belakang hingga menabrak tiang saung. Sementara itu, Lukman meraih tangan Adel yang sedang menangis, menariknya dengan kasar dari pelukan Intan:
"Dengan bocah ini, kamu tidak akan berani berbuat apa-apa!"
Hanya sepersekian detik sebelum Lukman bisa menarik Adel jauh, suara langkah kaki yang ringan tapi pasti terdengar dari balik semak belukar. Tiba-tiba, tiga sosok berpakaian jaket hitam mengkilap muncul dengan gerakan presisi itu adalah Yusuf beserta dua anak buah Rio yang telah bersembunyi di sana.
Mereka tampak bagaikan satria baja hitam yang tiba-tiba muncul dari bayangan, menghalangi setiap langkah para preman.
Salah satu anak buah Rio langsung merebut Adel dari tangan Lukman dan mengembalikannya ke Intan dengan lembut. Yang lainnya membendung serangan preman yang ingin menyerang lagi, gerakan beladirinya cepat dan akurat. Yusuf mendekat ke Langit, membantunya berdiri:
"Kamu baik-baik saja? Rio sedang sibuk memantau Jaji dan Pardi di arah rumah Nenek Wati dia sudah menyuruh kami untuk mengawal kamu dari jauh dan datang tepat waktu jika ada bahaya!"
Langit mengangguk." Kita hajar mereka semuanya sebelum polisi datang, kebencian ini tidak bisa di hentikan begitu saja.
"Wuzzzzzzzz.!
Gerakan yang begitu cepat, Langit langsung menghantam wajah Uno dengan pukulan yang sangat keras, tidak sampai di situ, dengan brutal dan tak berperasaan Langit membabi buta memukuli Uno ketua preman itu, hingga tampak terlihat wajahnya sudah tak berbentuk.
Intan, Dewi dan Sri melihat kemarahan Langit yang membuncah, membuatnya ngeri-ngeri sedap, begitu juga dengan Kang Yusuf dan kedua anak buah Rio.
"Aku sungguh tak menyangka dan duga bahwa Langit akan begitu kejam dan seperti kerasukan setan." Ucap hati Kang Yusuf.
Belum puas membuat babak belur ketua preman itu, Langit dengan bringas mulai menghajar satu persatu para preman yang di sewa oleh Pardi untuk menghabisinya.
Intan yang terus menerus melihat kemarahan Langit dan berdampak terhadap ingatan masa lalunya, buru buru mencegah Langit menyudahi kebrutalan nya itu.
"LANGIT..............!
"BERHENTI...........!
Intan berlari ke arah Langit memeluknya untuk meredakan emosi nya itu." Sudah Ngit, Teteh mohon jangan kau bunuh mereka, biarkan polisi yang menghukum dan mengadili kejahatan mereka.!
Darahnya mendidih, wajahnya yang biasanya lembut kini penuh dengan amarah yang memuncak seperti gunung berapi yang sudah menahan lava selama bertahun-tahun dan akhirnya meletus.
"AAAAAAAAAAAAAA.! JERATAN TAKDIR SEPERTI APA YANG KAMU INGINKAN HAH.!
"MATI KAU SEMUA!!!"
Terjerit Langit dengan suara yang menggema hingga mengguncang daun-daun pepohonan di sekitar saung. Badan yang tadinya tenang kini bergoyang kencang karena amarah yang meluap tak terkendali – kedua tangannya mengepal keras hingga kulitnya memucat dan urat lehernya membengkak.
"KALIAN BERANI SERANG KITA DI TEMPAT YANG KAMI JADIKAN TEMPAT BERCERITA DAMAI! KALIAN BERANI MENYENTUH ANAK-ANAK YANG TAK SESALAH APA-APA! APA KALIAN TIDAK PUNYA KELUARGA SENDIRI? ATAU KALIAN HANYA SERDAB SEMUT YANG HANYA TAU MENURUTI PERINTAH ORANG LAIN!"
Langit melangkah maju dengan langkah kasar, membuat tanah basah di bawah kakinya terhancurkan. Matanya merah pekat seperti bara api yang akan memakan segala sesuatu di depannya:
"JIKA KALIAN MAU MENJADI ALAT ORANG LAIN UNTUK MENYAKITI WARGA KAMPUNG, MAKA SAYA AKAN PASTIKAN KALIAN MENYESAL TELAH LAHIR DI DUNIA INI! JANJI SAYA – SEMUA YANG BERANI MENYAKITI ORANG YANG SAYA CINTAI AKAN MENDAPATKAN BALASAN YANG SEPADAN!"
Saat salah satu preman berani mengangkat tangan untuk menyerangnya, Langit menerjangnya dengan kecepatan luar biasa, menjatuhkannya hingga tubuhnya terguling ke tanah basah.
"JANGAN PERNAH SAMPAI KALIAN MENYENTUH NENEK SAYA, INTAN, ATAU ANAK-ANAK INI LAGI! SEKALI SAJA KALIAN BERANI DATANG DEKAT MEREKA, SAYA TIDAK AKAN HESITASI UNTUK MEMBUAT KALIAN MENYESAL TIAP DETIKNYA!"
Suara jeritannya terdengar hingga ke hulu sungai, menyatu dengan suara angin yang mulai bertiup kencang dan mengguncang seluruh saung...
CATATAN PEMBACA:
SESUDAH MEMBACA JANGAN LUPA KLIK LIKE YA!
SYUKUR-SYUKUR DAPAT VOTE DAN GIFT KALAU KALIAN SUKA DENGAN CERITA INI.
JANGAN LUPA JUGA ADD KE LIBRARY / FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATE SELANJUTNYA!
SALAM DARI ANAK KAMPUNG,
ARIS.
BERSAMBUNG