Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.
Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.
Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.
Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.
Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?
Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28 Perjalanan ke Kota
Pagi di Desa Sekar baru saja naik sempurna ketika aktivitas warga mulai hidup kembali, mengusir sisa-sisa dingin yang sempat mendekam semalaman. Air laut yang tenang di bibir pantai tampak memantulkan cahaya keemasan matahari terbit, sementara suara deru mesin perahu nelayan yang kembali dari laut bersahutan seperti irama yang akrab.
Di depan teras Poskesdes, Hana sudah sibuk sejak fajar menyingsing. Ia membolak-balik lembar catatan pasien dengan jemari yang sedikit bergetar, lalu membuka lemari penyimpanan obat yang tampak melompong.
“Stok antibiotik dan perban ini… benar-benar sudah kritis dan harus segera ditambah,” gumam Hana pelan, menghela napas panjang sambil memberikan tanda silang merah di atas kertas dokumennya.
Sudah tiga bulan lamanya ia mengajukan proposal birokrasi untuk tambahan obat-obatan kronis, dan baru kali ini permohonan tersebut disetujui.
"Bagaimana, Hana? Semua berkasnya sudah siap untuk dibawa ke kota?" tanya Kepala Desa yang mendadak muncul di depan pagar.
Hana buru-buru merapikan kertas di tangan dan mengangguk pelan. “Iya, Pak, semua dokumennya sudah lengkap. Tapi saya masih agak bingung… transportasi umumnya sangat terbatas, saya harus pergi dengan siapa?”
"Kalau Kael dan orang baru yang dua hari lalu tersesat di desa kita, aku akan meminta mereka menemani mu," ujar Kepala Desa.
"Ah, jangan Pak. Kael sibuk memperbaiki fasilitas sekolah untuk anak-anak, dan Teri... aku tidak terlalu mengenalnya," ucap Hana menolak lembut.
"Tidak apa-apa Dokter Hana, aku yakin Kael dan Teri akan setuju. Besok sebelum matahari naik kalian harus meninggalkan desa ini agar tidak terlalu kesiangan saat kalian tiba di kota," ujar Pak Kades.
Hana hanya bisa mengangguk pasrah, lalu Pak Kades berpamitan pergi. Hana kemudian melanjutkan aktivitasnya untuk melayani para warga desa yang mengeluhkan tentang kesehatannya.
Sementara itu, di dekat area balai desa, Kael sedang asyik bercengkrama dengan beberapa warga, sedangkan Teri tampak asyik bercanda gurau bersama Pak Darto dan Pak Sabir. Langkah kaki Pak Asep, asisten kepala desa, mendatangi kerumunan mereka dengan tergesa-gesa.
"Kael, besok kata kepala desa sebelum matahari naik, bisa untuk menemani Dokter Hana ke kota?" jelas Pak Asep langsung menyampaikan pesan.
Kael menghentikan obrolannya sejenak, menatap Pak Asep dengan dahi berkerut. "Ke kota bersama Dokter Hana? Memangnya ada keperluan apa?"
"Sepertinya mengambil stok obat-obatan desa yang baru disetujui, Kael. Kasihan kalau Dokter Hana harus membawa kardus-kardus berat itu sendirian," potong Pak Sabir ikut menimpali. Ia sempat tau saat kemarin bercengkrama dengan dokter Hana.
Teri yang mendengar itu langsung menegakkan tubuhnya, melirik Kael memberi kode. "Saya tidak keberatan ikut, Pak Asep. Tenaga saya senggang untuk membantu mengangkat barang."
"Wah, pas sekali kalau begitu! Kalian berdua kan badannya kekar seperti benteng," seru Pak Darto terbahak-bahak, lalu menyenggol lengan Kael dengan maksud menggoda.
"Lagipula Kael, ini kesempatan bagus. Menemani Dokter Hana yang cantik menembus jalanan sepi, siapa tahu pulang-pulang dari kota kalian langsung jadian, hahah!"
"Betul itu! Selama ini kau dingin sekali pada Dokter Hana, padahal dia yang merawat lukamu sampai sembuh dulu. Jangan gengsi, Kael!" timpal Pak Sabir yang ikut-ikutan memanaskan suasana, membuat warga di sekitar situ tertawa riuh menggoda Kael.
Kael hanya bisa menghela napas pendek, mengabaikan godaan bertubi-tubi dari warga desa dengan wajah lempengnya yang khas. "Baik, Pak Asep. Beritahu Kepala Desa kami akan berangkat besok subuh."
Keesokan harinya, pukul 04.00 dini hari.
Udara subuh terasa luar biasa dingin memeluk kulit, meninggalkan embun tebal di atas kaca depan mobil pick-up tua milik desa yang mesinnya sudah dipanaskan. Jalanan tanah liat menuju kota memakan waktu hampir sepuluh jam perjalanan, membelah jalur panjang berliku yang sepi dan dipenuhi lubang rusak.
"Semua tali pengikat barang di bak belakang sudah dipastikan aman?" tanya Kael singkat, berdiri bersandar di sisi pintu kendaraan dengan jaket tebal yang ritsletingnya tertutup rapat sampai ke dagu.
"Sudah aman terkendali, semua barang bawaan sudah saya kunci mati," jawab Teri patuh sembari menyeka keringat di dahinya setelah selesai menaikkan beberapa jeriken bahan bakar cadangan.
Hana berjalan tergesa-gesa keluar dari Poskesdes, memeluk erat sebuah tas selempang kecil yang berisi tumpukan dokumen.
"Maaf membuat kalian menunggu lama, apakah semua persiapan kita sudah siap?" tanya Hana, menatap bergantian ke arah Kael dan Teri.
Kael yang memperhatikan Hana tampak sedikit menggigil karena tidak memakai jaket, langsung bergerak tanpa banyak bicara. Ia membuka jaket tebal yang sedang dipakainya, lalu dengan gerakan tenang memakaikan jaket hangat itu ke tubuh Hana.
Teri yang melihat pemandangan perhatian tersembunyi itu langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, menyembunyikan senyum kecil samar yang hampir tidak terlihat di bibirnya.
"Semua sudah siap, mari berangkat sebelum matahari naik tinggi," jawab Kael dingin. Ia lalu menoleh ke arah Teri dan melanjutkan sandiwara amnesianya di depan Hana,
"Teri, kau saja yang menyetir. Kau bilang kau tahu jalan arah ke kota, kan? Aku sama sekali tidak ingat rute jalan di luar desa ini."
"Ah, siap, Pak Guru Kael. Biar saya yang ambil kemudi," sahut Teri cepat, langsung membuka pintu kursi sopir demi mengamankan penyamaran atasannya.
Sementara itu, Hana terpaku di tempatnya dengan jantung yang berdegup kencang. Wajah cantiknya mulai merona merah menahan malu bagaimana tidak, posisi wajah Kael saat memakaikan jaket tadi sudah teramat dekat dengan wajahnya.
Jarak yang begitu mengikis ruang itu membuatnya sadar kembali bahwa pria di depannya ini memang memiliki paras yang sangat tampan.
"Ya Tuhan..." gumam Hana teramat pelan dalam hati, mencoba menenangkan debaran dadanya sebelum ikut naik ke dalam kabin mobil.
Di perjalanan, sunyi sempat menguasai kabin mobil selama dua jam pertama. Bosan dengan keheningan yang mencekam bak kuburan, Hana akhirnya memutuskan untuk mengubah posisi duduknya. Karena kabin depan mobil *pick-up* tua itu sempit dan hanya memiliki satu baris bangku panjang, Hana yang duduk terhimpit di tengah-tengah harus memutar sedikit tubuhnya ke kiri dan ke kanan untuk menatap dua pria di sampingnya.
"Teri, kudengar dari Pak Jalil kau tersesat dua hari lalu sebelum bertemu Kael. Memangnya asalmu dari kota mana? Mengapa bisa tersasar sampai ke pelosok pesisir begini?" tanya Hana membuka obrolan, mencoba ramah sembari menoleh ke kanan, ke arah Teri yang sedang memegang kemudi setir.
Teri mendadak sedikit menegang, matanya melirik sekilas ke arah Hana di sampingnya sebelum kembali fokus ke jalanan rusak. "Ah... itu, Dok. Saya sebenarnya dari kota pusat. Saya hanya sedang mencari... mencari tempat baru untuk mencari ketenangan, ya, semacam itu."
"Ketenangan atau pelarian?" goda Hana terkekeh geli melihat postur tubuh Teri yang kekar namun tampak sangat gugup saat menyetir di dekatnya. Ia lalu menoleh ke arah kiri, menyenggol lengan Kael yang duduk mepet di dekat pintu.
"Kau tahu, Teri? Teman di sebelah kiri kita ini dulu waktu pertama kali kutemukan di pantai, kondisinya jauh lebih parah darimu. Badannya penuh luka robek mengerikan, nyaris mati, dan sampai sekarang dia tetap bungkam dari mana asal usul luka-luka itu."
Kael tetap tenang menatap kaca depan, wajahnya lempeng tanpa ekspresi demi menjaga sandiwara amnesianya di depan Hana, meski jarak duduk mereka sangat rapat di dalam mobil. "Itu sudah masa lalu, Dokter Hana. Lagipula, berkat keahlian jahitmu yang ketat, aku masih bisa duduk sehat di mobil ini sekarang."
"Tentu saja, kalau bukan karena aku, kau sudah jadi hantu di pantai itu," cibir Hana sambil mendengus pelan. Ia kembali menatap Teri yang bertubuh bongsor di sisi kanannya. "Hei Teri, melihat badanmu yang sama kekarnya dengan Kael, pekerjaan apa yang biasanya dilakukan orang sepertimu di kota? Apa kau seorang petugas keamanan?"
Teri menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan satu tangan yang bebas dari setir, memutar otak mencari kebohongan yang aman untuk menutupi identitasnya sebagai pembunuh elit organisasi Mafia.
"Saya... saya dulu bekerja di bidang spesialis eksekusi lapangan, Dok. Semacam... memastikan target-target besar terselesaikan dengan bersih tanpa sisa."
Hana berkedip, dahinya berkerut polos di antara kedua pria itu. "Spesialis eksekusi? Bersih tanpa sisa? Wah, jadi kau bekerja di perusahaan dekorasi interior atau bagian kebersihan gedung-gedung tinggi?" tanya Hana polos.
Pfft.
Kael yang berada di ujung kiri tiba-tiba mengeluarkan suara dengusan tertahan dari hidungnya.
Teri langsung membelalakkan mata, wajah tegapnya mendadak memerah menahan malu karena profesi 'pembunuh berdarah dingin' miliknya disamakan dengan petugas pembersih gedung.
"B-bukan begitu maksud saya, Dok... maksudnya—" belum selesai Teri menjelaskan Hana sudah memotong nya deluan
"Oh! Atau jangan-jangan kau ini mandor jagal hewan di rumah potong?" ujar Hana lagi dengan polosnya, menumpu dagu dengan tangan di atas dasbor. "Badanmu kan besar, pasti kuat menjatuhkan sapi-sapi besar dalam sekali eksekusi bersih, kan?"
Kael tidak bisa menahannya lagi. Sudut bibirnya terangkat, menimbulkan suara tawa kecil yang sangat jarang bahkan hampir tidak pernah didengar oleh siapa pun sejak ia terdampar di desa itu.
"Pembersih gedung dan jagal sapi... Kurasa itu pekerjaan yang sangat cocok untuk kapasitas ototmu, Teri." ejek Kael.
Teri yang melihat komandannya yang terkenal kejam itu tertawa kecil di sebelah Hana, akhirnya tidak bisa menahan diri. Ia ikut terkekeh geli meratapi nasibnya yang salah bicara di depan warga sipil sepolos Hana.
"Ya... mungkin Pak Guru Kael benar, Dok. Saya memang ahli dalam hal potong-memotong dan membersihkan masalah."
Hana tersenyum puas melihat Suasana di dalam kabin sempit itu mencair. "Nah, begitu dong, tertawa! Kalian berdua ini punya wajah yang tampan, tapi kalau ditekuk terus begitu, kalian malah terlihat seperti komplotan penjahat yang sedang merencanakan perampokan bank!"
Mendengar gurauan Hana yang tepat sasaran, Kael dan Teri kembali saling melempar pandang melompati bahu Hana, lalu kompak tertawa kecil bersama. Sebuah tawa tulus yang anehnya terasa begitu menenangkan bagi dua orang yang tangannya telah berlumuran darah masa lalu.
Bersambung...