NovelToon NovelToon
Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Teen
Popularitas:826
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

Tidak ada kabar sama sekali dari Endra.

Satu hari.

Dua hari.

Tiga hari.

Dan itu terasa seperti selamanya bagi Nayla.

Bukan karena Nayla tidak bisa hidup tanpa Endra setidaknya itu yang selalu dia yakinkan pada dirinya sendiri tapi karena selama ini, di tengah semua kekacauan hidupnya, Endra adalah satu-satunya tempat yang selalu dia tuju.

Tempat untuk pulang.

Tempat untuk berlindung.

Tempat untuk merasa  tidak sendirian.

Tapi sekarang?

Kosong.

Benar-benar kosong.

Nayla menatap layar ponselnya untuk kesekian kalinya pagi itu. Tidak ada notifikasi. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan tidak terjawab.

Tidak ada apa-apa dari Endra.

Padahal biasanya laki-laki itu akan menjadi orang pertama yang mengganggunya di pagi hari.

Mengirim pesan singkat atau bahkan sekadar missed call. Hal-hal kecil yang dulu Nayla anggap biasa sekarang terasa sangat berarti.

“Ya udah sih…” gumam Nayla pelan, mencoba terdengar santai.

Padahal dadanya terasa sesak.

Dia sendiri yang bilang ingin mengakhiri semuanya.

Dia sendiri yang lelah.

Dia sendiri yang memilih menjauh.

Tapi kenapa sekarang…

Dia yang merasa ditinggalkan?

Nayla menghela napas panjang, lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia tidak ingin terlihat menyedihkan di depan orang lain.

Tidak ingin terlihat lemah.

Tidak ingin terlihat butuh karena selama ini, itulah yang selalu dia lakukan.

Menutupi semuanya.

Seolah-olah dia baik-baik saja.

Seolah-olah tidak ada yang terjadi.

Seolah-olah hidupnya sempurna.

Padahal kenyataannya berantakan.

Sangat berantakan.

Langkah Nayla memasuki gerbang sekolah terasa lebih berat dari biasanya. Ia berjalan dengan kepala sedikit menunduk, berusaha menghindari tatapan orang-orang di sekitarnya.

Hari ini terasa berbeda atau mungkin memang Nayla saja yang merasa berbeda. Matanya menyapu area lapangan.

Kosong.

Tidak ada sosok Endra di sana.

Biasanya, laki-laki itu sudah sibuk dengan bola, atau sekadar bercanda dengan teman-temannya. Tapi hari ini tidak ada.

Saat upacara tadi pun sama.

Nayla bahkan berdiri lebih lama hanya untuk memastikan.

Berharap.

Mungkin dia terlambat.

Mungkin dia ada di barisan lain.

Mungkin tapi semua itu sia-sia. Endra benar-benar tidak datang. Dan itu aneh.

Sangat aneh.

Nayla menelan ludah, ia ingin bertanya.

Benar-benar ingin.

Pada teman-teman Endra.

Pada siapa saja.

Tapi dia gengsi.

Ego itu masih terlalu besar.

“Apa sih…” desahnya pelan.

Kenapa semuanya harus serumit ini?

Jam istirahat pertama.

Kelas mulai sepi.

Satu per satu murid keluar menuju kantin, menyisakan Nayla yang tetap duduk di bangkunya.

Sendirian.

Seperti biasa.

Ia membuka tasnya, mengeluarkan botol minum, lalu meneguk air perlahan.

Hening.

Terlalu hening.

Dan di keheningan itulah, pikirannya kembali bekerja.

Tanpa sadar, Nayla menaikkan lengan cardigan rajut berwarna biru yang ia kenakan. Di sana terukir jelas sebuah nama.

Endra.

Tulisan itu masih terlihat jelas, meski luka di sekitarnya sudah mulai mengering.

Tidak lagi berdarah.

Tidak lagi terasa perih.

Hanya menyisakan bekas. Bekas yang tidak akan hilang dalam waktu dekat. Nayla mengusapnya perlahan, ujung jarinya menyentuh setiap huruf. Seakan memastikan bahwa itu nyata.

“Meskipun awalnya sakit…” gumamnya pelan, “sekarang malah keliatan bagus.”

Senyum kecil terbit di bibirnya.

Aneh.

Sangat aneh.

Bagaimana bisa sesuatu yang menyakitkan justru terasa indah?

Atau mungkin memang Nayla saja yang sudah terlalu terbiasa dengan rasa sakit. Sehingga saat rasa itu datang lagi, dia tidak lagi menolak.

Dia menerimanya.

Bahkan menikmatinya.

Tawa sarkas tiba-tiba terdengar memecah keheningan. Dan juga menghancurkan momen itu.

Nayla langsung menurunkan lengan cardigan-nya dengan cepat.

Matanya menoleh ke arah sumber suara.

Deviana.

Berdiri di sana.

Dengan senyum yang terlalu menyebalkan untuk dilihat.

“Permainan lagi seru ya, Nayla,” ucapnya santai sambil bertepuk tangan kecil.

Nayla diam.

Tatapannya datar.

Tidak tertarik untuk menanggapi.

Deviana berjalan mendekat.

Langkahnya pelan.

Sengaja.

Seolah menikmati setiap detik.

Ia mengitari meja Nayla, lalu berhenti tepat di depannya.

“Gue salut loh,” lanjutnya, “kesabaran lo luar biasa.”

Masih diam.

Nayla bahkan tidak mengedip,ia hanya menatap Deviana dengan ekspresi kosong. Namun itu tidak menghentikan gadis itu, dia justru semakin membuatnya bersemangat.

Tangan Deviana terangkat, hendak menyentuh rambut Nayla. Namun—

Tep!

Nayla menepisnya dengan cepat.

“Jangan sentuh gue,” ucapnya dingin.

Nada suaranya rendah tapi tegas.

Deviana tersenyum miring. “Galak banget sih,” ejeknya.

“Lo mau apa?” tanya Nayla singkat.

“Gue?” Deviana mengangkat bahu. “Cuma mau ngasih info.”

Nayla menghela napas kasar.

“Cepetan.”

“Gue sama nyokap mau ke rumah lo nanti.”

Nayla tidak bereaksi.

“Eh salah,” lanjut Deviana dengan pura-pura terkejut. “Maksud gue ke keluarga Raharja.”

Senyumnya semakin lebar.

“Nggak ada nama lo kan di situ?”

Deg.

Kalimat itu…

Kembali.

Seperti luka yang sengaja disayat ulang. Nayla mengepalkan tangannya tapi dia tidak menjawab.

Deviana melangkah lebih dekat.

“Jadi…” bisiknya pelan, “lo itu siapa sebenarnya?”

BRAK!

Nayla memukul meja dengan keras.

Ia berdiri, tatapannya tajam.

Sangat tajam.

“Terserah!” ucapnya dingin.

Tanpa menunggu respon, Nayla berjalan menuju pintu.

Ia sudah cukup.

Cukup dengan semua omong kosong itu.

“Tunggu!”

Langkah Nayla terhenti.

Tapi ia tidak berbalik.

“Siap-siap patah hati ya,” lanjut Deviana.

Sunyi.

“Karena pacar lo itu…”

Nayla mengernyit.

“…nggak sesempurna yang lo pikir.”

Nayla diam.

Kalimat itu menggantung di udara. Namun, ia tidak berbalik.

Tidak bertanya.

Tidak peduli.

Setidaknya itu yang ia tunjukkan.

Tanpa mengatakan apapun, Nayla melangkah keluar dari kelas meninggalkan Deviana. Meninggalkan semua yang baru saja terjadi. Tapi pikirannya tidak bisa pergi. Kalimat itu terus terngiang.

Berulang.

Mengganggu.

“Pacar lo nggak sesempurna yang lo pikir…”

Nayla menggigit bibirnya.

“Omong kosong,” gumamnya.

Ya.

Itu pasti omong kosong.

Deviana hanya ingin memancing emosinya. Hanya ingin melihatnya jatuh dan Nayla tidak akan memberikan itu. Tidak akan.

Tapi…

Kenapa dadanya terasa tidak nyaman?

Kenapa ada rasa aneh yang muncul?

Kenapa—

“Nay!”

Langkah Nayla terhenti.

Suara itu dia kenal.

Sangat kenal.

Perlahan, Nayla menoleh. Dan di sana…

Endra.

Berdiri beberapa meter darinya.

Dengan seragam yang sedikit berantakan.

Dengan napas yang tampak terburu-buru.

Dan dengan tatapan…

Yang sulit Nayla artikan.

Deg.

Jantung Nayla berdetak lebih cepat.

Tanpa sadar.

Tanpa izin.

Endra melangkah mendekat.

Satu langkah.

Dua langkah.

Semakin dekat.

Dan Nayla tidak bergerak.

Dia hanya berdiri di sana.

Menunggu.

Tidak tahu harus merasa apa.

Marah?

Rindu?

Kecewa?

Atau semuanya sekaligus?

“Nayla,” panggil Endra lagi.

Kali ini lebih pelan.

Lebih dalam.

Dan entah kenapa lebih berat.

Nayla menelan ludah.

“Apa?” jawabnya singkat.

Nada suaranya datar.

Tapi tangannya gemetar.

Endra berhenti tepat di depannya.

Jarak mereka sangat dekat.

Terlalu dekat.

“Lo…” Endra membuka suara, tapi terhenti.

Seolah mencari kata yang tepat.

Nayla menunggu.

Detik berlalu.

Sunyi.

Lalu—

“Kenapa lo nggak cari gue?”

Deg.

Pertanyaan itu tidak terduga.

Nayla mengernyit.

“Hah?”

Endra menatapnya lekat.

“Lo bilang mau putus,” lanjutnya. “Tapi lo juga yang diem.”

Nayla tertawa kecil.

Tidak percaya.

“Lo serius nanya itu?”

“Iya.”

Nayla menggeleng.

“Harusnya gue yang nanya, Dra.”

Endra terdiam.

“Lo ke mana aja?” lanjut Nayla, suaranya mulai bergetar. “Kenapa lo nggak ada kabar sama sekali?”

Endra tidak langsung menjawab.

Tatapannya berubah.

Lebih dingin.

Lebih tajam.

“Gue sibuk,” jawabnya singkat.

Nayla terpaku.

“Sibuk?” ulangnya pelan.

“Iya.”

Hanya itu.

Tanpa penjelasan.

Tanpa rasa bersalah.

Tanpa apa-apa.

Dan entah kenapa jawaban itu lebih menyakitkan daripada apapun.

“Ya udah,” ucap Nayla akhirnya.

Ia tersenyum tipis.

Senyum yang sangat dipaksakan.

“Bagus.”

Endra mengernyit.

“Bagus?”

“Iya,” lanjut Nayla. “Berarti lo nggak butuh gue lagi kan?”

Sunyi.

Mata mereka saling bertemu dan di detik itu sesuatu terasa berubah. Pelan tapi pasti hubungan mereka tidak lagi sama.

1
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!