Di sudut kota Bogor yang basah oleh hujan, Farrel (22 tahun) hanyalah seorang supir angkot jurusan Baranangsiang–Bubulak yang hidupnya di ujung tanduk.
Setiap hari ia harus menahan lapar, dicaci maki oleh kernet lain, difitnah mencuri uang setoran oleh mandor pangkalan, dan puncaknya: diputuskan oleh kekasihnya karena tidak mampu membelikan kuota internet. Modal hidupnya setiap hari setelah setoran hanyalah sebungkus nasi rames karet dua dan sebatang rokok eceran.
Namun, sebuah insiden pengeroyokan oleh oknum ormas di Terminal Baranangsiang mengubah takdirnya. Saat sekarat, sebuah suara mekanis bergema di otaknya: [Sistem Afeksi Kekayaan Berhasil Diaktifkan].
Sistem ini memberikan Farrel saldo tak terbatas, namun dengan syarat gila: uang tersebut hanya bisa digunakan untuk membiayai atau membelikan barang untuk wanita yang memiliki potensi afeksi (rasa suka) terhadapnya. Setiap kali persentase Favorability (tingkat kesukaan) wanita tersebut naik, saldo pribadi Farrel akan berlipat g
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 22
Tiga mobil Land Cruiser hitam melesat membelah jalanan perbatasan Bogor Utara yang sepi dan berkabut.
Di dalam mobil utama, Farrel duduk dengan keangkuhan seorang raja yang baru bangkit dari kegelapan. Kemeja taktis hitamnya yang ketat membungkus dada bidangnya yang kini memiliki stamina dan kekuatan tanpa batas.
Matanya menatap lurus ke depan, mengaktifkan Mata Sang Penguasa untuk memindai setiap pergerakan di radius satu kilometer.
Di sampingnya, Tiger fokus pada kemudi, sementara layar monitor taktis di dasbor mobil menampilkan titik koordinat sebuah klinik darurat 24 jam di pinggiran kota.
"Tuan Besar, kita hampir sampai," lapor Tiger, suaranya berat dan sarat akan hawa membunuh.
"Klinik Asy-Syifa milik keluarga mantan Walikota sudah dikepung oleh lima belas anggota inti Ormas Cakar Bumi.
"Mereka dipimpin oleh tangan kanan Bramantyo yang bernama Suro."
"Bajingan-bajingan itu mulai merusak pintu teralis besi klinik karena target menolak memberikan akses ke gudang obat psikotropika mereka."
Farrel menyeringai tipis.
"Suro? Cuma serangga kecil.
"Tiger, begitu sampai, blokir semua jalan keluar. Gua mau bersenang-senang sebentar sebelum kita mendatangi markas besar Bramantyo."
"Siap, Tuan Besar!"
Sementara itu, di dalam Klinik Asy-Syifa yang bernuansa putih bersih, suasana mencekam begitu pekat. Suara hantaman balok kayu dan linggis yang menghantam pintu teralis besi depan terdengar bersahut-sahutan, membuat kaca-kaca jendela bergetar hebat.
Di balik meja resepsionis yang sudah berantakan, seorang gadis muda berdiri dengan tubuh gemetar, namun matanya memancarkan keberanian yang luar biasa. Dia adalah Amelia Putri.
【 Target Wanita Ketiga Terkunci: Amelia Putri 】
【 Tingkat Kecantikan: 94/100 (Sempurna/Aura Suci dan Integritas Tinggi) 】
Di bawah lampu neon klinik yang terang, kecantikan Amelia tampak begitu murni dan berkelas.
Sebagai mahasiswi kedokteran tingkat akhir sekaligus anak perempuan dari mantan orang nomor satu di Bogor, ia memiliki aura keibuan yang lembut namun tegas.
Ia mengenakan jas putih dokter yang dipadukan dengan kemeja biru muda dan celana kain hitam yang membungkus kaki jenjangnya dengan sopan.
Rambut hitam panjangnya diikat ekor kuda, memperlihatkan leher putihnya yang bersih tanpa noda.
"Woi, Amelia! Buka pintunya, anjing! Atau gua bakar klinik ini sekalian sama lu di dalem!"
teriak Suro dari luar, wajahnya yang penuh berangasan menempel di kaca pintu.
Amelia menggenggam erat ponselnya, mencoba menghubungi pihak berwajib, namun semua nomor sibuk efek dari pengaruh Ormas Cakar Bumi yang sudah menyuap aparat wilayah utara malam ini.
"Suro! Saya tidak akan pernah memberikan kunci gudang obat!"
"Itu obat-obatan terlarang yang dilindungi undang-undang! Pergi kalian dari sini!"
"Kurang ajar! Dobrak pintunya sampai hancur!" raung Suro pada anak buahnya.
Brakkk! Pranggg!
Teralis besi itu akhirnya jebol. Pintu kaca utama pecah berkeping-keping, berhamburan di atas lantai lantai keramik.
Lima belas pria bertubuh tambun dengan tato cakar bumi di lengan mereka merangsek masuk, membawa parang dan celurit yang berkilat tajam.
Suro berjalan mendekati Amelia dengan pandangan mata yang penuh dengan nafsu bejad. Ia mengendus udara di dalam klinik.
"Aroma tubuh anak walikota bener-bener wangi ya... Lu boleh simpan kunci obatnya, tapi malam ini, tubuh lu harus jadi bayarannya!"
Suro mengulurkan tangannya yang kasar untuk mencengkeram kerah jas putih Amelia. Amelia memejamkan matanya, pasrah namun tetap menolak untuk tunduk.
Duar!!!
Suara hantaman luar biasa keras menggelegar dari arah depan klinik.
Sebuah mobil Land Cruiser hitam menerobos masuk, menabrak dinding beton dan sisa pintu depan hingga hancur berantakan. Debu semen dan pecahan bata memenuhi ruangan dalam sekejap.
Dua orang anggota Cakar Bumi yang berdiri di jalur tabrakan langsung tergilas, tewas seketika di bawah ban besar mobil jip militer tersebut.
"Siapa lu?!" bentak Suro,
Suro memundurkan langkahnya dengan wajah panik, sementara tangannya mencabut sebilah belati dari pinggangnya.
Pintu kemudi terbuka. Tiger melangkah turun dengan senapan serbu HK416 yang langsung diarahkan ke dada anak buah Suro.
"Jangan ada yang bergerak, atau kepala kalian gua bikin bolong."
Dari pintu penumpang belakang, sesosok pria tinggi dengan karisma yang begitu pekat melangkah keluar dari kepulan debu.
Farrel Aditama berdiri di sana. Penampilannya yang mengenakan kemeja taktis hitam, dengan tatapan mata yang sedingin badai malam, langsung mendominasi seluruh ruangan klinik.
Amelia membuka matanya perlahan. Melalui celah debu yang mulai menipis, ia melihat Farrel. Detik itu juga, waktu seolah berhenti bagi Amelia.
Jantungnya berdegup dengan ritme yang sangat kencang, bukan lagi karena takut pada Suro, melainkan karena getaran maskulin yang sangat kuat yang terpancar dari tubuh Farrel.
【 Ting! Kontak visual pertama dengan Target Ketiga: Amelia Putri! 】
【 Tingkat Kesukaan Awal Amelia Putri: 20% (Kekaguman Mendalam atas Penyelamatan Luar Biasa)! 】
【 Sistem Mendeteksi Sifat Dasar Target: Gadis Berprinsip Tinggi yang mendambakan sosok Pelindung Mutlak yang adil dan berkuasa! 】
Farrel berjalan santai di atas pecahan kaca, mendekati Suro tanpa memedulikan parang dan celurit yang diarahkan kepadanya.
"Lu... lu Farrel, kan? Supir angkot bajingan yang bunuh Jenderal Hermawan?!"
Suro berteriak, suaranya bergetar hebat meski mencoba terdengar garang.
Farrel tidak menjawab. Ia mengaktifkan Mata Sang Penguasa dikombinasikan dengan Seni Bela Diri Militer Mematikan.
Wuss!
Dalam radius satu meter, Farrel bergerak secepat bayangan.
Tangan kanannya melesat maju, mencengkeram pergelangan tangan Suro yang memegang belati, lalu menekuknya ke arah dalam dengan kekuatan stat 25.
Krakkk!
"ARRRGHHH!!!"
Suro menjerit histeris saat belatinya sendiri berbalik arah, menembus telapak tangannya hingga tembus ke belakang.
Belum sempat jeritannya reda, Farrel melayangkan tendangan lutut tepat ke arah wajah Suro.
Bugh!
Wajah Suro hancur seketika. Hidungnya rata dengan pipi, dan tubuh besarnya terkapar di lantai keramik, kejang-kejang sebentar sebelum akhirnya tewas akibat pendarahan otak yang hebat.
"S-Suro mati! Serang dia! Bunuh dia!!!" Sisa dua belas anggota Cakar Bumi berteriak panik dan maju secara membabi buta.
Farrel menyeringai kejam.
"Tiger, kunci pintunya. Jangan biarkan ada satu tikus pun yang lolos dari pembantaian malam ini."