NovelToon NovelToon
Janji Yang Terkubur

Janji Yang Terkubur

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jun

Deskripsi Novel: Janji yang Terkubur

Lira Anindita terpaksa kembali ke rumah masa kecilnya yang penuh kenangan pahit, setelah menerima kabar ayahnya terbaring sakit keras. Lima tahun lalu, ia pergi dengan hati hancur—di hari yang sama ibunya meninggal secara mendadak, Lira menemukan kenyataan bahwa seluruh kehidupan keluarganya hanyalah tumpukan kebohongan. Ia diusir, dipisahkan dari orang yang paling ia cintai, dan dipaksa hidup sendirian menanggung rasa sakit serta fitnah yang menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28: Pertemuan di Ujung Jurang

Malam semakin gelap, hanya cahaya remang bulan yang sesekali muncul di sela awan hitam, menerangi jalan setapak berbatu yang terjal di atas bukit. Angin malam bertiup dingin, menggoyangkan dahan pohon besar yang menutupi jalan, menciptakan bayangan-bayangan seram di sepanjang jalur itu.

Lira terus berjalan dengan sisa tenaga yang hampir habis. Kakinya sakit, penuh lecet dan luka, napasnya tersengal-sengal, tapi ia tidak berani berhenti sedetik pun. Di belakangnya, rasa takut terus membayangi—rasa bahwa bahaya itu masih ada, masih mengejar, dan bisa datang kapan saja dari kegelapan.

Tiba-tiba, suara langkah kaki cepat dan berat terdengar jelas dari depan, disertai suara bisik-bisik kasar. Lira segera berhenti, jantungnya berdegup kencang, tubuhnya menegang. Ia segera menyelinap di balik semak belukar lebat, mengintip dengan hati-hati.

Di sana, di tengah jalan setapak itu, berdiri lima orang berpakaian serba hitam, membawa senter yang sorotannya bergerak liar ke segala arah. Wajah mereka keras dan dingin, tidak ada sedikit pun rasa belas kasih. Mereka adalah orang-orang utusan Pak Surya, yang ternyata sudah berhasil memotong jalan Lira di bagian tertinggi bukit itu.

“Cari baik-baik! Dia pasti lewat jalan ini. Tidak ada jalan lain untuk turun ke desa seberang!” teriak salah satu dari mereka dengan suara kasar.

Lira menutup mulutnya erat-erat dengan tangan, menahan napas supaya tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin membasahi punggungnya. Ia terperangkap. Di depan ada mereka, di belakang jalan yang ia lewati tadi juga mungkin sudah dijaga. Ia tidak punya jalan keluar lagi.

Perlahan, salah satu dari mereka mulai berjalan mendekati semak tempat Lira bersembunyi, sorotan senternya bergerak semakin dekat, semakin dekat…

Jantung Lira mau copot. Ia memegang erat pisau kecil pemberian nenek tua itu di tangan, siap mempertahankan diri sekuat tenaga, meskipun ia tahu peluangnya sangat kecil.

Namun tepat saat itu, suara teriakan keras dan derap langkah banyak orang terdengar dari arah belakang Lira, disertai suara yang paling ia kenal di seluruh dunia—suara yang selama ini selalu ia rindukan, suara yang menjadi sumber kekuatannya.

“LIRA!!! DI MANA KAMU??? AKU DATANG!!!”

Suara Raga!

Lira seketika itu juga menangis bahagia, rasa takutnya lenyap seketika digantikan rasa lega yang luar biasa. Ia segera bangkit dari persembunyiannya, berteriak sekuat tenaga ke arah suara itu.

“RAGA!!! AKU DI SINI!!!”

Orang-orang berpakaian hitam itu kaget seketika, segera berbalik badan dan mengangkat senjata mereka. Raga muncul di ujung jalan, diikuti belasan orang setianya, wajahnya penuh amarah, matanya menyala tajam seperti singa yang melihat mangsa yang berani mengganggu anaknya.

“MUNDUR!!! JANGAN BERANI SENTUH ISTRIKU!!!” hardik Raga dengan suara menggelegar, lalu segera berlari kencang menuju tempat Lira berdiri.

Pertarungan pun pecah di jalan sempit itu. Suara benturan kayu, teriakan, dan rintihan sakit terdengar bersahutan. Orang-orang Raga bertarung dengan gagah berani, didorong rasa dendam dan rasa ingin melindungi, sedangkan orang-orang Pak Surya bertarung dengan kejam dan licik.

Raga tidak peduli apa yang terjadi di sekelilingnya. Ia hanya fokus pada satu hal: sampai ke sisi Lira secepat mungkin. Ia menabrak, mendorong, dan mengalahkan siapa saja yang menghalangi jalannya, sampai akhirnya ia berhasil menerobos dan berdiri tepat di depan Lira.

Detik itu, dunia seolah berhenti berputar.

Mereka saling tatap, mata keduanya penuh air mata—campuran rasa bahagia, rasa lega, rasa sakit, dan rasa rindu yang meledak-ledak. Wajah Lira pucat, penuh debu dan goresan luka, baju kusam dan sobek. Wajah Raga kacau, mata merah, napasnya tersengal karena berlari dan bertarung.

Tanpa berkata sepatah kata pun, Raga segera menarik tubuh Lira ke dalam pelukannya yang kuat dan hangat, memeluknya sekuat tenaga seolah takut wanita itu akan lenyap lagi jika dilepas sedikit saja. Ia menghirup aroma tubuh istrinya, merasakan daging dan tulang yang nyata ada di sana, hidup, selamat, di dalam pelukannya.

“Aku dapat kamu… Akhirnya aku dapat kamu kembali… Maafkan aku, sayang… Maafkan aku karena membuatmu menderita sendirian… Maafkan aku…” bisik Raga berulang kali di telinga Lira, suaranya parau dan gemetar karena menangis.

Lira membalas pelukan itu dengan erat sekali, menangis tersedu-sedu di dada Raga, rasa sakit, rasa takut, dan rasa kesepian yang selama ini ia rasakan semuanya keluar seketika.

“Aku takut sekali, Raga… Aku kira aku tidak akan bertemu kamu lagi… Aku kira aku akan mati sendirian… Aku rindu kamu sekali…”

“Tidak akan pernah lagi… Aku berjanji, tidak akan pernah lagi kita berpisah… Mulai detik ini, aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi, apa pun yang terjadi,” jawab Raga tegas, lalu mengangkat wajah Lira, mencium kening, mata, dan pipinya dengan penuh kasih sayang, menghapus semua jejak air mata dan debu di wajah itu.

Namun momen bahagia itu tidak berlangsung lama. Salah satu orang hitam yang masih tersisa dan terluka parah, dengan sisa tenaga terakhirnya, mengangkat pisau tajam dan dengan gerakan cepat hendak melemparnya ke arah Lira, dengan niat jahat: jika mereka tidak bisa mendapatkan Lira, mereka akan memastikan Raga juga tidak bisa memilikinya.

“MATI SAJA KALIAN BERDUA!!!” teriak orang itu dengan suara serak.

“AWAS!!!”

Raga melihat gerakan itu sepersekian detik sebelum pisau itu terbang. Tanpa pikir panjang, ia segera memutar tubuhnya, menjadikan punggungnya sebagai tameng untuk melindungi Lira sepenuhnya.

HUUK!!!

Pisau itu menusuk tepat di punggung kiri Raga, masuk cukup dalam ke dagingnya. Raga mengerang kesakitan keras, tubuhnya tersentak hebat, darah segar seketika keluar dan membasahi baju di bagian punggungnya.

“RAGA!!!” teriak Lira histeris, menahan tubuh Raga yang mulai terhuyung mundur.

Orang jahat itu segera ditangkap dan ditundukkan oleh anak buah Raga, tapi perhatian Lira hanya tertuju pada satu hal: luka tajam yang menganga di tubuh suaminya.

Wajah Raga memucat seketika, keringat dingin keluar di dahinya, tapi ia tetap memaksakan diri tersenyum lembut pada Lira, tangannya masih erat menggenggam tangan istrinya.

“Tidak apa-apa, sayang… Ini hanya luka kecil… Selama kamu selamat, rasa sakit ini tidak ada apa-apanya…” bisiknya lemah, lalu akhirnya kakinya lemas sepenuhnya dan ia jatuh berlutut di tanah.

“TIDAK!!! JANGAN KATAKAN ITU!!! KAMU HARUS SELAMAT!!! KAMU TIDAK BOLEH APA-APA!!!” tangis Lira histeris, segera memeluk tubuh Raga yang mulai lemas itu, menekan luka itu dengan tangannya untuk menahan darah yang terus mengalir keluar. “TOLONG!!! CEPAT BANTU AKU!!! SUAMIKU TERLUKA PARAH!!!”

Anak buah Raga segera bergegas mendekat, mengikat luka itu dengan kain bersih secepat mungkin untuk menghentikan pendarahan.

“Cepat! Kita bawa Tuan Muda ke tempat aman, ke rumah perawat di desa bawah sana! Kalau terlambat, darahnya akan habis!” perintah salah satu orang itu dengan cemas.

Mereka segera mengangkat tubuh Raga yang sudah mulai pingsan lemah. Lira tidak mau berpisah sedetik pun, ia berjalan di samping tandu itu, tangannya terus memegang tangan Raga yang dingin, matanya penuh air mata dan ketakutan luar biasa.

“Bertahanlah, Raga… Demi aku, bertahanlah… Kita baru saja bertemu, kita belum punya masa depan yang bahagia… Kamu janji kan? Kamu janji akan pulang selamat bersamaku… Ingat janji itu…” bisik Lira terus-menerus di telinga Raga, berusaha membangunkan kesadaran pria itu sekuat tenaga.

Perjalanan turun bukit itu terasa begitu lama, begitu mencekam. Darah Raga terus menetes, membasahi tanah di sepanjang jalan yang mereka lewati. Di dada Lira, rasa sakit itu kembali datang, kali ini jauh lebih tajam dan lebih menakutkan dari sebelumnya. Ia baru saja menemukan kembali separuh jiwanya, dan sekarang nyawa separuh jiwa itu tergantung di ujung benang yang sangat tipis.

Di dalam kesadarannya yang mulai kabur, Raga masih bisa merasakan genggaman hangat tangan Lira, masih bisa mendengar suara tangis istrinya yang memanggil-manggil namanya berulang kali. Rasa sakit di punggungnya terasa membakar, tapi rasa itu kalah jauh dibandingkan rasa takut jika ia harus pergi dan meninggalkan Lira sendirian lagi di dunia yang kejam ini.

Aku tidak boleh mati… Aku tidak boleh meninggalkan dia… Aku harus hidup… Demi dia… Demi kita… pikirnya dengan sisa kekuatan yang ada, berjuang mati-matian untuk tetap mempertahankan kesadarannya.

Sesampainya di desa, Raga segera dibawa masuk ke rumah perawat desa. Lira dilarang masuk ke ruang perawatan, ia hanya bisa menunggu di luar pintu dengan hati berdebar tak beraturan, langkahnya mondar-mandir gelisah, doa terus-menerus ia panjatkan dalam hatinya sekuat tenaga.

Menit-menit berlalu terasa seperti berjam-jam. Pintu itu tertutup rapat, hanya sesekali terdengar suara perintah cepat dan suara peralatan medis dari dalam. Wajah Lira pucat pasi, tubuhnya gemetar, matanya tidak lepas dari gagang pintu itu.

Akhirnya, pintu itu terbuka perlahan. Perawat tua itu keluar dengan wajah lelah namun lega.

“Bagaimana, Pak? Bagaimana keadaan suamiku? Apakah dia selamat?” tanya Lira cepat, suara nyaris tidak keluar karena cemas.

Perawat itu mengangguk pelan.

“Syukurlah, Nona. Pisau itu tidak mengenai organ vital, hanya menusuk otot dalam yang cukup dalam. Pendarahan sudah berhasil kami hentikan. Dia selamat, tapi dia masih sangat lemah dan butuh istirahat panjang serta perawatan intensif. Dia butuh ketenangan mutlak dan tidak boleh diganggu bahaya apa pun lagi.”

Kaki Lira seketika lemas, ia jatuh berlutut di lantai, menangis bahagia dengan rasa lega yang luar biasa besar.

“Syukurlah… Terima kasih Tuhan… Terima kasih sekali…” isaknya, air mata bahagia mengalir deras membasahi wajahnya.

Ia segera masuk ke dalam ruangan, melihat Raga terbaring lemah di tempat tidur, wajahnya masih pucat, mata terpejam, napasnya masih lemah namun sudah teratur. Lira mendekat perlahan, lalu duduk di samping tempat tidur, memegang erat tangan Raga yang masih terasa dingin.

Raga perlahan membuka matanya yang berat, melihat wajah Lira yang ada tepat di depannya. Senyum lembut dan bahagia muncul di bibirnya yang kering.

“Kamu… Masih ada di sini…” bisiknya lemah.

“Aku ada di sini. Aku tidak akan pergi ke mana-mana. Aku akan menjagamu sampai kamu sembuh total,” jawab Lira lembut, mengecup punggung tangan suaminya dengan penuh kasih sayang. “Kamu sudah menyelamatkanku lagi… Kamu rela terluka demi aku…”

Raga menggeleng pelan, tangannya berusaha mengangkat lembut menyentuh pipi Lira.

“Apa pun… Aku akan lakukan apa saja untukmu… Bahkan menyerahkan nyawaku sekalipun… Selama kamu selamat, aku sudah bahagia…”

Namun meskipun mereka selamat kali ini, meskipun mereka sudah bersatu kembali, masalah mereka belum selesai. Orang-orang yang menyerang mereka itu hanyalah pasukan bawah saja. Pak Surya dan kekuatan besar Lingkaran Emas masih utuh, masih kuat, dan pasti akan semakin murka karena gagal menangkap Lira, bahkan kehilangan banyak anak buahnya.

Mereka baru saja memenangkan pertempuran kecil, tapi perang besar yang sesungguhnya baru saja akan mencapai puncaknya. Dan saat Raga sembuh nanti, pertarungan terakhir yang menentukan nasib mereka seumur hidup, akan segera dimulai.

 

Bersambung ke Episode 29

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!