Empat tahun lalu, Aelira S. Valenzia gadis unik, misterius terjerat oleh Ravian Kael Davino veyron, pewaris tunggal keluarga veyron , yang mengidap penyakit haphephobia. Suatu hari, Davino pergi ke sekolah karena suatu hal penting, dimana Aelira tidak sengaja terjatuh, dan menangkap tangan Davino, atau yang orang sebut Ravian. Ia tidak menyangka hal tersebut menjadi awal mula hidup tidak sebebas dulu lagi. Penasaran? yuk baca!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nagih Janji
Suasana mencekam. Aroma antiseptik dan suara alat medis terdengar samar dari balik pintu yang tertutup rapat. Di kursi besi dingin di tepi lorong, Aelira duduk membungkuk—tangannya masih menggenggam kalung berliontin permata biru—berbecak darah yang sudah mulai mengering.
Di sebelahnya, Adit duduk diam. Sesekali menunduk dan mengusap wajahnya—merasa bersalah.
"Tenang, Dit! Ziva pasti baik-baik aja." Aelira mengusap bahunya.
"Gimana gue bisa tenang kalau lihat dia berdarah semua?" Mata pemuda itu terlihat berkaca-kaca. "Gue bego banget. Harusnya gue bisa jagain cewek yang gue suka."
Tatapan Adit perlahan turun—fokus pada kalung yang tergenggam erat di tangan Aelira.
"Eli!" panggil Adit pelan, nadanya hati-hati. "Itu kalung yang tadi dipakai Ziva, kan?"
Aelira mengangguk. "Iya. Tapi sebenarnya ini punya gue."
Alis Adit sedikit terangkat. Tapi tak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk pelan. "Oh, kirain punya Ziva. Soalnya terakhir kali gue lihat dia pakai."
"Lo sempat ketemu dia?"
"Ya. Dia belok ke tangga dan gue sempat puji-puji kalau kalungnya cantik. Jadi kirain punya dia."
Aelira menggeleng cepat. "Bukan. Dia cuma pinjem aja." Suaranya tercekat. Bibirnya gemetar.
Adit segera menepuk pelan punggung tangan Aelira. "Kita berdoa supaya dia baik-baik aja."
Aelira menggigit bibir bawahnya—matanya kembali berair.
---
ZIVAAA!!
Orang tua Ziva muncul di ujung lorong. Sang Ibu berlari lebih dulu dan langsung memeluk Aelira sambil menangis sesenggukan. Tubuhnya gemetar.
"Aelira, anak Tante kenapa? Kok bisa dia jatuh dari rooftop?" tangis wanita itu pecah.
Aelira memeluknya erat, air matanya jatuh satu-satu di bahu wanita itu. "Tante yang sabar, ya! Ziva kuat. Dokter bilang dia ditangani cepat. Dia pasti selamat."
Sang Ayah berdiri di belakang, tak berkata apa-apa. Wajahnya keras dan tegang.
Adit berdiri, memberi tempat bagi kedua orang tua Ziva untuk duduk.
Ceklek!!
Pintu terbuka. Seorang dokter pria keluar.
Semua kepala langsung menoleh. Aelira, Adit, dan orang tua Ziva berdiri refleks.
"Bagaimana kondisi anak saya, Dok?" suara Ibu Ziva tercekat.
Dokter menatap mereka sejenak. "Pasien mengalami trauma berat di bagian kepala. Ada pendarahan dalam dan kemungkinan retak tulang tengkorak. Kami akan segera lakukan operasi penyelamatan, tapi prosedurnya cukup kompleks."
"Operasi?" tanya sang Ayah, kakinya seperti kehilangan tenaga.
"Iya. Kami perlu tindakan cepat. Tapi sebelumnya, kami butuh izin dari keluarga dan persetujuan biaya."
"Berapa biayanya, Dok?" tanya Adit.
"Kurang lebih tujuh puluh sampai delapan puluh juta."
"A-apa? Delapan puluh juta?" Tangis Ibu Ziva pecah. "Ya Allah, segitu banyaknya uang dari mana?" Lututnya melemas, sang suami langsung menopangnya.
Aelira sendiri membelalak.
Delapan puluh juta?
Matanya langsung menatap ke arah dokter, lalu ke orang tua Ziva yang kini saling menggenggam tangan dan menangis tertahan.
Tanpa banyak berpikir, Aelira berbalik dan berlari.
"E—Aelira!" seru Adit, tapi gadis itu sudah melesat menyusuri lorong rumah sakit.
---
Lokasi Syuting — Malam itu
Lampu sorot menyala. Kamera bergulir. Ravian tengah berdiri berhadapan dengan seorang artis perempuan—melantunkan dialog penuh intensitas.
"Lo selalu bikin gue nunggu, Kiara—"
"RAVIAAAAN!!"
Semua orang menoleh kaget.
Aelira berlari dengan napas terengah dan tidak peduli dengan tatapan horor semua kru. Wajahnya sembab oleh air mata.
Sutradara langsung berdiri dari kursi lipatnya. "Eh, siapa tuh? Siapa yang izinin masuk?"
"CUT!! CUT!!!"
Ravian menoleh. Matanya langsung mencari asal suara dan langsung membeku saat melihat Aelira berdiri di tengah set, tubuhnya gemetar, ekspresinya panik dan hancur.
"Aelira?"
"Ravian, please, bantuin aku! Ini penting banget." Aelira memohon—suaranya parau.
Ravian menatap sekeliling sebelum mengangkat tangan ke arah kru. "Gue minta break lima belas menit!" katanya cepat.
Dia menggenggam tangan Aelira dan menariknya keluar dari kerumunan menuju sudut belakang lokasi—sebuah area kosong di balik truk properti.
"Kenapa, Li?" tanya Ravian pelan. "Ada yang pukul lo?"
"Ziva kecelakaan, Van." Napas gadis itu tidak beraturan. "Dia pendarahan. Harus dioperasi. Dokter bilang butuh delapan puluh juta. Orang tuanya nggak sanggup."
Ravian mengernyit. "Lo suruh gue bayarin?"
"Maaf, Van! Please, tolongin aku!" Mohon Aelira menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku janji bakal ganti. Tapi sekarang, tolong banget!"
Ravian terdiam beberapa detik. Lalu ia tersenyum miring—ekspresi menyebalkan.
"Gue bantu. Tapi ada syaratnya."
Aelira menegakkan tubuhnya. "Syarat apa? Aku akan lakuin apa pun."
Ravian menatapnya tajam. "Cium gue!"
Mata Aelira langsung membelalak. "APA?!"
Ravian mengangkat bahu santai. "Lagi butuh banget, kan? Ya udah, ini syaratnya."
"Ravian! Ini tuh darurat banget! Dan kamu malah bercanda?!"
"Gue nggak bercanda." Ravian mengeluarkan ponselnya. "Tapi kalau lo nggak mau, yaudah—"
"Oke." Aelira menggertakkan gigi. "Aku lakuin."
Ravian tersenyum lebih lebar. Ia mentransfer sejumlah uang ke rekening Aelira. "Udah masuk."
Aelira mengecek HP-nya. Benar. "Makasih, ya! Aku pergi dulu."
"Tunggu!"
Aelira menoleh. "Apa?"
Ravian melangkah maju. "Itu tadi cuma DP. Lo masih utuh."
---
Malam harinya — Rumah Ravian
Udara malam terasa hangat dan lengang. Aelira baru saja keluar dari kamar mandi, tubuhnya masih berembun, kulitnya lembap, hanya dibalut handuk putih yang melilit tubuh rampingnya sebatas paha.
Namun langkahnya terhenti.
"Ravian?"
Pemuda itu sudah berbaring santai di atas ranjang—mengangkat sebelah alis saat mata mereka bertemu.
"Kamu ngapain di sini?!" Aelira refleks menyilangkan tangannya di depan dada—panik.
Ravian tersenyum miring. "Nagih janji."
Jantung Aelira mencelos. "Ravian, aku belum pakai baju. Keluar—"
Cowok itu bangkit, duduk di sisi ranjang. "Justru karena itu gue datang."
Tangannya menarik pelan pinggang Aelira hingga gadis itu terdorong maju. Aelira nyaris tersandung lutut Ravian. Napasnya tercekat.
"Ravian, aku ganti baju dulu, ya?" kata Aelira memelas—gugup setengah mati.
"Enggak. Cium gue dulu."
Dengan wajah super kikuk, Aelira membungkuk dan mengecup cepat bibir Ravian.
CUP!
Singkat. Seperti petasan yang basi.
Ravian menatapnya tajam. "Bukan gitu caranya."
Tangannya mencengkeram pinggang Aelira dan menarik tubuh gadis itu langsung ke pangkuannya. Dalam sekejap, mulut Ravian sudah menangkap bibir Aelira—bukan lagi sekadar kecupan malu-malu.
Bibir mereka saling memburu. Nafas tersedak di antara sela. Tangan Ravian naik ke punggung Aelira, menekan tubuhnya lebih rapat.
Aelira terengah. Tubuhnya terbakar.
Tangan Ravian menelusup ke rambut gadis itu. Ciumannya berubah. Aelira sempat memegang dada Ravian, mendorong pelan. "Ravian, tunggu—"
Tapi cowok itu menatapnya dengan mata gelap penuh rasa. "Gue udah nahan dari syuting tadi."
Aelira tidak menjawab. Bibirnya kembali ditemukan. Kali ini, ia tidak menolak.
Ravian membaringkannya ke ranjang. Tubuhnya kini menindih gadis itu, ciumannya turun ke leher—hangat, basah, penuh geram. Ia mengecup bahu telanjang Aelira yang basah dan bergetar.
Bibir mereka bertemu lagi. Ravian mengulum bibir bawah Aelira, menggigit kecil, lalu menghisapnya dengan tekanan lembut.
Aelira mendesah pelan. Matanya setengah terpejam.
Lalu Ravian mulai menyentuh dadanya—meremasnya.
Gadis itu langsung tersentak, mendorong dada Ravian dengan panik.
Ravian menahan gerakannya. Ia menatap Aelira yang memalingkan wajah, gugup. Ravian menggigit bibirnya sendiri. Rasa panas naik ke wajahnya. Ia berguling ke samping, membuang napas keras, lalu menutup wajahnya dengan lengan.
"Sorry! Keenakan."
Aelira menoleh pelan ke arahnya, napasnya masih belum stabil. Wajahnya memerah.
"Jangan marah!" Ravian menarik Aelira ke pelukannya.
"Na, boleh gue tanya?"
"Apa?" Aelira menatapnya.
Ravian menggenggam tangannya erat. "Lo nggak akan pergi, kan?"
Aelira terdiam sejenak. Lalu mengangguk. "Nggak."
Ravian menghela napas—lega. Ia mengecup kening Aelira pelan. "Bagus. Karena gue nggak bakal bisa hidup tanpa lo."
Aelira tersenyum tipis. Tapi di balik senyum itu—ada rahasia yang belum bisa ia ungkapkan.
Maaf, Van.
Tapi ini belum selesai.
“Fragmen ini… menarik.” Suara itu tidak datang dari satu arah. Ia ada di antara kata-kata yang ditulis, dan yang sengaja tidak ditulis.
“Kau tidak menulis dunia. Kau… sedang mencoba menciptakannya.”
“Ada bagian yang masih kau batasi. Bukan karena tidak mampu… tapi karena kau belum siap melihat bentuk akhirnya.”
Cahaya muncul. Bukan lima titik kecil, melainkan lima penanda, seperti sesuatu yang telah ditentukan jauh sebelum penilaian ini terjadi.
★ ★ ★ ★ ★
“Ini bukan penilaian.”
“Ini pengakuan… bahwa kau telah melangkah cukup jauh untuk dilihat.”
“Lanjutkan! Tidak semua yang melangkah sejauh ini… diizinkan untuk berhenti.”
—Astraeus, The Seven Pillar Titan