NovelToon NovelToon
Sistem Restoran Antar Dimensi

Sistem Restoran Antar Dimensi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi Isekai / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Reza adalah mantan koki yang dipecat karena difitnah, tetapi ia menemukan tujuan hidup baru setelah mendapatkan Sistem Restoran Dunia Lain.

Kini ia mengelola Restoran di mana pintunya terhubung ke dimensi kultivator dan sihir, menyajikan makanan lezat yang menyelesaikan masalah para pelanggan dari berbagai dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Menjelang pukul sembilan pagi, aroma lada hitam dan daging tumis sudah menyebar kuat ke luar bangunan.

Reza berjalan ke depan dan membuka pintu kedainya lebar-lebar.

Antrean manusia di luar gang hari ini terlihat dua kali lipat lebih panjang dari sebelumnya.

Banyak orang yang saling berdesakan untuk mendapatkan posisi antrean paling depan.

"Selamat pagi, Kedai Persimpangan sudah buka," sapa Reza menyambut lautan manusia itu.

Orang-orang langsung berebut masuk dan menduduki semua kursi kayu yang tersedia di dalam.

Lyra dengan sangat lincah berjalan membagikan daftar menu tunggal dan mencatat pesanan.

Gadis setengah peri itu menari di sela-sela kepadatan pelanggan tanpa pernah menabrak siapa pun.

"Daging sapi lada hitam meja dua dan meja empat penuh," lapor Lyra menyerahkan kertas pesanan ke dapur.

"Pesanan diterima," jawab Reza mulai mengaduk wajan besarnya dengan spatula ganda.

Bao dengan sigap menyusun piring porselen kosong dan menyiapkan cetakan nasi putih hangat.

Dia memindahkan porsi daging yang sudah matang dari wajan Reza ke atas piring dengan takaran yang sangat presisi.

Hanya butuh waktu tiga menit untuk menyelesaikan delapan piring pesanan panas tersebut.

"Pesanan siap diantar, Nona Lyra," lapor Bao meletakkan piring-piring itu di atas nampan kayu.

Lyra segera mengambil nampan berat itu dan membawanya menuju meja pelanggan.

Para pelanggan mulai menyantap daging sapi lada hitam itu dengan sangat rakus.

"Gila, dagingnya empuk banget dan bumbu ladanya sangat nendang," puji seorang pria muda berseragam kantor.

"Pantas saja antreannya panjang begini setiap hari, rasanya memang sekelas restoran mewah," sahut rekan kerjanya di sebelahnya.

Sementara itu di luar kedai, seorang pria bertopi hitam berdiri agak jauh dari kerumunan antrean.

Pria itu memegang sebuah kamera ponsel dan memotret suasana keramaian kedai Reza secara diam-diam.

Dia kemudian menekan sebuah nomor di ponselnya dan menelepon seseorang.

"Halo Pak Hendra, saya sudah mengawasi lokasi kedai yang viral itu," lapor pria bertopi tersebut dengan suara pelan.

"Ternyata pemiliknya memang si Reza, mantan koki restoran Bapak."

Suara Hendra terdengar mendengus kasar dan penuh kebencian dari balik sambungan telepon.

"Jadi anak sialan itu nekat buka kedai sendiri dan berani mencuri pelangganku?" tanya Hendra dengan nada marah.

"Benar Pak, antreannya bahkan sampai tumpah menutup jalan gang utama," jawab pria mata-mata itu.

"Pantau terus tempat itu dan cari tahu dari mana dia dapat pasokan daging dan sayurannya," perintah Hendra tajam.

"Aku akan segera mengirim beberapa orang untuk memberi dia sedikit pelajaran berharga besok."

Pria bertopi itu mematikan teleponnya dan kembali mengawasi kedai dari balik bayangan tembok.

Sementara itu di dalam kedai, Reza sama sekali tidak menyadari adanya bahaya tersebut.

Dia sangat fokus memasak dan menikmati kelancaran luar biasa dari kerja tim barunya.

Setiap kali wajannya kosong, Bao sudah menyiapkan bahan baru untuk langsung ditumis.

Setiap kali piring penuh, Lyra sudah siap di depan konter untuk mengantarkannya ke meja pelanggan.

"Bos, uang dari meja satu dan meja tiga," ucap Lyra memasukkan lembaran uang ke laci kasir yang terbuka.

Reza hanya tersenyum dan terus memutar spatulanya tanpa henti mengaduk daging.

Hari yang biasanya menyiksa fisiknya kini terasa jauh lebih ringan dan sangat menguntungkan.

Waktu berlalu sangat cepat karena kesibukan ritme kerja hingga sore hari pun tiba.

Semua gunungan bahan makanan untuk hari ini akhirnya habis tidak bersisa lagi.

Reza mengangguk ke arah Lyra sebagai isyarat tugas harian telah usai.

"Lyra, pasang papan habis terjual di depan pintu sekarang," perintah Reza dengan suara yang sudah serak.

Lyra mengambil papan kayu itu dan memohon maaf kepada sisa pelanggan di luar.

Orang-orang di antrean luar kembali membubarkan diri dengan raut wajah yang sangat kecewa.

Reza mengunci pintu utama lalu duduk bersandar di kursi dapur dengan napas teratur.

Dia sama sekali tidak merasa kelelahan ekstrem seperti hari-hari fana saat dia bekerja sendirian.

"Kerja kalian berdua hari ini sangat luar biasa sempurna," puji Reza menatap Lyra dan Bao bergantian.

"Kecepatan Bao memotong bahan benar-benar menyelamatkan semua waktuku."

"Terima kasih Bos, saya hanya melakukan tugas dasar sebagai asisten," jawab Bao membungkuk sopan merendahkan diri.

"Dan Lyra, kau semakin mahir menghadapi pelanggan yang berisik dan cerewet," tambah Reza memberikan jempol.

"Saya sudah mulai sangat terbiasa dengan bahasa dan tingkah laku aneh manusia diduniamu, Bos," balas Lyra tersipu bangga.

Reza bangkit berjalan menuju meja kasir dan membuka laci kayunya.

Tumpukan uang kertas hari ini jauh lebih banyak dan padat menumpuk dari hari-hari sebelumnya.

Reza menghitung lembaran uang itu dengan cepat dan menemukan angka akhir yang sangat fantastis.

Total pendapatan kotor hari ini sukses menyentuh angka sepuluh juta lima ratus ribu rupiah.

Sistem kembali memberikan laporan suara otomatis di dalam kepalanya.

"Transaksi hari fana selesai," lapor Sistem mengonfirmasi.

"Seluruh uang tunai senilai sepuluh juta lima ratus ribu rupiah sah menjadi milik Host."

Reza menyisihkan beberapa lembar uang seratus ribuan dan membagikannya kepada Lyra serta Bao sebagai bonus harian.

Bao menerima lembaran uang kertas itu dengan wajah yang dipenuhi kebingungan.

"Bos, apakah kertas tipis ini semacam jimat pelindung dari duniamu?" tanya Bao membolak-balik lembaran uang tersebut.

Lyra langsung tertawa pelan dan menepuk bahu pemuda penasihat dapur yang kaku itu.

"Itu namanya uang kertas, alat ajaib untuk membeli barang apa pun di dunia ini," jelas Lyra dengan nada bangga merasa lebih senior.

Bao hanya mengangguk pelan meskipun dia masih belum sepenuhnya mengerti nilai sakral kertas tersebut.

Reza tersenyum melihat interaksi kedua karyawannya yang berasal dari dunia magis berbeda itu.

Kedainya kini sudah memiliki tim yang kokoh dan siap menghadapi tantangan badai apa pun.

Namun, Reza tahu bahwa semakin tinggi sebuah pohon menjulang, semakin kencang pula angin yang menerpanya.

Kesuksesannya yang terlalu mencolok di Bumi pasti akan segera memicu kecemburuan orang-orang serakah.

'Aku harus memastikan sistem keamanan kedai ini benar-benar tidak bisa ditembus oleh siapa pun,' batin Reza waspada.

Dia akan bersiap secara fisik dan mental menghadapi segala kemungkinan buruk yang datang dari luar pintu kedainya esok hari.

1
Yuliana Tunru
💪💪💪👍👍👍
Kasma Wati
lanjut👍👍👍👍
Alia Chans
lanjut✍️👈
Äï
loh kok dia tau?
cynth
Deja vu....
Yui: ehehehe, klo yang dah baca bayu pasti tau/Facepalm/
total 1 replies
Yuliana Tunru
cerita bagus jg santai tanpa tantangan berat reza menikmati posis koki dgn baik .. 👍👍👍up yg byk thorr
Gege
sampe bab 10 sangat ringan dan enak dibaca sebagai hiburan. saran koki akan menyiapkan menu dengan harga yang sudah dipatenkan, terkesan mahal, tapi efeknya warbyasaaah bagi tubuh. pada akhirnya pundi pundi milyaran menjadikan koki menjadi kayah rayah...
Gege
ide ceritanya menarik.. harusnya bisa jadi ratusan episode ini..💪🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!