Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.
Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.
Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.
Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Napas Amira masih kacau. Namun suaranya mulai sedikit mereda.
“Tidak ada yang akan menyentuh kamu.” ucap Usman.
Kalimat itu membuat air mata Amira langsung jatuh lebih deras. Karena entah kenapa suara Usman terasa sangat menenangkan di tengah kepanikannya. Habibi masih menangis kecil sekarang. Dan refleks Amira mulai mengusap punggung bayi itu sambil ikut tersedu.
Usman memperhatikan semuanya dengan dada terasa sesak. Karena baru sekarang ia mengerti. Kenapa Amira berubah begitu pendiam. Kenapa perempuan itu selalu tampak menyimpan ketakutan di balik ketenangannya. Dan kenapa ia begitu membenci kampung ini.
Ada sesuatu yang pernah terjadi di sini. Sesuatu yang menghancurkan sebagian diri Amira.
Beberapa menit kemudian, setelah napas Amira mulai sedikit stabil, Umi Salma memeluknya erat. “Kita pulang saja?”
Namun Amira langsung menggeleng cepat meski wajahnya masih pucat. “Jangan…” Suaranya serak. “Nanti merepotkan semua orang.”
“Mira,” Umi Salma menatap Amira dengan perasaan iba.
“Saya enggak apa-apa…” Meski jelas tubuhnya masih gemetar.
Dan jawaban itu justru membuat hati Usman semakin tidak tenang. Karena bahkan dalam keadaan sehancur ini Amira masih lebih takut merepotkan orang lain dibanding memikirkan dirinya sendiri.
Tiur segera mengambil Habibi dari pelukan Amira yang mulai kehilangan tenaga. Bayi itu masih sesenggukan kecil akibat ikut terkejut tadi.
Sementara Amira sekarang duduk lemas dalam pelukan Umi Salma. Tubuhnya dingin. Napasnya belum sepenuhnya teratur. Tangannya gemetar tanpa bisa ia kendalikan.
Umi Salma terus mengusap punggungnya pelan seperti menenangkan anak kecil. “Sudah… sudah… Mira aman…”
Namun air mata Amira masih terus jatuh. Tatapannya kosong mengarah ke luar jendela mobil. Ke arah hutan jati yang perlahan mulai tertinggal di belakang mereka.
Sementara itu Usman duduk sedikit memutar badan dari kursi depan. Tatapannya penuh kekhawatiran sekarang. “Ais…” Suara lelaki itu sangat pelan.
Amira sedikit menoleh.
Usman menjaga nada bicaranya tetap tenang. “Tarik napas pelan.”
Amira mencoba. Meski terbata-bata.
“Lihat ke Umi.” kata Usman.
Perlahan Amira memandang Umi Salma.
“Bagus…” Usman kembali bicara lembut. “Kamu enggak sendirian.”
Air mata Amira kembali jatuh mendengar kalimat itu. Karena di kepalanya ia masih mendengar suara-suara masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur.
Mobil kembali berjalan pelan meninggalkan area hutan. Suasana di dalam menjadi sangat sunyi. Tidak ada yang berani banyak bicara. Sampai beberapa menit kemudian Amira tiba-tiba memegang dada sambil menunduk cepat.
“Berhenti…” Suaranya serak. “Umi… berhenti sebentar…”
Sopir langsung menepikan mobil di tepi jalan.
Belum sempat siapa pun bereaksi, Amira buru-buru turun dari mobil dengan langkah sempoyongan.
“Mira!” Umi Salma langsung ikut panik.
Namun Amira hanya berjalan beberapa langkah menjauh ke pinggir jalan yang sepi. Lalu perempuan itu muntah hebat.
Tubuhnya gemetar sambil berpegangan pada batang pohon kecil di pinggir jalan.
Umi Salma langsung mengusap punggungnya cemas.
Sementara Usman berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Diam. Rahangnya mengeras. Karena sekarang ia semakin yakin. Ini bukan sekadar kenangan buruk. Ada sesuatu yang sangat mengerikan pernah terjadi pada Amira di tempat itu.
Setelah muntah beberapa kali, tubuh Amira langsung melemas.
Umi Salma buru-buru menopang tubuhnya sebelum jatuh. “Mira… istigfar, sayang…”
Amira menangis tanpa suara sekarang. Wajahnya pucat sekali. Tangannya dingin seperti es.
Tiur ikut turun dari mobil sambil menggendong Habibi yang mulai tenang kembali.
Sementara Usman masih berdiri tak jauh dari sana. Tatapannya tidak lepas dari Amira. Dan semakin lama dada lelaki itu terasa makin sesak. Karena jelas sekali perempuan itu bukan hanya ketakutan. Ia seperti sedang dihancurkan kembali oleh masa lalunya sendiri. “Ais…” Suara Usman akhirnya terdengar lagi. Kali ini jauh lebih hati-hati.
Amira perlahan mengangkat wajahnya yang basah air mata.
“Lihat saya.”
Amira diam beberapa detik sebelum akhirnya menurut.
Usman menatapnya tenang. “Apa kamu sanggup lanjut?”
Pertanyaan itu membuat Umi Salma langsung menoleh pada putranya. Karena jujur saja beliau sendiri mulai berpikir untuk membatalkan perjalanan ini.
Namun Amira justru menggigit bibirnya pelan. Lalu mengangguk kecil. “Saya… sanggup.” Meski suaranya hampir hilang.
Usman memperhatikan wajah pucat itu lama. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia merasa marah pada sesuatu yang bahkan belum ia ketahui. Karena siapa pun yang membuat Amira setakut ini berarti sudah menghancurkan perempuan itu sangat dalam. “Ais.”
Amira kembali menatapnya. “Kamu enggak harus memaksa diri.” Kalimat sederhana itu langsung membuat mata Amira kembali panas. Sebab sepanjang hidupnya ia memang selalu memaksa dirinya sendiri untuk kuat. Untuk diam. Untuk bertahan. Dan anehnya lelaki di depannya seperti bisa melihat semua kelelahan itu.
Amira menunduk cepat sebelum tangisnya pecah lagi. “Saya enggak mau merepotkan…”
“Ais.” Kali ini suara Usman sedikit lebih tegas.
Membuat Amira spontan diam.
Tatapan lelaki itu begitu dalam sekarang. “Kamu bukan beban.”
Air mata Amira langsung jatuh lagi.
Bahkan Umi Salma sampai ikut berkaca-kaca mendengarnya. Karena mungkin itu adalah kalimat yang paling dibutuhkan Amira selama ini. Bukan nasihat untuk terus sabar. Bukan tuntutan agar terus kuat. Tetapi keyakinan bahwa dirinya tidak sedang merepotkan siapa pun hanya karena terluka.
Perjalanan akhirnya dilanjutkan kembali. Kali ini suasana di dalam mobil jauh lebih sunyi.
Habibi sudah kembali tertidur dalam gendongan Tiur. Sementara Amira duduk bersandar lemah di bahu Umi Salma. Matanya kosong menatap ke luar jendela. Ia mencoba bertahan. Mencoba bernapas normal. Mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua sudah berlalu. Namun semakin jauh mobil masuk ke dalam desa semakin kacau pikirannya.
Jalan-jalan itu. Gang-gang sempit itu. Semua terlalu familiar. Dan setiap sudut seperti menarik kembali luka lama yang selama ini ia kubur mati-matian.
Tangannya mulai gemetar lagi. Sampai akhirnya mobil berbelok memasuki sebuah halaman rumah besar bergaya jawa kuno.
Begitu melihat rumah itu, Tubuh Amira langsung membeku total. Napasnya berhenti sesaat. Matanya membesar penuh syok. Tidak. Tidak mungkin. Rumah itu, Rumah itu.
Tangannya langsung mencengkeram kursi keras. Wajahnya mendadak pucat pasi.
Sementara di depan, Usman yang baru hendak membuka pintu langsung menoleh karena merasakan perubahan suasana lagi. “Ais?”
Namun Amira seperti tidak mendengar. Tatapannya lurus ke arah rumah besar di hadapannya. Rumah masa lalunya. Rumah tempat semua mimpi kecilnya dulu dihancurkan. Rumah para pembulinya.
Dan tiba-tiba potongan kenangan lama kembali menyerbu kepalanya tanpa ampun. Suara tawa mengejek. Bisik-bisik hinaan. Tubuh kecilnya yang didorong. Tangisan yang tidak didengar siapa pun. Dan seorang gadis kecil yang akhirnya memilih diam agar bisa bertahan hidup.
“Mira?” Umi Salma mulai panik melihat wajah Amira yang berubah sangat pucat.
Namun bibir Amira hanya bergerak pelan. Nyaris seperti bisikan ketakutan. “Rumah ini…” Air matanya langsung jatuh. “Saya kenal rumah ini…”