Naja Belial muncul saat keadilan gagal. Dia tidak datang untuk menyelamatkan, tapi untuk memastikan dosamu dibayar lunas.
Saat hukum bisa dibeli.
Saat kebenaran dimanipulasi.
Saat manusia saling menghancurkan demi kepentingan sendiri…
Entitas urban legend itu akan datang.
Ada yang menganggapnya penyelamat.
Ada pula yang menyebutnya kutukan.
Lalu, apakah keadilan yang dipaksakan benar-benar lebih baik daripada kehancuran yang dibiarkan?
Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34 : Karma Kuli
Arman dan kuli itu bergegas menuju ruangan tempat di mana salah satu ada yang mati. Arman masih merasa tidak yakin karena selama dia berjaga tidak ada hal aneh apapun. Tidak ada maling, tidak ada binatang mematikan, semua perabotan terpasang aman di ruangan. Bahkan hantu yang selama ini diceritakan orang-orang tidak menampakkan diri di depan pria itu.
"Aku bahkan tidak menemukan kejanggalan, bagaimana bisa tiba-tiba ada yang mati," gumam Arman sambil menundukkan pandangan selama berjalan. Dia masih mencoba mencerna apa yang sedang terjadi.
Kuli itu melingkarkan tangannya di udara sambil menatap ke depan. "Pak, tadi semuanya aman. Rekan saya ada di sini, bersama saya," ucapnya sambil menunjuk salah satu ruangan yang mereka lewati. Ruangan itu pun juga tampak sangat sunyi.
"Lalu, apa kau yang membunuh dia?" tuduh Arman sambil menatap kuli itu curiga dan selidik.
Kuli itu sontak menggelengkan kepala. Dia menatap Arman dengan "Sumpah demi Tuhan, Pak. Bahkan saya tadi sempat menolong pekerjaan dia. Cuma ya itu, dia awalnya pamit buat pergi ke dapur, mau ambil minum doang. Eh tiba-tiba saya denger teriakan, pas saya ke dapur—" penjelasan kuli itu terpotong saat mereka tiba di dapur.
Mereka terkejut tidak percaya saat melihat salah satu kuli ada yang mati mengenaskan. Dia tergantung di lampu dengan leher terikat tali yang sangat kencang sampai mengeluarkan darah. Bola matanya juga memutih, mulutnya menganga, sementara jemari tangannya terpotong sadis.
Saking terkejutnya, Arman sampai tak sengaja menjatuhkan lampu senternya. Ruangan dapur seketika padam. Suasana menjadi gelap dan sangat sunyi. Begitu hening untuk diselidiki. Arman tidak bisa melihat kuli yang ada bersamanya dengan jelas. Dia hanya bicara ke sembarang arah.
"Siapapun di sana, keluar!" perintah Arman dengan keras, menunjukkan nyalinya dia juga bergerak menggeledah ruang dapur itu untuk mencari pelaku. Namun, tidak ada sahutan sama sekali.
Satpam tersebut kemudian segera mengamankan jasad kuli yang gantung diri itu. Dia berjalan keliling ke satu ruangan ke ruangan lain untuk memastikan keberadaan pelaku pembunuh tersebut. Aneh, tidak ada siapapun. Saat pria itu berjalan melewati kerumunan pekerja yang masih ada di dalam panti, dia sempat berdiam diri, menatap mereka penuh rasa selidik.
"Apa mungkin salah satu dari mereka pembunuhnya?" tanya Arman dalam hati.
Tidak mau sembarang menuduh, Arman pun kembali ke dapur. Dia menghampiri kuli tadi dengan rasa sedikit kelelahan. Raut wajah wajahnya datar seperti tidak peduli. Namun, kerutan kening di wajahnya juga mengisyaratkan rasa khawatir yang sangat dalam.
"Kamu tunggu di sini, saya akan lapor pada insinyur," ucap satpam itu pada kuli tadi.
"Saya ikut, Pak. Saya takut sendirian," tolak kuli itu dengan tatapan memelas.
Arman tidak menghiraukan permintaan kecilnya itu. Dia memandang sinis sambil mendengus pelan. "Takut apa si? Hantu itu tidak ada, bisa aja temanmu tadi gantung diri karena stres kerja," ujarnya berusaha untuk menghilangkan rasa takut tidak jelas yang dirasakan kuli itu.
Kuli itu menggelengkan kepalanya. "Hantu itu ada Pak, saya takut nanti dia juga akan membunuh saya. Apalagi saya juga ikut andil mengusir para anak panti itu," ucapnya serak. Tubuh pria itu gemetar, sorot matanya masih menunjukkan rasa takut yang dalam.
Arman merasa aneh dengan kuli itu. Ia memutar bola matanya malas dan menepuk jidatnya. Pria itu menghela napas sebelum menatap kuli itu dengan sedikit malas.
"Sekarang kamu keluar sana, gabung sama rekan kerja yang lain. Saya akan lapor masalah ini pada insinyur!" perintah Arman sambil menuju pintu keluar di dapur. Kebetulan di luar sana ada banyak rekan kerja kuli lain yang sedang bekerja.
Saat kuli itu membuka mulut hendak bersuara, tiba-tiba saja Arman kembali melanjutkan ucapannya, "kalau ada apa-apa telepon aja!"
Tanpa basa-basi, Arman segera keluar dari ruangan dapur dan bergegas menemui insinyur untuk memberitahu masalah ini. Sementara kuli tadi segera bergabung dengan teman-temannya dan mencoba fokus bekerja. Namun, perasaan kuli itu masih terasa
"Kalau masih syok istirahat saja," ucap salah satu dari mereka, suaranya lembut sedikit khawatir.
Kuli itu menggelengkan kepala. Dia menatap temannya dengan sedikit lemas. "Tidak apa aku baik-baik saja!"
Mencoba untuk melanjutkan pekerjaan tapi makin lama dia makin pusing. Rasa panik tentang kematian tragis rekannya membuat jantungnya terasa sangat sakit. Dia berusaha mengatur pernapasan, mencoba agar semuanya baik-baik saja tapi tiba-tiba sesuatu seperti merayap dirinya dari belakang.
Kuli itu mulai merasa sesak napas sampai bola matanya perlahan memutih hingga urat merah yang ada di matanya terlihat. Di lehernya, ada jemari dengan kuku hitam panjang menepuk pelan seperti menggelitik. Jantung kuli itu makin berdebar-debar.
"Tolong—" Belum sempat kuli itu melanjutkan ucapannya tiba-tiba saja jemari tangan itu menutup mulutnya dengan rapat.
Tidak ada satupun rekan kerja yang mendengar suaranya karena suara kuli itu terlalu pelan. Serta mereka juga sibuk dengan pekerjaan masing-masing, sehingga tidak terlalu fokus untuk memperhatikannya secara penuh. Rasa panik mulai makin membesar saat kuli itu seperti dicekik oleh sosok yang ada di belakangnya.
Kuli itu meringis kesakitan. Dia mencoba berteriak di gumamnya, tapi suaranya sudah habis. Sementara pandangannya makin buram. Saat ia mencoba untuk menahan keseimbangan tubuhnya yang mulai ambruk, dia justru tidak sadar menggenggam sebilah pisau tajam.
Seketika tangannya tersayat dan mengeluarkan darah yang membuatnya makin tak berdaya dan sangat pusing. Di sisa-sisa kesadarannya, dia berusaha menghubungi Arman. Namun sosok itu dengan kasar menjatuhkan hp nya hingga rusak.
"Hpku?" Seketika kuli itu ambruk tak sadarkan diri dengan kulit yang sudah memucat, mata memutih, dan leher membiru habis dicekik. Sementara tangan kanannya berlumuran darah akibat sayatan pisau yang tidak sengaja dia genggam.
Setelah kuli itu mati, tiba-tiba saja atap ruang panti asuhan itu bergetar seperti mau roboh. Dari bawah, rekan kuli itu dapat melihat jelas retakannya dan arah jatuhnya. Menyadari genteng atap itu akan menimpa rekannya, dia segera bergegas untuk memberitahu.
"Heh, minggir!" tegur pria itu, masih tak sadar jika kuli itu sudah meninggal. Dia berdengung kesal dan raut wajahnya makin panik saat atap itu terus bersuara sambil menunjukan retakan hitam yang ada di bawahnya.
"Awas, kau bisa terluka nanti," tegur pria itu sekali lagi tapi tak ada sahutan. Beberapa kali dia mencoba menegur tapi kuli itu masih tak sadarkan diri. Jelas, karena dia sudah mati. Rekannya yang tidak sadar dia mati pun segera berlari dan hendak menyeretnya menjauh. Namun, dia terkejut saat sadar rekannya sudah mati dengan tiba-tiba dan mengenaskan.
"Bagaimana ini bisa terjadi lagi?" tanyanya tidak percaya. Belum habis rasa penasarannya tiba-tiba saja atap genteng itu roboh dan jatuh tepat di atas punggung membuat dia seketika mati dengan ketindihan rekannya dan atap itu. Tubuh pria itu sama-sama berlumuran darah, bahkan gepeng.
Orang-orang yang ada di sana sontak menjerit karena kejadian mengerikan barusan. Jantung mereka seperti mau lepas dan rasa takut mulai ada di mana-mana.
“Ihh, asyik nih. Waktunya panen\~” Ujar Naja kegirangan.