NovelToon NovelToon
Om Duda Come To Me!

Om Duda Come To Me!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Duda
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

Apa jadinya kalau Zyan, Direktur dingin yang dunianya cuma berisi angka dan rapat bosan, harus menikah dengan Alexa, mahasiswi bar-bar yang lebih sayang motor ZX-nya daripada sisir rambut?

​Zyan baru saja menduda dan bersumpah nggak mau berurusan sama drama cinta lagi. Tapi, takdir (dan paksaan orang tua) membawanya ke pelaminan bersama gadis rambut wolfcut yang hobinya nantangin maut.

​Bagi Alexa, nikah muda itu bencana. Tapi melihat wajah kaku Zyan yang kayak manekin, jiwa jahilnya meronta-ronta. Misi Alexa cuma satu: Bikin si Om kaku ini darah tinggi tiap hari sampai minta ampun! Tapi, siapa sangka, di balik tembok es Zyan, ada kehangatan yang bikin Alexa perlahan lupa cara nge-gas motornya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Rencana Zyan memang selalu perfeksionis. Untuk mendekati pulau pribadi yang diduga jadi markas "The Phoenix" tanpa dicurigai radar mereka, Zyan menyewa sebuah Yacht super mewah bernama The Serenity. Alibinya jelas: Pasangan miliarder muda yang baru menikah sedang menikmati honeymoon privat di perairan Kepulauan Seribu.

Pagi itu, Alexa berdiri di dermaga dengan tatapan kosong. Di depannya, Zyan sudah tampil effortlessly handsome dengan kemeja linen putih yang kancing atasnya dibuka, celana pendek krem, dan kacamata hitam yang harganya mungkin bisa buat beli mesin motor bor-up sepuluh biji.

"Alexa, kenapa kamu masih pakai jaket kulit itu? Suhu di laut bisa mencapai 32 derajat," ujar Zyan sambil merangkul pinggang Alexa.

"Om... masalahnya bukan di jaket gue," bisik Alexa, wajahnya agak pucat. "Masalahnya adalah... gue ini jagoan di aspal, tapi gue payah di air. Gue... gue gampang mabuk laut, Om!"

Zyan tertawa kecil, ia mencubit pipi Alexa. "Tenang saja. Kapal ini punya sistem stabilizer paling canggih. Kamu tidak akan merasa ada guncangan. Anggap saja kamu sedang duduk di sofa ruang tamu yang bergerak."

"Sofa ruang tamu nggak ada bau amis garemnya, kan? " protes Alexa. Tapi akhirnya, dia pasrah ditarik naik ke atas kapal.

Satu jam pertama, semua tampak indah. Alexa mulai terpesona dengan kemewahan yacht itu. Ada jacuzzi di dek depan, kamar tidur dengan kasur king size yang menghadap langsung ke laut, dan koki pribadi yang siap masak apa saja.

"Oke, gue tarik ucapan gue. Ternyata jadi orang kaya itu enak juga," ujar Alexa sambil tiduran di kursi malas, menyesap jus jeruk. Dia sudah ganti baju pakai sundress tipis warna biru muda pilihan Zyan (yang awalnya dia tolak mentah-mentah karena takut kelihatan kayak cewek feminin).

Zyan duduk di sampingnya sambil membuka laptop, diam-diam memantau sinyal dari alat penyadap yang mereka pasang di bengkel kemarin. "Kita akan sampai di titik koordinat dalam tiga jam. Siska sudah menyiapkan drone pengintai bawah air untuk kita lepas begitu jarak kita tinggal satu mil dari pulau itu."

"Om, kerja terus sih. Sini deh, liat ikannya lucu-lucu!" Alexa mencoba menarik perhatian Zyan.

Zyan menutup laptopnya, dia menatap Alexa yang terlihat cantik dengan rambut tertiup angin laut. "Kamu benar. Seharusnya kita menikmati 'bulan madu' ini sedikit, kan?"

Zyan mendekat, dia mulai membelai rambut Alexa. Suasana mendadak jadi syahdu. Suara deburan ombak dan angin sepoi-sepoi bikin momen itu terasa sangat intim. Zyan mencondongkan wajahnya, matanya menatap bibir Alexa yang kemerahan.

"Alexa, saya—"

HOOOOEEEKKK!

Momen romantis itu hancur berkeping-keping dalam satu detik. Kapal baru saja melewati ombak yang agak besar, dan perut Alexa langsung bereaksi seperti mesin yang kemasukan bensin basi.

"ALEXA?!" Zyan loncat mundur, tapi terlambat. Sebagian jus jeruk dan sarapan bubur ayam tadi pagi sudah mendarat manis di kemeja linen putih Zyan yang harganya seharga DP rumah itu.

"Om... maaf... gue... HOOEEK!" Alexa langsung lari ke pinggir pagar kapal, tumpah semua isi perutnya ke laut biru yang tadinya tenang.

Zyan mematung. Dia melihat kemejanya yang sekarang penuh noda kuning dan bau asam. Kalau ini asistennya, pasti sudah dia pecat saat itu juga. Tapi ini Alexa.

"Siska! Ambilkan air hangat dan handuk! Sekarang!" teriak Zyan, panik bukan karena bajunya rusak, tapi karena melihat Alexa yang sudah lemas kayak kanebo basah.

Dua jam kemudian, Alexa terbaring di tempat tidur utama dengan kompres hangat di dahi. Zyan sudah ganti baju (tentu saja) dan sekarang duduk di samping Alexa sambil menyuapkan teh jahe.

"Makanya... jangan sok jagoan mau ikut ke laut kalau tau mabuk laut," ledek Zyan, tapi tangannya sangat lembut mengusap rambut Alexa.

"Diem lo, Om. Ini gara-gara kapal lo terlalu mewah, jadi badannya kaget. Biasanya kan gue naik motor yang guncangannya jujur, nggak halus-halus nipu kayak gini," sahut Alexa lemas.

"Masih bisa bercanda, ya?" Zyan tersenyum. "Istirahatlah. Kita sudah dekat dengan koordinat. Siska sudah meluncurkan drone-nya."

Zyan kembali ke meja kerjanya di sudut kamar. Di layar monitor, terlihat citra dari drone bawah air. Pulau di depan mereka tampak seperti pulau wisata biasa, tapi di bagian bawah tebingnya, terdapat sebuah pintu masuk rahasia yang cukup besar untuk dimasuki kapal selam kecil atau speedboat.

"Ketemu," gumam Zyan. "Mereka membangun pangkalan di dalam gua tebing."

Tiba-tiba, alarm di laptop Zyan berbunyi. "Sinyal terdeteksi. Ada frekuensi radio yang mencoba mengunci posisi kita."

"Om, kenapa?" Alexa mencoba duduk meski kepalanya masih agak kliyengan.

"Kita ketahuan, Lex. Radar mereka lebih canggih dari yang saya duga. Mereka tahu kita bukan sekadar turis yang tersesat," Zyan langsung menyambar intercom. "Kapten! Putar arah! Maksimal kecepatan! Kita harus keluar dari jangkauan mereka!"

Tapi terlambat. Di kejauhan, terlihat dua speedboat hitam meluncur cepat ke arah mereka. Orang-orang di atasnya memakai baju taktis lengkap dengan senjata.

"Itu Phoenix, Om!" teriak Alexa. Rasa mualnya mendadak hilang digantikan oleh adrenalin. Dia langsung loncat dari kasur dan lari ke arah tasnya.

"Kamu mau apa?!" tanya Zyan.

"Gue nggak bisa berantem pake daster begini, Om!" Alexa dengan cepat memakai celana jeans di balik sundress-nya, lalu merobek bagian bawah dasternya agar dia bisa bergerak bebas. Dia mengambil sabuk perkakasnya yang berisi beberapa baut tajam dan ketapel modifikasi.

"Zyan Arsalan! Menyerahlah atau kami tenggelamkan kapal ini!" suara dari megapon speedboat itu menggema.

Zyan keluar ke dek belakang. Wajahnya yang tadi lembut saat menyuapi Alexa, sekarang berubah jadi dingin dan tajam. "Siska, aktifkan protokol pertahanan non-lethal. Gunakan meriam air tekanan tinggi dan pengacau sinyal!"

Pertempuran di laut dimulai! Speedboat musuh mencoba merapat ke yacht. Mereka melemparkan tali pengait untuk naik ke atas.

"Jangan kasih mereka naik!" Alexa berteriak. Dia menggunakan ketapelnya, menembakkan baut-baut baja ke arah mesin speedboat musuh dengan akurasi yang gila.

KLANG! KLANG!

Satu mesin speedboat musuh mulai mengeluarkan asap hitam. "Kena lo, kampret!" sorak Alexa.

Tapi satu speedboat lainnya berhasil merapat. Tiga orang pria bersenjata melompat ke atas dek. Zyan tidak tinggal diam. Dia mengambil sebuah tongkat besi (tiang bendera kapal yang bisa dilepas) dan menggunakannya sebagai senjata.

BUGH!

Zyan menghantam salah satu musuh sampai terpental kembali ke laut. Dia bergerak dengan sangat efisien, menghindari setiap pukulan dengan gerakan minimalis tapi mematikan.

"Alexa, masuk ke dalam!" perintah Zyan.

"Nggak mau! Gue mau nyobain ini!" Alexa menarik tuas selang air pemadam kebakaran yang ada di dek. Dengan tekanan super tinggi, dia menyemprot dua musuh lainnya yang baru mau naik.

WUUUUUUSSSHHHH!

Dua orang itu langsung terbang seperti cucian basah terkena tekanan air. "Mandi dulu sana, biar pinter!" teriak Alexa sambil ketawa puas.

Namun, di tengah kekacauan itu, sebuah helikopter kecil muncul dari balik pulau. Helikopter itu membawa lambang Phoenix. Dan yang mengejutkan, pintu helikopter terbuka, memperlihatkan seseorang yang sangat mereka kenal.

"Tante... Clarissa?!" Alexa melongo.

Clarissa berdiri di sana dengan senyum licik, memegang alat kendali jarak jauh. "Zyan, sayang... kamu pikir aku cuma pion kecil? Aku adalah pemilik 'sayap' yang patah itu. Selamat tinggal, Arsalan!"

Clarissa menekan tombol, dan tiba-tiba mesin yacht Zyan mati total.

"Sistemnya disabotase dari jarak jauh melalui sinyal drone kita sendiri, Pak!" Siska berteriak dari ruang kendali.

Kapal mereka sekarang terombang-ambing tanpa mesin, sementara helikopter Clarissa mulai menjatuhkan sesuatu ke arah dek... sebuah bom gas air mata.

"Tutup hidungmu, Alexa!" Zyan menarik Alexa masuk ke dalam kabin bawah, tapi asap putih sudah mulai memenuhi ruangan.

Alexa mulai terbatuk-batuk hebat. Matanya perih luar biasa. "Om... gue nggak bisa liat..."

Zyan memeluk Alexa erat, mencoba melindunginya dari asap. "Tetap bersama saya, Lex. Jangan lepaskan tangan saya."

Di tengah kepulan asap dan suara tawa Clarissa yang menggema dari helikopter, Zyan menyadari bahwa musuh kali ini bukan cuma soal dendam lama, tapi soal kecemburuan wanita yang sudah berubah jadi kegilaan murni.

Zyan membisikkan sesuatu di telinga Alexa sebelum kesadaran mereka mulai menipis karena gas air mata. "Alexa... kalau kita selamat dari ini, saya janji akan belikan kamu bengkel paling besar di dunia."

"Janji... ya, Om..." gumam Alexa pelan sebelum semuanya menjadi gelap.

Bersambung....

1
Mela Mela
karyanya menarik bgt,seru,menantang bgt bacanya..seakan gw ikut masuk. didalem ceritanya👍
neyrfly: makasih kakk🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!