NovelToon NovelToon
MANISNYA SI BOS NARSIS

MANISNYA SI BOS NARSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.


Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.

Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.

Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: MAKAN MALAM PENUH TEKANAN

Aroma rendang daging, ayam pop, dan sup iga yang mengepul di atas meja makan jati berukuran besar itu harusnya bisa membangkitkan selera makan siapa pun. Namun bagi Anaya, meja makan mewah di kediaman Bimantara malam ini terasa seperti kursi panas di ruang interogasi polisi militer.

Anaya duduk dengan kaku, sudah berganti pakaian menggunakan gaun katun premium berwarna pastel milik Bu Ambar yang untungnya pas di badannya. Rambutnya yang masih agak basah kini wangi parfum melati. Bu Ambar memaksanya menggunakan parfum itu. "Biar Bima makin lengket sama kamu, Nay." Seloroh bu Ambar yang sukses membuat pipi Anaya merona.

Di seberangnya, Bima duduk dengan santai—terlalu santai malah—menggunakan kemeja kasual warna hitam yang ditekuk hingga siku setelah mandi kilat di kamar atas. Rambutnya yang agak acak-acakan karena belum kering sempurna justru membuat kadar ketampanan pria narsis itu naik beberapa persen, sesuatu yang buru-buru Anaya tepis dari pikirannya.

"Ayo dimakan, Anaya, Bima. Jangan dipandangi saja rendangnya, gak bakal bertelur kok," seloroh Pak Hartawan memecah kekakuan sambil menyendokkan nasi ke piringnya sendiri.

"Iya, Anaya Sayang, ayo makan yang banyak. Capek, kan, habis simulasi banjir darurat di dalam kamar mandi tadi?" sahut Bu Ambar dengan kerlingan mata yang super usil.

Anaya hampir saja tersedak air putih yang baru saja diteguknya. Pipi sekretaris itu mendadak kembali merona merah. "A-ah, iya, Bu. Terima kasih," jawab Anaya kikuk, buru-buru menyendok sejumput nasi dan sepotong ayam pop ke piringnya untuk menghindari kontak mata dengan siapa pun.

Baru saja keheningan damai berlangsung selama tiga suapan, Bu Ambar yang tampaknya sudah tidak tahan lagi menahan rasa penasaran maksimalnya, meletakkan sendok dan garpunya dengan bunyi dentingan pelan. Wanita paruh baya itu menopang dagunya, menatap Bima dan Anaya bergantian dengan mata berbinar-binar.

"Jadi... gimana tadi di dalam? Seru gak?" tanya Bu Ambar tanpa tedeng aling-aling.

Bima yang sedang mengunyah sepotong rendang, menatap ibunya dengan ekspresi lempeng tanpa dosa. "Seru, Ma. Air shower-nya dingin banget, cocok buat menyegarkan otak saya yang seharian pusing mikirin kerjaan."

"Halah, bukan itu maksud Mama, Bima!" potong Bu Ambar gemas, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah meja. "Maksud Mama itu... di dalam kubikel shower yang sempit, gelap, dingin, terus basah-basahan begitu... kalian sempat ciuman gak? Atau minimal pelukan mesra yang agak lama gitu?"

UHUK! UHUK!

Kali ini Anaya benar-benar tersedak. Dia terbatuk-batuk kecil sambil menutup mulutnya dengan tisu, wajahnya sudah merah padam sampai ke leher. Pak Hartawan hanya bisa menghela napas panjang melihat kelakuan ajaib istrinya, sementara Bima dengan tenang menyodorkan segelas air putih hangat ke arah Anaya.

"Minum dulu, Anaya. Jangan mati konyol di rumah saya cuma gara-gara pertanyaan absurd dari Mama," ujar Bima santai, yang langsung mendapat pelototan tajam dari Anaya dan tabokan pelan di lengan dari Bu Ambar.

"Mama serius tahu, Bima!" ketus Bu Ambar sambil melotot pada anak semata wayangnya. "Kalau sampai dalam kondisi mendukung kayak begitu kamu gak ngapa-ngapain Anaya, Mama malah jadi curiga. Kamu ini beneran normal, kan? Gak gay, kan? Gak trauma sama perempuan, kan?"

"Ma, jaga bicaranya. Ada Anaya di sini," tegur Pak Hartawan geleng-geleng kepala.

"Ih, Papa! Mama kan cuma memastikan. Lagian, laki-laki normal mana coba yang bisa mengabaikan Anaya di dalam ruang tertutup? Kecantikan sama attitude-nya Anaya itu luar biasa sebagai wanita. Sudah cantik, sopan, cekatan, penurut lagi!" puji Bu Ambar beruntun, beralih menatap Anaya dengan pandangan penuh kekaguman yang tulus.

Anaya yang baru selesai meneguk air putih langsung merasa makin salah tingkah. "Ibu bisa saja... saya biasa saja kok, Bu," jawab Anaya merendah, tersenyum canggung.

"Gak, Sayang. Kamu itu luar biasa. Terbukti kamu satu-satunya orang yang mampu mendampingi si Bima yang rewel dan narsis ini selama lima tahun terakhir tanpa pernah mengundurkan diri beneran," lanjut Bu Ambar berapi-api. "Mama yakin banget, kalau kamu jadi istri Bima, kalian berdua bakal sangat cocok. Lagipula, di dunia ini cuma kamu yang bisa didengar sama Bima. Bima itu jadi lebih lembut dan penurut kalau sama kamu."

Mendengar kata 'penurut', sendok di tangan Anaya hampir saja terlepas. Dia menatap Bu Ambar dengan mata membelalak heran.

"Penurut, Bu? Ibu gak salah ngomong?" tanya Anaya sangsi, tidak tahan untuk tidak mengklarifikasi. Pikiran Anaya langsung melayang pada kelakuan diktator Bima yang hobi mengancam memecatnya tidak hormat setiap hari sabtu malam minggu. "Pak Bima itu penurut dari mananya, Bu? Yang ada saya yang ditindas terus setiap hari di kantor."

"Tentu saja saya gak salah ngomong, Anaya," sahut Bu Ambar mantap, menepuk meja pelan. "Lihat saja semua hal yang kamu siapkan buat Bima. Pakaian kerja dia dari ujung rambut sampai ujung kaki, jenis makanan siang dia di kantor, semuanya diatur sama kamu dan Bima terima gitu aja tanpa protes! Coba kalau Mama yang pilihin baju, pasti dikritik habis-habisan, katanya gak sesuai sama seleranya yang tinggi lah, apa lah."

Bu Ambar menghela napas dramatis, melirik Bima dengan pandangan sebal. "Dan yang paling bikin Mama yakin... hanya Anaya yang nasihatnya didengar sama Bima. Kalau Mama yang nasihati, dia pasti selalu membantah pakai teori-teori bisnisnya yang bikin pusing. Diam-diam Mama itu iri tahu, karena Bima gak pernah begitu sama Mama. Dia selalu nurut apa kata kamu."

Anaya tertegun. Dia spontan melirik ke arah Bima yang duduk di sebelahnya. Pria itu ternyata tidak membantah ucapan ibunya. Bima justru sedang menatap Anaya dengan sepasang mata elangnya yang dalam, mengulum senyum tipis yang sarat akan arti, seolah membenarkan semua ucapan Bu Ambar tanpa ragu.

"Intinya, Mama sama Papa itu sangat merestui hubungan kamu dan Bima untuk bisa berlanjut ke jenjang pernikahan secepatnya," tegas Bu Ambar lagi, kali ini dengan nada bicara yang lebih serius namun penuh kehangatan seorang ibu. "Hanya Anaya yang paling bisa mendampingi Bima, baik di pekerjaan maupun di kehidupan nyata. Jadi, Bima... tunggu apa lagi? Segera urus tanggalnya!"

Mendapat serangan bertubi-tubi dari ibunya, Bima meletakkan sendoknya dengan tenang. Dia menyeka bibirnya dengan tisu, lalu bersandar di kursi sambil melipat tangan di dada. Tatapannya tidak lepas dari wajah Anaya yang makin salah tingkah di sebelahnya.

"Tenang saja, Ma," jawab Bima, suaranya terdengar begitu santai, berat, dan penuh percaya diri yang mutlak. "Lamarannya sudah siap dalam kepala saya sejak Jumat malam kemarin. Sekarang tinggal menunggu sekretaris saya ini siap mental saja untuk tanda tangan kontrak seumur hidup sebagai Nyonya Bimantara."

Anaya langsung menendang tulang kering kaki Bima di bawah meja dengan sekuat tenaga, membuat pria itu sedikit mengaduh menahan tawa, sementara Bu Ambar dan Pak Hartawan langsung bersorak riang merayakan kemenangan perjodohan mereka malam itu.

*

1
English Lesson
semangat 💪🏻
English Lesson
Bagus👍🏻
Mar lina
Kirain mau kiss
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
Mar lina
Di tunggu
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!