NovelToon NovelToon
Hasrat Kumbang Sewaan

Hasrat Kumbang Sewaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Viaalatte

Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Gilang ikut melirik sekilas ke samping.

Dan begitu melihat jelas siapa yang duduk di belakang Devan, senyumnya langsung berubah tipis.

“Itu… Tante Jesica,” jawabnya pelan.

Tapi tawanya setelah itu terdengar anehdan seperti dipaksakan.

Viona langsung mencondongkan badan sedikit ke depan. “Hah? Apa, Kak? Nggak kedengeran…”

Gilang cepat-cepat menggeleng kecil. “Nggak.”

Ia langsung menunjuk ke pinggir jalan. “Eh, itu ada tukang es matcha. Mau nggak?”

Viona langsung menoleh cepat.

Di pinggir jalan ada gerobak kecil dengan sepeda listrik yang menjual minuman berbagai rasa.

“Mau mau mau!” katanya semangat sambil menepuk-nepuk pelan punggung Gilang.

Gilang langsung menepi di dekat gerobak itu.

“Bang, matcha satu sama cappuccino satu.”

Viona langsung mendongak menatap samping wajah Gilang. “Cappuccino terus.”

Gilang melirik sekilas. “Kenapa?”

“Pahit. Pantesan jarang senyum,” gumam Viona santai.

Gilang langsung tertawa kecil. “Emang apa enaknya matcha? Rasa rumput.”

Viona langsung protes. “Ihh!”

“Berasa kambing minumnya,” lanjut Gilang sambil nyengir kecil.

Viona langsung tidak terima. “Eh, teh hijau tuh sehat ya!”

Gilang mengangguk asal. “Kalau sehat mah langsung makan daunnya sekalian dari tangkai.”

Viona langsung melotot. “Ih apaan sih.”

“Lha ini udah dicampur gula, susu, segala macam,” lanjut Gilang santai. “Sama aja.”

Viona langsung mendecih sambil menerima gelas matchanya. “Sok paling ngerti.”

...****************...

Setelah minuman mereka selesai dibuat, Gilang dan Viona kembali melanjutkan perjalanan ke kampus.

Suasana kampus sudah cukup ramai karena sudah menjelang siang.

Begitu masuk kelas, beberapa mahasiswa langsung ribut membahas hasil tugas yang baru dibagikan.

“Anjir gue C…”

“Lah gue aman.”

Viona ikut melihat nilainya sendiri lebih dulu, lalu lumayan lega.

Sementara Gilang membuka lembar tugasnya pelan.

Dan keningnya langsung berkerut.

D.

Beberapa detik ia cuma menatap huruf itu tanpa bereaksi.

Biasanya nilainya tidak pernah serendah ini.

Dosen mereka yang sedang berdiri di depan kelas ikut memperhatikan. “Gilang.”

Gilang langsung mengangkat kepala.

“Kamu kenapa akhir-akhir ini?” tanya dosen itu sambil melihat lembar penilaiannya. “Nilaimu turun jauh.”

Kelas mendadak lebih sepi sedikit.

“Padahal biasanya kamu cukup bagus di mata kuliah saya.”

Viona yang duduk di sebelahnya penasaran lalu sedikit mengintip lembar tugas di tangan Gilang.

Dan matanya langsung membesar.

“D?” gumamnya pelan.

Tapi ia tidak lanjut komentar.

Gilang menelan ludah sebelum akhirnya menjawab dosennya, “Kemarin saya lagi ada masalah sedikit, Pak… jadi kurang fokus.”

Dosen itu mengangguk pelan, tapi wajahnya masih serius.

“Masalah pribadi saya mengerti,” katanya. “Tapi kamu juga harus tetap jaga nilai kamu.”

Ia menunjuk lembar tugas Gilang.

“Kalau turunnya sejauh ini, nanti IPK kamu bisa ikut turun. Apalagi kamu biasanya bagus.”

Dosen itu menghela napas kecil. “Padahal saya sempat ingin merekomendasikan kamu ikut business case competition bulan depan.”

Gilang sedikit terdiam.

“Biasanya saya pilih mahasiswa yang konsisten nilainya bagus,” lanjut dosen itu. “Makanya saya agak kaget lihat hasil kamu sekarang.”

Beberapa mahasiswa langsung melirik ke arah Gilang.

Viona juga ikut menoleh diam-diam ke samping wajah Gilang.

Gilang menunduk sedikit. “Saya minta maaf, Pak.”

Dosen itu diam sebentar lalu mengangguk kecil. “Saya cuma nggak mau kamu nyesel nanti kalau kemampuan kamu kebuang begitu aja.”

Gilang hanya mengangguk pelan.

“Sudah, fokus lagi mulai sekarang,” lanjut dosen itu sambil menutup map nilainya. “Kita lanjut materi.”

Suasana kelas perlahan kembali normal.

Dosen mulai menjelaskan slide di depan kelas lagi, sementara Gilang masih diam menatap lembar nilainya beberapa detik lebih lama.

Gilang menatap slide presentasi di depan dengan tatapan kosong.

Suara dosen masih terdengar menjelaskan materi, tapi pikirannya melayang jauh.

Ia ingat saat mengerjakan tugas itu.

Hari ketika dirinya baru tahu kalau Wildan mengidap HIV.

Dan kabar itu seperti jadi pukulan lain di tengah hidupnya yang memang sudah berantakan sejak lama.

Utang.

Pekerjaan kotornya.

Kuliah.

Keluarga.

Semuanya seperti menumpuk di kepalanya sampai ia sendiri mulai kehilangan fokus.

...****************...

Setelah kelas selesai, ponsel Gilang bergetar.

Nama Tante Jesica muncul di layar.

Gilang langsung keluar dari kerumunan mahasiswa lalu berjalan ke area belakang gedung kampus yang lebih sepi. Ia berhenti di bawah pohon rindang sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.

“Kamu ke mana aja sih?” suara Tante Jesica langsung terdengar mengomel. “Beberapa hari ini susah banget dihubungi.”

Gilang menghembuskan napas pelan. “Lagi banyak urusan, Tan.”

“Urusan terus,” balas Tante Jesica cepat. “Terus progres kamu sama Valeria gimana?”

Gilang diam sebentar sebelum menjawab singkat, “Belum ada.”

Tante Jesica langsung mendecih kecil. “Gilang… uang segitu tuh cepat habis tanpa terasa.”

Tatapan Gilang turun ke tanah.

“Mending kamu ambil pelanggan lain dulu,” lanjutnya santai. “Ini dari minggu lalu banyak yang nanyain kamu terus.”

Gilang memejamkan mata sebentar sebelum menjawab pelan, “Maaf, Tante… untuk sekarang saya belum bisa.”

“Kenapa lagi?”

“Saya belum siap.”

Di seberang sana, Tante Jesica langsung mendecih kesal. “Hei, anak muda, jangan sok jual mahal deh.”

Gilang diam.

“Kalau kamu nolak terus, pelanggan bisa kabur semua,” lanjutnya mulai meninggi. “Jangan munafik. Kamu sendiri masih butuh banyak uang buat hidup.”

Rahang Gilang perlahan mengeras.

“Adik-adikmu makan pakai apa?” suara Tante Jesica makin tajam. “Ini kesempatan emas, Gilang. Jangan so-soan nolak begitu.”

Gilang memejamkan mata sebentar lalu menarik napas panjang.

“Baik,” katanya akhirnya. “Saya akan datang hari ini.”

Tante Jesica langsung diam beberapa detik.

“Asalkan bayarannya ditambah,” lanjut Gilang datar.

Dan detik berikutnya, suara tawa Tante Jesica langsung terdengar keras dari seberang telepon.

“Hahaha! Nah gitu dong dari kemarin!”

Gilang hanya diam mendengarkan.

“Semua memang soal uang, kan?” lanjut Tante Jesica santai. “Kemarin saya kira kamu benar-benar mau tobat.”

Ia tertawa kecil lagi.

“Ternyata cuma karena bayarannya kurang.”

Gilang menatap kosong ke halaman kampus.

“Tenang aja,” kata Tante Jesica. “Kalau soal bayaran mah gampang diatur.”

Gilang langsung mematikan telepon itu tanpa menjawab lagi.

Ia menunduk pelan lalu jongkok di bawah pohon, sikunya bertumpu di lutut sementara tangannya mengusap wajah kasar.

Tatapannya kosong ke tanah.

Semakin lama ia semakin muak dengan pekerjaan itu.

Dengan semua kebohongan dan cara hidupnya sekarang.

Tapi di sisi lain—

ia juga butuh uang cepat.

Utang belum selesai.

Biaya rumah.

Obat ibunya.

Dan sekarang kondisi Wildan juga membuat semuanya terasa makin berat.

Gilang menunduk lebih dalam sambil mengacak rambutnya frustrasi.

“Harus gimana lagi…” gumamnya pelan.

Saat Gilang masih duduk jongkok di bawah pohon, ponselnya kembali bergetar pelan di tangannya.

Ia awalnya malas melihat.

Tapi begitu membaca nama di layar, keningnya langsung berkerut.

Valeria.

Jantung Gilang berdetak sedikit lebih cepat.

Perlahan ia membuka chat itu.

Romeo, kamu di mana?

1
hrarou
kasian gilang sayang 🥺
Viaalatte: huhu iya kak🥺, makasih sudah mampir🥰♥️
total 1 replies
Viaalatte
yok baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!