Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Lantai Sembilan dan Bau Abadi
Lantai sembilan adalah sebuah dunia yang gelap, dingin, dan benar-benar tidak pantas untuk diinjak oleh manusia hidup.
Udara di sini jauh lebih berat daripada lantai-lantai di bawahnya, membawa serta bau tajam yang menusuk campuran aneh antara debu kuno, logam berkarat, dan bau asam dari sesuatu yang telah lama mati namun menolak untuk hancur. Bau itu melekat, bahkan menyentuh bagian belakang lidah mereka.
Aura dan tentara Arga berjalan beriringan. Cahaya dari senter tangan tentara Arga menyapu lorong, hanya untuk mengungkap pemandangan yang semakin menggelisahkan. Ini bukan hanya sebuah ruang penyimpanan, ini adalah museum kengerian yang tersembunyi.
“Aku tidak bisa bernapas dengan benar,” bisik tentara Arga, menahan napas. “Bau apa ini? Seperti bau rumah sakit, tapi... lebih tua.”
Aura mengangguk, sorot matanya yang tajam memindai barisan rak dan meja baja. “Ini adalah Bau Abadi,” jawabnya, suaranya pelan namun penuh kepastian yang menusuk. “Bau yang muncul ketika manusia mencoba menipu waktu.”
Di sekeliling mereka, ratusan botol kaca dan bejana tertutup rapi berjejer di atas rak-rak logam yang hampir ambruk. Ada mesin-mesin tua, alat-alat bedah dengan ukiran rumit yang sudah kusam, dan tumpukan kain linen yang menguning. Tetapi yang paling menarik perhatian adalah isinya.
Di dalam botol-botol itu, disinari oleh senter, terdapat potongan-potongan tubuh yang tidak utuh: jari-jari yang keriput, organ-organ yang menyusut dan berwarna gelap, segumpal rambut yang seolah masih memiliki tekstur. Semua spesimen itu terendam dalam cairan berwarna cokelat keruh atau tertutup rapat dalam botol kering. Mereka semua berusia ratusan tahun.
Tentara Arga mundur selangkah tanpa sadar. “Ya Tuhan. Apa yang terjadi di sini? Apakah ini... praktik ilegal? Atau hanya... gila?”
Aura melangkah maju, mendekati salah satu meja yang dilapisi debu tebal. Di atas meja itu terdapat barisan botol kecil. Dia mengangkat senternya, memfokuskan cahaya pada isinya, dan seketika ingatan-ingatan lama dalam benaknya berputar cepat, mencari perbandingan, mencari jawaban.
Garam Natron. Natrium Karbonat. Digunakan untuk desikasi tubuh di Mesir Kuno. Resin dan Minyak Alami. Lilin lebah. Balsam. Menciptakan segel kedap udara. Faktor kunci: Botol Kedap Udara. Suhu Stabil.
“Aku tahu bahan-bahan ini. Secara teori, semua ini ada dalam buku, metode pengawetan kuno yang ekstrem dan nyaris tidak mungkin. Natron untuk mengeringkan jaringan, lalu resin untuk melindungi dari udara. Semua untuk menghentikan pembusukan, untuk membuat tubuh 'menjadi bejana' yang menahan waktu. Tapi melihatnya secara langsung... ini jauh lebih nyata, jauh lebih menjijikkan daripada yang dijelaskan oleh buku manapun. Organ-organ itu... mereka benar-benar bertahan,”batin Aura dalam otak kecilnya.
Aura mengulurkan tangan, hanya untuk menariknya kembali sesaat sebelum menyentuh botol. Botol itu dingin, permukaannya terasa beku di balik lapisan debu.
“Ini bukan hanya gila,Kak Arga. Ini adalah upaya keabadian melalui ilmu pengetahuan yang salah tempat,” kata Aura, suaranya tegang. Dia menoleh ke tentara Arga, matanya berkilat di tengah kegelapan. “Coba lihat baik-baik. Cairan atau bahan padat di dalam botol ini... ada beberapa jenis yang digunakan.”
Dia menunjuk ke botol lain, yang berisi cairan jernih kekuningan dengan organ yang mengapung. “Yang ini mungkin semacam minyak atau alkohol, untuk menjaga bentuknya agar tidak menyusut. Tapi lihat yang kering ini.”
Aura menunjuk ke botol kecil yang berisi jari yang terlihat seperti batu kecil berwarna gelap, benar-benar kering dan tertutup oleh lapisan mirip getah yang mengeras.
“Garam Natron,” bisik Aura, menyebutkan nama itu seperti sebuah mantra. “Garam pengering yang sangat kuat. Tubuh ditutupi dengannya selama empat puluh hari. Semua kelembapan ditarik keluar. Setelah kering sempurna, organ atau bagian tubuh itu dilapisi dengan Resin dan Minyak Alami yang hangat, untuk menutup semua pori-pori, menciptakan segel kedap air dan udara.”
Tentara Arga menatapnya, wajahnya pucat. “Bagaimana kau tahu semua ini?”
“Pengetahuan adalah senjata,kak Arga. Dan di tempat ini, pengetahuan adalah satu-satunya hal yang membedakan kita dari gila. Orang-orang di tempat ini berusaha mengawetkan jaringan agar tidak membusuk. Mereka melakukan mumifikasi, tapi di luar konteks religius Mesir Kuno. Ini adalah percobaan ilmiah yang mengerikan. Mereka mengeringkan, lalu menyegel.”
Tapi...
Bau menyengat yang menyesakkan itu tiba-tiba menguat, seolah-olah bau itu sendiri menentang klaim kesempurnaan pengawetan. Bau tidak sedap yang berbau seperti asam, busuk yang tertekan, dan bahan kimia yang gagal. Bau itu begitu kuat hingga membuat perut Aura bergejolak.
“Mekanisme pengawetan berjalan ratusan tahun, ya. Mereka disegel. Mereka didesikasi. Tapi bau ini... Bau ini adalah bukti kegagalan. Bau ini berarti ada kebocoran, ada kerusakan, atau bahkan jika jaringannya diawetkan, bahan-bahan kimia yang digunakan telah terurai dan menghasilkan bau yang tidak tertahankan. Mustahil, sungguh mustahil botol-botol ini masih bisa digunakan untuk penelitian apa pun. Ini hanyalah sisa-sisa dari obsesi yang gagal. Jaringan itu mungkin ada, tapi kebersihannya? Kemurniannya? Tidak mungkin,”pikiran Aura.
Aura merasakan dorongan emosional yang kuat campuran antara kejijikan, kekaguman terhadap pengetahuan di baliknya, dan amarah. Amarah terhadap orang-orang yang melihat tubuh manusia bukan sebagai kehidupan, tetapi sebagai spesimen untuk diutak-atik.
“Mereka mengira mereka telah menang, kak Arga. Mereka pikir mereka mengalahkan pembusukan,” kata Aura, tatapannya menyalang dingin. “Tetapi bau ini... Bau ini adalah suara pembusukan yang tertunda, pembusukan yang berteriak meminta dilepaskan dari segelnya. Ini adalah bukti bahwa tidak ada yang benar-benar abadi.”
Tentara Arga mendekat dan meraih lengan Aura. Ada ketakutan, tetapi juga keprihatinan yang mendalam di matanya. “Sudah cukup, Aura. Kita tidak perlu tahu lebih banyak. Ini mengganggu. Ini membuatku ingin muntah. Kita harus pergi, segera.”
Emosi Aura mendidih. Dia merasa terbebani oleh semua informasi mengerikan ini, oleh penemuan tentang kedalaman kegilaan yang tersembunyi di bawah kota. Dia menutup mata sejenak, mengambil napas dalam-dalam, mencoba mengabaikan bau yang mencekik. Tentara Arga benar. Tujuan mereka bukan mengumpulkan data, melainkan melarikan diri.
“Ya,” jawab Aura, suaranya akhirnya melembut. “Kau benar. Kita hanya perlu keluar dari lantai mengerikan ini.”
Mereka berbalik, membelakangi laboratorium mayat hidup yang suram itu. Langkah mereka menjadi lebih cepat, didorong oleh kebutuhan mendesak untuk meninggalkan bau, kegelapan, dan pengetahuan yang menakutkan itu.
Mereka menyusuri lorong sempit, melewati rak-rak botol yang tak ada habisnya dan alat-alat mekanik yang tidak mereka ketahui fungsinya. Ketegangan di antara mereka tebal, bercampur dengan kelegaan bahwa mereka hanya perlu berjalan lurus.
“Kak Arga,” panggil Aura tiba-tiba, suaranya sedikit terangkat.
“Ada apa?” tanya Arga, senternya berayun ke depan.
“Lihat di sana.”
Di ujung koridor, yang disinari oleh cahaya Tentara Arga, terdapat sebuah pintu. Pintu itu bukanlah pintu baja biasa seperti pintu-pintu lain di lantai ini. Pintu itu adalah pintu besi tua yang besar, berat, dan tampak seperti telah dipasang sejak berabad-abad yang lalu.
Yang paling menarik perhatian adalah ukiran yang menghiasi seluruh permukaannya.
Sebuah ukiran yang terperinci dan kuno, menunjukkan seekor Naga yang agung dan perkasa, melingkar ke atas, seolah mencoba terbang menuju puncak yang tinggi. Namun, naga itu tidak bebas. Tubuhnya yang bersisik tebal diikat erat oleh sesuatu pita, rantai, atau kain yang tebal berwarna merah pekat yang tampak memudar di antara ukiran-ukiran besi. Ikatan merah itu menahan naga itu, menariknya kembali ke permukaan bumi, ke arah pegunungan yang terukir di bagian bawah pintu.
Itu adalah pemandangan yang aneh dan kuat: Kekuatan besar yang dikendalikan oleh kekuatan yang sama besar, Keinginan untuk naik yang terhalang oleh ikatan yang membumi.
“Pintu itu...” gumam Arga, maju perlahan, terpukau oleh gambar tersebut. “Itu terlihat seperti pintu keluar. Tapi ukirannya... Itu indah dan menakutkan pada saat yang bersamaan.”
Aura merasakan gelombang energi baru. Itu bukan hanya sebuah pintu; itu adalah simbol, sebuah teka-teki visual. Itu mewakili segalanya yang mereka rasakan di sini: Keinginan untuk membebaskan diri (Naga), diikat oleh masa lalu yang kelam atau keharusan (Ikatan Merah), dan tantangan yang menjulang (Pegunungan).
“Naga adalah simbol kekuasaan, Arga. Atau simbol spiritual,” jelas Aura, matanya terpaku pada ukiran itu. “Dan ikatan merah itu... di banyak kebudayaan, merah adalah simbol darah, pengorbanan, atau bahkan takdir yang tidak terhindarkan. Pintu ini bukan hanya pintu; ini adalah akhir dari sebuah fase.”
Dia mendekat dan menyentuh permukaan besi yang dingin. Pintu itu tidak memiliki gagang normal, hanya sebuah mekanisme kunci yang kompleks di tengah, berbentuk seperti roda dengan berbagai alur.
“Apapun yang ada di baliknya, itu pasti penting,” kata Aura. “Aku tidak tahu apa yang akan kita temukan, tapi setidaknya, aku punya firasat bahwa ini adalah jalan keluar dari laboratorium gila ini. Bau ini tidak akan bisa mencengkeram kita lagi.”
Dengan tekad yang baru, Aura dan Tentara Arga saling bertukar pandang. Ketakutan masih ada, tetapi sekarang dikalahkan oleh rasa ingin tahu dan kebutuhan untuk menyelesaikan semuanya. Mereka telah bertahan melewati kengerian ilmiah yang disembunyikan waktu. Sekarang, mereka harus membuka ikatan naga.
“Ayo kita buka pintu ini,” kata Aura, nadanya dingin dan tegas. Dia menyentuh mekanisme kunci kuno itu, merasakan dinginnya logam di bawah ujung jarinya. Ini adalah pintu terakhir menuju jawaban.