Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Cakrawala Asing dan Rahasia di Balik Brankas Baja
Mesin pesawat jet pribadi sewaan Kejaksaan menderu rendah, getarannya merambat melalui lantai kabin yang dilapisi karpet tebal, masuk ke dalam tulang-tulangku yang masih terasa lelah. Di balik jendela kecil di sampingku, Jakarta hanyalah hamparan lampu-lampu yang semakin mengecil, menyerupai taburan berlian di atas kain beludru hitam yang kotor. Kota itu, dengan segala kebohongan dan darah yang tumpah di atasnya, perlahan-lahan menghilang di balik gumpalan awan.
Aku menatap paspor di pangkuanku. Larasati. Itu bukan namaku. Namun, untuk beberapa jam ke depan, identitas Anya Kusuma harus dikubur sedalam mungkin. Di sampingku, Devan duduk dengan mata terpejam, namun tangannya yang mencengkeram erat sandaran kursi memberitahuku bahwa ia tidak sedang tidur. Ia adalah prajurit yang sedang bersiap untuk pertempuran di medan yang sama sekali tidak ia kenal.
"Kau memikirkan apa?" bisik Devan, tanpa membuka mata.
"Tentang Ibu," jawabku lirih. "Tentang bagaimana dia bisa merencanakan semua ini sepuluh tahun yang lalu. Dia tahu bahwa suatu hari nanti aku akan berada di posisi ini. Dia tahu bahwa Ayah tidak bisa dipercaya."
Devan membuka matanya, menatapku dengan sorot yang lebih lunak. "Ibumu tidak sedang merencanakan pelarian, Anya. Dia sedang merencanakan keadilan. Dia tahu musuhnya bukan cuma Hendra, tapi sistem yang lebih besar. Singapura adalah satu-satunya tempat di mana uang ayahmu tidak bisa membeli segalanya."
Perjalanan itu terasa seperti berada di dalam ruang hampa. Tidak ada suara selain deru mesin dan detak jam tanganku yang terasa semakin nyaring. Setiap kali aku memejamkan mata, bayangan gudang yang terbakar kembali muncul—api yang melalap masa kecilku, namun sekaligus menerangi jalan menuju kebenaran.
Singapura menyambut kami dengan udara yang lembap namun bersih, sebuah kontras yang tajam dengan polusi Jakarta yang mencekik. Changi Airport pada pukul tiga pagi terasa seperti panggung teater yang sunyi namun megah. Kami melewati pemeriksaan imigrasi dengan lancar berkat bantuan tim Satria yang sudah berkoordinasi dengan otoritas setempat secara rahasia.
Kami langsung menuju Raffles Place, jantung distrik finansial Singapura. Gedung-gedung pencakar langit di sini berdiri tegak seperti barisan pedang perak yang menghujam langit subuh. Di antara gedung-gedung kaca itu, berdiri sebuah bangunan tua bergaya kolonial yang terlihat sangat angkuh: Alpine Private Bank.
"Ini tempatnya," ujar Satria saat mobil kami berhenti di depan pintu masuk yang dijaga oleh dua orang petugas keamanan dengan seragam militer swasta.
Aku turun dari mobil, merapatkan mantel hitamku. Devan berdiri tepat di belakangku, tangannya sesekali menyentuh pergelangan tangan kiriku, memastikan aku tetap "sadar". Gejala putus obatku terkadang masih muncul berupa pening yang tiba-tiba, namun kali ini, adrenalin kemarahan jauh lebih kuat daripada ketergantungan biokimia itu.
Bagian dalam bank itu sangat sunyi. Lantai marmernya yang berkilat memantulkan bayangan kami dengan sangat jelas. Tidak ada meja teller biasa; yang ada hanyalah pintu-pintu kayu jati yang menuju ruang-ruang konsultasi pribadi yang kedap suara.
Seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu yang tak bercela menyambut kami. "Nona Larasati? Saya Mr. Cheng. Kami sudah menunggu Anda."
Kami dipandu menuju lift yang membawa kami jauh ke bawah tanah. Semakin dalam kami turun, udara terasa semakin dingin dan hampa. Bau besi dan sistem filtrasi udara yang canggih memenuhi inderaku.
Lift berhenti di lantai B4. Sebuah pintu baja raksasa dengan sistem biometrik paling canggih menyapa kami.
"Brankas nomor 0712," Mr. Cheng menjelaskan. "Brankas ini memiliki protokol keamanan tiga lapis. Biometrik iris, sidik jari, dan kunci fisik yang Anda bawa."
Aku melangkah maju. Hatiku berdegup kencang hingga aku bisa mendengarnya di telingaku sendiri. Aku menempelkan mataku pada pemindai iris. Sebuah cahaya biru menyapu retinaku.
Scanning... Access Granted.
Lalu sidik jari.
Scanning... Access Granted.
Terakhir, aku mengeluarkan gantungan kunci kucing oranye yang kini telah kusatukan kembali. Aku menekan pola kode QR yang tersembunyi di bawah kakinya ke arah sensor laser di pintu.
Klek. Shhhhhh.
Pintu baja itu bergeser pelan, mengeluarkan suara desisan udara yang tertekan selama sepuluh tahun. Di dalamnya, tidak ada tumpukan emas atau uang tunai yang melimpah. Ruangan itu kecil, hanya berisi sebuah kotak logam hitam yang diletakkan di atas meja marmer putih di tengah ruangan.
"Kami akan meninggalkan Anda sendirian," Mr. Cheng membungkuk kecil dan keluar bersama Satria. Devan tetap di sana, berdiri di ambang pintu, memberikan ruang bagiku namun tetap dalam jangkauan perlindungannya.
Aku berjalan mendekati kotak hitam itu. Tanganku gemetar saat membukanya. Di dalamnya, terdapat sebuah drive penyimpanan terenkripsi, sebuah lencana perak tua, dan sebuah surat yang ditulis di atas kertas yang sudah mulai menguning.
Aku mengambil surat itu. Tulisan tangan Ibu. Begitu rapi, begitu tegas, seolah ia sedang berbicara langsung padaku.
Anya, Sayangku.
Jika kau membaca surat ini, berarti kaset yang Ibu pasang di kepalamu sudah benar-benar hancur. Ibu minta maaf karena harus membuatmu melewati semua penderitaan ini. Tapi kau harus tahu, 'Proyek Elegia' bukan hanya tentang melupakan. Ia adalah tentang kendali. Ayahmu dan Dirgantara ingin menciptakan dunia di mana manusia tidak punya pilihan untuk mengingat rasa sakit, agar mereka bisa terus berkuasa tanpa perlawanan.
Di dalam drive ini, Ibu sudah menyimpan seluruh algoritma asli yang mereka curi dari penelitian Ibu. Bukan hanya versi yang mereka gunakan padamu, tapi versi yang jauh lebih berbahaya—penghapusan empati total. Selain itu, ada daftar semua pejabat global yang telah menerima 'prototipe' ini.
Gunakan ini sebagai senjatamu, Anya. Tapi ingat, kebenaran adalah pedang bermata dua. Ia akan membebaskanmu, tapi ia juga akan membuatmu menjadi musuh dunia yang lama. Carilah pria bernama 'V'. Dia adalah satu-satunya orang yang bisa membantumu menyiarkan data ini tanpa bisa diblokir oleh Dirgantara.
Aku jatuh terduduk di kursi yang tersedia. Air mata mengalir deras, membasahi surat itu. Ibu tidak hanya melindungiku; ia telah menobatkanku sebagai penjaga gerbang neraka bagi mereka semua.
"Anya? Ada apa?" Devan segera menghampiriku, ia berlutut dan memegang bahuku.
"Ibu..." aku menyodorkan surat itu padanya. "Dia memberikan semuanya padaku, Van. Seluruh rahasia Dirgantara. Seluruh daftar orang yang mereka beli."
Devan membaca surat itu dengan cepat. Matanya membelalak. "Gila. Ini bukan cuma soal Jakarta. Ini soal jaringan global. Dirgantara sedang mencoba menjual ini ke rezim-rezim otoriter di luar sana."
Ia mengambil drive penyimpanan itu, menatapnya dengan saksama. "Kita memegang bom atom, Anya. Dan sekarang, kita baru saja mengaktifkan timernya."
Tiba-tiba, suara alarm halus berbunyi di dalam brankas. Mr. Cheng masuk kembali dengan wajah yang sangat pucat.
"Maaf mengganggu, tapi sensor keamanan kami menangkap pergerakan tidak resmi di lobi utama. Tiga kendaraan SUV hitam baru saja mendarat di depan gedung. Mereka memiliki surat perintah dari Interpol pusat—yang saya duga adalah palsu namun cukup untuk memberikan mereka akses masuk."
"Dirgantara," geram Satria yang masuk di belakangnya. "Mereka bergerak lebih cepat dari perkiraan intelijen kita. Mereka punya orang di dalam otoritas Singapura."
Devan segera berdiri, menarikku berdiri bersamanya. Ia meraih tas ranselnya dan menyelipkan kotak hitam itu ke dalamnya. "Kita tidak punya waktu untuk keluar lewat pintu depan."
"Ada jalur evakuasi kargo yang menuju ke stasiun MRT bawah tanah," ujar Mr. Cheng. "Ikuti saya. Tapi Anda harus bergerak sekarang."
Kami berlari menembus koridor bawah tanah yang remang-remang. Suara langkah kaki sepatu laras panjang mulai terdengar bergema dari arah lift utama. Mereka sedang mengejar. Elegi ini baru saja berubah menjadi perburuan internasional yang mematikan.
[KILAS BALIK SINEMATIK]
FADE IN:
INT. RUANG LABORATORIUM RAHASIA - MALAM HARI (10 TAHUN LALU)
Suasana sangat tegang. MELATI (Ibu Anya) sedang sibuk memindahkan data dari komputer utama ke sebuah drive kecil. Di luar laboratorium, terdengar suara keributan dan langkah kaki yang mendekat.
HENDRA (Ayah Anya) berdiri di depan pintu, wajahnya penuh amarah namun juga ada jejak ketakutan.
HENDRA
"Melati! Hentikan! Kau akan menghancurkan kita semua! Wijaya tidak akan membiarkanmu pergi dengan data itu!"
MELATI
(Tanpa menoleh, suaranya dingin dan stabil)
"Aku bukan menghancurkan kita, Hendra. Aku sedang menyelamatkan kemanusiaan yang kau coba jual. Proyek ini... ini adalah kutukan. Aku tidak akan membiarkan Anya tumbuh di dunia yang tidak punya rasa sakit karena dia tidak bisa mengingatnya."
Melati menyelesaikan proses pemindahan data. Ia mencabut drive tersebut dan menyembunyikannya di dalam sebuah kotak musik.
HENDRA
"Berikan padaku, atau mereka akan membunuhmu malam ini juga!"
Melati berbalik, menatap suaminya dengan tatapan yang penuh kehinaan.
MELATI
"Mereka sudah membunuh jiwamu, Hendra. Dan aku lebih baik mati sebagai manusia daripada hidup sebagai budak Dirgantara sepertimu."
Pintu laboratorium didobrak terbuka. WIJAYA DIRGANTARA masuk dengan senyum yang sangat menyeramkan. Melati segera menyembunyikan kotak itu di bawah tumpukan kertas, sementara ia menelan sebuah pil ungu kecil yang ada di tangannya.
MELATI (V.O)
(Suaranya bergema penuh pengorbanan)
"Malam itu, aku memilih untuk melupakan segalanya agar mereka tidak bisa menyiksa kebenaran dariku. Tapi aku meninggalkan kunci itu di tempat yang paling dekat dengan hati Anya. Singapura adalah benteng terakhirku. Dan hari ini, benteng itu akan menjadi awal dari kehancuran mereka."
Kamera fokus pada wajah Melati yang perlahan-lahan mulai kehilangan kesadarannya di bawah tatapan kejam Wijaya, sebelum layar perlahan memudar menjadi warna putih yang menyilaukan.
FADE OUT.
Kami melompat masuk ke dalam lift kargo yang bergerak cepat menuju jalur MRT. Di dalam ruangan yang sempit itu, aku menggenggam tangan Devan erat-erat. Kami berada di wilayah asing, dikepung oleh musuh yang memiliki jangkauan global. Namun, saat aku menyentuh drive penyimpanan di dalam tas, aku merasakan kekuatan Ibu mengalir dalam darahku.
"Kita akan menyiarkan ini, Van," bisikku. "Dunia harus tahu."
"Ya," Devan mencium keningku. "Dunia harus mendengar Elegi ini sampai tuntas."
[BERSAMBUNG KE BAB 28]
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??