NovelToon NovelToon
Kenapa Aku Berbeda

Kenapa Aku Berbeda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: glaze dark

bagi orang lain, cinta pertama seorang anak perempuan adalah seorang ayah tapi tidak Resty, karena baginya ayah adalah neraka baginya
inilah kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28

Keesokan paginya. Awi kebangun karena ada yang narik-narik ujung sarungnya. Saat membuka mata. Awi melihat Resty sudah siap memakai pakaian sekolah SMP. Punggungnya masih nempel tembok papan. Matanya melihat Resty dari atas sampai bawah, 13 tahun. Seharusnya umur segini dia yang ngajarin Resty ganti ban sepeda, ngajarin PR matematika, ngantar dia les. Bukan malah jadi alasan Resty takut untuk pulang.

"Pak...udah siang," bisik Resty. Duduk di samping Awi. Di tangannya ada piring nasi goreng yang dicampuri bawang dan lada. Telur ceplok setengah matang tapi bagi Resty, itu sudah makanan paling nikmat. Telur yang dibelikan dengan uang tabungan dia. Telur kesukaan Awi dulu, sebelum dia lebih milih warung tuak daripada meja makan.

Resty memberikan nasi goreng. Awi nerima piring itu. Uap nasinya panas di telapak tangannya yang dingin. Rasanya aneh. Dulu tangan ini yang melempar Resty pakai mangkok, tangan ini juga yang membuat anaknya menangis waktu minta dibeliin jajan. Sekarang tangan itu disuapin sama anaknya sendiri.

Resty tidak langsung pergi. Dia duduk diam. Seragam putih birunya masih kebesaran dikit di bahu. Karena baju dari sekolah belum dapat. Tas ranselnya sudah di senderin ke pintu, seperti setiap pagi dia buru-buru kabur dari rumah ini.

"Pak...! ayo dicoba," bisik Resty lagi. Jari-jari nya mainin ujung dasi yang kebesaran itu.

Awi mengangkat muka dari piring nasinya. "Coba apa...Nak?"

"coba makan bareng. Kayak orang-orang," jawab Resty pelan. Matanya lurus ke telur ceplok itu, tidak berani menatap Awi. Walaupun Awi sudah sudah mulai berubah, tapi rasa takut itu masih ada."Ibu bilang...! keluarga yang makan bareng, berantemnya jadi lebih dikit."

Kalimat polos umur 13 tahun, tapi nusuknya dalam bangat ke dada Awi. Selama ini meja makan di rumah mereka cuma pajangan. Awi pulang kalau Resty sudah tidur. Resty berangkat kalau Awi masih mabok di ranjang. Meja itu kosong, Dingin, seperti hubungan mereka. Awi mengambil sendok, suapi nasi, terus nyodorin ke mulut Resty. Tangan nya gemetar.

"Giliran Bapak yang nyuapin ya...?. Dulu waktu kamu umur 4 tahun, Bapak yang nyuapin. Sekarang biar bapak suapin lagi."

Resty mangap. Kunyah pelan. Telur setengah mateng itu lumer di lidahnya. Rasanya terasa sesak, karena selama ini Resty hanya Makan nasi di campur garam, bahkan pernah tidak makan sama sekali. Sudah lama Resty tidak makan telur. Setelah ibunya meninggal dan bapaknya suka mabukan, dia jarang makan. Bahkan untuk membeli telur dia harus menahannya. seperti telur yang dulu saat Resty umur 4 tahun, Awi suapin sambil nyanyi lagu nina bobo. Sebelum arak ngajarin Awi lupa cara jadi bapak dan suami yang baik.

"Enak Pak," kata Resty. Matanya berkaca-kaca. Enak bukan karena telurnya. Enak karena ini pertama kalinya dalam 8 tahun, dia sarapan tidak sendirian lagi.

Awi ikut menyuap. Kali ini tidak ada rasa pahit di nasinya. Cuma ada nyesek. Nyesek karena sadar, 8 tahun Resty tumbuh tanpa dia. 8 tahun dia ngajarin anaknya caranya diam dan merasakan takut kepada ayahnya sendiri.

Awi meletakkan sendoknya pelan. Suara piring ketemu meja kedengeran nyaring di dapur yang sepi itu.

"8 tahun..." gumam Awi. Suaranya pecah. "8 tahun Bapak ngajarin kamu caranya jadi anak yang tak kelihatan. Biar Bapak ga kesel, Biar Bapak gak mukul."

Resty menunduk. Jari-jarinya meremas ujung roknya yang kebesaran. Baju sekolah dari tetangga meemang tidak pas di badan. Tapi dia tetep pakai. Karena tidak mau bikin Bapak nambah beban. Nanti setelah lunas uang pendaftaran sekolahnya. bajunya pasti akan dapat yang baru.

"Pak," Resty ngangkat wajahnya. Mata 13 tahun itu tuanya tidak wajar. "Bapak tidak jahat. Bapak cuma...lupa."

Lupa. Satu kata itu lebih berat daripada seribu makian. Awi menarik napas panjang. Dia mengusap muka pakai tangan kasarnya. Tangan yang dulu genggam botol, sekarang genggam sendok buat nyuapin anaknya sendiri. "Resty...! mulai hari ini Bapak mau ingat lagi. Ingat cara jadi bapak kamu. Boleh gak Bapak nganterin kamu sekolah? Jalan pelan-pelan aja. gak usah ngebut."

Resty diem 3 detik. seperti lagi ngadepin takutnya sendiri. 8 tahun takut itu tidak hilang sekejap. Terus dia berdiri. Ngambil tas yang dari tadi disenderin ke pintu. Tas yang setiap pagi dia pakai buat buru-buru kabur dari rumah ini."Boleh Pak...!Tapi" Resty nengok, senyum tipisnya muncul lagi. Gigi kelinci yang dulu Awi cium tiap malam sebelum tidur."Janji ya Pak. Besok Bapak yang masak telurnya. Aku mau lihat Bapak masak, gak mabuk lagi."

Awi mengangguk. Kali ini anggukannya dalam Sampai ke hati.Dia berdiri, lututnya kopong karena semalaman duduk nyender tembok. Tapi kakinya melangkah ke pintu. Ngambil kunci motor butut yang sudah berdebu.

Hari ini dia tidak jalan ke warung tuak. Hari ini dia jalan ke gerbang SMP. Nganterin anaknya.

Untuk pertama kalinya dalam 8 tahun, Resty tidak buru-buru kabur.Dia nunggu Awi di teras. Terus maju, duduk di jok belakang motor. Awalnya kaku. Jaraknya jauh. Saat dijalan tidak bertemu Bibinya, yang akan mendapat kan hinaan setiap kali bertemu. Dia. saat motor jalan, Resty masih diam. Sampai di pertigaan, pas Awi ngerem pelan, tangan kecil itu akhirnya nyentuh pinggang Awi. Tidak erat. Tapi cukup buat bikin mata Awi panas.

"Pelan aja Pak," bisik Resty di telinga Awi. "Aku ngak takut jatuh lagi. Asal Bapak yang nyetir."

perlahan motor kembali jalan. Mereka berdua menikmati momen saat-saat bersama, yang tidak pernah mereka lakukan selama 8 tahun.

1
Sarah Bagan
lnjut kak😊😊😊
glaze dark: oke kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!