Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.
Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.
Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.
Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?
...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Udara yang Bebas
...
Setelah mengoleskan salep pada kulit kepala Riana yang memerah, Zidan duduk termenung di tepi ranjang. Tangannya yang memegang tube salep kecil berkulit hijau itu perlahan diturunkan. Di depannya, Riana sudah berhenti menangis, meski matanya masih sembap dan sesekali napasnya tertahan seperti menahan sisa sedih. Di samping adiknya, Ryan duduk diam sambil menatap lantai, meremas ujung selimut dengan tangan kecilnya yang kurus.
Sunyi yang menggantung di kamar utama ini terasa sangat mencekam. Zidan, dengan segala keangkuhan dan sifat narsisnya yang membumbung tinggi, mendadak merasa seperti orang asing di tengah-tengah darah dagingnya sendiri. Dia tidak tahu harus berbicara apa lagi. Dia tidak terbiasa membujuk, tidak tahu cara mencairkan ketakutan anak-anak. Biasanya, dalam situasi sekecil apa pun, akan selalu ada Pamela yang masuk membawa senyuman manis, memeluk mereka, dan meredam seluruh ketegangan dalam sekejap.
"Papa..." suara lirih Ryan memecah keheningan yang kaku itu.
Zidan menoleh, menatap mata hitam putranya yang meniru persis bentuk matanya sendiri. "Kenapa, Ryan?"
"Mama... beneran gak bakal pulang karena Ryan nakal ya?" tanya bocah lima tahun itu dengan getaran hebat di suaranya. Air mata baru kembali menggenang di pelupis matanya. "Kemarin... kemarin Ryan dorong tangan Mama pas mau disuapin. Ryan bilang Mama bau bawang. Mama pergi karena Ryan ya, Pa?"
Hantaman itu datang lagi. Kali ini terasa lebih keras dan menusuk tepat di ulu hati Zidan. Pria dingin itu mengepalkan tangannya tersembunyi di balik paha. Dia melihat bagaimana rasa bersalah yang tidak seharusnya ditanggung oleh anak kecil, kini mulai menyiksa batin putranya sendiri. Semua ini karena racun yang disebarkan oleh ibunya dan Keysha, serta pembiaran yang dilakukan Zidan selama bertahun-tahun.
"Bukan," jawab Zidan, suaranya terdengar serak dan berat. Dia mengulurkan tangannya yang kaku untuk mengusap kepala Ryan, mencoba meniru apa yang biasa Pamela lakukan, meskipun gerakannya terasa sangat kikuk. "Bukan karena Ryan. Mama cuma... lagi mau istirahat sebentar di luar."
"Kalau Ryan sama Riana janji gak bakal nakal lagi, janji mau nurut, Mama mau pulang kan, Pa?" timpal Riana sambil mendongak, menatap Zidan dengan pandangan penuh harap yang teramat perih untuk ditatap.
Zidan tidak mampu menjawab. Rahangnya mengatup rapat, menyisakan denyutan tegang di pelipisnya. Keangkuhannya yang semalam begitu kokoh, menyatakan bahwa Pamela akan merangkak kembali dalam satu-dua hari, kini perlahan mulai goyah oleh tatapan polos kedua anaknya. Ada ketakutan samar yang mulai merayap di sudut hatinya yang paling dalam bagaimana jika Pamela benar-benar tidak akan pernah kembali?
...
Di saat rumah mewah di kota itu sedang digulung oleh kekacauan dan hawa dingin yang mencekam, ratusan kilometer jauhnya di sebuah kota kecil yang tenang di pinggir pantai, roda kehidupan yang berbeda sedang berputar.
Suara deburan ombak yang konstan dan bersahut-sahutan menjadi latar belakang yang menenangkan di sebuah rumah panggung kayu sederhana di dekat pantai. Jendela kamarnya terbuka lebar, membiarkan angin laut yang membawa aroma garam segar masuk dan menerpa gorden kain blacu putih yang tipis.
Pamela duduk di tepi ranjang kayu kecil yang beralaskan sprei katun murah bermotif bunga matahari. Wajah manisnya yang kemarin pucat dan layu, kini mulai mendapatkan kembali sedikit rona alaminya. Tidak ada lagi daster pudar yang robek di bagian ketiak, pagi ini dia mengenakan kemeja katun longgar berwarna biru muda yang bersih dan celana kain yang nyaman. Rambut panjangnya yang biasa diikat asal-asalan karena dikejar waktu memasak, kini digerai rapi, berkilau diterpa cahaya matahari pagi yang hangat.
Di pangkuannya, sebuah cangkir tanah liat berisi teh melati hangat mengepulkan asap tipis. Pamela menyesap teh itu perlahan, menikmati rasa hangat yang mengalir di tenggorokannya tanpa perlu terburu-buru, tanpa perlu takut ada suara lengkingan mertua yang memanggilnya untuk mengepel lantai atas.
Ini adalah hari kedua Pamela berada di kampung halaman mendiang ibunya. Sebuah tempat terpencil yang sengaja dia pilih untuk menyembuhkan seluruh luka batin dan fisiknya yang sudah berada di ambang batas. Di sini, tidak ada yang mengenalnya sebagai "si miskin yang menumpang hidup di rumah kaya". Di sini, dia hanyalah Pamela, seorang wanita yang sedang mencoba bernapas kembali setelah hampir mati tercekik selama tujuh tahun.
Tok, tok, tok.
Suara ketukan pintu kayu yang ramah membuyarkan lamunan Pamela. Dia meletakkan cangkirnya di atas meja kecil, lalu bangkit berdiri dengan langkah yang terasa begitu ringan. Beban puluhan kilogram yang selama ini menekan pundaknya seolah menguap begitu saja sejak dia melangkah keluar dari pagar rumah mewah Zidan.
Pamela membuka pintu depan, dan sosok wanita paruh baya berwajah hangat dengan kebaya lurik sederhana langsung menyambutnya dengan senyuman lebar. Itu Mbok Darmi, tetangga sekaligus teman lama almarhumah ibunya yang menjaga rumah kayu ini selama kosong.
"Eh, Nak Pamela... sudah bangun rupanya. Ini Mbok bawakan nasi megono sama tempe mendoan hangat buat sarapan," ucap Mbok Darmi sambil menyodorkan sebuah bakul anyaman bambu kecil yang dilapisi daun pisang. Aroma gurih kelapa paruh dan bumbu rempah langsung menggugah selera makan Pamela.
"Ya ampun, Mbok... repot-repot sekali. Terima kasih banyak ya," jawab Pamela, senyum manisnya terkembang tulus—sebuah senyuman hangat yang selama bertahun-tahun ini hilang dari wajahnya karena tertutup mendung penderitaan.
"Gak repot sama sekali, Nak. Mbok malah senang rumah ini ada penghuninya lagi. Tapi... kok Mbok lihat-lihat, Nak Pamela badannya kurus sekali ya sekarang? Wajahnya juga agak pucat. Apa di kota kerjanya terlalu capek?" tanya Mbok Darmi dengan nada penuh perhatian yang jujur, bukan intonasi merendahkan seperti yang biasa Pamela dengar dari keluarga mertuanya.
Pamela tertegun sejenak, lalu dia mengusap lengannya sendiri sambil tersenyum tipis. "Iya, Mbok. Kemarin di kota urusan rumah tangga lumayan padat. Makanya sekarang mau istirahat dulu di sini beberapa bulan."
"Oalah... iya benar itu. Hidup di kota itu keras, bikin stres. Di sini saja dulu, makan yang banyak, nikmatin angin pantai biar badannya seger lagi. Ya sudah, Mbok mau ke pasar dulu ya, Nak. Nanti kalau butuh apa-apa, ketuk saja rumah Mbok di sebelah," pamit Mbok Darmi sambil menepuk bahu Pamela lembut sebelum berjalan pergi.
Pamela menutup kembali pintu kayu rumahnya. Dia membawa bakul makanan itu ke meja makan kecil di dekat dapur terbukanya. Saat dia duduk sendirian menghadapi sepiring makanan sederhana di atas daun pisang, air mata Pamela mendadak menetes perlahan.
Namun, ini bukan air mata kesedihan atau trauma seperti yang biasa dia tumpahkan di pojok dapur rumah Zidan. Ini adalah air mata kelegaan. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, ada orang yang memikirkan apakah dia sudah makan atau belum. Untuk pertama kalinya, ada orang yang memperlakukannya sebagai manusia yang berharga, bukan sekadar mesin pengabdi yang tidak punya rasa lelah.
Dia menyuap nasi hangat itu ke dalam mulutnya. Rasanya begitu nikmat, jauh lebih nikmat daripada hidangan restoran bintang lima yang sering dibawa pulang Zidan namun selalu disajikan dengan tatapan muak. Di dalam kesendiriannya yang damai ini, Pamela tahu bahwa perjalanannya untuk sembuh masih sangat panjang dan lambat. Luka di jiwanya yang digoreskan oleh kejamnya Zidan, dinginnya mertua, dan tidak tahunya anak-anak tidak akan bisa hilang dalam semalam.
Namun pagi ini, di bawah langit kota kecil yang biru bersih, Pamela berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan pernah lagi menoleh ke belakang. Dia telah meletakkan seluruh bebannya di dalam kotak beludru hitam di meja makan mewah itu, dan dia tidak akan pernah sudi mengambilnya kembali.
...
Kembali ke rumah mewah keluarga Zidan, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Kekacauan dari insiden dapur gosong tadi perlahan mereda setelah dua orang ART cadangan dipaksa bekerja ekstra keras untuk membersihkan sisa jelaga asap di bawah pengawasan ketat Mama mertua yang terus mengomel.
Zidan berjalan turun ke ruang tengah dengan pakaian kantor yang sudah rapi, namun aura di sekitarnya terasa begitu menekan dan dingin. Di sofa, Karina sedang cemberut sambil membolak-balik majalah fashion dengan kasar, sementara Keysha sibuk mengoleskan minyak angin ke kening ibunya.
Tepat saat Zidan hendak melangkah menuju pintu depan, suara mobil lain terdengar berhenti di halaman. Tak lama kemudian, pintu depan terbuka dan masuklah seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi dan membawa sebuah koper kulit hitam. Itu adalah Pak Anwar, pengacara keluarga besar mereka yang biasanya hanya dipanggil jika ada urusan bisnis krusial atau sengketa tanah bernilai miliaran.
"Selamat pagi, Pak Zidan, Nyonya Besar," sapa Pak Anwar dengan sikap profesional yang kaku.
Zidan menghentikan langkahnya, alisnya bertaut dalam. "Pak Anwar? Ada keperluan apa datang ke rumah sepagi ini? Saya tidak merasa ada jadwal pertemuan dengan Anda hari ini."
Pak Anwar membetulkan letak kacamata minusnya, lalu membuka koper kulitnya dan mengeluarkan sebuah map dokumen transparan. "Maaf mengganggu waktu Anda, Pak Zidan. Namun, saya datang ke sini atas instruksi langsung dari rekan sejawat saya di firma hukum rekanan Nyonya Pamela."
Mendengar nama 'Pamela' disebut oleh sang pengacara, seluruh orang di ruang tengah seketika membeku. Mama langsung menurunkan kompresan esnya, Keysha menoleh dengan mata terbelalak, dan Karina menghentikan aktivitasnya menatap Pak Anwar dengan pandangan tajam.
"Pamela?" desis Zidan, suaranya mendadak turun beberapa oktav menjadi sangat dingin. Sifat narsisnya langsung bangkit, mengira Pamela menggunakan jalur hukum untuk menuntut sesuatu darinya. "Mau apa lagi perempuan itu? Dia mau menuntut harta gono-gini setelah sok-sokan bilang gak butuh sepeser pun semalam?"
Pak Anwar menggelengkan kepalanya pelan, ekspresinya tampak sangat serius. "Tidak, Pak Zidan. Justru sebaliknya. Nyonya Pamela telah mendaftarkan gugatan cerai resmi ke Pengadilan Agama pagi ini pukul delapan tepat. Rekan saya menyampaikan pesan bahwa Nyonya Pamela menolak semua bentuk mediasi di luar pengadilan. Beliau melepaskan hak atas rumah ini, kendaraan, seluruh tabungan bersama, bahkan hak asuh anak sepenuhnya jatuh ke tangan Anda tanpa syarat."
Pak Anwar menarik napas sejenak sebelum melanjutkan kalimat yang akan mengubah seluruh jalannya permainan ego di rumah ini. "Satu-satunya hal yang dituntut oleh Nyonya Pamela dalam dokumen ini adalah: pemutusan hubungan hukum secepatnya. Beliau meminta Anda menandatangani surat persetujuan cerai ini agar persidangan bisa diselesaikan secara verstek tanpa kehadiran beliau, karena Nyonya Pamela... sudah menyatakan tidak ingin melihat wajah Anda atau keluarga ini lagi seumur hidupnya."
Ruangan yang luas itu seketika dilanda sunyi yang teramat mencekam. Surat cerai itu bukan sekadar gertakan sambal seperti yang diyakini Zidan semalam. Pamela benar-benar telah memotong seluruh tali pengikat di antara mereka dengan pisau hukum yang tajam, meninggalkan Zidan dan seluruh keangkuhannya berdiri terpaku di tengah neraka kenyamanan yang mulai runtuh secara perlahan.
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
saling support sabi kali ya😉