Dulu, Alya hanya gadis pendiam yang selalu menjadi sasaran ejekan di sekolah. Hari-harinya dipenuhi rasa takut, terutama karena Reno,ketua geng paling disegani sekaligus pria yang paling sering membuat hidupnya terasa menyakitkan. Bagi Alya, Reno adalah luka yang ingin ia lupakan selamanya.
Namun takdir mempertemukan mereka kembali setelah bertahun-tahun berlalu.
Kini, Alya telah berubah menjadi wanita mandiri dan sukses, sementara Reno bukan lagi remaja arogan seperti dulu. Di balik sikap dinginnya, Reno menyimpan penyesalan yang tak pernah sempat ia ungkapkan. Pertemuan mereka kembali membuka kenangan lama, menghadirkan benci yang perlahan berubah menjadi perasaan yang tak terduga.
Bisakah seseorang yang pernah menyakitimu menjadi rumah terbaik untuk hatimu? Atau masa lalu akan tetap menjadi penghalang di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_riana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 — Luka Lama Kembali Terbuka
Lorong rumah sakit mendadak terasa jauh lebih dingin.Alya bisa merasakan ketegangan yang berubah drastis sejak pria bernama Adrian itu muncul.Reno berdiri kaku.
Tatapannya tajam penuh amarah.Sementara ibunya terlihat pucat seolah melihat sesuatu yang ingin ia lupakan selamanya.
“Ngapain lo datang ke sini?” suara Reno rendah dan dingin.
Adrian tersenyum tipis santai seolah tidak terganggu oleh tatapan penuh kebencian Reno.
“Aku dengar ayahmu sakit.” Tatapannya beralih sekilas ke pintu ICU. “Aku cuma mau menjenguk teman lama.”
“Teman?” Reno tertawa kecil penuh sinis. “Lo bahkan nggak pantas nyebut diri lo begitu.”
Deg.
Alya langsung sadar.
Pria ini bukan sekadar kenalan biasa.
Ada sesuatu yang jauh lebih besar di antara mereka.
“Reno…” ibunya mencoba menenangkan pelan.
Namun Reno tidak mengalihkan pandangan sedikit pun dari Adrian.
“Aku bilang keluar.”
Adrian menghela napas kecil.
“Kamu masih marah ternyata.”
“Mending gue marah daripada jadi pengkhianat.”
Kalimat itu membuat suasana langsung membeku.
Tatapan Adrian perlahan berubah tajam.
Sementara Alya semakin bingung melihat situasi tersebut.
“Ada apa sebenarnya?” tanyanya pelan.
Reno langsung diam.
Namun Adrian justru tertawa kecil.
“Dia belum cerita juga?”
“Diam.”
“Ternyata kebiasaan nyembunyiin semuanya belum berubah ya.”
Rahang Reno mengeras kuat.
Dan Alya mulai membenci perasaan tidak tahu apa-apa seperti ini.
“Reno.”
Tatapan pria itu akhirnya beralih pada Alya.
Namun di matanya sekarang, Alya melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Kebencian yang sangat dalam.
“Dia siapa?” tanya Alya sekali lagi.
Beberapa detik Reno hanya diam.
Lalu akhirnya ia menjawab lirih,
“Dia mantan partner bisnis Ayah.”
“Mantan?” ulang Alya bingung.
Adrian tersenyum tipis.
“Lebih tepatnya…” Tatapannya perlahan berubah tajam. “Orang yang dihancurkan keluarga Mahardika.”
Deg.
Suasana mendadak sunyi.
Ibunya Reno langsung menutup mata lelah.
“Sudah cukup, Adrian.”
Namun pria itu tidak peduli.
“Karena ayah Reno…” lanjutnya santai, “perusahaanku bangkrut. Keluargaku hancur.”
Tatapan Alya langsung membesar.
Sementara Reno mengepalkan tangannya kuat-kuat.
“Itu pilihan lo sendiri,” jawab Reno dingin.
Adrian tertawa kecil pahit.
“Iya.” Tatapannya beralih tajam pada Reno. “Sama seperti pilihan lo menghancurkan hidup perempuan yang lo cintai sekarang.”
Deg.
Alya langsung menegang.
Karena lagi-lagi masa lalunya dibawa ke tengah situasi ini.
“Lo nggak punya hak ngomong soal Alya,” ucap Reno tajam penuh ancaman.
“Kenapa? Karena gue ngomong fakta?”
“Cukup!”
Suara Reno menggema di lorong rumah sakit hingga beberapa perawat menoleh panik.
Dan untuk pertama kalinya, Alya melihat Reno benar-benar kehilangan kendali emosinya.
“Lo datang cuma buat bikin semuanya makin kacau?”
Adrian menatap Reno lama.
Lalu perlahan senyum tipis muncul di bibirnya.
“Kamu memang mirip ayahmu.”
Deg.
Kalimat itu langsung membuat Reno membeku.
“Apa maksud lo?”
“Kalian sama-sama menghancurkan orang lain lalu menyesal belakangan.”
Reno langsung melangkah maju dengan tatapan gelap.
Namun sebelum sesuatu terjadi, Alya buru-buru memegang lengan Reno.
“Reno, jangan.”
Napas Reno terdengar berat karena emosi.
Dan Alya bisa merasakan tubuh pria itu sedikit gemetar menahan amarah.
“Lihat?” Adrian tertawa kecil hambar. “Bahkan perempuan itu takut sama sisi asli lo.”
“Alya nggak takut sama gue.”
“Yakin?”
Suasana kembali memanas.
Namun sebelum Reno membalas lagi, pintu ICU tiba-tiba terbuka.
Dokter keluar dengan wajah serius.
“Keluarga pasien?”
Semua langsung menoleh cepat.
Dokter menghela napas pelan.
“Kondisi Pak Mahardika kembali menurun.”
Deg.
Ibunya Reno langsung melemas.
Sementara Reno membeku total.
“Kami harus melakukan tindakan malam ini juga.”
Jantung Alya langsung berdetak kacau melihat wajah Reno yang perlahan kehilangan warna.
Dan di tengah kekacauan itu, Adrian hanya berdiri diam sambil menatap keluarga Mahardika dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Seolah pria itu datang bukan hanya untuk menjenguk tetapi juga membawa luka lama yang belum benar-benar selesai.
Reno langsung menghampiri dokter dengan wajah tegang.
“Dok, ayah saya bakal baik-baik aja kan?”
Dokter terlihat berhati-hati menjawab.
“Kami akan berusaha semaksimal mungkin.” Tatapannya serius. “Tapi kondisi jantung beliau memang cukup lemah.”
Deg.
Kalimat itu membuat Reno langsung menunduk frustrasi.Ibunya mulai menangis pelan di kursi tunggu.Sementara Alya berdiri di samping Reno sambil menggenggam tangannya erat.
Dan untuk pertama kalinya
Reno membalas genggaman itu seperti seseorang yang benar-benar takut kehilangan.
“Pasien perlu segera dibawa ke ruang tindakan,” lanjut dokter.
Setelah itu beberapa perawat mulai mendorong ranjang ICU keluar.
Ayah Reno terlihat lemah dengan berbagai alat medis terpasang di tubuhnya.
Namun saat melewati Reno, pria tua itu perlahan membuka mata.
Tatapannya langsung mencari putranya.
“Yah…”
Reno buru-buru mendekat.
Tangan ayahnya bergerak lemah seolah ingin meraih dirinya.
“Ayah pasti kuat,” ucap Reno cepat meski suaranya mulai bergetar. “Aku di sini.”
Pria tua itu menatap Reno cukup lama sebelum akhirnya berbisik pelan,
“Jangan… jadi aku.”
Deg.
Mata Reno langsung membesar.
Namun sebelum ia sempat bertanya, ranjang itu kembali didorong masuk ke ruang operasi.
Pintu tertutup perlahan.
Dan detik itu juga lutut Reno hampir lemas.
Alya buru-buru menahan pria itu.
“Reno…”
Pria itu mengusap wajahnya kasar sambil menahan napas tidak stabil.
“Aku takut kehilangan beliau.”
Suara Reno terdengar sangat kecil.
Dan hati Alya langsung terasa nyeri.
Karena meski hubungan mereka rumit, Reno tetap sangat menyayangi ayahnya.
“Om pasti kuat,” bisik Alya lembut.
Reno menatap Alya cukup lama sebelum akhirnya memeluk wanita itu erat sangat erat.
Seolah hanya Alya satu-satunya tempat dirinya bisa bertahan sekarang.
Sementara itu, Adrian masih berdiri di ujung lorong memperhatikan semuanya diam-diam.
Tatapannya perlahan berubah rumit saat melihat Reno memeluk Alya seperti orang kehilangan arah.Ibunya Reno akhirnya berdiri lalu berjalan mendekati Adrian.
“Kenapa kamu datang sekarang?” tanyanya lelah.
Adrian tertawa kecil hambar.
“Mungkin karena aku juga capek benci terus.”
Wanita itu menatapnya cukup lama.
“Kamu masih menyalahkan suamiku?”
“Bukannya harus?” Tatapannya berubah tajam sesaat. “Keluargaku hancur karena keputusan dia.”
“Tapi kamu juga tahu perusahaan waktu itu hampir bangkrut karena ulah partnermu sendiri.”
Adrian langsung diam.Dan Alya yang mendengar percakapan itu mulai menyadari
masalah keluarga Mahardika ternyata jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan.
“Aku nggak datang buat balas dendam,” ujar Adrian akhirnya pelan. “Aku cuma pengen lihat dia sebelum terlambat.”
Suasana kembali hening.
Untuk pertama kalinya, Alya melihat kesedihan di mata pria tersebut.
Bukan hanya kebencian.Waktu berjalan lambat malam itu.Satu jam.Dua jam.
Lampu ruang operasi masih menyala.
Reno duduk diam sambil menunduk, sementara Alya tetap berada di sampingnya tanpa pergi sedikit pun.
Kadang pria itu terlihat tenang,kadang tiba-tiba mengusap wajah frustrasi.
Dan Alya sadar Reno sedang berusaha keras agar tidak hancur di depan keluarganya.
“Alya.”
“Hm?”
“Kalau sesuatu terjadi sama Ayah…” suara Reno mulai serak, “aku nggak tahu harus gimana.”
Alya langsung menggenggam tangan Reno lebih erat.
“Kamu nggak sendiri.”
Tatapan Reno perlahan melemah.
Dan detik itu juga, pria itu sadar di tengah semua kekacauan hidupnya, Alya tetap memilih bertahan di sampingnya.
Namun sebelum Reno sempat mengatakan sesuatu, suara langkah cepat terdengar dari ujung lorong.Vanessa datang dengan napas sedikit terengah.
“Aku baru dengar kabarnya.”
Tatapannya langsung jatuh pada Adrian.
Dan wajah wanita itu seketika berubah kaget.
“Om Adrian?”
Deg.
Kini justru Alya yang membeku.
Karena dari cara Vanessa memanggil pria itu
mereka jelas saling mengenal.Dan firasat buruk kembali muncul di hati Alya malam itu.