Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Pintu mobil SUV hitam itu terbuka perlahan. Aurora turun dengan anggun, membetulkan letak kacamata hitamnya sambil menghirup udara pagi yang mulai terasa panas. Di depan pintu masuk studio yang bergaya industrial itu, seorang pria dengan kemeja flanel yang diikat di pinggang dan rambut yang ditata sangat rapi sudah berdiri sambil berkacak pinggang.
Rio, sang manajer, melirik jam tangannya dengan ekspresi yang bisa membuat model pemula gemetar.
"Hello everyone! The queen is here!" seru Aurora dengan nada ceria, melambaikan tangan seolah sedang berada di atas karpet merah, padahal ia hanya berjalan di parkiran beton.
"Ayo! Masuk sekarang! Kamu sudah telat lima menit, Aurora Widjaja!" Rio langsung menyambar lengan Aurora, mencoba menariknya masuk ke dalam gedung.
Aurora tertawa, menahan tarikan Rio dengan santai. "Ya elah, Kak Rio. Santai dong. Jangan buru-buru banget kayak mau ketemu Presiden aja. Lagian lima menit doang, kan? Masih ada waktu buat napas."
"Lima menit bagi kamu itu cuma angka, buat klien ini kerugian, Ra! Brand ini disiplin banget, kamu tahu itu kan?" Rio mengomel panjang pendek sambil menuntun Aurora melewati lorong studio. "Dan lagi, kenapa kamu nggak bareng sopir biasanya? Tadi itu siapa yang nyetir? Kok kelihatannya... tegap banget?"
Aurora menoleh sekilas ke arah pintu masuk, di mana Langit berdiri tegap di samping mobil, melakukan pemantauan sekitar dengan mata elangnya. Senyum Aurora makin lebar.
"Itu? Itu masa depan aku, Kak Rio. Namanya Mas Langit," jawab Aurora enteng.
Rio hampir tersedak ludahnya sendiri. "Masa depan apanya? Itu kan ajudan Papa kamu! Jangan gila ya, Aurora. Fokus! Kita punya tiga puluh look hari ini."
Di dalam ruang makeup, suasana sangat sibuk. Bunyi hair dryer, aroma parfum yang bercampur dengan hairspray, serta obrolan para kru memenuhi ruangan. Aurora duduk di depan cermin besar yang dikelilingi lampu-lampu bohlam terang.
Mbak Sari, sang Makeup Artist senior, mulai mengaplikasikan primer ke wajah halus Aurora. Namun, ia menyadari ada yang aneh dengan modelnya hari ini.
"Aurora? Kamu kenapa? Kepalanya jangan gerak-gerak terus dong, Sayang," tegur Mbak Sari lembut saat melihat Aurora tiba-tiba geleng-geleng kepala sendiri.
Aurora tersadar dari lamunannya. Di dalam pikirannya tadi, ia membayangkan wajah Langit yang kaku saat ia goda di mobil. Bayangan Langit yang mencoba tetap formal padahal telinganya sedikit memerah benar-benar membuat Aurora ingin tertawa sekaligus gemas.
"Eh, engga kok, Mbak. Maaf, maaf," ujar Aurora sambil mencoba menahan senyumnya.
"Ada yang salah sama riasannya? Atau kamu merasa nggak nyaman?" tanya Mbak Sari sambil memegang kuas foundation.
"Enggak, Mbak Sari. Riasannya sempurna seperti biasa. Aku cuma lagi bayangin masa depan aku aja, hehe," jawab Aurora dengan kerlingan mata nakal.
"Wah, masa depan? Sama pengusaha kaya atau aktor lawan main kamu yang kemarin itu?" pancing Mbak Sari sambil tertawa.
"Bukan, Mbak. Sama seseorang yang tingginya pas buat aku peluk, yang dadanya bidang banget kayak tameng baja, tapi hatinya sekeras beton yang perlu aku bor pelan-pelan pakai cinta," Aurora menjawab puitis, membuat beberapa asisten makeup di ruangan itu ikut bersorak "cie".
Rio yang sedang membaca kontrak di pojokan langsung menyahut tanpa menoleh, "Jangan dengerin dia, Mbak Sari. Dia lagi kumat 'cegil'-nya. Tolong kasih makeup yang paling bold ya, biar dia kelihatan galak sedikit dan nggak kebanyakan ngayal."
Satu jam kemudian, pemotretan dimulai. Aurora sudah berubah total. Ia mengenakan gaun malam berwarna merah darah yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Begitu lampu flash menyala, Aurora berubah menjadi sosok yang berbeda. Tatapannya tajam, tubuhnya meliuk dengan luwes mengikuti arahan fotografer.
"Bagus! Nice pose, Ra! Sekarang kasih tatapan yang lebih dingin, lebih berkuasa!" seru sang fotografer.
Di tengah sesi, Aurora melirik ke arah pintu studio. Di sana, di pojok ruangan yang agak gelap, ia melihat sosok Langit Ardiansyah. Pria itu berdiri diam dengan tangan bersedekap, mengawasinya. Langit tidak bergerak sedikit pun, matanya benar-benar terfokus pada Aurora—seperti instruksi Aurora tadi pagi.
Melihat Langit memperhatikannya, nyawa "cegil" Aurora makin meronta-ronta. Bukannya memberikan tatapan dingin sesuai arahan fotografer, Aurora justru memberikan pose yang sangat menggoda sambil menatap tepat ke arah Langit berada.
"Lho, Ra? Tatapannya jangan ke sana. Ke kamera, Ra!" tegur fotografer.
"Bentar, Mas. Lagi cari inspirasi," jawab Aurora tanpa melepas pandangannya dari Langit.
Aurora sengaja mendekatkan tangannya ke bibir, memberikan tatapan paling "maut" yang ia miliki. Ia bisa melihat dari kejauhan bagaimana Langit sedikit berdehem dan membuang muka sesaat, sebelum akhirnya kembali menatap dengan ekspresi profesional yang dipaksakan.
"Dapet!" Aurora berseru sendiri dan langsung kembali fokus ke kamera.
Saat istirahat makan siang, Aurora tidak menuju meja katering mewah yang disediakan untuknya. Ia justru mengambil sekotak nasi dan botol air mineral, lalu berjalan menghampiri Langit yang masih setia berjaga di dekat pintu.
"Mas Langit, makan yuk," ajak Aurora.
Langit sedikit terkejut dengan kedatangan Aurora yang masih mengenakan gaun megah dan riasan tebal itu. "Terima kasih, Non. Saya akan makan nanti setelah tugas selesai."
"Nggak ada 'nanti-nanti'. Bos Mas sekarang aku, inget kan? Aku nggak mau ajudan aku pingsan gara-gara kelaparan pas lagi jagain aku," Aurora menyodorkan kotak nasi itu. "Ayo, Mas. Temenin aku makan di sana."
Aurora menunjuk ke arah balkon kecil studio. Langit ragu sejenak. "Non, Bapak berpesan agar saya selalu siaga di posisi yang mudah memantau keadaan."
"Tuh kan, Bapak lagi. Bapak lagi," Aurora mendesah dramatis. "Di sini aman, Mas. Ada Kak Rio, ada Kak Mayang, ada kru banyak. Lagian siapa sih yang berani macem-macem sama anak Anggara Widjaja? Ayo, Mas Langit sayang..."
Panggilan 'sayang' itu membuat beberapa kru yang lewat menoleh. Langit akhirnya mengalah, ia tidak ingin Aurora makin berisik dan menarik perhatian orang banyak.
Di balkon, udara terasa sedikit lebih sejuk. Aurora duduk di kursi lipat, sementara Langit memilih berdiri di sampingnya.
"Mas, duduk dong. Masanya aku duduk Mas berdiri, kayak aku lagi sidang Mas aja."
"Posisi ini lebih baik untuk memantau, Non."
Aurora menarik ujung kemeja Langit, memaksanya untuk duduk di kursi sebelah. "Duduk, Mas Langit Ardiansyah. Ini perintah."
Langit akhirnya duduk dengan punggung tegak dan kaku. Aurora mulai membuka kotak nasinya dan mulai makan dengan santai, mengabaikan fakta bahwa ia adalah model mahal yang harusnya menjaga image.
"Gimana tadi penampilanku, Mas? Bagus nggak?" tanya Aurora di sela makannya.
"Non sangat menguasai pekerjaan Non," jawab Langit singkat.
"Maksud aku... aku cantik nggak? Pas pose tadi, Mas ngerasa deg-degan nggak pas aku liatin?" Aurora mencondongkan wajahnya, mendekat ke arah Langit.
Langit menatap mata Aurora yang penuh dengan maskara hitam panjang. Jarak mereka sangat dekat. "Saya hanya menjalankan tugas untuk memperhatikan Non agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di lokasi."
"Halah, bohong banget," Aurora tertawa kecil. "Tadi aku liat Mas sempet buang muka pas aku kasih pose seksi. Kenapa? Mas takut khilaf ya?"
Langit tidak menjawab, ia justru mengambil botol air mineral dan membukanya untuk Aurora, lalu memberikannya. "Minum, Non. Jangan banyak bicara saat makan, nanti tersedak."
"Ciee, perhatian lagi," Aurora menerima botol itu dengan senang hati. "Mas, aku mau tanya deh. Mas itu emang kaku dari lahir atau emang ada sekolahnya sih buat jadi ajudan kaku kayak gini? Apa Mas nggak capek hidup tanpa senyum?"
"Senyum adalah kemewahan yang jarang saya miliki dalam pekerjaan saya, Non," jawab Langit dengan nada yang tiba-tiba terdengar sedikit lebih tulus, namun tetap berat.
Aurora terdiam sejenak. Ia melihat ada sedikit gurat kelelahan di mata Langit. "Kalau gitu, mulai sekarang, kalau Mas lagi sama aku, Mas boleh pake semua 'kemewahan' itu. Mas boleh senyum, boleh ketawa, boleh marah juga kalau aku nakal."
Langit menoleh ke arah Aurora. "Kenapa Non begitu terobsesi dengan saya? Masih banyak pria di luar sana yang lebih pantas, lebih kaya, dan memiliki status yang sama dengan keluarga Non."
Aurora tersenyum, kali ini bukan senyum nakal, melainkan senyum yang terasa sangat nyata. "Karena Mas itu nyata. Mas nggak peduli sama status aku sebagai anak DPR atau model terkenal. Mas jagain aku karena itu tugas Mas, dan Mas tetep kaku karena itu prinsip Mas. Aku suka orang yang punya prinsip, meskipun prinsipnya itu bikin aku darah tinggi setiap hari."
Aurora meletakkan kotak nasinya yang sudah kosong. Ia berdiri dan menepuk bahu Langit.
"Inget ya Mas, aku nggak main-main soal 'to the bone' itu. Aku bakal bikin Mas Langit jatuh cinta sama aku, sampai Mas lupa gimana caranya jadi kaku."
Sebelum Langit sempat membalas, Rio sudah berteriak dari dalam studio. "Aurora! Lima menit lagi mulai! Ganti baju!"
"Aku masuk dulu ya, Mas. Jangan kangen!" Aurora mengedipkan mata dan berlari masuk ke studio dengan gaun merahnya yang berkibar, meninggalkan Langit yang masih duduk mematung di balkon, memandangi botol air mineral di tangannya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Untuk pertama kalinya, benteng pertahanan Langit terasa sedikit retak. Bukan karena rayuan Aurora, tapi karena ketulusan yang tersirat di balik keceriaan gadis itu.