NovelToon NovelToon
Bukan Sekedar Pengganti

Bukan Sekedar Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Triyani

Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.

Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?

Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?

Saksikan kisahnya disini….

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.20

Alisa menghela nafas panjang, mencoba meredakan gemuruh di dalam dadanya sebelum akhirnya memberanikan diri keluar dari dalam mobil.

Ia berdiri di samping Harlan, yang baru saja membukakan pintu mobil untuknya.

Di hadapan mereka, berdiri sebuah rumah mewah yang menjulang anggun, kokoh di tengah kawasan perumahan secara elit yang baru saja di datangi oleh Alisa.

Dindingnya tinggi, gerbangnya megah, seolah menjadi batas tak kasat mata antara dunia yang dulu ia kenal dan kehidupan barunya saat ini.

“Bagaimana, kamu siap?” tanya Harlan pelan, melirik ke arah istrinya.

Alisa menelan ludah, jemarinya saling menggenggam untuk menahan gugup. Namun ia tahu, ini adalah pilihannya, jadi mau atau tidak, siap atau tidak. Alisa harus tetap menghadapinya.

“Iya, Mas… aku siap,” jawabnya akhirnya, dengan suara yang berusaha ia buat setenang mungkin.

Meski di dalam hatinya, rasa gugup dan juga takut masih menyelimuti, Alisa tetap memilih untuk melangkah maju. Bersama Harlan, menuju pintu besar yang sebentar lagi akan membawanya pada babak baru dalam hidupnya.

Langkah mereka berhenti tepat di depan gerbang tinggi berwarna hitam pekat itu. Harlan menekan tombol kecil di samping pagar, dan dalam hitungan detik, suara mekanis terdengar pelan sebelum gerbang tersebut perlahan terbuka.

Alisa menahan nafas sejenak. Pemandangan di dalamnya jauh lebih luas dari yang ia bayangkan. Halaman depan tertata rapi dengan taman yang terawat, deretan tanaman hias yang disusun simetris, dan jalan setapak dari batu alam yang mengarah langsung ke pintu utama rumah.

Setiap detailnya terasa… sempurna. Sangat sempurna. Menciptakan suasana rumah yang terasa nyaman dan tenang.

Tanpa sadar, Alisa memperlambat langkahnya. Membuat Harlan menoleh karena menyadari pergerakan itu.

“Kenapa?” tanyanya.

“Nggak apa-apa…” jawabnya singkat, dengan menggeleng pelan.

Mereka kembali berjalan. Sepatu Alisa beradu pelan dengan batu pijakan, menciptakan suara kecil yang justru terasa begitu jelas di tengah keheningan tempat itu.

Semakin dekat ke pintu utama, jantungnya kembali berdetak lebih cepat. Hingga akhirnya… Pintu besar itu terbuka lebih dulu dari dalam.

Seorang wanita paruh baya berdiri di ambang pintu, mengenakan pakaian rapi dengan aura tegas yang langsung terasa bahkan dari kejauhan. Tatapannya tajam, mengarah lurus pada Alisa, seolah sedang menilai dari ujung kepala hingga kaki.

Refleks, Alisa langsung menundukkan sedikit kepalanya. Saat menyadari tatapan tajam wanita baya itu, tertuju padanya.

“Kalian sudah datang?” tanya wanita itu, suaranya datar, tanpa banyak emosi.

“Iya, Ma.” jawab Harlan singkat, namun tetap sopan.

Hening sesaat. Lalu, wanita itu kembali berbicara. Kali ini matanya tak lepas dari Alisa.

“Masuklah. Semua orang sudah menunggu kalian.” lanjutnya, dengan nada yang sulit diartikan.

Jemari Alisa kembali saling menggenggam. Harlan melangkah sedikit ke semakin mendekatkan diri kepada Alisa.

Tangannya terulur, menggenggam lembut tangan Alisa yang basah oleh keringat dingin.

“Iya, Ma.” jawab Harlan.

Ada jeda sedikit, sebelum akhirnya, wanita baya itu berbalik. Berjalan lebih dulu, kembali masuk ke dalam.

Alisa sempat menatap punggung wanita itu, lalu melirik Harlan sekilas. Harlan memberi anggukan kecil, seolah mengatakan semuanya akan baik-baik saja.

Meski hatinya belum sepenuhnya siap, namu Alisa tetap melangkah masuk.

Begitu melewati ambang pintu, ia langsung disambut oleh interior rumah yang tak kalah megah. Lampu kristal besar menggantung di tengah ruangan, lantai marmer yang mengkilap, dan ruang tamu yang sangat luas. Jauh lebih luas dari rumah Kakek dan Neneknya.

Langkah Alisa terasa semakin berat saat memasuki ruang tamu itu. Matanya bergerak perlahan, menyapu setiap sudut ruangan yang begitu luas itu.

Di tengah ruangan, sudah berkumpul beberapa orang. Duduk rapi di sofa besar yang tersusun menghadap satu sama lain. Suasana hening menyelimuti, seolah kehadiran mereka memang sudah ditunggu sejak tadi.

Setibanya di sana, semua pasang mata langsung tertuju kepada pasangan pengantin baru. Situasi itu… membuat Alisa semakin gugup dan tegang.

Menyadari hal itu, Harlan langsung mengeratkan genggaman tangannya, seakan tengah berbagi kekuatan lewat sentuhan itu. Ia melangkah lebih dulu, menarik Alisa untuk ikut mendekat.

“Kakek, Nenek, Papa, Om, Tante… kami sudah sampai.” ucap Harlan menyapa semua orang yang ada di sana. Suaranya tenang, namun tetap terdengar tegas.

Seorang pria paruh baya yang duduk di tengah, dengan wajah berwibawa dan sorot mata tajam, mengangguk pelan. Di sampingnya, seorang wanita elegan dengan raut dingin memperhatikan Alisa tanpa berkedip. Namun bukan hanya mereka.

Ada beberapa anggota keluarga lain di sana. Ada paman, dan juga bibi dari pihak sang ibu, juga tampak hadir. Melihat begitu banyak nya orang, Alisa menelan ludah, mencoba menenangkan diri.

“Jadi… ini pengantin pengganti itu?” tanya wanita yang duduk di kursi panjang, orang yang membuka suara terlebih dahulu. Suara itu terdengar, memecah keheningan.

Seorang wanita lainnya yang duduk di sisi kanan, dengan penampilan mencolok dan senyum tipis yang tidak benar-benar ramah, menyilangkan tangannya. Menatap Alisa dari atas ke bawah.

“Dia istriku, Tante. Tolong… jangan pernah sebut dia pengantin pengganti,” jawab Harlan. Memprotes ucapan Tantenya.

“Bukankah itu kenyataan nya? Dia memang pengantin pengganti, kan? Lalu salahnya dimana?”

“Benar. Awal pertemuan kami memang seperti itu. Tapi… sekarang dia istri sahku. Jadi tolong, jangan pernah ungkit masalah itu lagi,”

“Tapi tetap saja, dia kan…”

“Cukup.”

Seketika, suara bariton seseorang menyela ucapan sang Tante, sehingga membuatnya tidak bisa melanjutkan. Suara itu terdengar lebih berat, penuh wibawa.

Ruangan kembali hening. Pria paruh baya itu lalu menatap Alisa, kali ini lebih lama. Seolah mencoba membaca sesuatu dari gadis yang berdiri di hadapannya.

“Kemari.” ucapnya singkat.

Alisa tersentak kecil. Ia melirik Harlan sekilas. Harlan mengangguk pelan, memberi isyarat agar ia menurut.

Dengan langkah berat dan penuh kehati-hatian, Alisa mendekat. Saat sudah cukup dekat, ia berhenti. Menundukkan kepala dengan sopan, penuh rasa hormat.

“Siapa, nama kamu?” tanya pria itu.

“A_Alisa… Om,” jawabnya pelan, suaranya nyaris bergetar.

Pria itu mengangkat alis sedikit. Semakin menatap lekat Alisa.

“Om?” ulangnya.

Alisa langsung tersadar, wajahnya memucat seketika. Kedua tangannya kembali saling bertautan dan saling meremas satu sama lain.

“Ma_maaf… tapi… saya belum tahu harus memanggil apa,” ucapnya semakin lirih, kepalanya semakin menunduk lebih dalam.

Beberapa orang di ruangan itu tampak saling berpandangan. Ada yang tersenyum tipis, seolah menemukan celah untuk menilai.

Namun pria itu tidak langsung bereaksi. Ia hanya menyandarkan punggungnya, masih menatap Alisa.

“Harlan,” panggilnya tanpa mengalihkan pandangan.

“Iya, Kek,” jawab Harlan cepat.

“Kamu yakin dengan pilihanmu ini? Kamu… tidak akan menyesalinya?”

Pertanyaan itu terdengar sangat tegas. Dan… mengandung lebih dari sekadar keraguan. Harlan tidak langsung menjawab.

Ia melangkah maju, berdiri tepat di samping Alisa. Tangannya kembali menggenggam tangan istrinya.

“Insya Allah, aku yakin, Kek. Namun… maaf, untuk saat ini aku belum bisa menjawab pertanyaan yang kedua. Terlalu awal untuk membahas penyesalan, Kek. Tolong… beri kami waktu untuk menjalankan pernikahan ini terlebih dahulu. Untuk urusan jodoh atau tidak, menyesal atau tidak. Biar waktu yang menjawabnya.” jawab Harlan mantap dan tegas.

Alisa menoleh sedikit, menatap Harlan. Ada kehangatan yang perlahan merambat di dadanya, meski ketegangan belum sepenuhnya hilang.

Pria paruh baya itu terdiam beberapa detik. Lalu menghela nafas pelan sebelum melanjutkan.

“Baiklah. Kalau begitu, buktikan.” ucapanya.

Alisa kembali tersentak. Refleks ia mengangkat kepalanya sedikit, menatap Kakek Harlan dengan tatapan bingung.

“Buktikan? Buktikan, apa?” tanya Harlan, bingung.

“Buktikan. Kalau dia pantas menjadi istrimu.”

Deg.

Kalimat itu seperti palu yang menghantam perlahan, namun pasti. Alisa kembali menunduk. Jemarinya tanpa sadar menggenggam lebih erat tangan Harlan.

1
Uba Muhammad Al-varo
siapa tuh orang yang sedang ngintip dan menguping Harlan dan Alisa 🤔🤔🤔
Teh Yen
ngeri banget yah suasana d rmh kakek Harlan
Titik Ristiana
up lg kpn??
🌸 Triyani 🌸: maaf, insya Allah malam ini. aku nya sakit kak. jdi belum sempet nulis 🙏
total 1 replies
Teh Yen
smngta Alisa d Harlan kalian pasti bisa melewati semuanya bersama
Ariany Sudjana
kan kamu itu pelacur murahan Yuni, yang hanya ingin kekayaan pak Ali
Uba Muhammad Al-varo
harus lebih tegas lagi pak Ali kalau ngomong sama bu Yuni
Teh Yen
gegara siapa tuh pak Ali d Bu yuni jadi cekcok.terus gegara putri semata wayang mu lah Bu Yuni yg kabur d hari pernikahan 😏 sadar diri dong sedikit putrimu yg salah nyalahin Alisa terus heran 😏
Teh Yen
lah jd ikutan bingung aku hehe 😁,, tp jangan terlalu banyak berpikir Alisa suamimu kan kaya sekarang kamu istri pengusaha loh setidaknya itu salah satu bentuk tanggung jawab Harlan suamimu kalau kamu mau sekolah desain lagi ya kan jd terima saja
Eti Alifa
semoga anak2 author segera sehat kembali.
Eva Karmita
sama otor di tempat ku juga lagi musim demam bapil mungkin karena cuaca hujan panas ... aku aja satu rumah kenak semua 🥺 ..,, semoga otor dan keluarga cepat sembuh aamiin 🤲🤲
maya ayu
semoga lekas sembuh thoorrr.. amiiinn🙏🙏🙏
Uba Muhammad Al-varo
iya kakak Author 👍👍👌 yang diutamakan semuanya pada sehat, aamiin...🙏❤️💪💪💪
vita
sll suka karya2nya
Teh Yen
engg pa pa thor ,, smoga lekas sembuh yah semuanya
Elisabeth Ratna Susanti
like, subscribe plus 🌹 untuk karya keren jni🥰
🌸 Triyani 🌸: makasih kak 🤗🥰🙏
total 1 replies
Teh Yen
Alisa bingung yah mau pesen yg mana abisnya harganya.mahal" untuk dia hihii
Uba Muhammad Al-varo
Harlan apa benar kamu udah memahami Alisa, makanya sekalian kamu selidiki Alisa Harlan,ada apa sebenarnya yang terjadi pada Alisa 🤔🤔🤔
maya ayu
semangat othooorrrrr aku suka novel2 mu❤️❤️❤️👍👍
Uba Muhammad Al-varo
kini saatnya Alisa bahagia semenjak dari kecil ditinggalkan dan tanpa kasih sayang bpknya sekarang ada Harlan yang akan menyayangi, mencintai dan membahagiakan mu Alisa
Uba Muhammad Al-varo
semoga cepat sembuh kakak, aamiin...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!