Allyssa harus meninggalkan hidup nyamannya di Bandung dan memulai semuanya dari awal di Jakarta. Di sekolah barunya, ia mencoba menjalani kehidupan remaja seperti biasa, meski perlahan ia merasa ada sesuatu yang tidak beres di sekitarnya.
Pertemuan dengan orang-orang baru, termasuk sosok misterius yang sulit dipahami, membuat hidup Allyssa berubah. Kejadian demi kejadian datang tanpa ia duga, seolah membawanya masuk ke dalam rahasia yang lebih besar.
Di tengah semua itu, ia hanya berpegang pada satu hal yang paling berarti—saudara kembarnya. Namun sebuah kejadian di malam yang seharusnya biasa saja, mengubah segalanya.
Sejak saat itu, Allyssa menyadari bahwa tidak semua cerita berjalan sesuai harapan. Ada yang harus berhenti di tengah jalan—dan tak pernah sempat selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aynaaa12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 12
“Mah, Pak Yanto ada gak?” Tanya Allyssa pada ibunya yang saat ini sedang duduk di ruangan tamu.
“Pak Yanto kan jemput Aruna. Mama yang anter aja, gimana?” Ujar mamanya menawarkan untuk mengantar Allyssa ke rumah temannya.
“Gak usah deh, Mah! Allyssa naik Taxi aja.” Tolak Allyssa yang siap untuk pergi.
Saat pulang sekolah tadi, Allyssa sudah memberitahu mamanya perihal project drama yang akan ia kerjakan bersama teman sekolahnya.
“Yaudah, tapi bawa kue ya! Tadi mama pesennya kebanyakan.” Tawar ibu Allysa menyodorkan 1 box kue yang sebelumnya sengaja dipesan karena tahu anaknya akan pergi ke rumah temannya.
Seperti ibu-ibu pada umumnya, ibu Allyssa cukup peka bahwa ketika bertamu, menurutnya wajib untuk membawa buah tangan.
“Gak usah, Mah. Ribet bawanya!” Jawab Allysa Malas.
“Ribet dimananya sih sayang. Kan kamu tinggal pegang doang. Lagian kamu pake Taxi kan.”
“Allyssa malas, Mah!”
‘Lagian Allyssa kan gak deket sama mereka semua.’ Lanjut Allyssa dalam hati.
“Gitu doang malas. Udah ini bawa aja! Mama gak terima penolakan.” Paksa ibunya.
“Tapi, Mah. Allyss gak-.....” Ujar Allyssa langsung dipotong ibunya.
”Gak ada tapi-tapi. Sekarang mending buruan pergi, nanti telat lagi!” Ujar mamanya memberikan 1 box kue yang sejak tadi diperbincangkan.
Allyssa yang memang harus segera pergi tak bisa terus membantah ibunya. Yang ada dia akn telat. Ia segera meraih box tersebut. Mau tak mau ia harus membawa kue itu. Wanita paru baya itu memang susah ditolak.
“Yaudah deh, Mah! Allyssa pergi sekarang. Allysa pamit.” Ujar Allysa pasrah dan meraih tangan ibunya untuk disalim.
“Hati-hati! Kalau udah selesai, minta pak Yanto jemput!” Ujar sang ibu yang diangguki Allyssa.
***
Di ruangan yang cukup besar, enam remaja tengah duduk sambil berbincang ringan. Wanita paru baya juga terlihat datang membawa snack dan minuman untuk dinikmati. Beberapa kue kering, jus, teh, dan juga buah-buahan diletakan di salah satu meja yang ada di ruang tamu rumah itu. Saat ini mereka akan mengerjakan projek drama yang sebelumnya diberikan oleh Pak Trisno. Seharusnya saat ini mereka bertujuh orang. Tapi entah kenapa salah satunya belum kunjung datang.
“Kita mulai dari mana nih?” Tanya Arya pada timnya.
“Eh, bentar deh! Gabriel kan belum dateng.” Aluna menjawab spontan.
“Gue dari awal gak yakin dia bakal ikut. Orang biasanya bodo amat sama project kayak gini.” Ujar Arya seolah tahu watak seorang Gabriel.
“Bener tuh kata Arya. Tahun lalu aja, pas acara Camping sekolah dia gak ikut!” Timpal Daniel meyakinkan temannya yang lain.
“Terus maunya gimana? Lanjut aja berarti?” Valeska bertanya pada yang lain.
“Emang gak papa kita bahas tanpa dia?” Ujar Aluna berharap pembahasan itu harus melibatkan Gabriel.
Entah apa yang ada dipikiran gadis itu.
“Kata gue mah lanjut aja dari pada nunggu. Pasti bakal lama! Gue gak yakin dia bakalan datang.” Yakin, Arya sangat yakin dengan itu.
“Tapi Pak Trisno pengen kita buat dokumentasi hari ini! Ya otomatis harus lengkap dong!” Ujar Valeska nyerocos.
“Untuk dokum bisa nantian aja gak sih? Siapa tahu nanti orangnya datang! Sekarang bahas dulu aja projek ini mau dimulai dari mana.” Ujar Haura pertama kali berbicara sejak tadi saja memperhatikan debat kecil itu.
Allyssa, Aluna, dan daniel mengangguk setuju.
“Yaudah kalau gitu. Sekarang kita bahas pembagian tugas dulu aja.” Tawar Valeska pada yang lain.
“Kenapa gak divisi dulu aja Les. Biar nanti tinggal pilih mau masuk divisi apa.” Jawab Aluna sedikti sewot.
Entah mengapa ketika Aluna berbicara dengan Valeska, ia sedikit naik pitam. Entahlah mungkin karena Valeska yang lemot.