NovelToon NovelToon
Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.

Marsha Zaiva Dominic.

Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.

Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.

Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Langkah Menuju Pulang

Begitu Marsha melangkah keluar dari area gedung rumah sakit, udara malam yang sejuk menerpa wajahnya. Ia melihat mobilnya terparkir tidak jauh dari pintu keluar.

Namun, matanya menangkap sesuatu. Di dekat mobilnya, seorang pria berdiri bersandar pada mobil hitam mewah. Bukan Archio, melainkan seorang pria bersetelan rapi yang tampak seperti ajudan pribadi.

"Selamat malam, Dokter Marsha," pria itu membungkuk sopan. "Tuan Andreas meminta saya memastikan Dokter sampai ke rumah dengan selamat. Tuan Archio sedang berada di dalam menjenguk Tuan Liam, jadi beliau meminta saya yang berjaga di sini."

Marsha menghela napas. *Proteksi ini lagi.*

"Terima kasih," jawab Marsha singkat. "Tapi sampaikan pada Papah, saya bisa menyetir sendiri. Kalian cukup ikuti saja dari belakang kalau memang itu perintahnya."

Ajudan itu mengangguk patuh. Marsha segera masuk ke mobilnya, menyalakan musik dengan volume rendah untuk menenangkan pikirannya. Sepanjang jalan, ia bisa melihat dari spion mobil hitam itu tetap menjaga jarak dengan sangat profesional.

Dalam hati, Marsha mulai terbiasa. Ia tahu ini adalah cara keluarga Halvard menunjukkan kasih sayang mereka yang berlebihan. Namun, bayangan senyum Erlan Dominic saat menyambutnya di depan pintu tetap menjadi motivasi utamanya untuk segera sampai ke rumah. Bagi Marsha, tidak peduli seberapa mewah penjagaan di belakangnya, kedamaian sejati hanya ada di balik pagar kayu sederhana rumah orang tuanya.

Wajah lelah Marsha seketika cerah. Ia meletakkan kembali mangga yang sedang ia timbang dan memberikan pelukan singkat yang hangat kepada pria di hadapannya. Pertemuan tak terduga ini terasa seperti oase di tengah kerumitan identitas barunya.

"Jangan berlebihan, Marsha. Kamu sendiri sudah jadi bintang di meja operasi jantung, kan?" Damian tertawa, suaranya rendah dan menenangkan. Ia tampak lebih dewasa dengan jaket kasualnya, namun sorot matanya tetap sama seperti saat mereka masih berjuang bersama di masa ko-asistensi dulu.

"Bisa saja kamu," sahut Marsha sambil memasukkan beberapa mangga ke dalam keranjang. "Tapi serius, Dam, kenapa tiba-tiba pulang? Bukannya kamu masih ada kontrak di Mayo Clinic?"

"Ada tawaran yang sulit ditolak di sini, dan jujur saja, aku rindu udara Jakarta dan mungkin rindu teman lama juga," Damian mengedipkan mata jenaka. "Kamu sendiri, kenapa jam segini masih di supermarket dengan wajah sepucat itu? Habis operasi maraton lagi?"

Marsha menghela napas, tertawa kecil. "Begitulah. Tapi aku harus beli buah untuk Mami dan Daddy. Mereka pasti senang kalau tahu kamu sudah pulang. Kamu harus mampir ke rumah!"

Damian mengangguk pasti. "Tentu saja. Tapi tunggu, tadi aku lihat ada mobil hitam yang parkir tepat di belakang mobilmu, dan dua pria berjas berdiri di dekat pintu masuk sambil terus memperhatikan arah sini. Kamu sedang dalam pengawalan ketat atau sedang jadi incaran detektif?"

Marsha melirik sekilas ke arah pintu masuk supermarket melalui kaca besar. Benar saja, ajudan kiriman Andreas tetap menjalankan tugas mereka dengan sangat disiplin, namun bagi orang awam seperti Damian, pemandangan itu tentu terlihat sangat mencurigakan.

Marsha meringis canggung. "Itu... ceritanya panjang, Dam. Sangat panjang. Mungkin lebih panjang dari prosedur kraniotomi yang biasa kamu lakukan."

"Wow, terdengar menarik. Jadi, apakah Dokter Marsha Dominic sekarang punya rahasia negara?" goda Damian sambil membantu Marsha membawakan keranjang belanjanya menuju kasir.

Marsha hanya tersenyum misterius. Ia merasa kehadiran Damian adalah pengingat akan masa lalunya yang normal, masa di mana dunianya hanya seputar buku kedokteran dan impian masa depan. Namun, melihat ajudan Andreas yang masih bersiaga di luar, Marsha sadar bahwa ia tidak bisa lagi benar-benar kembali ke "normal" yang lama.

"Ayo, aku traktir kopi sebentar di depan kalau kamu tidak buru-buru," ajak Damian. "Aku ingin dengar cerita panjang itu.”

Marsha sedikit terkesiap mendengar ucapan Damian tentang rindu Jakarta. "Hei, kita kan masih di London, Dam! Mungkin maksudmu rindu masakan rumah di Jakarta? Kamu pasti sudah terlalu lama di Amerika sampai lupa koordinatmu sekarang," goda Marsha sambil tertawa renyah.

Damian menepuk dahinya sendiri, ikut tertawa. "Ah, benar. Efek *jet lag* memang berbahaya. Aku baru mendarat di Heathrow pagi tadi dan langsung mencarimu. Maksudku, aku rindu suasana London yang mendung ini jika bersamamu."

"Dasar tukang gombal," balas Marsha.

"Ayo, ada kafe kecil yang nyaman tidak jauh dari sini. Kamu butuh kafein sebelum pingsan di depan rak mangga itu," ajak Damian sambil mengambil alih belanjaan Marsha.

 

### Kafe di Sudut London

Mereka berjalan kaki menuju sebuah kafe bernuansa kayu yang hangat, kontras dengan udara London yang mulai menusuk tulang. Di belakang mereka, dengan jarak yang sangat terjaga, kedua ajudan kiriman Andreas tetap mengikuti. Marsha bisa merasakan tatapan waspada mereka, namun ia mencoba mengabaikannya demi menikmati momen bersama sahabat lamanya.

Begitu mereka duduk dan memesan dua gelas *hot chocolate* kental, Damian langsung menopang dagu, menatap Marsha dengan intens.

"Oke, sekarang jelaskan. Kenapa Dokter Marsha yang mandiri sekarang punya pengawal pribadi yang terlihat seperti agen MI6?" tanya Damian penasaran.

Marsha mengaduk minumannya, uap panas menerpa wajahnya. "Dam... kamu ingat kan aku selalu bilang aku anak adopsi Daddy Erlan? Kemarin, keluarga kandungku menemukanku. Ternyata ayah kandungku adalah Andreas Halvard."

Damian hampir tersedak minumannya. "Halvard? Maksudmu keluarga penguasa bisnis yang punya gedung-gedung pencakar langit di Jakarta dan Singapura itu? Yang asetnya tidak habis tujuh turunan?"

"Sayangnya, iya," jawab Marsha dengan nada datar. "Mereka sangat protektif. Rasanya seperti aku ini barang pecah belah yang harus dijaga 24 jam. Kamu lihat sendiri kan di luar?"

Damian menoleh sekilas ke arah jendela, melihat dua pria berjas yang berdiri mematung di dekat pintu masuk kafe. "Wow. Dari dokter bedah biasa menjadi putri mahkota dinasti bisnis dalam semalam. Bagaimana perasaan Daddy Erlan?"

"Daddy tetap Daddy. Dia sangat mendukung, tapi aku tahu dia merasa sedikit kehilangan," Marsha menghela napas. "Rasanya berat, Dam. Aku harus menyeimbangkan dua dunia yang sangat berbeda. Di satu sisi ada cinta yang tulus dan sederhana dari Daddy, di sisi lain ada kemewahan dan... kekuasaan yang sedikit menakutkan dari keluarga Halvard."

Damian meraih tangan Marsha yang berada di atas meja, memberikan remasan lembut sebagai bentuk dukungan. "Dengar, Marsha. Kamu adalah dokter bedah saraf... ah maksudku, dokter bedah jantung terbaik yang aku kenal. Kamu punya kendali atas detak jantung orang lain di meja operasi. Kamu pasti bisa mengendalikan hidupmu sendiri, siapa pun ayah kandungmu."

Marsha tersenyum, merasa sedikit lebih ringan. "Terima kasih, Dam. Aku butuh mendengar itu."

"Tapi jujur," Damian menyeringai jahat. "Kalau kamu butuh bantuan untuk kabur dari pengawal-pengawal itu, aku punya beberapa teknik 'penyelamatan' yang kupelajari di New York."

"Jangan cari masalah, Damian! Kakakku, Archio, bisa melacakmu sampai ke ujung dunia kalau aku hilang," canda Marsha yang langsung disambut tawa lepas dari keduanya.

Tanpa mereka sadari, dari kejauhan, salah satu ajudan sedang melaporkan situasi tersebut melalui ponselnya. "Target sedang berada di kafe bersama seorang pria. Laporan masuk ke Tuan Archio."

Tawa mereka memenuhi sudut kafe yang hangat itu, sejenak menenggelamkan hiruk-pikuk kota London di luar sana. Bagi Marsha, Damian adalah bagian penting dari kepingan masa lalunya. Mereka tumbuh bersama sejak Marsha pertama kali menginjakkan kaki di London sebagai remaja yang sedikit bingung dengan identitasnya.

Dulu, mereka sering menghabiskan waktu di perpustakaan universitas hingga larut malam, saling mengetes hafalan anatomi sebelum ujian besar. Namun, jalan spesialisasi memisahkan mereka. Damian memilih menaklukkan kompleksitas otak manusia di Amerika, sementara Marsha memilih mengikuti jejak Erlan Dominic, sang "tangan emas" bedah jantung, untuk menguasai pusat kehidupan manusia jantung.

1
Risma Surullah
di bab lain marsha anak bungsu yg dibenci, di bab selanjutnya archio adalah adik marsha...hehe bingung bingung aq bingung
Muji Lestari
lanjut thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!