Riana terpaksa menjadi Sekertaris Zayn Abimanyu yang gila kerja dan sangat ketat karena Sekertaris sebelumnya memilih Resign karena tak kuat menanggung beban kerjanya. Namun bukan hanya itu masalahnya, Riana menemukan sesuatu yang lebih gila dari Bosnya itu.
Lima kepribadian dalam satu tubuh. Zayn, Ares, Dewa, Rayan dan Bram, setiap nama punya karakter masing-masing.
Dewa si penggoda ulung - Miss I Love You.
Ares - Kakak cantik, tubuh Kakak wangi sekali.
Rayan - si culun yang pemalu.
Bram - Ketua Geng motor rahasia.
Sedang Zayn, si bos dingin yang entah sejak kapan mulai tertarik dengan Riana, wanita yang menjadi pelindungnya, pemegang rahasianya yang seluruh dunia tidak boleh tahu, termasuk keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 - Rayyan.
“Mbak Riana, saya ingin kamu yang mengurus semua persiapan pertunangan Zayn dan Aruna,” Cetusnya.
“Saya?” Riana menatap kesana kemari sambil menunjuk dirinya sendiri.
Nyonya Adam mengangguk, “buat konsepnya, saran tempat yang bagus. Biasanya wanita muda lebih faham soal masalah begitu,” Cetusnya.
“Mah soal itu, biar saya yang urus. Beban kerja Riana sudah terlalu banyak, saya akan tanya Aruna dia mau tema acara yang seperti apa,” sambar Zayn segera, dia tak ingin membuat Riana bekerja lebih lagi.
Nyonya Adam menatap tajam, tapi dia mengangguk setuju.
Mereka hendak pulang, Namun Zayn pergi ke toilet sebentar.
“Kau benar-benar tidak ada hubungan apa-apa dengan Zayn?” suaranya terdengar tajam, tepat dibelakang telinganya.
Riana lekas menoleh dan bergeser, “Saya profesional Nonya hubungan saya dan Pak Zayn hanya sebatas atasan dan bawahan, lagi pula saya juga punya pacar dan akan segera bertunangan,” dusta Riana, dia memberi alasan sekenanya.
“Baiklah, untuk sementara ini saya percaya. Tapi jika kamu ketahuan berbohong maka jangan harap kamu bisa tetap bekerja di perusahaan kami,” ancamnya seraya pergi.
Riana mengusap dadanya, ‘gila tuh emak-emak, tatapan matanya itu loh.’
Sementara tak jauh dari tempat Riana, Zayn berdiri mematung sambil menatap kearahnya, ‘Riana punya pacar, sejak kapan?’
***
Dhuar...
Suara petir menggelegar disertai cahaya kilat yang putih kebiruan, malam ini terjadi badai hingga lampu pun padam.
“Rumah segede ini ko gak ada gensetnya,” keluh Riana, dia terpaksa keluar kamar karena kehausan dengan senter hp sebagai penerang.
Syutt... Duar...
Sura itu menggema membuat tiap kaca yang ada di rumah ini bergetar.
“Serem banget tuh geluduk, aku harus cepet-cepet balik ke kamar,” Riana mempercepat langkahnya, dia mengedarkan pandangan ke sembarang arah, otaknya menghayalkan hal seram secar otomatis namun dia segera menepisnya.
Cur... Bahkan suara air pun nyaring terdengar ditengah suasana seperti ini.
Huhuhuhu...
“Anjir, suara apa tuh?” Riana terkejut, pendengarannya di pertajam.
“Ibu...,” kali ini suaranya lebih jelas lagi.
Riana menelan Salivanya, kerongkongannya naik turun diiringi detak jantung yang tiba-tiba meningkat, “Jangan takut Riana, mereka hanya makhluk tak nyata, untuk apa kau takutkan,” Riana mencoba menenangkan diri, walau sejujurnya jantungnya sedang ketar ketir.
Dia hendak pergi namun Riana menangkap sosok yang tengah duduk di sudut ruangan dengan ujung matanya, “mampus, itu beneran hantu. Sial,” Riana melanjutkan langkahnya pura-pura tak melihat sosok tersebut.
“Ibu, aku takut,” suara lirih itu kembali terdengar.
“Tunggu, aku kayak kenal suaranya,” Riana memperjelas pandangannya dengan senter searah.
“Bapak! Pak Zayn, sedang apa Bapak disana?” tegur Riana, ternyata itu Zayn, dia mengenakan kaus putih, dia duduk di sudut ruangan sambil memeluk lututnya.
“Bapak lagi mabuk?” Riana berjalan mendekat, dia mendongak, wajahnya tampak sembab, dia menangis? Dia benar-benar menangis? Riana mengernyitkan wajahnya.
“I-ibu,” panggilnya.
“Ibu?!” Riana tergelak, “Jangan bercanda Pak, saya belum menikah, apa lagi punya anak sebesar Bapak, jangan duduk disitu dingin nanti bapak masuk angin,” Riana hendak berlalu, namun Zayn meraih tangannya.
“Ja-jangan pergi, aku takut,” cegahnya.
“Bapak takut gelap?” dia mengangguk.
“Kan ada hp Pak, nyalain aja senternya,” cetus Riana tak ingin menambah masalah.
Duar...
Kilat kembali menyambar disertai suara petir yang menggelegar, Haish. Zayan menutup wajahnya menggunakan telapak tangan, ternyata dia bukan hanya takut gelap tapi takut kilat dan petir, itu yang Riana lihat dari sosok Zayn yang sekarang.
“Bapak takut petir?” tanya Riana meyakinkan.
Dia mengangguk pelan, “ngapain takut petir Pak, petirnya juga di liar ko. Asalkan kita tetep di dalam rumah semuanya pasti aman.”
“Bapak mau saya antar ke kamar?” dia menggeleng keras.
“Terus Bapak mau tetep disini semaleman? Kalau gitu lepasin tangan saya, saya mau tidur ngantuk,” bukannya melepaskan cengkraman tangannya di tangan Riana Zayn justru mempereratnya.
“Jangan tinggalkan aku, ku mohon,” lirihnya.
Riana mengernyitkan dahi merasa curiga dengan sikap Zayn yang sekarang, “Kamu pak Zayn kan?” tanyanya.
Dia menggelengkan kepalanya, “Aku, Rayyan.”
riana kan pawang zayn..
🤣🤣😄😄💪💪❤😍😍
❤❤❤😍😍😍
itu bukan ketergantungan..
tapi ..
cemburu berat...
🤣😄😄😍😍❤💪💪💪❤❤
😍😍❤❤💪💪💪
zayn cemburuuuu..
😄😄😍❤💪💪
akankah Riana ninggkain zayn saqt ada mamanya..
😍😍❤❤💪💪💪
jadi senyum2 bacanya..
😄😄😄😄😄😍😍❤💪💪💪
zayn mulai ada rasa..
mereka berdua deh..
😄😄😍😍❤💪💪💪
😍😍❤💪💪
bener2..
kasihan zayn..
dirawat tapi diundat2...
😍😍😍❤❤💪💪
klai gk takut..
minggat aj azayn..
😄😄❤❤💪💪
❤😍😍💪💪💪
❤❤😍💪💪💪
spesies baru lagi ini..
😄😄😄😄❤❤😍💪1
❤❤❤❤❤❤😍😍😍😍😍💪💪💪
🤣🤣😄😄❤❤😍💪💪
❤❤😍😍💪
🤣🤣😄❤❤😍💪
bukan aruna ya kak..
😄❤😍💪
😄😄😄