NovelToon NovelToon
Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mafia
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.


Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.


Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.


Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CGS 15

Ella mengerti. Atau setidaknya, mulai mengerti. “Maksud Tante?”

“Kamu harus belajar masuk tanpa terlihat mencurigakan,” jawabnya. “Belajar membaca situasi. Belajar jadi orang lain, kalau perlu.”

Malam-malam berikutnya berubah menjadi latihan. Bukan hanya membaca data tapi membaca orang. Cara berbicara. Cara bersikap. Cara berbohong tanpa terlihat berbohong.

Ella belajar menyamar, bukan dengan pakaian dulu, tapi dengan sikap. Menahan ekspresi. Mengontrol reaksi. Menyembunyikan apa yang ia tahu. Karena di dunia yang mulai ia masuki yang paling berbahaya bukan orang yang terlihat jahat. Tapi yang terlihat sempurna.

Dan di antara nama-nama yang terus bermunculan itu, Ella mulai menyadari satu hal yang tidak bisa ia abaikan: semakin tinggi nama yang muncul semakin dalam ia terjebak. Dan pintu itu sudah terbuka. Tanpa jalan kembali.

Berita itu akhirnya datang juga dan terasa dingin, singkat, dan terasa terlalu cepat untuk sesuatu yang sebesar ini. Kasus Pak Tanto resmi ditutup. Alasannya jelas: yang bersangkutan telah dinyatakan meninggal dunia. Tidak ada lagi penyelidikan lanjutan. Tidak ada lagi pembuktian. Semua berhenti di sana. Padahal jasad Pak Tanto belum ditemukan.

Ella berdiri di depan televisi, matanya terpaku pada layar, mengikuti setiap kalimat yang dibacakan pembawa berita seolah berharap ada satu kata saja yang bisa membatalkan semuanya. Tapi tidak ada. Narasi sudah dibentuk, kesimpulan sudah diambil, dan publik mulai beralih ke hal lain. Seolah kehidupan ayahnya dua puluh tahun pengabdian, segala yang ia yakini cukup ditutup dengan satu kalimat: kasus selesai.

Di belakangnya, Tante Rosa bersandar tenang, tapi matanya tetap tajam. “Kalau kasus sudah ditutup,” katanya pelan, “biasanya pesta akan kembali dimulai.”

Ella tidak langsung menoleh. Tapi ia mengerti maksudnya.

Jika selama ini semua orang menahan diri karena sorotan publik, maka sekarang ketika semuanya dianggap selesai tidak ada lagi yang perlu disembunyikan dengan terlalu hati-hati.

“Artinya mereka akan berkumpul lagi,” gumam Ella.

“Dan bergerak lagi,” tambah Tante Rosa. Itu cukup.

Tanpa perlu banyak kata, mereka kembali ke laptop, membuka ulang data, mencari pola yang mungkin sebelumnya terlewat. Jika ada pertemuan sebelumnya, pasti ada pertemuan berikutnya. Jika ada aliran dana, pasti ada titik awal baru.

Mereka mulai menyisir simbol. Mencocokkan tanggal. Mencari jeda karena dalam sistem seperti ini, jeda justru penanda. Beberapa kemungkinan mulai muncul, tapi belum cukup kuat untuk dipastikan. Sampai ketukan di pintu.

“Ella.” Suara Bu Vero.

Ella dan Tante Rosa saling pandang sekilas. Cepat, laptop ditutup. Sepatu kaca disembunyikan. Semua kembali seperti semula. Ella membuka pintu.

Bu Vero berdiri di sana, seperti biasa, tenang, rapi, tapi selalu membawa sesuatu yang tidak bisa dibaca sepenuhnya.

“Sore ini kita ada acara,” katanya langsung. “Kamu siapkan makan malam lebih awal.”

“Acara?” ulang Ella.

“Ya, saya ada pesta penting.” jawab Bu Vero singkat. “Penting.” Tidak ada penjelasan lebih lanjut. Tapi kali ini Ella tidak perlu.

Ia mengangguk, lalu segera turun ke dapur. Tangannya bergerak cepat, lebih cepat dari biasanya, bukan hanya karena ingin selesai, tapi karena pikirannya sudah berlari lebih dulu. Jika yang dikatakan Tante Rosa benar maka ini bukan sekadar makan malam biasa. Ini bisa jadi awal dari sesuatu. Atau lanjutan dari yang sempat terhenti.

Setelah semuanya selesai lebih cepat dari yang diminta, Ella tidak membuang waktu. Ia langsung kembali ke kamar, menutup pintu, dan mendapati Tante Rosa sudah menunggunya.

“Mereka akan mengadakan sesuatu,” kata Ella pelan, tapi jelas.

Tante Rosa tidak terlihat terkejut. Lalu perlahan, keduanya sampai pada kesimpulan yang sama. “Kita masuk,” kata Tante Rosa.

Ella mengangguk. Bukan lagi sekadar mengamati dari luar. Tapi menyusup.

“Masalahnya, kita nggak punya akses,” kata Ella. Jawaban itu datang beberapa menit kemudian tanpa mereka cari. Langkah kaki di lorong. Suara Sisil. Dan percakapan yang terdengar setengah jelas.

“…iya, gala malam ini. Undangannya terbatas banget. Nggak semua orang bisa masuk…”

Ella dan Tante Rosa saling pandang.

Sisil. Tanpa sadar memberi mereka celah. Ella membuka pintu sedikit, cukup untuk melihat, tidak cukup untuk terlihat. Sisil berjalan sambil mengetik di ponselnya, tidak menyadari bahwa ia sedang diawasi. “Undangannya digital juga ribet,” lanjutnya sambil bergumam sendiri. “Harus scan segala…”

Cukup. Itu lebih dari cukup. Ella menutup pintu kembali dengan pelan. Matanya kini berbeda. Lebih fokus. Lebih tajam.

“Kita nggak perlu diundang,” katanya pelan. Tante Rosa menatapnya. “Kalau kita bisa jadi bagian dari yang diundang.”

Hening sejenak. Lalu senyum tipis muncul di wajah Tante Rosa. Bukan karena ini mudah. Tapi karena ini mungkin. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka memutuskan masuk lebih dalam mereka tidak lagi hanya mencari jejak. Mereka akan masuk langsung ke dalam pesta itu sendiri. Ke tempat di mana semua orang berkumpul. Ke tempat di mana kebenaran tidak lagi disembunyikan, melainkan dipertukarkan.

***

Malam itu tidak dimulai dengan langkah besar, melainkan dengan pengamatan yang nyaris tak terlihat. Ella tidak langsung bersiap. Ia menunggu. Dari lantai atas, dari balik celah pintu yang hanya terbuka sedikit, ia memperhatikan bagaimana rumah itu perlahan berubah suasana.

Bu Vero keluar dari kamarnya lebih awal dari biasanya, mengenakan gaun panjang dengan potongan elegan yang jatuh sempurna mengikuti tubuhnya, riasan wajahnya rapi, tidak berlebihan tapi jelas menunjukkan bahwa acara yang akan ia hadiri bukan pertemuan biasa. Sisil muncul tak lama kemudian, dengan gaya yang berbeda namun tetap dalam garis yang sama, gaun panjang, sepatu hak tinggi, aksesori yang dipilih dengan hati-hati. Tidak ada yang mereka katakan secara langsung, tapi dari cara mereka bergerak, dari cara mereka memeriksa diri di cermin, dari cara mereka saling menatap singkat seolah memastikan semuanya sesuai jelas bahwa malam ini penting.

Ella mengingat setiap detail. Bukan sekadar pakaian. Tapi sikap. Cara berdiri. Cara berjalan. Cara tidak terlihat gugup. Ia mundur pelan, menutup pintu kamarnya tanpa suara, lalu berbalik ke arah Tante Rosa yang sudah menunggunya.

“Mereka sudah siap,” bisik Ella.

Tante Rosa mengangguk, tidak perlu penjelasan panjang.

“Berarti kita juga.” Tidak ada waktu untuk ragu.

Ella membuka lemari pakaiannya. Deretan baju yang selama ini terasa biasa kini terlihat berbeda. Ia tidak mencari yang paling mencolok, tidak juga yang paling sederhana. Ia memilih yang tepat, gaun panjang yang pernah ia simpan untuk acara-acara penting yang tidak pernah benar-benar terjadi. Warna yang elegan, potongan yang pas, cukup untuk membuatnya terlihat seperti bagian dari dunia yang akan ia masuki, tanpa menarik perhatian berlebihan.

Sepatu hak tinggi ia keluarkan dari kotaknya. Sudah lama tidak dipakai. Ia memegangnya sejenak, lalu mengenakannya dengan gerakan yang lebih mantap dari yang ia rasakan di dalam.

1
Fitria
Jangan lupa tinggalkan Like dan komen. terimakasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!