NovelToon NovelToon
Kisah Sang Penguasa

Kisah Sang Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Spiritual / Misteri
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blueria

Dengan kecerdasan aku menantang jalan ku sendiri. Aku bukanlah pahlawan atau penjahat besar tapi aku ada untuk keluargaku sendiri.

Dengan segala yang kumiliki aku menantang takdir, langit dan bumi dan menjadi penguasa dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 — Utusan She

Wang Yan membolak-balik plakat batu hijau di tangannya. Tekstur ukiran sisik ular itu terasa kasar di bawah ibu jarinya. Di tengahnya, terdapat karakter She yang berarti Ular.

Sebelumnya ia berspekulasi bahwa kedua pembunuh ini suruhan Keluarga Hong. Tapi dengan kedua plakat bertuliskan She ini Wang Yan menyadari bahwa mereka berasal dari kelompok rahasia yang ia kenal namun belum dikenal banyak orang. Kelompok yang bersembunyi di dalam bayang-bayang dunia, bahkan belum pernah muncul di muka umum secara terang-terangan.

“Apa alasan mereka menyerang ku? Pertemuan rahasia itu seharusnya dilakukan di pertengahan musim dingin.” gumam Wang Yan.

Wang Yan mengetahui informasi ini pada 11 bulan yang lalu, pada pertengahan musim dingin tahun 9998.

...*****...

Tahun 9998, awal musim dingin.

Malam itu adalah malam kedua perjalanan Wang Yan. Ia berada di dalam kereta kuda barisan ketiga dari lima kereta kuda yang membawa rombongan pedagang dan sarjana menuju Kota Qubei. Total ada sekitar dua puluh orang, termasuk 5 pengawal bayaran yang disewa untuk menjaga keamanan.

Tujuan Wang Yan ke Kota Qubei adalah untuk mencari informasi tentang Feng Bo yang tersegel di dalam kotak persegi dan kalung giok bulan sabit penginggalan ayahnya. Kota itu berada di selatan, berada di Provinsi Jinnan, paling dekat dengan Kota Qingshi lama.

Suasana sangat sunyi, hanya terdengar suara gesekan roda kayu di atas tanah dan embusan napas kuda yang berat. Namun, keheningan malam itu pecah secara brutal.

BUMMMMMM!

Sebuah ledakan energi spiritual menghantam bagian depan rombongan. Kereta paling depan hancur berkeping-keping dalam sekejap tanpa bisa menghindar, kayu-kayunya terlempar ke segala arah seperti serpihan kertas. Kuda-kuda meringkik histeris, beberapa orang jatuh tersungkur dengan luka bakar yang aneh, hitam dan tidak mengeluarkan darah.

Kepanikan terjadi setelah itu. 3 pengawal segera turun dari tiap rombongan barisan ke ketiga sampai kelima membentuk pertahanan.

“Ada serangan musuh! Semuanya bersiap!” teriak pemimpin pengawal di barisan kereta kuda kedua, seorang kultivator Lautan Spiritual lapisan kelima.

Ia melompat keluar dari kuda, tangannya segera bergerak mencabut pedang di punggungnya. Namun, baru saja bilah pedangnya keluar separuh dari sarungnya, sebuah kilatan hitam melesat melewati lehernya. Pengawal itu mematung, pedangnya jatuh berdenting, dan kepalanya menyusul jatuh ke tanah sebelum tubuhnya ambruk.

Di barisan ketiga kereta kuda Wang Yan, terdapat seorang wanita dan ayahnya serta pria paruh baya yang merupakan seorang sarjana. Karena panik, mereka langsung keluar dari kereta kuda.

Wang Yan mengintip dari celah jendela kereta yang miring. Ia melihat bahwa rombongannya bukan sengaja diserang oleh bandit ataupun faksi jahat, melainkan terjebak di tengah medan tempur dua sosok kultivator kuat.

Di tengah jalan yang hancur, dua orang sedang bertarung dengan intensitas yang sangat mengerikan.

Seorang pria mengenakan topeng hitam legam berbentuk kepala ular. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan terurai berantakan, berkibar tertiup angin yang dihasilkan dari energinya sendiri. Ia bertarung tanpa senjata. Tangannya diselimuti oleh Qi Elemen Api Hitam. Setiap pukulannya meninggalkan jejak hangus di udara dan mampu menekan udara dalam radius lima meter.

Sosok satunya kontras dengan lawannya. Ia seorang wanita yang memiliki rambut putih panjang yang berkilau di bawah cahaya bulan dan wajah yang sangat cantik, namun matanya sedingin es. Ia memegang sebuah pedang panjang yang memancarkan Qi Elemen Bambu. Setiap tebasannya menciptakan manifestasi energi hijau berbentuk batang-batang bambu runcing yang melesat tajam seperti tombak.

Pria bertopeng itu menghantamkan tinjunya ke tanah, mengirimkan gelombang api hitam yang langsung membakar satu kereta kuda di dekatnya. Wanita itu melompat ringan, pedangnya berputar menciptakan perisai dari jalinan energi bambu yang sangat kuat, menahan ledakan tersebut sebelum membalas dengan belasan jarum energi hijau.

Wang Yan yang saat itu masih seorang manusia fana, hanya bisa terdiam di dalam kereta kuda.

“Kemampuan kultivator itu... Apakah sama dengan kemampuanku?” gumam Wang Yan pelan.

Rasa penasaran muncul dalam benaknya. Pria bertopeng itu menggunakan api hitam untuk bertarung. Wang Yan penasaran apakah kemampuan yang digunakan pria itu sama dengan kemampuannya: Bara Pelebur Jiwa yang telah ia pelajari kurang lebih selama 5 tahun. Tapi ia segera menepis pemikiran itu, perihalnya kabur dari sini lebih penting dari hal apapun.

Kedua kultivator itu bertarung dengan intens, memakai segala yang mereka miliki untuk menang. Pertarungan hidup dan mati, entah apa tujuan mereka.

Di tengah kekacauan itu, ledakan energi besar menghantam bagian belakang kereta kuda Wang Yan, menghancurkan roda dan membuat badan kereta miring seketika.

Wang Yan yang sedang bersiap untuk melompat keluar mendadak mengurungkan niatnya karena ia menyadari bahwa lari ke arah kegelapan hutan di sekitar medan tempur ini justru akan membuatnya menjadi sasaran empuk bagi sisa-sisa energi yang beterbangan.

Ia memutuskan untuk tetap merunduk di balik reruntuhan kayu, menahan napas sambil mengamati setiap detail pergerakan api hitam yang keluar dari tangan pria bertopeng ular tersebut.

Wang Yan menyadari bahwa meskipun api itu terlihat serupa dengan Bara Pelebur Jiwa miliknya, api milik pria itu lebih bersifat fisik dan destruktif. Sementara api miliknya terasa jauh lebih dingin dan menargetkan jiwa.

Pertarungan mencapai puncaknya saat wanita berambut putih itu mengeluarkan tebasan terakhir yang menciptakan puluhan manifestasi bambu raksasa menyerupai pedang, namun pria bertopeng ular itu tidak memberikannya ruang untuk mengeluarkan serangan pamungkas. Ia menerjang maju tanpa memedulikan luka-luka di tubuhnya. Ia menggunakan sebuah artefak misterius, menghantamkan tinju api hitam yang lebih berkilat-kilat tepat ke arah jantung sang wanita.

Wanita itu mencoba bertahan. Akibat perubahan pada aliran energi di dalam dantiannya saat sedang memanifestasikan teknik pamungkasnya. Ia merasakan ledakan spiritual di dalam dantiannya.

Serangan pria bertopeng ular terlalu kuat. Wanita itu tidak bisa bertahan. Ia terhempas jauh, menabrak pohon besar hingga batangnya hancur, dan tidak lagi menunjukkan tanda-tanda kehidupan selain sisa-sisa Qi hijau yang perlahan memudar dari udara di sekitar tubuhnya.

Pria bertopeng itu berdiri terhuyung-huyung dengan luka menganga di perutnya, namun indranya yang tajam segera menangkap keberadaan Wang Yan yang masih bersembunyi di balik kereta.

“Keluar kau, tikus kecil yang sedari tadi hanya berani mengintip di balik rongsokan kayu itu, atau aku akan memastikan sisa napasmu terhenti bersama dengan kereta itu!” seru pria bertopeng itu dengan suara yang serak. Padahal ia bisa saja menghancurkan kereta kuda itu jikalau energi spiritualnya tidak terkuras habis saat ini.

Wang Yan keluar dengan perlahan, mengangkat kedua tangannya untuk menunjukkan bahwa ia tidak memegang senjata, namun dalam sekejap pria itu sudah berada di depannya dan mencengkeram leher Wang Yan dengan sangat kuat.

Pria bertopeng itu tertegun sejenak saat melihat wajah Wang Yan di bawah sinar bulan, matanya yang merah karena amarah mendadak menunjukkan kilatan pengenalan yang aneh seolah-olah ia baru saja melihat hantu dari masa lalu.

‘Bocah ini?! Wajahnya itu... garis rahang dan sorot mata dingin yang angkuh itu... aku mengenalinya dengan sangat baik dalam daftar target yang seharusnya sudah musnah bertahun-tahun yang lalu!’ batin pria itu sambil mempererat cengkeramannya hingga wajah Wang Yan membiru.

...

1
BlueHeaven
*Seharusnya Hukum Dinasti
Ajipengestu
Lanjut💪
Author Lover's
Belum ngontrak ni thor?
BlueHeaven: makasih ya💪👋
total 3 replies
Nanik S
Wang Bo... apa lupa Ingatan
BlueHeaven: Bisa dikatakan seperti itu bang, ingatannya Feng Bo terpecah karena suatu hal yang akan di ceritakan alasannya dalam Arc besar.
total 1 replies
Nanik S
Hadir
BlueHeaven: Absen terus💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!