NovelToon NovelToon
Kisah Sang Penguasa

Kisah Sang Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Spiritual / Misteri
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Blueria

Dengan kecerdasan aku menantang jalan ku sendiri. Aku bukanlah pahlawan atau penjahat besar tapi aku ada untuk keluargaku sendiri.

Dengan segala yang kumiliki aku menantang takdir, langit dan bumi dan menjadi penguasa dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 — Menghapus Ambisi Lama [REVISI]

“Argh.”

Tubuh Wang Yan bergetar hebat. Ia menjerit kesakitan, pandangannya seketika buram.

Wang Yan tahu sebelum memulai 'cara ini', rencana ini tidak akan segampang membalikkan kertas. Beruntungnya dia berhasil menyelesaikan aktingnya sebelum dirinya ditumbangkan api hitam.

Wang Yan melangkah mundur satu langkah. Lututnya hampir tidak bisa berdiri. Ia berpegangan pada tepi meja di sampingnya, menopang setengah berat badannya dengan tangan gemetar.

“Cough—” Segumpal darah segar dimuntahkan Wang Yan.

Cough!... Wang Yan batuk empat kali lagi.

“Ahh, aku terlalu berlebihan.” gumamnya. Suaranya serak, darah segar menempel di bibir mulutnya.

“Tidak mungkin dengan tingkatan ku saat ini menahan Bara Pelebur Jiwa akan mudah. Aku benar-benar terlalu ceroboh.”

Bara Pelebur Jiwa. Nama api hitam misterius yang diberikan Wang Yan setelah enam tahun mempelajari konsep-konsep serta kegunaannya.

Wang Yan belum sepenuhnya memahami Bara Pelebur Jiwa. Ia tidak tahu mengapa kekuatan misterius itu bisa ada padanya.

Wang Yan menyimpulkan bahwa kemampuan ini hampir sama seperti Kitab Agung Penipu Langit. Kemampuan yang dapat mengguncang langit dan bumi, bahkan dirinya yang bukanlah seorang kultivator bisa menggunakannya. Membunuh beberapa orang jahat dan makhluk kuno dengan kesadaran seperti Feng Bo.

Wang Yan tidak mengabaikan kemampuannya ini. Dengan kecerdasan yang ia miliki, Wang Yan memegang rahasia yang 'dia sembunyikan' dari semua orang berkat Bara Pelebur Jiwa.

Keringat dingin sudah membasahi punggungnya selama proses penekanan kepada Feng Bo berlangsung. Pada saat ia berbicara dengan nada tenang kepada Feng Bo, Bara Pelebur Jiwa yang ia gunakan terlalu lama untuk menekan jiwa Feng Bo menghabiskan sangat banyak staminanya, lebih dari yang ia perhitungkan. Namun, demi kesempurnaan aktingnya, ia tetap melanjutkannya.

Wang Yan mengusap sudut bibirnya dengan punggung tangan kanannya. Ia menatapnya sebentar, kemudian menghembuskan napas panjang.

“Ha—.... Jika aku berada dalam keadaan 'itu'? Itu akan menjadi kesalahan besar ...”

Wang Yan tidak melanjutkannya, ia pikir; dia harus lebih berhati-hati dalam menggunakan kemampuan Bara Pelebur Jiwa dalam pertarungan sungguhan. Kemampuan ini sangat kuat tapi juga pedang bermata dua. Kesalahan yang ia lakukan sekarang akan menjadi pembelajaran untuknya dimasa depan.

Tangan Wang Yan masih sedikit gemetar saat ia meluruskan posisi tubuhnya. Keringat di pelipisnya tidak berhenti. Beberapa detik ia hanya berdiri diam. Kemudian ia duduk bersila, membiarkan sirkulasi pernapasan di tubuhnya perlahan menemukan jalurnya kembali.

Setelah napasnya cukup stabil, pandangannya jatuh ke lantai. Di antara sisa dari debu Feng Bo yang telah ia hancurkan, ada sesuatu yang tampak asing di matanya.

Wang Yan mendekat. Di tengah-tengah sisa-sisa debu dari batu hitam yang telah ia hancurkan, terdapat sebuah kristal bulat seukuran kelereng. Tidak hitam pekat seperti Feng Bo. Itu berwarna hitam keemasan dengan ukiran kaligrafi rumit berwarna merah pekat.

“Apa itu? Bara Pelebur Jiwa tidak menghancurkannya?”

Wang Yan tidak menyentuhnya. Ia hanya memandanginya beberapa saat karena kepalanya sedang dalam keadaan buruk. Ia tidak dapat mengambil kesimpulan tepat apapun saat ini.

“Setelah hancur pun, kau masih menyisakan misteri untukku.” gumam Wang Yan.

Ia berdiri kembali. Tubuhnya masih terasa berat, kepala yang berdenyut mengingatkannya bahwa ia saat ini sudah melampaui batas yang seharusnya untuk malam ini.

Wang Yan menarik kotak persegi dari meja, memasukkan kristal itu kedalamnya dengan menempelkan kertas segel tersisa untuk berjaga-jaga.

“Malam ini aku sudah mengambil lebih dari cukup. Kitab Agung Penipu Langit, aku tidak sabar untuk segera mempelajarinya lebih lanjut.”

Sebelum tidur, Wang Yan membersihkan sisa kotoran darah di wajah serta lantai ruangan. Berjaga-jaga jika adik atau pamannya masuk kedalam tidak akan membuat mereka khawatir.

...........

“Yan’ge, bangun! Cuci muka mu!. Waktunya makan!”

Teriakan perempuan datang dari luar kamar. Wang Yan tahu persis suara siapa itu. Itu milik adik perempuannya, Lin Yue. Setiap pagi ia selalu membangunkannya. Tidak ada kebosanan saat ia mendengarnya.

“Ya, aku datang... Uh ...” katanya, sisa-sisa sakit kepala tadi malam masih membekas sedikit.

Di meja makan, dua orang sudah menunggu.

Huo Ting duduk di sisi kanan meja. Ia mengenakan jubah abu-abu longgar berpotongan sederhana. Wajahnya sedikit berkerut. Badannya cukup tegap untuk seseorang pria berusia 42 tahun.

Bagi Keluarga Wang yang hanya tersisa Wang Yan. Paman Huo Ting adalah satu-satunya bawahan paling setia.

Bagi Wang Yan sendiri, Huo Ting sudah lama menjadi sesuatu yang lebih dari itu. Ia adalah figur seorang ayah pengganti. Pria baik hati dan penuh perhatian sejak ia masih kecil.

Di sisi kiri, Lin Yue menatapnya dengan senyuman yang sudah hadir, bahkan sebelum Wang Yan sempat duduk.

Lin Yue berusia 15 tahun. Ia mengenakan hanfu berwarna putih bersih dengan sulaman bunga kecil di bagian kerah. Rambutnya yang berwarna putih susu tergerai bebas tanpa di kuncir. Mengikuti gaya rambut kakak laki-lakinya. Matanya tenang seperti permukaan danau di pagi hari. Semua orang dapat mengatakan paras Lin Yue bak peri yang jatuh dari kahyangan.

Sarapan pagi mereka berlangsung seperti biasa. Lin Yue berbicara cukup banyak untuk mengisi keheningan. Huo Ting sesekali menimpali dengan komentar singkat. Wang Yan mendengarkan, serta menjawab beberapa pertanyaan yang di lontarkan adiknya itu.

“Yue’er. Paman.” Suara Wang Yan memecah obrolan.

Lin Yue dan Huo Ting menghentikan gerakan sumpit mereka secara bersamaan. Mereka menoleh, menatap wajah Wang Yan yang tampak lebih serius dari biasanya.

“Ada apa, Yan’ge?”

“Ada apa, Yan’er?” Huo Ting menyahut hampir di saat yang sama, nada suaranya menyiratkan kekhawatiran.

Wang Yan meletakkan alat makannya dengan perlahan, menciptakan denting halus di atas meja kayu. Ia menarik napas pendek untuk memantapkan suaranya. “Mulai hari ini, aku memutuskan untuk berjalan di jalan kultivator.”

Hening menyergap meja makan selama beberapa detik.

Mata Lin Yue membelalak. Sumpit di tangannya hampir saja terlepas. Selama ini, ia sangat mengenal ambisi kakaknya. Kakak laki-lakinya selalu mengubur diri di antara tumpukan buku, bertekad menjadi seorang sarjana besar yang dihormati karena kecerdasannya. Menjadi lebih hebat dari mendiang 'ayahnya'.

“Kultivator?” Lin Yue mengulang kata itu dengan nada tidak percaya. “Tapi Kakak selalu bilang bahwa pena lebih tajam dari pedang. Kenapa tiba-tiba merubah jalannya yang telah ia bangun sejak kami kecil...” gumam Lin Yue.

Kalimat Lin Yue menggantung. Ia menatap mata kakaknya, mencari jawaban di sana. Ingatannya kemudian beralih pada tekanan yang diberikan oleh Keluarga Besar Hong kepada mereka pada 4 hari yang lalu. Ia tidak tahu mengapa keluarga besar seperti Keluarga Hong berusaha menindas mereka.

“Yan’ge melakukannya untuk melindungi kami.” Batin Lin Yue.

Rasa hangat sekaligus sesak karena dirinya terlalu lemah memenuhi dadanya. Ia tahu kakaknya sedang mengorbankan impian lamanya demi keamanan mereka bertiga. Namun, ia tidak bisa mengatakan apa isi hatinya. Dia terlalu lemah, hanya menjadi beban—Pikirnya.

Di sisi lain, Huo Ting tetap tenang, namun sorot matanya berubah tajam untuk sesaat. Ada kilatan emosi yang ia tekan dalam-dalam di balik wajah tuanya yang berkerut.

Ekhem!

Huo Ting berdehem, memecah keheningan yang sempat mencekam. Ia menatap Wang Yan dengan pandangan penuh dukungan.

“Yan’er. Karena kau sudah memantapkan hati, apa kau sudah memutuskan pergi ke sekte mana? Atau kau ingin berlatih dahulu dengan pamanmu ini?”

...

1
BlueHeaven
*Seharusnya Hukum Dinasti
Ajipengestu
Lanjut💪
Author Lover's
Belum ngontrak ni thor?
BlueHeaven: makasih ya💪👋
total 3 replies
Nanik S
Wang Bo... apa lupa Ingatan
BlueHeaven: Bisa dikatakan seperti itu bang, ingatannya Feng Bo terpecah karena suatu hal yang akan di ceritakan alasannya dalam Arc besar.
total 1 replies
Nanik S
Hadir
BlueHeaven: Absen terus💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!