Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Lantai rumah sakit yang dingin dan beraroma antiseptik itu menjadi saksi bisu runtuhnya harga diri keluarga Wijaya.
Baskara duduk di kursi rodanya di depan ruang perawatan Gea, sementara Gabby, asistennya, baru saja menyelesaikan administrasi pembayaran seluruh biaya pengobatan.
Dokter keluar dengan wajah serius, membawa map rekam medis.
"Tuan Mahendra, kondisi Nona Gea sudah stabil. Luka fisiknya akan sembuh, namun ada hal penting yang harus Anda ketahui."
Baskara menaikkan sebelah alisnya. "Katakan."
"Nona Gea sedang hamil. Usia kandungannya baru memasuki minggu kedelapan. Tekanan mental dan fisik yang dialaminya sangat berisiko bagi janin tersebut," jelas Dokter pelan.
Baskara terdiam sejenak. Kabar ini adalah pukulan telak.
Kemudian ia memberi isyarat agar dokter meninggalkannya.
Baskara memutar kursi rodanya masuk ke dalam kamar, di mana Gea sudah siuman dengan mata sembab dan tatapan kosong ke arah langit-langit.
"Kamu dengar itu? Ada nyawa lain di dalam tubuhmu," suara Baskara berat, memecah kesunyian.
Gea tersentak, air matanya kembali luruh. Ia memegang perutnya yang masih rata dengan tangan gemetar.
"Jayden memperlakukanmu seperti sampah, padahal kau mengandung anaknya. Sekarang pertanyaanku, apakah kamu masih mau mempertahankan pernikahan toxic-mu itu?" tanya Baskara dengan tatapan tajam yang seolah menembus sukma Gea.
Gea menggelengkan kepalanya dengan kuat. Rasa benci dan takut pada Jayden kini jauh lebih besar daripada rasa cintanya yang dulu menggebu.
"Tidak, Bas. Aku tidak mau kembali padanya. Dia akan membunuhku dan bayi ini."
Baskara mengangguk pelan. Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari balik jasnya.
"Aku melakukan ini bukan karena aku peduli padamu, tapi karena Ambar memiliki hati yang terlalu lembut untuk melihat adiknya hancur seperti ini," ucap Baskara dingin.
"Dengarkan syaratku. Aku akan memberimu sebuah rumah kecil di pinggiran kota yang jauh dari sini, tempat yang tidak akan bisa ditemukan oleh Jayden. Rumah itu akan menjadi milikmu dan kedua orang tuamu. Aku juga akan memberimu modal usaha secukupnya agar kamu bisa berjualan dan hidup mandiri dari kakimu sendiri."
Mata Gea membelalak, seolah tak percaya pada kemurahan hati pria yang dulu ia khianati.
"Tapi ada syaratnya," lanjut Baskara.
"Tinggalkan Jayden selamanya. Ceraikan dia, dan tinggalkan kota ini malam ini juga setelah kamu keluar dari rumah sakit. Jika aku melihatmu atau orang tuamu muncul lagi di hadapan Ambar atau di kota ini, aku akan memastikan kalian semua berakhir di jalanan tanpa satu sen pun. Mengerti?"
Gea menangis sesenggukan, kali ini tangisan penuh rasa syukur dan penyesalan.
"Terima kasih, Bas. Terima kasih. Aku janji, aku akan pergi.
Aku akan Saat tiba di rumah sakit, mereka disambut oleh tim dokter Jerman, namun Ambar mendapati salah satu perawat menebus semua kesalahanku pada Kak Ambar dengan menghilang dari hidupnya."
Baskara memutar kursi rodanya keluar tanpa menoleh lagi.
Baginya, ini adalah cara terbaik untuk membersihkan "sampah" dari kehidupan Ambar tanpa harus menumpahkan darah, sekaligus memberikan perlindungan terakhir bagi wanita yang pernah menjadi bagian dari masa lalu istrinya itu.
Mobil hitam Baskara kembali terparkir di depan butik saat senja mulai merona jingga.
Di dalam ruang kerja Ambar yang harum akan aroma kain baru dan melati, suasana berubah menjadi sangat hangat.
Baskara menceritakan keputusannya tentang Gea—tentang rumah kecil di luar kota, modal usaha, dan janji Gea untuk menghilang demi kedamaian mereka.
Ambar mengembuskan napas panjang, beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya seolah terangkat seketika.
"Terima kasih, Bas. Kamu tahu persis cara menyelesaikan semuanya tanpa membuat tanganku kotor," ucap Ambar tulus.
Sebagai perayaan atas ketenangan baru mereka, Baskara meminta pelayan pribadinya membawakan makan malam mewah ke ruang kerja Ambar.
Meja desain yang biasanya penuh dengan sketsa, kini tertutup taplak putih dengan lilin aromaterapi dan hidangan steak wagyu yang menggugah selera.
Di tengah denting garpu dan pisau, Baskara menatap Ambar dengan tatapan yang dalam, tatapan yang selalu membuat jantung Ambar berdesir.
"Kadang aku berpikir, Ambar. Hidup ini sungguh ajaib," gumam Baskara sambil memutar gelas kristalnya.
"Andaikan malam itu kamu tidak melihatku di pinggir jembatan, mungkin sekarang aku sudah berada di surga, tenang dan tidak perlu memikirkan kerumitan dunia ini."
CUBIT!
Ambar mendaratkan cubitan gemas di lengan Baskara hingga pria itu meringis kaget.
"Aww! Sayang, kenapa dicubit?" protes Baskara sambil mengusap lengannya.
"Neraka, Bas! Bukan surga!" semprot Ambar dengan mata melotot jenaka.
"Kamu kan niatnya mau bunuh diri malam itu. Orang yang putus asa dan mau menyerah pada hidup itu tempatnya bukan di surga. Untung saja aku lewat dan 'menangkap' naga galak sepertimu."
Baskara tertegun sejenak mendengar jawaban jujur bin sadis istrinya, lalu sedetik kemudian, tawa baritonnya pecah memenuhi ruangan.
Ia tertawa terbahak-bahak hingga bahunya berguncang hebat.
"Hahaha! Kamu benar, Ambar! Kamu benar-benar penyelamatku dari pintu neraka kalau begitu," ucap Baskara di sela tawanya. ia meraih tangan Ambar dan mengecupnya lama.
"Terima kasih sudah 'menangkapku' malam itu. Sekarang, naga galak ini hanya ingin berada di duniamu, bukan di surga atau neraka mana pun."
Ambar ikut tertawa, menyandarkan kepalanya di bahu Baskara.
Malam itu, di tengah kain-kain indah dan desain gaun yang megah, mereka menyadari bahwa luka masa lalu hanyalah anak tangga untuk mencapai kebahagiaan yang sekarang mereka genggam erat.
Cahaya lilin di atas meja desain Ambar menari-nari, memantul di mata keduanya yang penuh binar kebahagiaan. Namun, momen romantis itu terinterupsi oleh getaran ponsel Baskara di atas meja.
Baskara melirik layar, wajahnya seketika berubah serius saat melihat nama "Dr. Aris" tertera di sana.
"Ya, Dok?" jawab Baskara pelan.
Ambar memperhatikan perubahan raut wajah suaminya.
Ia terdiam, membiarkan Baskara mendengarkan penjelasan panjang lebar dari seberang telepon. Setelah beberapa menit, Baskara menutup teleponnya dengan helaan napas yang berat.
"Apa katanya, Bas?" tanya Ambar lembut, jemarinya mengusap punggung tangan Baskara.
Baskara menatap kakinya yang tertutup kain celana kain mahal, lalu kembali menatap istrinya.
"Dokter Aris bilang, tim ahli dari Jerman sudah tiba. Mereka sudah meninjau ulang hasil pemindaian sarafku. Mereka menjadwalkan operasi besar minggu depan. Katanya, ini kesempatan terbaikku."
Mata Ambar berbinar cerah, ia hampir melompat dari kursinya.
"Bas! Ini berita luar biasa! Jangan kamu tunda lagi, Bas. Mungkin saja kamu benar-benar bisa berjalan lagi setelah ini. Kita bisa berdansa di peresmian butikku nanti!"
Baskara terdiam, guratan kecemasan nampak jelas di dahinya.
Ia menggenggam tangan Ambar erat-erat, seolah takut melepaskannya.
"Tapi Ambar, ini bukan operasi kecil. Pemulihannya membutuhkan waktu yang sangat lama. Berbulan-bulan aku harus di rumah sakit dan menjalani terapi intensif yang menyakitkan," ucap Baskara dengan nada rendah.
"Lalu bagaimana denganmu? Butikmu baru saja akan dibuka, kamu sedang sibuk-sibuknya. Aku tidak mau menjadi beban dan membuatmu kehilangan fokus pada impianmu hanya untuk mengurus pria lumpuh ini."
Ambar berpindah posisi, ia berlutut di samping kursi roda Baskara agar posisi mata mereka sejajar.
Ia menangkup wajah suaminya dengan penuh kasih.
"Dengarkan aku, Baskara Mahendra," ucap Ambar tegas namun lembut.
"Butik ini adalah impianku, tapi kamu adalah hidupku. Aku sudah terbiasa bekerja keras, dan aku punya Thomas serta tim yang hebat. Jangan jadikan kesuksesanku sebagai alasan untuk kamu menyerah pada kesehatanmu."
Ambar mengecup kening Baskara lama. "Aku ingin suamiku sehat. Aku ingin melihatmu berdiri tegak lagi. Masalah waktu dan kesibukan, kita akan hadapi bersama. Jadi, tolong... lakukan operasi ini untuk kita, ya?"
Baskara menatap mata Ambar yang penuh keyakinan.
Perlahan, senyum tipis muncul di bibirnya. Rasa takut yang tadi menyelimutinya seolah luntur oleh keberanian istrinya.
"Baiklah, Sayang. Kalau itu maumu, aku akan melakukannya," bisik Baskara sambil menarik Ambar ke dalam pelukannya.
"Tapi berjanjilah, jangan pernah kelelahan karena mengurusku dan butik sekaligus."
Ambar tertawa kecil dalam dekapan Baskara. "Janji! Lagipula, aku punya Black Card darimu untuk membeli suplemen terbaik, kan?"
Baskara tertawa terbahak-bahak, suasana kembali mencair.
Malam itu ditutup dengan sebuah keputusan besar yang akan mengubah hidup mereka selamanya.