Di mata dunia, aku adalah Nyonya Kalandra yang terhormat. Di mata suamiku, aku hanyalah penipu yang menjijikkan."
Dua tahun Isvara bertahan dalam pernikahan dingin karena sebuah Perjanjian Pra-Nikah yang membelenggunya. Andra, suaminya yang dulu memujanya, kini hanya menyisakan kebencian sedalam samudra setelah rahasia identitas Isvara terbongkar.
Andra tidak tahu, di balik aura tegas Isvara yang disegani banyak orang, jantung wanita itu sedang menghitung mundur sisa detaknya. Isvara tidak butuh dimaafkan, dia hanya ingin bertahan sampai napas terakhirnya habis tanpa ada yang perlu merasa kehilangan.
Saat Isvara akhirnya menyerah dan berhenti membujuk, mampukah Andra tetap membencinya ketika menyadari bahwa "penipuan" terakhir Isvara adalah menyembunyikan kematiannya sendiri?
"Kebencianmu adalah alasan jantungku masih berdetak, Andra. Tapi sekarang, aku sudah lelah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara
Isvara menarik napas panjang untuk terakhir kalinya sebelum menyembunyikan kembali tabung oksigen kecil itu ke dalam tas clutch-nya. Oksigen itu memberikan sedikit kekuatan palsu pada tubuhnya yang nyaris ambruk. Ia merapikan gaun velvet birunya, memastikan tidak ada debu atau kerutan yang tertinggal, lalu keluar dari mobil dengan sisa tenaga yang ia miliki.
Andra sudah berdiri beberapa langkah di depan, memunggunginya, seolah-olah ia sedang menunggu seorang pelayan, bukan istrinya. Begitu Isvara berdiri di sampingnya, Andra langsung menyambar pergelangan tangan Isvara dan melingkarkannya ke lengannya sendiri dengan paksa.
"Tegakkan kepalamu. Jangan membuat malu," bisik Andra tajam di telinga Isvara.
Isvara hanya membalas dengan tatapan dingin. "Saya sudah biasa menanggung malu karena Anda, Adrian. Jadi, simpan perintah Anda."
Mereka melangkah masuk ke dalam ballroom kediaman Wiratmadja yang megah. Lampu kristal yang menggantung di langit-langit memantulkan cahaya ke segala penjara, menyilaukan mata Isvara yang sebenarnya mulai sedikit berkunang-kunang. Namun, ia memaksakan kakinya untuk melangkah dengan anggun. Setiap pasang mata tertuju pada mereka pasangan emas Prayudha Group yang selalu tampak sempurna dari luar.
Di tengah kerumunan, sosok yang sejak tadi Andra sebutkan akhirnya terlihat. Pria itu berdiri dikelilingi oleh para investor kelas atas. Dewa Abraham. Ia tampak jauh lebih dewasa, lebih tegap, dan memancarkan aura kesuksesan yang matang dalam setelan tuksedo abu-abu gelapnya. Di sampingnya, seorang wanita cantik dengan gaun perak yang elegan menggelayut manja di lengannya istrinya.
Jantung Isvara berdenyut nyeri. Bukan karena ia masih menyayangi pria itu, tapi karena rasa sakit akibat pengkhianatan masa lalu kembali mencuat. Dewa adalah orang yang menjanjikannya perlindungan saat mereka masih di panti, namun kini, pria itu berdiri di sana sebagai orang asing yang sukses, bahkan tanpa pernah mengirimkan kabar saat Isvara mencapai titik terendahnya.
"Ayo, Vara. Temui pahlawanmu," ejek Andra pelan sembari menggiring Isvara mendekat.
Begitu jarak mereka hanya tersisa beberapa meter, Dewa menoleh. Matanya yang tajam langsung menangkap sosok Isvara. Untuk sesaat, Dewa mematung. Gelas sampanye di tangannya hampir saja miring. Matanya memindai wajah Isvaramwajah yang dulu selalu ia lindungi, kini tertutup riasan tebal dan berdiri di samping pria paling ambisius di Jakarta.
"Andra! Senang kamu bisa datang," sapa Tuan Wiratmadja, sang tuan rumah, memecah kecanggungan. "Dan ini pasti Isvara, arsitek jenius di balik Grand Prayudha Bali?"
Andra tersenyum lebar, senyum bisnis yang sempurna. "Tentu saja. Dan Isvara, kenalkan ini rekan bisnis strategis kita yang baru kembali dari London, Dewa Abraham."
Dewa melangkah maju. Tatapannya tidak lepas dari mata Isvara yang dingin. "Lama tidak bertemu... Isvara," ucap Dewa dengan suara rendah yang sedikit bergetar.
Isvara tidak menunjukkan emosi sedikit pun. Ia bahkan tidak membiarkan satu celah kecil pun di wajahnya menunjukkan bahwa ia mengenal pria ini. Ia mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung tangan tipis. "Selamat malam, Tuan Dewa Abraham. Suatu kehormatan bisa bertemu dengan rekan bisnis suami saya. Semoga kerja sama kita berjalan lancar."
Dewa terpaku. Panggilan "Tuan" dan sebutan "rekan bisnis suami" itu terasa seperti tamparan keras di wajahnya. Ia ingat gadis kecil yang dulu memanggilnya "Kak Dewa" dengan mata berbinar. Sekarang, di depannya hanya ada seorang wanita asing yang tampak sangat cantik namun sangat jauh.
"Vara... kamu..." Dewa hendak bicara lebih lanjut, namun istrinya segera menyela.
"Oh, jadi ini Isvara Kalandra yang terkenal itu? Saya sering mendengar nama Anda disebut-sebut dalam diskusi desain di London," ucap istri Dewa dengan senyum manis yang dipaksakan.
Andra semakin merapatkan rangkulannya pada pinggang Isvara, seolah sedang memamerkan barang berharga miliknya. "Istri saya memang selalu menjadi pembicaraan. Dia bukan hanya cantik, tapi dia adalah otak dari Prayudha Group. Benar kan, Sayang?" Andra mengecup pelipis Isvara di depan Dewa, sebuah tindakan posesif yang membuat Isvara merasa ingin muntah.
Dialog basa-basi itu berlanjut cukup lama. Dewa mencoba menanyakan beberapa hal tentang masa lalu, namun Andra selalu punya cara untuk memutar pembicaraan kembali ke arah profesional atau kemesraan mereka, seolah-olah ia sedang memagari Isvara agar tidak bisa disentuh oleh kenangan masa lalu Dewa.
Isvara menahan napas. Ia merasa dadanya semakin sesak karena tekanan di pinggangnya dan aroma parfum Andra yang begitu pekat. "Tentu," jawab Isvara singkat. "Jika tidak ada lagi yang dibicarakan, saya permisi sebentar untuk mencari udara segar. Udara di sini agak... mencekam."
Isvara melepaskan diri dari Andra tanpa menunggu persetujuan. Ia berjalan menjauh menuju arah balkon, mengabaikan tatapan Dewa yang terus mengikutinya dengan penuh rasa bersalah dan kebingungan.
Di balkon yang sepi, Isvara mencengkeram pagar pembatas. Ia terbatuk kecil, menutup mulutnya dengan sapu tangan. Saat ia melihat sapu tangan itu, ada noda kemerahan kecil di sana. Isvara tersenyum pahit.
"Perlindungan, ya?" bisiknya pada kegelapan malam. "Pada akhirnya, aku hanya punya diriku sendiri."
Tanpa ia sadari, seseorang berdiri di ambang pintu balkon, memperhatikannya dengan tatapan nanar. "Vara... apa yang terjadi padamu?" suara Dewa terdengar dari belakang.
Isvara tidak berbalik. Ia hanya mengusap sudut bibirnya dan menegakkan punggungnya kembali. "Tuan Dewa, saya rasa tempat Anda ada di dalam, di samping istri Anda. Bukan di sini, mengganggu privasi istri orang lain."
Aku sesak Isvara...