"Jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari bayanganku, Mika. Karena sedetik saja kamu menghilang, aku akan pastikan dunia ini mencarimu dengan cara yang tidak akan pernah kamu lupakan."
Mikaela siswi SMA cantik dari keluarga yang biasa. Suatu malam mengubah segalanya. Menyaksikan dan bertemu dengan Arlan Gavriel—pria berkuasa di Kota Glazy, menghabisi nyawa seseorang dan membuatnya menjadi tawanan yang harus dimiliki Arlan sepenuhnya. Terjebak dalam keadaan yang tidak menguntungkan, perlahan ada rasa tumbuh di benak Mika setelah mengetahui sisi lain dari Arlan. Arlan adalah monster berdarah dingin, tapi juga penyelamat bagi Mika.
Ada apa dengan Mika dan Arlan? Kenapa Arlan membuatnya sebagai Tawanan? Apakah hanya karena melihat kejadian malam itu? Atau ada sesuatu yang harus Mika bayar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Voyager, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketegangan Arlan dan Tristan
“Maaf.”
Mika membalikkan badannya perlahan. Tatapannya datar saat menatap Tristan, tanpa emosi yang jelas, justru itu yang membuatnya terasa dingin.
“Kamu pikir aku akan memaafkan?” balas Mika ketus. Tangannya bertolak pinggang. “Untuk apa kamu lakukan itu? Biar apa? Aku pikir kamu beda ... ternyata sama saja.”
Nada suaranya semakin tajam.
“Kalian semua sama.” Mika memutar tubuhnya, berniat pergi. Namun, suara Tristan menahannya.
“Apa yang kamu lihat dari dia?”
Langkah Mika terhenti.
“Saat ini dia udah ada yang punya. Bahkan sebentar lagi menikah,” lanjut Tristan. Suaranya tidak tinggi, tetap lembut, tapi setiap katanya menusuk.
“Apa yang kamu lihat dari dia, Mika?”
Mika perlahan menoleh. Tatapannya berubah. Ia berjalan mendekat. Setiap langkahnya seperti menahan emosi yang hampir meledak.
“Kamu?” Mika tertawa kecil tanpa humor. “Apa hubungannya kamu sama aku?” Ia berdiri tepat di depan Tristan.
“Kamu cuma orang yang baru datang kemarin. Tapi bicaramu seolah-olah kamu tau segalanya tentang hidupku.”
Tatapannya menajam.
“Apa bedanya kamu sama dia? Kalian sama-sama datang tanpa diundang. Sama-sama sok tau!”
Hari itu, Mika terlihat berbeda. Tetapi di balik itu, ada kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan.
“Jadi aku mohon ... jangan temui aku lagi.”
Mika berbalik. Kali ini, ia benar-benar pergi. Langkahnya semakin cepat. Jantungnya tidak bisa ia kendalikan.
Deg! Deg! Deg!
Napasnya mulai terasa berat. Sampai di depan kontrakan.
Klik!
Bruak!
Ia membuka pintu dengan tergesa, lalu menutupnya keras. Tubuhnya bersandar di pintu.
Deg! Deg! Deg!
Jantungnya semakin tak terkendali.
“Hngh ... hhh!” Napasnya tersengal. Udara terasa menipis. angannya meremas pakaian di dada. “Hngh… hhh…!”
Ia berusaha mengambil ponselnya. Namun, tangannya gemetar hebat. Layarnya buram di matanya. Ia mencoba mengetik, tapi gagal. Napasnya semakin tidak teratur. Rasa sesak menjalar.
Akhirnya, Ia menekan panggilan secara acak. Ponsel berdering.
Klik.
Ketika panggilan itu terjawab. Mika berusaha memperjelas suaranya. “To—long ... hngh ... to—long—”
Duk!
Tubuh Mika jatuh ke lantai. Ponsel terlepas dari tangannya.
“Hallo? Hei, hallo?!” Suara di seberang terdengar panik. Namun, Mika sudah tidak bisa menjawab.
Di luar, Tristan masih berdiri di depan gapura kontrakan. Kepalanya menunduk. Seolah memikirkan sesuatu. Senyum tipis perlahan muncul di bibirnya. Lebih seperti rencana yang berjalan sesuai arah.
Tak lama kemudian, sebuah mobil merah dengan simbol keluarga Gavriel berhenti di depan. Arlan turun dengan cepat.
Sekilas tatapannya langsung menangkap sosok Tristan. Namun, itu cukup membuat rahangnya mengeras.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyanya dingin.
Tristan mengangkat bahu santai. “Menunggu sesuatu yang menarik,” jawabnya ringan.
Arlan tidak membalas. Instingnya sudah berbunyi. Ia berlari masuk.
Bruak!
Pintu kontrakan didobrak tanpa ragu. Ia menemukan Mika tergeletak di lantai. Wajahnya pucat.
“Mika!”
Arlan langsung mengangkat tubuhnya. Tanpa berpikir panjang, ia membawanya ke mobil. Tristan berdiri di pintu. Menatap semuanya.
Wuuuuss!
Mobil melaju kencang. Arlan menggenggam setir dengan kuat. Tatapannya lurus. Sesekali ia melihat ke kaca spion. Memastikan Mika masih bernapas.
“Bertahan—” gumamnya pelan.
Satu jam perjalanan, akhirnya Arlan sampai di depan rumah sakit.
“Cepat! Bawa ke IGD!” perintah Dokter Hendra saat melihat kondisi Mika.
Para perawat bergerak cepat. Mika langsung ditangani. Beberapa jam kemudian akhirmya Dokter Hendra keluar.
“Sepertinya dia mengalami tekanan psikologis yang cukup berat,” jelasnya. “Ada sesuatu yang memicu kondisi ini.”
Arlan terdiam. Pikirannya berputar cepat.
“Tadi pagi,” ucapnya pelan. “Dia dengar soal rencana pernikahanku.” Ia mengernyit. “Tapi dia nggak menunjukkan apa-apa.”
Dokter Hendra berpikir sejenak. “Mungkin dia memendamnya. Atau ... ada pemicu lain yang lebih kuat.”
Deg.
Sesuatu terlintas di benak Arlan, yaitu Tristan. Ia mengingat Tristan di depan kontrakan. “Apa karena dia?” gumam Arlan.
Tangannya mengepal. “Sebelumnya aku lihat dia mencium Mika dan itu jelas dipaksa,” ucapnya, suaranya mulai dingin. “Tapi dia sengaja melakukannya di depanku.”
Dokter Hendra menatap Arlan. Ada sesuatu yang tidak ia yakini sepenuhnya. Namun, Arlan sudah berdiri.
"Aku harus buat pelajaran sama dia!" Arlan kembali naik pitam. Rasa emosinya tidak bisa ia tahan.
Tanpa menunggu jawaban, ia keluar. Mobilnya melaju cepat. Tangannya menghantam setir.
“Brengsek!”
Wuuusss!
Mobil sangat melaju cepat. Ekspresi Arlan sangat marah. Bahkan, disela pelipis dan keningnya terlihat ada geratan urat yang tertahan.
Tak memakan waktu lama. Arlan sampai di depan gapura kontrakan mika.
Ciiit!
Mobil berhenti mendadak. Arlan turun dengan langkah berat pemuh amarah.
Di kejauhan, Tristan berdiri santai. Seolah menunggu sesuatu yang akan terjadi.
Buk!
Pukulan pertama mendarat. Tristan tersungkur.
“Apa yang kamu lakukan?!” bentak Arlan.
Namun, tidak berhenti di situ.
Buk! Buk!
Pukulan bertubi-tubi menghantam wajah Tristan. Arlan mencengkeram kerah bajunya dan mengangkat Tristan perlahan.
“Arlan—" Tristan tertawa kecil, darah di sudut bibirnya. “Kamu marah?”
Ia meludah ke samping. “Karena aku menyentuh ‘barangmu’?”
Buk!
Pukulan keras kembali melayang di wajah Tristan. Namun, Tristan tetap tersenyum.
“Aku cuma penasaran,” lanjutnya pelan. “Gadis itu, benar-benar polos atau cuma berpura-pura.”
Tristan memegang bibirnya seakan ia berusaha mengingatkan adegan ciuman kepada Arlan. Tatapan Arlan semakin tajam.
“Diam.”
Namun, Tristan justru semakin menikmati. “Kamu tahu?” bisiknya pelan, seolah hanya untuk Arlan. “Dia itu lemah.”
Arlan mengencangkan cengkeramannya.
“Orang lemah ... selalu butuh tempat bergantung!" lanjutnya. Ia tersenyum miring. “Hari ini ke kamu. Besok ... bisa ke siapa aja!"
Buk!
Arlan memukulnya lagi. Tapi tak henti-hentinya Tristan terus mengoceh. “Kamu pikir dia mencintaimu?” Suaranya semakin provokatif. “Atau cuma ... bertahan hidup?”
Arlan terdiam sepersekian detik. Goyabnya Arlan membuat Tristan semakin ada celah untuk masuk.
“Dia bilang sendiri sama aku,” lanjutnya pelan, menatap lurus ke mata Arlan. “Dia cuma butuh perlindungan.” Senyumnya melebar. “Tentunya kamu punya yang dia butuhkan!"
Deg.
“Bohong,” gumamnya.
Tristan terkekeh. "Percaya atau tidak ... itu bukan urusanku!” Ia menyeka darah di bibirnya. “Tapi satu hal pasti,” lanjutnya. “Gadis seperti dia nggak akan bertahan tanpa seseorang seperti kita.”
Ia mendekat sedikit, meski tubuhnya masih ditahan. “Bedanya—" bisiknya, “Aku jujur."
Arlan mengencangkan kepalan tangannya.
Buk!
“Diam! Atau aku habisi!”
Tristan justru tertawa keras,. Kali ini tawanya semakin keras dari sebelumnya.
“Habisi?” Ia mengulang, suaranya penuh ejekan. “Arlan ... kita ini sama-sama dari keluarga Gavriel.” Ia menatap tajam.
“Kamu tau konsekuensinya kalau kamu benar-benar melakukannya.” Senyumnya berubah dingin. “Kalau aku jatuh ... kamu juga ikut jatuh.”
Ia mendekatkan wajahnya. “Mungkin aja ... orang yang kamu lindungi sekarang ... yang pertama kena dampaknya.”
Seketika situasi dan suasana semakin menegang. Amarah Arlan bertemu sesuatu yang setara.
"Arlan, udahlah ... cukup kamu stop di sini! Dari pada—" Senyum di bibir Tristan terlihat ada kepuasaan.