NovelToon NovelToon
CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak usia sembilan tahun, Naura harus menelan pahitnya hidup. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia diasuh Paman Surya dan Bibi Rina yang tidak mampu namun terobsesi pada kemewahan. Naura sering disiksa dan dimanfaatkan, dipaksa bekerja keras demi menghidupi dirinya sendiri dan membiayai sekolah. Meski demikian, ia tumbuh menjadi gadis yang kuat, jujur, dan cerdas hingga berhasil lulus kuliah.

Bekerja di sebuah perusahaan swasta pun tidak membuat hidupnya lebih mudah. Atasan iri memfitnahnya, sementara paman dan bibinya terus memeras gaji dengan ancaman. Saat dipecat secara tidak adil dan berjalan dalam kesedihan, ia hampir tertabrak mobil mewah milik Aldo Pratama—CEO muda yang dingin, berwibawa, dan disegani banyak orang. Pertemuan tak terduga itu mengubah segalanya.

bagaimana kisah menarik selanjutnya... ???? lanjut bacanya sampai akhir yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Melindungi dengan Cara yang Bijaksana

Berita tentang rencana pembangunan jalur kereta api itu segera menyebar dan menimbulkan kekhawatiran di hati Aldo dan Naura. Dokumen yang mereka terima menunjukkan bahwa jalur yang direncanakan akan memotong langsung melalui hutan lindung, berjarak hanya seratus meter dari lokasi mata air dan kawasan Yayasan Harapan dan Alam. Jika proyek itu berjalan sesuai rancangan awal, tanah akan dibongkar, pohon-pohon besar ditebang, dan kestabilan sumber air terancam terganggu secara permanen.

Di ruang rapat, tim teknis dan lingkungan menyampaikan analisisnya dengan wajah serius. "Jika jalur ini dibangun seperti yang diusulkan, getaran berat dari kereta api dan pembongkaran tanah bisa merusak lapisan batuan tempat mata air mengalir. Dalam jangka panjang, kualitas air bisa menurun atau bahkan sumbernya bisa mengering. Selain itu, habitat hewan dan tumbuhan langka di sekitarnya akan hilang selamanya," jelas kepala tim lingkungan.

Naura mengernyitkan dahi, tangannya mengepal perlahan. "Proyek ini memang bertujuan untuk kemajuan umum, memperlancar transportasi dan perekonomian daerah. Tapi apakah kemajuan itu harus dibayar dengan menghancurkan sumber kehidupan yang sudah ada selama ratusan tahun? Kita harus mencari jalan tengah."

Aldo mengangguk setuju, namun tetap tenang. "Kita tidak akan menentang pembangunan secara membabi buta. Kita akan bertemu langsung dengan pihak pengembang, pemerintah, dan ahli perencanaan wilayah untuk membahas solusi terbaik. Kita buktikan bahwa pembangunan dan pelestarian alam bisa berjalan berdampingan."

Beberapa hari kemudian, pertemuan diadakan di kantor dinas pekerjaan umum. Hadir di sana perwakilan perusahaan pengembang, pejabat daerah, ahli teknik, serta Aldo dan Naura. Saat giliran berbicara, perwakilan pengembang menjelaskan rencananya dengan antusias.

"Jalur ini akan memangkas waktu perjalanan dari kota ke daerah pegunungan hingga separuhnya, membuka akses pasar, dan meningkatkan pendapatan warga secara signifikan. Kami sudah menghitung anggaran dan waktu pelaksanaannya, semuanya sudah terencana dengan matang," ujarnya.

Namun, saat Aldo menyampaikan kekhawatiran mereka, pihak pengembang justru meremehkan. "Kami sudah memperhitungkan faktor lingkungan. Dampaknya tidak akan seberat yang dikhawatirkan. Lagipula, ini proyek strategis nasional yang tidak bisa diubah rencananya hanya karena satu kawasan kecil."

Naura segera menanggapi dengan nada tegas namun tetap sopan. "Kami tidak menolak proyek ini, tapi kami meminta perencanaan yang lebih cermat. Kawasan yang akan dilalui bukan sekadar tanah kosong—ia adalah sumber air bersih bagi ribuan warga, tempat pendidikan bagi anak-anak, dan hutan yang menjaga keseimbangan iklim daerah ini. Jika rusak, kerugiannya jauh lebih besar daripada manfaat yang didapat dari jalur kereta api."

Mereka kemudian mempresentasikan data lengkap, hasil penelitian lapangan, dan peta wilayah yang menunjukkan jalur alternatif yang masih memungkinkan. "Ada jalur lain yang berjarak sekitar dua kilometer ke arah timur. Medannya sedikit lebih menanjak, tapi masih bisa dilalui dengan penyesuaian teknik. Jalur ini tidak akan menyentuh kawasan lindung dan tetap mencapai tujuan yang sama," jelas Aldo sambil menunjuk peta yang terpasang di dinding.

Pihak pengembang terkejut. Mereka mengakui bahwa jalur alternatif itu belum sempat diteliti secara mendalam. "Tapi mengubah jalur akan menambah biaya dan waktu pengerjaan, itu akan membebani anggaran," bantah mereka.

"Kami bersedia membantu menanggung sebagian biaya penyesuaian itu," jawab Aldo mantap. "Selama rencananya tetap menjaga kelestarian alam dan kepentingan masyarakat jangka panjang, kami akan mendukung sepenuhnya. Kami juga bisa mengirimkan tim ahli kami untuk bekerja sama dalam perencanaan teknisnya."

Usulan itu membuat suasana rapat berubah. Pejabat daerah melihat ini sebagai solusi yang menguntungkan kedua belah pihak—proyek tetap berjalan, namun lingkungan tetap terjaga. Pihak pengembang pun mulai mempertimbangkan dengan serius, menyadari bahwa menolak usulan itu hanya akan menimbulkan pertentangan yang bisa menghambat jalannya proyek lebih lama lagi.

Selama beberapa bulan berikutnya, tim dari Grup Pratama bekerja sama dengan tim pengembang dan pemerintah untuk melakukan survei ulang, menghitung rincian biaya, dan menyusun rancangan baru. Hasil akhirnya, jalur kereta api dipindahkan ke rute yang lebih aman tanpa merusak kawasan lindung. Biaya tambahan yang dibutuhkan sebagian ditanggung oleh Aldo dan Naura sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan.

Saat keputusan resmi diumumkan, warga desa dan anak-anak di yayasan merasa sangat lega. Mereka mengadakan syukuran sederhana di dekat mata air, berterima kasih kepada Aldo dan Naura yang telah memperjuangkan nasib tempat tinggal mereka.

"Kalian telah membuktikan bahwa kekuasaan dan kekayaan bisa digunakan untuk melindungi, bukan hanya mengambil," ujar kepala desa dengan mata berkaca-kaca.

Namun, proses pembangunan tetap membutuhkan waktu bertahun-tahun. Selama masa itu, Aldo dan Naura terus memantau perkembangannya, memastikan setiap tahap pengerjaan dilakukan sesuai standar lingkungan yang telah disepakati. Mereka juga menggunakan kesempatan ini untuk mengajarkan kepada Arka dan anak-anak lain di yayasan arti kerja sama, kesabaran, dan mencari solusi terbaik tanpa harus merugikan siapa pun.

Suatu hari, saat mereka sedang berjalan-jalan di hutan bersama Arka, anak itu bertanya: "Ayah, Ibu... kenapa kita harus bersusah payah mengubah jalur kereta itu? Kenapa tidak melarang saja mereka membangunnya sama sekali?"

Aldo berhenti sejenak, lalu menjawab sambil menunjuk ke arah pohon-pohon yang rindang: "Nak, dalam hidup ini tidak semuanya bisa hanya dengan cara melarang atau memaksakan kehendak. Kita harus bisa melihat kepentingan bersama. Kita ingin kemajuan, tapi kita juga ingin menjaga apa yang sudah ada. Caranya bukan dengan berkelahi, tapi dengan berbicara, mencari jalan tengah, dan membuktikan bahwa ada cara yang lebih baik."

Naura menambahkan sambil tersenyum: "Yang paling penting, kita selalu ingat tujuan kita. Jika kita bertindak dengan niat yang benar dan hati yang jujur, jalan keluar akan selalu terbuka, meskipun terasa sulit di awal."

Beberapa tahun kemudian, jalur kereta api itu akhirnya selesai dibangun dan beroperasi dengan lancar. Perjalanan menjadi lebih cepat, perekonomian daerah berkembang, namun hutan dan mata air tetap terjaga seperti sedia kala. Bahkan, karena jalurnya lebih aman dan ramah lingkungan, proyek ini dijadikan contoh pembangunan berkelanjutan untuk daerah-daerah lain.

Kini, Arka sudah berusia sebelas tahun. Ia tumbuh menjadi anak yang cerdas, rendah hati, dan sudah mulai memahami nilai-nilai yang diajarkan orang tuanya. Ia sering ikut membantu kegiatan di yayasan, mengajari teman-temannya, dan ikut menjaga kebersihan lingkungan sekitar.

Namun, saat mereka merasa bahwa segala sesuatunya sudah berjalan sempurna, sebuah kabar datang yang membawa mereka kembali ke masa lalu—sebuah kesempatan untuk menyelesaikan satu bab terakhir yang belum tuntas, yang akan menutup seluruh perjalanan panjang mereka dengan makna yang lebih dalam lagi.

1
elfanaya 💞
kamu udh dpt gaji mending keluar dari rumah yg berasa seperti neraka itu
Kim Borahae
seru😍. semangat terus ya 💪

Btw, saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!