NovelToon NovelToon
Menantu Tanpa Restu

Menantu Tanpa Restu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Romansa Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: biru🩵

"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Pintu kamar kayu jati yang berat itu tertutup dengan bunyi klik yang pelan, namun sanggup mengunci seluruh kebisingan dan kebencian dari luar sana. Begitu kami hanya berdua di dalam ruangan yang luas ini, kaki yang tadi kupaksakan untuk berdiri tegak mendadak lemas. Aku terduduk di tepi ranjang besar milik Mas Dika, menunduk dalam sembari meremas jemariku yang masih terasa sedingin es.

Mas Dika tidak langsung menyalakan lampu utama. Ia hanya menyalakan lampu tidur di sudut ruangan, menciptakan temaram yang hangat namun terasa sendu. Ia melangkah mendekat, lalu berlutut di depanku. Ia meraih kedua tanganku, membawanya ke bibirnya, dan menciumnya lama sekali.

"Maafin Mas ya, Ra... Maaf karena sudah membawa kamu ke dalam situasi yang sesulit ini," bisiknya serak.

Aku tidak menjawab, hanya air mata yang sedari tadi kutahan kini luruh satu per satu, jatuh membasahi punggung tangan Mas Dika. Rasa sesak di dadaku seolah baru saja menemukan jalan keluar.

Mas Dika bangkit dan duduk di sampingku, lalu menarikku ke dalam pelukannya. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya, menghirup aroma parfumnya yang bercampur dengan aroma keringat,aroma yang selama ini menjadi tempat persembunyianku dari dunia.

"Mas janji, Ra... Mas nggak akan biarkan kamu berjuang sendirian di rumah ini. Mas tahu Ibu dan Mbak Diana sangat keras, tapi Mas akan tetap ada di depan kamu. Jangan pernah merasa sendirian lagi, ya?" Mas Dika mengusap rambutku dengan lembut, lalu tangannya turun, mengelus perutku yang membuncit.

Ia menempelkan telinganya di perutku, seolah sedang mendengarkan rahasia dari malaikat kecil di dalam sana. "Halo, Cantik... ini Ayah. Ayah minta maaf ya kalau sore ini penyambutan buat Ibu dan kamu kurang baik. Tapi Ayah janji, Ayah akan jaga kalian. Ayah akan pastikan kalian aman di rumah ini."

Aku tersenyum getir di tengah tangis. Di saat seluruh dunia menghakimiku, hanya pria ini yang memberikan perlindungan,meskipun perlindungannya pun masih terbatas oleh baktinya pada sang Ibu.

Mas Dika mendongak, menatap mataku dengan sorot yang penuh ketulusan. Ia mengambil selembar foto USG dari saku jaketnya, menatapnya penuh haru di bawah temaram lampu. "Lihat dia, Ra. Dia punya hidung kamu. Mas nggak sabar nunggu dia lahir. Kita besarkan dia dengan penuh cinta ya, meskipun awalnya penuh air mata begini."

Malam itu, di kamar yang asing namun hangat karena kehadirannya, aku menyadari bahwa meskipun pernikahan ini diawali dengan luka, kasih sayang Mas Dika adalah satu-satunya obat yang kumiliki. Kami berpelukan dalam diam, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi esok pagi saat matahari terbit dan aku harus kembali menghadapi wajah dingin Ibu Mertua sebagai menantu tanpa restu.

aku terbangun saat jarum jam masih menunjuk angka empat pagi, aku segera menyeka sisa kantuk. Meskipun tubuhku terasa berat dan nyeri punggung mulai menyerang, aku memaksakan diri turun dari ranjang. Aku tidak ingin memberikan celah bagi Ibu Mertua untuk mencaciku sebagai menantu pemalas. Dengan langkah pelan agar tidak membangunkan Mas Dika, aku keluar kamar menuju dapur.

Rumah megah ini masih sangat sunyi. Aku mulai dengan mengambil sapu, membersihkan setiap sudut ruang tamu yang luas hingga ke teras depan. Setelah memastikan lantai bersih, aku melangkah ke dapur—medan perang pertamaku. Aku membuka kulkas, mencari bahan yang bisa kuolah. Ada rasa syukur saat mengetahui Mbak Diana tidak tinggal di sini; setidaknya satu musuh berkurang pagi ini. Di rumah ini, selain mertuaku, hanya ada adik laki-laki Mas Dika, Satria, yang masih SMA.

Aku memutuskan memasak nasi goreng spesial dan membuat sayur bening kesukaan Mas Dika, berharap aromanya bisa sedikit mencairkan kebekuan di rumah ini. Saat aku sedang sibuk mengiris bumbu, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga.

"Lho, Mbak Aira?"

Aku menoleh dan mendapati seorang remaja laki-laki dengan seragam putih abu-abu yang masih berantakan. Satria. Ia menatapku dengan wajah heran, tapi tidak ada kebencian di matanya seperti Mbak Diana.

"Eh, iya Sat. Mau berangkat sekolah ya? Sebentar ya, Mbak lagi siapkan sarapan," jawabku agak canggung.

Satria mendekat, mengambil gelas dan mengisinya dengan air. "Rajin banget Mbak pagi-pagi sudah di dapur. Mas Dika masih tidur ya?" Ia bertanya dengan nada santai, seolah keberadaanku di sini bukan masalah besar baginya. Sikap polos Satria sedikit mengurangi rasa sesak di dadaku.

"Iya, Mas Dika masih tidur. Kamu mau bekal sekalian? Mbak buatkan nasi goreng," tawarku.

Satria tersenyum tipis. "Boleh, Mbak. Makasih ya."

Namun, suasana hangat itu mendadak menguap saat suara langkah kaki lain terdengar lebih berat. Ibu Mertua muncul dengan daster sutranya, berdiri mematung di ambang pintu dapur. Matanya yang tajam langsung menyapu meja makan yang sudah tertata rapi, lalu beralih padaku yang masih memegang sodet.

"Siapa yang suruh kamu menyentuh dapur saya?" suara Ibu Mertua terdengar dingin, membuat tanganku seketika gemetar.

Satria yang sedang meneguk air langsung terdiam. Aku mencoba memberanikan diri, menatap Ibu Mertua dengan sopan. "Maaf, Bu... Aira hanya ingin menyiapkan sarapan untuk Ibu, Bapak, dan Satria."

Ibu Mertua mendekat ke arah meja makan, menatap nasi goreng buatanku dengan pandangan meremehkan. "Jangan kira dengan melakukan semua ini, saya akan langsung lupa siapa kamu dan bagaimana kamu masuk ke rumah ini. Di sini ada asisten yang biasa masak, saya tidak butuh bantuan dari orang luar."

Kalimat itu telak menghantam hatiku. Aku tetap dianggap "orang luar".

Ibu Mertua melangkah maju, tangannya dengan kasar menggeser piring nasi goreng yang baru saja kusiapkan ke arah Satria. "Kamu makan ini saja, Sat. Setelah itu berangkat. Biar makanan sisanya saya kasih ke orang depan atau dibuang saja. Saya tidak selera makan masakan orang yang tidak tahu cara menjaga kehormatan diri."

Wajah Satria tampak serba salah. Ia melirikku dengan tatapan tidak enak hati, lalu menatap Ibunya. "Bu, Mbak Aira kan sudah niat baik..."

"Satria! Cepat makan dan berangkat! Jangan ikut campur urusan orang tua," potong Ibu Mertua dengan nada yang tidak terbantah.

Aku hanya bisa menunduk, meremas kain serbet yang kupegang. Air mata mulai menggenang, namun aku berusaha sekuat tenaga agar tidak tumpah di depan wanita ini. Aku tidak ingin terlihat lemah, meskipun kata-katanya barusan benar-benar menguliti sisa-sisa harga diriku.

"Maaf, Bu... kalau masakan Aira tidak berkenan. Besok-besok Aira akan tanya dulu," ucapku lirih.

Ibu Mertua mendengus sinis. Ia tidak menjawab, melainkan mulai sibuk membuat teh sendiri, seolah-olah aku adalah benda mati yang tidak ada di ruangan itu. Pengabaian itu jauh lebih menyakitkan daripada diteriaki. Di dapur yang luas dan mewah ini, aku merasa semakin kerdil.

Tiba-tiba, suara derap langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah tangga. Mas Dika muncul dengan rambut yang masih berantakan, tampaknya ia baru saja terbangun dan menyadari aku tidak ada di sampingnya.

"Ra? Kamu di sini?" Mas Dika melangkah masuk ke dapur. Pandangannya beralih dari aku yang mematung, ke Satria yang makan dalam diam, lalu ke Ibunya yang sedang membelakangi kami.

Mas Dika sepertinya langsung menangkap ketegangan yang terjadi. Ia berjalan mendekatiku, merangkul bahuku dengan protektif. "Ibu sudah bangun? Aira tadi masak nasi goreng, Bu. Enak aromanya."

Ibu Mertua berbalik, menatap Mas Dika dengan sorot mata kecewa. "Baru satu malam dia di sini, kamu sudah berubah jadi pembelanya, Dika? Bagus. Lanjutkan saja sampai kamu lupa siapa yang membesarkan kamu."

"Bu, Dika nggak bermaksud begitu..."

"Sudah! Ibu mau ke depan. Sat, jangan lupa bawa bekalnya. Ibu tidak mau melihat ada sisa masakan orang ini di meja makan saat Ibu kembali nanti," ucap Ibu Mertua tajam sebelum melenggang pergi meninggalkan dapur.

Mas Dika menghela napas panjang, genggamannya di bahuku mengerat. Ia menatapku dengan tatapan penuh maaf. "Sabar ya, Ra. Mas makan ya nasi gorengnya? Mas laper banget."

Satria pun ikut bicara sambil mengunyah cepat, "Enak kok, Mbak. Tenang aja, ludes sama aku sama Mas Dika."

Meskipun hatiku masih nyeri, senyum tipis Satria dan perhatian Mas Dika sedikit membalut luka itu. Namun, aku tahu ini hanyalah permulaan. Jika untuk urusan dapur saja sesulit ini, bagaimana aku bisa menjalani sisa kehamilanku di bawah atap yang sama dengan wanita yang begitu membenciku?

1
🍓
yang ikhlas al😭
🍓
ikutan sakit ati gue thorrr😭
langit senja: sama banget besssss😭😭
total 1 replies
bening☘️
lu bener-bener ya dik🫵👊
langit senja: bikin emosi kan😭
total 1 replies
bening☘️
😭nyesek banget thorr
langit senja
sama😭😭😭
langit senja
masih kerja di toko 🤭
🍓
kabarnya si Ali gimana thorr?
🍓
besok-besok nggak usah masak Ra🤭
bening☘️
lama-lama aku yang tekanan batin sih ini 😭
bening☘️
dika ini siap banget ya jadi suami 🤭
bening☘️
jangan takut ra, sekali-kali lawan iparmu 🤭
🍓: harus di lawan sih,biar nggak seenaknya kalau bicara😄
total 1 replies
bening☘️
bagus banget alurnya,cerita ini related sama kehidupan,di luar sana yang menikah tanpa restu selagi suami selalu berada di pihakmu duniamu akan baik-baik saja,semangat terus nulisnya thorr🥳
langit senja: thank you bes,🥺
total 1 replies
🏜️
keren
🍓
pengalaman pribadi kah thor?
🍓
cerita ini bagus,alurnya sesuai dan bikin sesek napas setiap baca per babnya,
🍓
orang tua Dika kenapa nggak suka sama Aira thorr?🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!