NovelToon NovelToon
Tak Lagi Mencintaimu

Tak Lagi Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Pelakor jahat
Popularitas:15.6k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

‎Badai datang pelan namun mematikan, menggoyahkan komitmen lima tahun yang Risa yakini abadi. Di bawah langit malam yang sunyi, dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri suaminya, Raga, sedang bermesraan dengan wanita lain di dalam mobil mereka.

‎Setelah bertahun-tahun membangun rumah tangga dengan penuh pengorbanan, meninggalkan karir impian untuk mendukung karir suaminya, Risa harus menghadapi kenyataan pahit bahwa cinta yang dia anggap tulus telah dipermainkan.

‎Pengkhianatan itu menjadi pukulan terberat bagi hatinya.

‎"Selama ini aku menutupi kekuranganmu demi menjaga harga dirimu, tapi balasanmu adalah pengkhianatan. Mulai hari ini, aku tidak mau lagi menjadi orang yang selalu mengalah." ~ Risa Anindita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27

Risa langsung menekan tombol akhir panggilan dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Napasnya terasa tercekat, namun ia berusaha tetap tenang agar tidak menarik perhatian berlebihan. Ia segera membereskan berkas dan alat kerjanya secepat mungkin, lalu berjalan tergesa menuju meja Bu Hera di ujung ruangan.

‎Begitu sampai di hadapan atasannya itu, Risa membungkuk sedikit.

‎‎"Bu Hera, mohon izin mendadak. Saya baru dapat kabar darurat dari rumah, ibu saya tiba-tiba pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Saya harus pergi menjenguknya sekarang juga," ucapnya dengan napas yang masih sedikit terengah.

‎‎Bu Hera langsung mengamati raut wajah Risa yang terlihat pucat dan matanya berkaca-kaca.

‎‎"Baiklah, Risa. Pergilah, tidak usah memikirkan pekerjaan dulu. Semoga ibumu segera membaik." jawabnya lembut.

‎‎"Terimakasih banyak, Bu!" seru Risa singkat, lalu segera berbalik dan berjalan cepat menuju lift untuk turun ke lobi bawah.

‎‎Sementara itu, di lantai dasar gedung, Regan baru saja kembali dari pertemuannya dengan klien. Ia sedang berbicara dengan sekretaris pribadinya di dekat meja resepsionis.

‎‎Saat pintu lift terbuka lebar, matanya secara tidak sengaja melihat Risa yang keluar dengan langkah tergesa-gesa.

‎‎Regan mengernyitkan dahi, merasa ada yang tidak beres. Ia hendak melangkah maju memanggil namanya, namun Risa sudah berjalan sangat cepat menuju pintu kaca besar sebelum Regan sempat mengeluarkan suara.

‎‎"Pak Regan, ada yang bisa saya bantu?" tanya sekretaris wanita itu sambil ikut melihat ke arah pintu utama, lalu menatap Regan lagi.

‎‎Regan menggeleng pelan, matanya masih tertuju ke arah pintu utama. "Tidak… tidak apa-apa. Ayo naik dan lanjutkan pembicaraannya di ruangan saya."

‎‎Sekretaris itu mengangguk, "Baik, Pak."

‎‎Keduanya pun melanjutkan langkah kembali menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai atas.

‎-

‎Diluar gedung, Risa sudah melambaikan tangan dengan panik ketika melihat taksi lewat. Begitu kendaraan itu berhenti, ia segera membuka pintu dan masuk, menyebutkan alamat rumah sakit dengan suara yang masih sedikit bergetar.

‎‎"Ke Rumah Sakit Ananda, Pak. Tolong cepat," pintanya pada sopir.

‎‎"Baik, Nona," jawab sopir itu, lalu segera menyalakan mesin dan melaju membelah arus lalu lintas pagi yang mulai ramai.

‎‎Di dalam taksi, Risa menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, jantungnya berdegup kencang. Pikiran dan perasaannya cemas memikirkan kondisi ibunya.

‎‎Kurang dari setengah jam perjalanan, taksi yang ditumpangi Risa tiba di halaman rumah sakit. Begitu kendaraan berhenti, Risa langsung membayar ongkosnya dan berlari kecil menuju pintu masuk, napasnya terengah karena terburu-buru.

‎‎Begitu sampai di depan ruang rawat yang disebutkan Dika, ia melihat adiknya sudah berdiri di koridor dengan wajah penuh kekhawatiran.

‎‎"Dika!" panggil Risa mendekat.

‎‎Mendengar suara kakaknya, Dika segera menoleh dan menyambutnya dengan lega sekaligus cemas. "Kak, akhirnya datang juga. Mama baru saja diperiksa dokter, kondisinya masih lemah tapi sudah agak stabil."

‎‎Belum sempat Risa bertanya lebih lanjut, pintu ruangan terbuka lebar. Pak Harun keluar dengan raut wajah yang sudah memerah menahan amarah sejak tadi. Begitu matanya tertuju pada Risa, langkahnya makin cepat menghampiri.

‎‎"Kamu berani datang kesini, hah?! Bukankah sudah aku katakan jangan pernah menginjakkan kaki lagi di depan keluarga ini!" bentak Pak Harun dengan suara keras yang menggema di koridor.

‎‎Risa menegakkan punggungnya, meski hatinya terasa perih. "Aku datang bukan untuk mencari pertengkaran, Pa. Aku hanya ingin melihat keadaan Mama dan memastikan dia baik-baik saja."

‎‎"Melihat? Kehadiranmu justru membawa sial dan menambah beban pikiran dia!" sergah Pak Harun. Ia mengangkat tangan dan menampar pipi kiri Risa dengan keras.

‎‎"Papa! Jangan!" seru Dika memohon.

‎‎PLAK!

‎‎Suara tamparan itu terdengar jelas. Risa terhuyung sedikit ke belakang, pipinya terasa panas dan perih, namun ia segera menegakkan badannya kembali. Matanya berkaca-kaca, tapi tatapannya tetap tegas menatap ayahnya.

‎‎"Papa boleh memukul dan membenciku, tapi hakku sebagai anak untuk menjenguk Mama tidak bisa Papa ambil begitu saja!" jawab Risa dengan suara lirih namun tegas, "Aku bukan datang untuk mengganggu, tapi aku datang untuk ibu yang telah melahirkan dan membesarkanku selama ini."

‎‎"Berani kamu membantah kata-kataku!" Pak Harun mengangkat tangannya lagi hendak memukul sekali lagi, namun tiba-tiba suara lemah dari dalam ruangan terdengar jelas.

‎‎"Risa… dimana Risa… biarkan dia masuk…"

‎‎Mendengar panggilan itu, raut wajah Risa seketika berubah. Tanpa mempedulikan amarah ayahnya yang masih meledak, ia langsung melangkah melewati Pak Harun seolah tidak ada penghalang, dan mendorong pintu ruangan hingga terbuka lebar.

‎‎"Mama!" seru Risa sambil berjalan cepat menuju tempat tidur dimana ibunya berbaring lemah.

‎‎Pak Harun ingin melarang, namun melihat istrinya yang baru sadar dan masih terbaring lemah, mulutnya terkatup rapat tanpa bisa mengeluarkan kata lagi.

‎‎Risa langsung membungkuk dan memegang tangan ibunya yang terasa dingin. Air matanya akhirnya tumpah melihat kondisi ibunya yang begitu lemah.

‎‎"Aku disini, Ma. Aku sudah datang," bisik Risa sambil mencium telapak tangan itu dengan lembut.

‎Mama Hana menatap wajah putrinya dengan pandangan sayu, lalu jemarinya yang lemah perlahan terangkat untuk menyentuh pipi Risa yang masih terlihat bekas kemerahan dari tamparan tadi. Matanya langsung berkaca-kaca melihat itu.

‎‎"Siapa yang menyakitimu, Nak? Papamu yang melakukannya kan…" bisiknya dengan suara parau.

‎‎Risa menggeleng pelan sambil tersenyum tipis, berusaha menenangkan, lalu memegang erat tangan ibunya. "Tidak apa-apa, Ma. Aku kuat. Yang penting Mama sudah sadar dan baik-baik saja."

‎‎Mama Hana menarik napas panjang, lalu menatap Risa lebih dalam dengan tatapan penuh kekhawatiran sekaligus harapan.

‎‎"Risa… dengarkan Mama. Pulanglah ke rumah kita. Disana Mama akan menjagamu, Papa pasti akan luluh hatinya seiring waktu. Tidak perlu hidup sendirian dan menanggung semuanya sendiri. Rumah ini tetap rumahmu, dan Mama tetap ibumu apapun yang terjadi," pintanya dengan nada memohon lembut.

‎‎Mendengar permintaan itu, hati Risa terasa teriris. Ia ingin sekali bisa kembali ke masa lalu, ke tempat yang dulu ia anggap sebagai tempat pulang. Namun ia tahu, semuanya sudah berubah dan tidak akan pernah sama lagi.

‎‎Ia menggeleng perlahan dengan senyum yang tetap lembut.

‎‎"Terimakasih banyak, Ma… terimakasih masih menganggapku bagian dari keluarga ini. Tapi aku tidak bisa pulang sekarang. Aku sudah menemukan cara untuk berdiri di atas kakiku sendiri, dan aku ingin membuktikan bahwa aku bisa hidup dengan terhormat meski tidak kembali ke situasi yang menyakitkan itu,” jawabnya dengan nada halus namun tegas.

‎‎Keheningan menyelimuti ruangan sejenak. Mama Hana menunduk sedih, lalu mengangkat wajahnya kembali dengan pertanyaan yang selama ini ingin ia ketahui kebenarannya.

‎‎"Nak… benar kamu sudah mengajukan gugatan cerai pada Raga?" tanyanya pelan, ingin memastikan sendiri.

‎‎Risa menarik napas dalam-dalam, lalu menatap mata ibunya dengan jujur.

‎‎"Benar, Ma. Aku sudah melakukannya. Aku sudah memikirkannya dengan matang. Rumah tangga kami sudah hancur, Mas Raga sudah mengkhianati ikatan pernikahan kami. Daripada terus hidup dalam kepura-puraan dan penderitaan, aku memilih berpisah agar kita berdua bisa mencari jalan masing-masing yang lebih baik," jawabnya dengan tenang namun lugas.

‎‎Mama Hana tertegun mendengar penjelasan itu. Air matanya menetes membasahi pipinya, bukan karena marah atau kecewa, melainkan karena ia baru menyadari seberapa besar penderitaan yang selama ini ditanggung putrinya sendirian. Ia menarik tubuh Risa perlahan agar mendekat, lalu memeluk putrinya.

‎‎"Jika itu memang jalan yang terbaik untukmu, Mama mendukungmu. Lakukan apa yang membuat hatimu tenang dan membuatmu merasa bahagia," bisiknya dengan suara terputus-putus.

‎‎Risa membalas pelukan itu erat, menahan tangisnya agar tidak semakin membebani kondisi ibunya.

‎‎"Ma, aku pamit pulang dulu ya." Risa perlahan melepaskan pelukan itu. Ia menyeka sisa air mata di pipi, lalu tersenyum lembut.

‎‎"Mama harus banyak istirahat dan minum obat teratur. Nanti aku akan minta Dika menjaga Mama dengan baik," lanjutnya lembut.

‎‎Mama Hana mengangguk pelan, masih menggenggam tangan putrinya sejenak sebelum melepaskannya. "Kamu juga jangan lupa jaga kesehatanmu sendiri. Hubungi Mama atau adik kamu kalau ada apa-apa. Jangan pernah merasa sendirian."

‎‎"Iya, Ma. Pasti." jawab Risa. Ia mencium kening Mamanya, lalu kembali berdiri dan berjalan keluar dari ruangan itu dengan hati yang masih terasa berat.

‎‎Dika yang sedang duduk di kursi tunggu langsung berdiri begitu melihat kakaknya keluar, sementara Papa Harun sudah pergi entah kemana sejak Risa masuk kedalam ruangan tadi.

‎‎"Dika, jaga Mama baik-baik ya. Kalau ada apa-apa langsung hubungi Kakak." ucap Risa sambil menepuk bahu adiknya.

‎‎"Baik, Kak." angguk pemuda berusia dua puluh satu tahun itu.

‎‎Setelah berpamitan, Risa melangkahkan kakinya pergi meninggalkan depan ruangan tempat ibunya dirawat. Baru saja ia melangkah beberapa meter di koridor, sosok pria yang dikenalnya muncul dari ujung lorong dengan langkah tergesa.

‎‎"Risa," panggilnya.

-

-

-

Bersambung...

1
〈⎳ FT. Zira
plong ya ris, akhrnya bsa lepas
〈⎳ FT. Zira
desak teruss ....ntar pas mau nikah, kabur ya mel🤣
〈⎳ FT. Zira
perhatiannya berlapis🤭
vj'z tri
tunggu nanti w ketawa ngakak disaat/Smug//Smug//Smug//Smug/ ada kata menyesal dari mulut mu
°RhaiKen™
ehh.. jangan dulu pak dokter 🤣🤣 biar sidang nya selesai dulu resmi bercerai nah baru deh kasih kesaksian 🤣🤣🤣✌️
🔥Violetta🔥: Mulut pak dokter sudah gatel pengen ngomong 😂😂😂
total 1 replies
Rizky Manik
lanjut thor🤗
🔥Violetta🔥: Asiap 🙏😁
total 1 replies
nayla tsaqif
Klo amelia tau raga mandul sblm mrk nikah,, amelia pasti kabur thor,, berubah haluan ngejar regan,,, 😌
🔥Violetta🔥: Depak aja dia kalau berani deketin pak Bos, kak 😂😂😂
total 1 replies
partini
mantap , menunggu berapa bab lagi sidang nya Thor
🔥Violetta🔥: Betul Kakak.. biar cepat cerai 😁
total 1 replies
vj'z tri
ahayyyy jreng jreng jreng
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ icik bos dah salting berat ini
🔥Violetta🔥: Udah cenat-cenut dia 😂😂😂
total 1 replies
W I 2 K
kamu nanya.. kamu bertanya-tanya....,

secara g langsung km udah siap ni ditinggalin raga.. km kan nyuruh cek, terus tau kenyataan pahit asam manisnya kyk apa.... ya jelas nanti raga bakalan ngejar balik lg risa.. ya nerima apa adanya kan cm dia.... siap² deh mimpi terindah menikah dengan raga hanya tinggal khayalan belaka... 🤣🤣🤭
〈⎳ FT. Zira
coba cekk. di lihat..diraba.. di...🤭🤭
〈⎳ FT. Zira
kesempatan noh Re .. ambilll🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
jodoh ka Re🤭
〈⎳ FT. Zira
kamulah orangnya🤭
〈⎳ FT. Zira
cieeee cieee🤭🤭🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
deg deg ser gak ris🤭
〈⎳ FT. Zira
jodoh emag gak kemana yaa🤭
Rizky Manik
lanjut thor🤗
Rizky Manik
ayo periksa lagi kalo berani🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!