NovelToon NovelToon
Sumpah Pengawal Kuno

Sumpah Pengawal Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mamah Nissa

Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
​Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
​Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
​Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Sisa Jelaga dan Bisik-Bisik Kampus

Sinar matahari pagi yang menerobos celah ventilasi kamar kos terasa seperti sengatan yang dipaksakan. Saat Elang membuka kelopak matanya yang terasa seberat timah, hal pertama yang menyambut kesadarannya bukanlah aroma kopi arabika mahal atau harum ruangan yang biasanya disiapkan oleh kepala pelayan di mansionnya. Bau apek dari kasur kapuk tipis dan sisa aroma jahe bakar yang melekat di pakaiannya adalah realitas pertama yang harus ia hirup.

Namun, kejutan sesungguhnya baru datang saat Elang mencoba menggeser kaki kanannya untuk turun dari tempat tidur.

"Akh...!"

Sebuah erangan tertahan lolos begitu saja dari rahangnya yang mengatup rapat. Rasa sakit yang luar biasa hebat, seolah otot-otot paha dan betisnya ditarik paksa hingga robek, menjalar seketika dari pinggang hingga ke pergelangan kaki. Efek siksaan posisi kuda-kuda rendah dari Citra beberapa jam lalu baru benar-benar menagih bayarannya pagi ini. Seluruh persendian dari bagian bawah tubuhnya terasa kaku, kram, dan lumpuh sesaat. Otot-ototnya yang selama dua puluh tahun tidak pernah menanggung beban kerja keras, kini menuntut protes keras.

Dari arah pintu kamarnya yang terbuka separuh, Surya muncul hanya dengan mengenakan celana pendek dan handuk yang melingkar di leher. Pemuda Malang itu menatap penderitaan fisik Elang dengan cengiran lebar tanpa simpati sedikit pun.

"Loh, Sam? Baru bangun tidur kok sudah kayak kakek-kakek encok gitu," ledek Surya sembari melemparkan sebuah botol kaca kecil berwarna hijau ke atas kasur, tepat di samping paha Elang yang bergetar.

"Nih, gosok pakai minyak urut murahan. Jangan berharap ada balsem impor atau terapis pribadi di sini. Buruan mandi, airnya dinginnya mantap itu, bisa bikin ototmu yang mleyot langsung kencang lagi."

Elang mencengkeram botol minyak urut itu dengan jemari yang kaku. Di dalam hatinya, ia sempat mengutuk kekejaman latihan semalam. Namun, saat tatapannya jatuh pada telapak tangannya yang masih menyisakan guratan hitam dari jelaga arang yang sulit hilang, ego manjanya kembali surut. Ia mengingat ucapan Citra di bawah tiang lampu taman yang temaram: Jika kau mengeluh selangkah saja, aku akan membiarkanmu merangkak kembali ke sudut kamar sebagai seorang pengecut.

Dengan perjuangan yang menguras keringat dingin, Elang memaksa tubuhnya bangkit, menyeret kakinya yang kaku menuju kamar mandi umum di ujung koridor kos yang sempit. Setiap langkahnya adalah siksaan, namun ia menolak untuk menyerah pada rasa sakit itu.

*

Pukul 08.15 pagi, atmosfer di koridor lantai dua Fakultas Ekonomi Universitas Dirgantara terasa berbeda dari biasanya. Begitu Elang melangkah masuk dengan gaya berjalan yang agak kaku dan sedikit pincang, ritme obrolan di sepanjang selasar mendadak meredup, digantikan oleh kasak-kusuk yang berdengung konstan.

"Eh, lihat deh... itu si Elang, kan? Mantan pangeran kampus kita?"

"Asli, benar! Jadi berita di media sosial itu bukan hoaks? Dia benar-benar jadi pelayan angkringan di pinggir jalan?"

"Gila, kasihan banget ya. Yang kemarin katanya pasang badan pakai celemek kusam sambil pegang jepitan sate. Videonya viral banget di grup angkatan semalam!"

Beberapa mahasiswi yang dulu sering sengaja berlama-lama di dekat meja Elang hanya untuk mendapatkan perhatiannya, kini terang-terangan menutup mulut mereka dengan kipas atau buku kuliah sembari melemparkan tatapan miring yang sarat akan cemoohan. Teman-teman satu sirkel lamanya, para pencari keuntungan yang dulu selalu menempel padanya demi akses masuk ke kelab malam elite atau tumpangan mobil sport, kini mendadak sibuk dengan ponsel masing-masing, sengaja membuang muka saat Elang berjalan melewati mereka.

Dulu, penolakan sosial seperti ini akan langsung menyulut amarah Elang hingga membuat dadanya meledak. Ego aristokratnya tidak akan membiarkan ada orang asing yang berani berbisik merendahkan tentang namanya.

Namun pagi ini, ada sesuatu yang telah bergeser di dalam batinnya. Rasa sakit fisik yang membakar pahanya justru bertindak sebagai jangkar yang menahan emosinya agar tetap membumi. Ia memandang lurus ke depan, mengabaikan setiap pasang mata yang menghakiminya. Bahunya tetap tegak, wajahnya yang pucat tanpa riasan mewah memancarkan ketenangan yang dingin. Mereka yang berbisik-bisik di koridor ini tidak tahu apa yang ia lewati semalam di bawah terpal angkringan, dan mereka tidak tahu arti dari rasa sakit yang sedang ia tahan di setiap langkah kakinya.

"Wah, wah... lihat siapa yang datang dengan langkah kaki seorang pahlawan trotoar!"

Sebuah suara bariton yang sengaja dikeras-keraskan memotong jalur jalan Elang tepat di depan pintu masuk ruang kuliah utama. Wijaya Samudra berdiri di sana, mengadang langkah Elang dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana kain mahalnya. Di belakangnya, tiga orang mahasiswa dari kelompoknya berdiri dengan senyum menyeringai, siap menikmati pertunjukan penindasan pagi hari.

Elang menghentikan langkahnya tepat dua jengkal di hadapan Samudra. Kakinya yang kram terasa semakin berdentum, namun poros tubuhnya tetap dikunci dengan kuat.

Samudra menatap Elang dari atas ke bawah, memperhatikan cara berjalan Elang yang pincang dengan tatapan meremehkan. Sebenarnya, Samudra baru saja melihat video amatir yang viral di grup angkatan semalam. Baginya, melihat mantan pangeran kampus mengenakan celemek kusam dan memegang jepitan sate di pinggir jalan adalah hiburan terbaik minggu ini. Ia ingin memanfaatkan momen ini untuk menginjak harga diri Elang sedalam mungkin di depan mahasiswa lain.

"Gimana rasanya jualan sate usus semalam, Lang? Kok jalannya agak pincang begitu? Apa semalam habis berlutut minta ampun sama pelanggan biar dagangan lo laku?" ejek Samudra sembari memajukan tubuhnya, sengaja menyenggol bahu kanan Elang dengan kasar hingga buku catatan yang dipegang Elang terlepas dan jatuh ke atas lantai selasar.

Salah satu teman Samudra tertawa terbahak-bahak, lalu sengaja menginjak ujung buku catatan tersebut dengan sepatu pantofelnya. "Sori, nggak sengaja. Maklum, mata gue nggak biasa lihat barang murah di bawah."

Jika ini adalah Elang Dirgantara yang lama, sebuah pukulan mentah pasti sudah melayang ke arah rahang Samudra, yang berujung pada keributan besar yang akan merugikan posisi Elang sendiri.

Namun, Elang hanya diam. Ia menurunkan pandangannya ke arah bukunya yang diinjak, lalu kembali mengangkat wajahnya untuk menatap langsung ke dalam manik mata Samudra.

Tidak ada ledakan amarah. Tidak ada urat leher yang menegang. Sepasang mata Elang kini memancarkan binar yang teramat dingin, tajam, dan sunyi, sebuah sorot mata baru yang ia serap dari ketegasan Citra semalam. Tatapan itu begitu kosong dari rasa takut, seolah-olah ia sedang melihat seonggok sampah yang tidak memiliki bobot apa pun untuk memengaruhi jiwanya.

Samudra yang menantikan reaksi kemarahan atau ketakutan, mendadak membeku sejenak saat menerima tatapan mata tersebut. Ada desakan tidak nyaman yang aneh yang tiba-tiba merayapi tengkuknya. Untuk pertama kalinya selama ia mengenal Elang, ia merasa getaran mental pemuda di hadapannya ini tidak bisa lagi ia kendalikan dengan gertakan verbal.

Dari sudut koridor yang agak jauh, di balik pilar beton fakultas, Natasha berdiri bersedekap dada sembari memperhatikan konfrontasi tersebut. Sepasang matanya yang dilapisi riasan tebal menyipit penuh analisis. Sebagai seorang selebgram terkenal yang menggilai Elang namun selalu diabaikan, perhatian Natasha sebenarnya lebih banyak tersedot oleh kehadiran Citra Kencana yang akhir-akhir ini selalu berada di dekat Elang.

Natasha memendam rasa iri yang luar biasa pekat pada Citra. Di kelas, Citra yang cerdas dan pintar selalu menjadi anak emas yang dipuji-puji oleh para dosen, membuat popularitas Natasha sebagai pesohor digital kampus merasa sangat tersaingi. Kini, melihat bagaimana Elang, pria yang dulu tidak bisa disentuh oleh siapa pun, bisa berubah menjadi begitu tenang dan memiliki sorot mata sedingin itu dalam waktu satu malam, ketakutan Natasha kian membuncah. Ia curiga ada pengaruh Citra di balik perubahan drastis mental Elang. Anak manja ini... kenapa pembawaannya bisa berubah sekuat ini? Apa ini gara-gara cewek beasiswa sialan itu lagi? pikir Natasha sembari mencengkeram jemarinya sendiri dengan dahi berkerut cemas.

Sebelum Samudra sempat membuka mulutnya lagi untuk menutupi rasa canggungnya akibat tatapan dingin Elang, dosen mata kuliah jam pertama berjalan melewati mereka, memaksa kerumunan mahasiswa di selasar untuk segera bubar masuk ke dalam kelas. Samudra mendengus kesal, melemparkan pandangan benci terakhir, lalu melangkah masuk ke ruang kuliah bersama kelompoknya.

Elang tidak memedulikan mereka. Ia membungkukkan tubuhnya perlahan, menahan rasa sakit yang menusuk di otot pahanya, lalu mengambil kembali buku catatan yang kotor akibat bekas tapak sepatu teman Samudra. Ia mengibaskan debu yang menempel di sampul buku tersebut dengan gerakan tangan yang tenang, lalu melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam ruang kelas tanpa mengucapkan satu kata pun.

Siang harinya, setelah melewati dua kelas yang penuh dengan sindiran halus dari beberapa dosen mengenai pentingnya "menjaga reputasi nama baik universitas", Elang memilih untuk menyendiri di area taman belakang perpustakaan yang biasanya sepi dari kunjungan mahasiswa.

Ia duduk di atas sebuah bangku taman kayu yang panjang, meluruskan kedua kakinya yang terasa seperti kram batu. Jemarinya bergerak memijat otot paha di balik celana jinsnya yang pudar, mencoba mengurai simpul-simpul rasa sakit yang membuatnya kesulitan berkonsentrasi sepanjang hari. Keringat dingin kembali menetes di pelipisnya akibat rasa perih yang menjalar di setiap sentuhan jarinya.

Plak.

Sebuah botol air mineral dingin berukuran sedang tiba-tiba diletakkan di atas meja kayu tepat di samping lengannya.

Elang tersentak kecil, lalu mendongakkan kepalanya.

Citra berdiri di sana. Gadis itu mengenakan kemeja flanel longgar dengan tas kanvas yang tersampir di bahu kanan. Wajahnya tampak bersih tanpa ekspresi, seolah-olah ia hanyalah seorang mahasiswi biasa yang kebetulan sedang melintas di area taman. Namun, sepasang mata bulatnya yang tajam sempat melirik sekilas ke arah kaki Elang yang kaku.

Citra tidak mengambil posisi duduk di samping Elang. Ia tetap berdiri membelakangi arah koridor utama, menjaga jarak sosial yang aman agar tidak memicu kecurigaan atau gosip baru di lingkungan kampus yang sedang sensitif.

"Minum airnya. Tubuh lo kekurangan cairan setelah dipaksa mengunci poros semalam," ucap Citra. Suaranya terdengar jernih, dingin, namun memiliki bobot ketegasan yang langsung menenangkan kekacauan di kepala Elang.

Elang mengambil botol mineral dingin tersebut, membiarkan rasa sedingin es mengalir ke telapak tangannya yang hangat. "Gue... gue hampir nggak bisa jalan dari pagi. Samudra sengaja mengadang gue di depan kelas tadi."

"Gue tahu," balas Citra pendek tanpa menoleh. "Gue lihat dari kejauhan."

Elang menatap botol di tangannya dengan senyum getir yang tipis.

"Gue nggak membalas pukulannya, Cit. Gue cuma menatap dia seperti apa yang lo lakukan semalam. Dan anehnya... dia yang justru kelihatan bingung lalu pergi sendiri."

Mendengar hal itu, sudut bibir Citra tampak terangkat sangat tipis, sebuah pergerakan yang hampir tidak terlihat jika tidak diperhatikan dengan saksama. Ia membetulkan posisi tali tas kanvasnya, bersiap untuk kembali melangkah pergi menuju kelas berikutnya.

"Bagus. Berarti lo mulai paham satu hal," bisik Citra lirih, suaranya menyatu dengan embusan angin siang yang menggoyang ranting pepohonan taman.

"Kekuatan sejati itu bukan tentang seberapa keras lo bisa berteriak atau memukul musuh yang memprovokasi lo. Tapi tentang seberapa mutlak lo bisa mengendalikan diri lo sendiri di saat seluruh dunia mencoba meruntuhkan kuda-kuda lo. Jangan biarkan gonggongan anjing di koridor tadi merusak konsentrasi dasar yang sudah gue tanam di kaki lo semalam. Nanti malam, setelah angkringan tutup, kita naikkan level latihannya."

Tanpa menunggu jawaban atau ucapan terima kasih dari Elang, Citra melangkah pergi membelah jalan setapak taman dengan ritme langkah yang tenang dan anggun, meninggalkan Elang yang kini menatap botol air mineral di tangannya dengan binar mata yang baru.

Rasa sakit di otot pahanya entah mengapa tidak lagi terasa membebani; rasa sakit itu kini bermutasi menjadi sebuah tanda kehormatan fisik bahwa ia sedang berjalan di jalur yang benar untuk membangun kembali dirinya dari dasar tanah yang keras.

1
Darma
hik kasihan citra
Apis
thor sebenernya ceritanya bagus tp gmn ya bnyk kata" yg g sat set ke inti jln ceritanya
Mamah Nissa: siap kk di bab awal lebih banyak bercerita, sedikit dialog ya. makasih sarannya kak, ini tanggung di draft udah sampe bab 32. bab 33 ke sana coba dibikin yang lebih simple.
total 1 replies
Sarah
Woahh, bab 1 yang keren. Meskipun kadang paragraf kerasa tetlalu panjang. Tapi masih enak diliat sih. 👍
Mamah Nissa: Makasih kakak sudah mampir mohon bimbingannya...
total 1 replies
Mamah Nissa
siap kk. makasih dah mampir mohon bimbingannya
putratunggal
mantaps ceritanya meski baru awal
Mamah Nissa: makasih kak mohon bimbinganya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!