Malam di kota metropolitan itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon berkilauan memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi, menciptakan kilauan warna-warni yang mempesona namun juga menyembunyikan banyak rahasia di baliknya. Di tengah hiruk-pikuk itu, di salah satu klub malam paling eksklusif dan terkenal berbahaya di pusat kota, Grey Cha Lavian sedang menikmati malamnya seperti biasa.
Bagi banyak orang, Grey adalah definisi sempurna dari seorang play girl. Cantik, cerdas, berani, dan memiliki pesona yang mampu membuat hampir semua pria berlutut di hadapannya. Rambut panjang berwarna cokelat gelap dengan sedikit sentuhan pirang, mata abu-abu yang tajam dan penuh misteri, serta senyum menggoda yang selalu terukir di bibir merahnya. Dia tidak pernah terikat pada satu orang pun. Baginya, hubungan hanyalah permainan, dan dia adalah pemenang yang selalu berkuasa. Dia mendekat saat dia mau, pergi saat dia bosan, dan tidak pernah meninggalkan jejak perasaan di belakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elfin hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Tuan Arganta Menjadi Penjaga Bayi Pemula
Pagi datang membawa cahaya lembut yang menerobos masuk lewat tirai jendela kamar, menggantikan rintik hujan yang semalam membasahi bumi. Udara di dalam ruangan terasa hangat dan beraroma wangi susu serta bedak bayi, sebuah aroma baru yang kini melekat erat di setiap sudut rumah mewah keluarga Arganta.
Grey terbangun dengan rasa pegal yang menjalar di seluruh tubuhnya, seolah-olah semua tulang di tubuhnya telah diacak-acak semalam. Ia mengerjap pelan, berusaha menyesuaikan pandangan, dan hal pertama yang dilihatnya adalah sosok Davian yang duduk di kursi besar di samping tempat tidur. Pria itu masih mengenakan kemeja yang sama persis dengan yang ia pakai semalam—kemeja yang sudah kusut, sebagian kancingnya lepas, dan ada noda keringat serta air mata yang mengering di bagian dada. Rambutnya yang selalu disisir rapi kini berdiri tak beraturan, matanya merah dan bengkak, namun tatapannya menatap lekat-lekat ke arah tiga buaian kecil yang berjejer rapi di dekatnya.
Davian tampak seperti patung yang diam tak bergerak sejak berjam-jam lalu. Tangan besarnya yang biasa memegang senjata, dokumen rahasia, atau kemudi mobil mewah, kini tergantung kaku di sisi tubuhnya, seolah takut bergerak sedikit saja akan mengganggu makhluk-makhluk mungil yang terbaring damai itu.
"Pagi…" sapa Grey pelan, suaranya masih serak dan lemah.
Davian tersentak kaget, kepalanya berputar cepat ke arah istrinya. Wajah kaku itu seketika berubah khawatir, dan dalam satu langkah lebar ia sudah berada di tepi kasur, berlutut kembali persis seperti posisinya semalam.
"Sayang! Kamu bangun? Sakit mana? Pegel di mana? Bilang saja, aku pijat sekarang, aku ambilkan obat, atau apa saja…" ocehnya cepat, tangannya ragu-ragu hendak menyentuh wajah Grey tapi berhenti di tengah jalan, takut menyakiti. Matanya berkaca-kaca lagi, persis seperti anak kucing yang ketakutan kehilangan induknya. "Kamu nggak apa-apa kan? Maaf ya aku nggak bangunin kamu, aku biarin kamu tidur karena kamu capek banget semalam. Kamu hebat banget, Sayang… hebat banget…"
Grey tersenyum tipis, mengangkat tangannya yang terasa berat untuk menyentuh pipi kasar suaminya. "Aku nggak apa-apa, Davian… cuma pegal saja. Kamu sendiri? Tidur nggak semalam? Lihat matamu itu, kayak orang yang baru habis perang."
Davian menggeleng keras, menangkap tangan Grey lalu mencium telapak tangan itu berulang kali dengan penuh hormat. "Mana bisa tidur? Mana ada hati buat tidur kalau ada kamu dan mereka bertiga di sini? Aku duduk saja di sini, awasin terus. Takut… takut kalau aku tidur, ada hal buruk terjadi, atau mereka menangis dan nggak ada yang dengar. Dokter bilang mereka harus diawasi terus, kan? Aku ini ayahnya, tanggung jawabku." Ia menunjuk ke arah buaian dengan dagunya, tatapannya berubah menjadi lembut tak terhingga. "Lihat deh… mereka tidur terus dari semalam. Nggak nangis, nggak rewel. Anak-anak baik banget, persis ibunya."
Grey memiringkan kepalanya untuk melihat lebih jelas. Di sana, terbaring tiga malaikat kecil yang wajahnya masih sedikit merah-merah dan berkerut-kerut, tapi bagi Grey dan Davian, mereka adalah pemandangan terindah yang pernah ada.
"Yang pertama itu Arga Dirgantara Arganta," tunjuk Davian pada bayi laki-laki pertama yang tidur dengan mulut sedikit terbuka, tangannya kecil mengepal di samping kepala.
"Ganteng banget kan? Hidungnya mancung persis aku, kan? Terus yang tengah… Kalya Anindya Arganta," suaranya melembut saat menunjuk satu-satunya putri mereka yang tidur meringkuk mungil, kakinya menekuk ke dalam seperti katak kecil.
"Dia paling tenang, tahu. Dari semalam nggak banyak gerak. Pintar, persis kamu. Dan yang terakhir…" Davian tertawa kecil, suaranya berbisik takut-takut,
"Raka Pradipta Arganta. Ini dia yang paling kuat suaranya semalam. Kalau nangis, satu ruangan gemetar. Persis watak Ayahnya, berani dan lantang."
Grey terkekeh pelan, meski rasanya itu membuat dadanya sedikit nyeri. "Kamu sudah kasih nama semua ternyata… Padahal kemarin masih bilang belum kepikiran."
"Ya… tadi malam sambil nunggu kamu tidur nyenyak, aku mikir-mikir. Nama itu doa, kan? Aku kasih nama yang gagah buat anak laki-laki, biar mereka pelindung ibu dan kakak perempuannya. Dan nama yang indah buat Kalya, biar dia jadi wanita sebaik ibunya." Davian mengusap ujung selimut yang menutupi tubuh Kalya pelan sekali, seolah takut sentuhannya akan meremukkan benda kecil itu. "Aku sudah catat semuanya, urus akta kelahirannya nanti aku yang tangani. Nggak boleh ada orang lain yang urus, harus aku sendiri."
Namun, kebahagiaan yang manis itu perlahan berubah menjadi kekacauan lucu saat satu jam kemudian, ketiga bayi itu serentak mulai bergerak gelisah. Mulut-mulut mungil itu terbuka, mengerang pelan, dan dalam hitungan detik… NANGIS!
Suara ketiga bayi itu bersahutan, membentuk irama tangisan yang nyaring dan memecah keheningan pagi. Grey yang masih lemah hanya bisa menatap bingung, sementara Davian—Sang Penguasa Bayangan yang bisa menenangkan ratusan anak buah sekaligus dengan satu tatapan—langsung berdiri tegak kaku, wajahnya pucat pasi, matanya melotot bingung antara tiga buaian itu.
"HAH?! KENAPA?! KENAPA KENAPA?! Ada apa? Ada bahaya masuk?!" serunya panik, tangannya langsung meraba pinggangnya mencari senjata yang biasanya ia bawa, tapi kosong melompong. Ia lupa sama sekali bahwa saat ini ia sedang berada di kamar istrinya, bukan di markas besarnya. "Siapa yang bikin mereka nangis?! Bilang siapa, Ayah urus dia sekarang juga!"
Grey menutup wajahnya dengan tangan sambil tertawa kecil bercampur gelisah. "Davian… mereka lapar… kasih susu, Sayang…"
"Lapar? OH! LAPAR! Iya! Susu! Susu mana? Di mana?!" Davian berputar-putar di tempat seperti kucing kebingungan, matanya menelusuri meja dan lemari. Ia lupa sepenuhnya bahwa susu yang dimaksud ada di dekat istrinya. Ia malah berlari ke arah pintu, membukanya lebar-lebar dan berteriak ke arah luar, "SUSU! KIRIM SUSU SEKARANG KE SINI! CEPAT! TIGA PIRING BESAR! ANAK-ANAKKU LAPAR!"
Di luar pintu, para pelayan yang sudah bersiaga sejak subuh hanya bisa saling pandang menahan tawa. Tuan besar mereka yang biasanya berwibawa dan dingin, kini berubah menjadi ayah panik yang lucu luar biasa.
"Davian… sini…" panggil Grey lemah sambil mengangkat sedikit tubuhnya, mencoba menyiapkan diri.
Davian berbalik cepat, wajahnya masih cemas luar biasa. Ia kembali ke tepi kasur, menatap Grey dengan tatapan takut. "Sayang… kamu masih sakit kan? Kamu masih capek kan? Dokter bilang kamu harus istirahat total. Jangan gerak-gerak! Jangan! Biar aku saja! Aku yang kasih makan mereka! Aku bisa! Aku pasti bisa!"
Ia berbalik lagi ke arah buaian, mengangkat Arga yang paling keras menangis dengan kedua tangannya yang gemetar. Arga yang diangkat oleh tangan besar dan kasar itu malah makin menangis kencang karena posisinya yang canggung dan tidak nyaman.
Bersambung....