NovelToon NovelToon
Dibuang Suami, Dicintai Presdir Tampan.

Dibuang Suami, Dicintai Presdir Tampan.

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Penyesalan Suami
Popularitas:24k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Lima tahun menikah, Kanisha Rayya Shanika selalu percaya bahwa rumah tangganya bersama sang suami, Arven Mahendra, akan berjalan harmonis untuk selamanya. Ia rela menekan mimpinya sendiri demi menjadi istri sempurna dan ibu terbaik bagi anak angkat yang sangat ia cintai. Namun semua kepercayaan itu runtuh dalam satu malam.
Kanisha memergoki Arven berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri—wanita yang selama ini ia anggap hanya rekan kerja biasa. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, kenyataan yang jauh lebih kejam kembali menghantamnya. Anak angkat yang ia rawat dengan penuh kasih ternyata adalah darah daging hasil hubungan terlarang suaminya dengan sang selingkuhan.

Dikhianati sebagai istri sekaligus dipermainkan sebagai seorang ibu, Kanisha memilih pergi dan mengakhiri pernikahan yang telah menghancurkan hidupnya. Dengan tekad untuk bangkit, Kanisha mulai membangun hidup baru dan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak begitu saja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Kata-kata itu keluar dan menghantam seluruh ruangan seperti pecahan kaca, membuat Pak Damar langsung membeku.

“Apa?” Suara pak Damar nyaris tidak keluar. Matanya langsung beralih ke Rendra lagi. “Bapak jangan bercanda.”

Rendra tidak bergeming.

“Saya tidak sedang bercanda.”

Suasana benar-benar kacau. Lobby perusahaan yang tadi masih terasa formal kini seperti kehilangan semua struktur tenangnya. Pak Damar perlahan menoleh lagi ke Arven. Matanya kini tidak hanya bingung tapi mulai terluka.

“Arven…” suaranya turun drastis. “Katakan ini tidak benar.”

Arven masih diam, Kepalanya sedikit menunduk tapi tidak ada bantahan, penjelasan ataupun pembelaan sedikit pun yang keluar dari mulutnya dan itu saja sudah cukup membuat Pak Damar mundur setengah langkah seperti kehilangan keseimbangan.

“Tidak…” gumamnya pelan. “Ini tidak mungkin…”

Rendra menatap Arven sekali lagi. Sorot matanya tajam, tapi di dalamnya ada sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar marah, Kekecewaan.

“Dia tidak hanya mengkhianati pernikahan itu,” lanjut Rendra dengan suara lebih dingin. “Dia juga menggunakan kartu kredit milik putri saya untuk orang lain.”

Pak Damar terdiam kali ini benar-benar terdiam seperti semua potongan yang sebelumnya tidak masuk akal, mulai tersambung satu per satu dengan cara yang menyakitkan. Dan di tengah semua itu, Arven tetap tidak berbicara. Ia hanya berdiri, menunduk dan bungkam seolah tidak ada satu pun pembelaan yang tersisa untuk dirinya sendiri. Pak Damar melangkah maju dan sebelum siapa pun sempat bereaksi, tangannya sudah mencengkeram kuat kerah jas Arven.

“Jelaskan!” Suara itu pecah di tengah lobby. “Arven, jelaskan pada papa apa yang kamu lakukan?!”

Arven yang sejak tadi menunduk langsung tersentak. Tubuhnya sedikit terdorong ke belakang karena tarikan itu dan membuat beberapa karyawan yang masih berada di lobby langsung membeku di tempat. Tidak ada yang berani bergerak, tidak ada yang berani bersuara. Arven menatap ayahnya dengan matanya yang mulai memerah.

“Pa…” suaranya rendah, berat. “Lepas.”

“Tidak!” Pak Damar justru semakin menguatkan cengkeramannya. “Papa tanya kamu sekarang! Kamu pikir apa yang kamu lakukan itu benar?! Kamu tahu siapa Kanisha?! Kamu tahu apa yang dia korbankan untuk kamu?!”

Suara Pak Damar mulai bergetar bukan karena marah saja tapi karena hancur. Karena tidak siap menghadapi kenyataan ini, namun Arven tiba-tiba tertawa kecil. Tawa yang tidak ada bahagianya sama sekali lalu dalam satu tarikan napas, ia meledak.

“Aku tidak mencintainya!”

Suara itu menggema di seluruh lobby, membuat semua orang yang mendengar langsung terdiam lebih dalam. Pak Damar membeku, cengkeramannya sedikit melemah, tapi Arven tidak berhenti. Matanya kini terlihat penuh emosi yang selama ini ia tekan terlalu lama.

“Aku benci pernikahan itu!" Kata-kata itu keluar lebih keras, kasar dan lebih jujur dari yang seharusnya. “Aku benci setiap detiknya! Aku benci harus hidup seperti orang yang tidak punya pilihan!”

Pak Damar terdiam. Tangan yang tadi mencengkeram kerah Arven mulai turun sedikit namun kebencian Arven justru semakin naik seolah semua yang selama ini ia tahan akhirnya pecah di depan semua orang.

“Aku ini bukan boneka bisnis, Pa!” teriaknya. “Aku bukan alat untuk memperkuat perusahaan kalian!”

Suasana lobby berubah semakin tegang. Beberapa karyawan bahkan menunduk, tidak sanggup melihat. Tapi Arven tidak peduli karena tidak ada lagi yang ia pedulikan saat ini.

“Aku menikah dengan dia karena papa!” lanjutnya, menunjuk ke arah Pak Damar. “Karena kalian semua bilang itu bagus untuk perusahaan! Untuk hubungan bisnis! Untuk Winata dan Mahendra!” Suara Arven bergetar, tapi bukan melemah justru semakin keras. “Aku tidak pernah punya pilihan!”

Pak Damar akhirnya membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar seolah semua kata-kata yang ingin ia ucapkan terjebak di tenggorokannya sendiri. Arven menarik napas kasar. Matanya kini terlihat liar penuh emosi yang tidak lagi bisa dikendalikan.

“Dan papa tahu apa yang lebih parah?” Arven tertawa lagi yang kali ini lebih sinis. “Dia membosankan.” Satu kalimat itu membuat seluruh lobby seolah berhenti bernapas. Arven menoleh sedikit, ke arah Rendra dan Kanisha yang masih berdiri di tempat mereka.

Tatapannya terlihat dingin. “Dia terlalu kolot dan membuatku muak.”

Suasana langsung menegang lebih dalam. Rendra yang sejak tadi diam langsung mengubah ekspresinya. Matanya menyipit. Dan sebelum siapa pun bisa bereaksi—

BRUK! Sebuah pukulan keras mendarat tepat di wajah Arven dan membuat semua orang terkejut. Beberapa bahkan tersentak mundur.

Arven terhuyung ke samping, tangannya refleks menyentuh wajahnya yang baru saja terkena pukulan dan yang memukulnya bukan orang lain melainkan Rendra Winata.

Napas Rendra naik turun, Matanya tajam penuh amarah yang selama ini ia tahan.

“Jangan pernah bicara seperti itu tentang putriku.” Suaranya rendah tapi mengandung tekanan yang luar biasa. Arven menatapnya dengan mata membara, namun Rendra belum selesai. Ia melangkah maju sedikit dan membuat jarak di antara mereka terasa semakin sempit. “Jangan pernah hina dia di depanku.”

Pak Damar yang masih syok langsung menoleh ke arah pak Rendra.

“Pak Rendra…”

Tapi Rendra bahkan tidak menoleh. Matanya tetap tertuju pada Arven dan suaranya berubah lebih dingin.

“Pak Damar... Apakah ini anak yang kamu besarkan?” Kalimat itu seperti tamparan kedua yang membuat pak Damar terdiam. Rendra menunjuk Arven dengan tatapannya yang tajam. “Beginikah hasil didikan kamu padanya?”

Arven mengepalkan tangannya. Wajahnya masih menahan sakit, tapi emosinya belum turun. Namun sebelum ia bisa membalas—

Rendra sudah melanjutkan.

“Selama ini aku diam.” Suasana langsung hening. “Melihat putriku memilih sendiri pasangannya. Dia menikah dengan Arven dan aku menghormati itu.” Rendra berhenti sejenak. Matanya sedikit menyipit. “Tapi hari ini aku melihat hasilnya.” Suara itu tidak tinggi tapi justru lebih menakutkan. “Dan aku tidak akan diam lagi.”

Pak Damar menatapnya, mulai panik.

“Pak Rendra, tolong—”

Namun Rendra mengangkat tangannya untuk memotong perkataan pak Damar.

“Tidak ada yang perlu ditawar lagi.” Ia melangkah setengah putaran, lalu kembali menatap Pak Damar. “Hubungan bisnis kita selesai di sini.”

Pak Damar langsung menegang.

“Pak…”

Rendra melanjutkan perkataannya, suaranya lebih tegas dari sebelumnya.

“Saya akan menyiapkan pengacara untuk mengurus perceraian Arven dan Kanisha.”

Kalimat itu jatuh seperti palu terakhir dan membuat semua orang di lobby terdiam. Tidak ada yang berani bernapas terlalu keras.

Rendra menatap lurus ke depan. Bukan hanya ke Arven tapi ke seluruh keluarga Mahendra.

“Dan mulai hari ini,” lanjutnya dingin, “tidak ada lagi hubungan apa pun antara keluarga Winata dan keluarga kalian.”

Rendra kemudian menoleh sedikit ke samping. Tatapannya jatuh pada Kanisha. Tidak perlu kata-kata hanya satu anggukan kecil dari sang ayah, cukup untuk memberi isyarat bahwa semuanya sudah selesai di sini.

1
Rain Aricia
Iya pak gasskan lagii, keluarkan semua biar mampus tuh bapak sama anak
Rain Aricia
Prettt, keluarga kau blg matamu lah keluarga
Rain Aricia
Mendadak apanya? Makanya tanyakan sama anak kesayanganmu itu
Rain Aricia
Coba pikir baik2
Rain Aricia
Iya bener, ngapain kasih dana ke org yg ga becus
Rain Aricia
Kanisha kalau sama bapaknya jadi kayak putri kecil kesayangan🥰
Rain Aricia
Lu mau ngeles kah nanti?
Noey Aprilia
Pdhl cma dngr crta hdpnya doang,tp udh ga sbr ya bang pgn ktmu....😁😁😁....
d jmin bkln jth cnta kl udh ktmu lngsng,scra kanisha cntk plus hebat bgt.....
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: pastinya kak😄
total 1 replies
Rain Aricia
Hahha mampus lu, biar bapakmu tau gmb sebenarnya kelakuan busukmu
Rain Aricia
Yah mampuslah kalian bangkrut
Rain Aricia
Oi pak, anakmu noh selingkuh sampe punya anak. Pecat aja lah dia itu
Rain Aricia
Hah? Statement dari mana itu kamu ambil? Harusnya kebalikannya anjai
Putri Sylvia
menyesal kan Lu sekarang ven
Putri Sylvia
atas dasar perselingkuhan kamu
Putri Sylvia
syukurin, orang lagi frustasi tapi masih bisa bisanya menggatal🤣🤣🤣🤣
Putri Sylvia
salah besar kamu Arven kl berpikiran seperti itu
Putri Sylvia
musuh bebuyutan
Putri Sylvia
puas banget aku liat Arven digebukin pak Rendra/Doge/
Putri Sylvia
muak sama orangnya tapi doyan sama uangnya 🤣🤣🤣🤣
Putri Sylvia
malu maluin aja anakmu pak damar/Yawn//Yawn//Yawn/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!