NovelToon NovelToon
Talak Tiga Di Malam Pertama

Talak Tiga Di Malam Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Salwa Azzahra, gadis berusia 22 tahun, menikah dengan orang yang sangat dia cintai , dan berharap Salwa bisa keluar dari rumah yang membuathya terluka . namun harapannya hancur seketika di malam pertama pernikahan .

Baru saja akad dilaksanakan, Yogie, suaminya, langsung menjatuhkan talak tiga tepat di malam itu juga, tanpa penjelasan yang masuk akal. Ia mengembalikan Salwa ke rumah orang tuanya seolah gadis itu barang yang tidak berguna. Salwa hancur, merasa harga dirinya diinjak-injak, dan kini harus menanggung malu serta fitnah masyarakat yang menuduhnya bersalah hingga diceraikan secepat itu.

Di balik sikap dingin Yogie, ternyata ada rahasia besar dan alasan tersembunyi yang membuatnya terpaksa melakukan hal menyakitkan itu, meski sebenarnya ia menyimpan rasa peduli. Takdir mempertemukan mereka kembali bertahun-tahun kemudian, saat luka keduanya belum sembuh , apakah Salwa akan kembali pada Yogie?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

"Kenapa kau menatapku seperti itu, Ardiansyah?" seru Ratna , matanya berkilat penuh emosi yang campur aduk. "Kau... kau tidak boleh bersikap seolah kita tidak pernah saling kenal! Dulu... dulu kita pernah bersama! Dulu kau milikku! Dan wanita itu..." Ratna menunjuk ke arah Bunga dengan pandangan benci yang nyata, "...wanita itu tidak lebih dari pengganti! Dia hanya mengambil tempatku! Kau pikir dengan menjadi kaya dan berkuasa, kau bisa menghapus masa lalu kita begitu saja?!"

Kalimat-kalimat itu meluncur keluar dari mulut Ratna tanpa ia pikirkan akibatnya. Ia tidak sadar bahwa ia sedang berdiri di tengah ratusan orang penting, di tengah acara resmi perusahaan raksasa, dan ia sedang berteriak pada pemilik dan pemimpin perusahaan itu sendiri. Ia juga lupa, atau sengaja mengabaikan fakta bahwa dialah yang dulu membuang Ardiansyah, dialah yang menduakan cintanya, dialah yang memilih laki-laki lain demi harta, dan dialah yang meninggalkan Ardiansyah saat laki-laki itu jatuh miskin dan difitnah habis-habisan oleh Pak Joko, suaminya sekarang.

Di belakang Ratna , Pak Joko menundukkan wajahnya dalam-dalam, keringat dingin membanjiri seluruh tubuhnya. Ia merasa ingin menghilang saja ke dalam tanah. Ia tahu betul dosa apa yang telah mereka perbuat dulu. Ia tahu betul bahwa dialah dalang di balik perpisahan itu, dialah yang memutarbalikkan fakta, dialah yang memfitnah Ardiansyah sebagai laki-laki buruk rupa agar Ratna mau berpaling padanya. Dan sekarang, di hadapan semua orang, kebohongan itu hampir saja terbongkar lewat mulut istrinya sendiri.

Keluarga Pratama, Yogie, dan Sania hanya bisa diam terpaku, wajah mereka pucat pasi. Mereka semakin sadar betul betapa besarnya kesalahan mereka telah menyinggung dan menyakiti keluarga Laksana. Mereka baru menyadari bahwa kisah masa lalu itu ternyata lebih rumit dan lebih gelap daripada yang mereka bayangkan.

Ardiansyah masih menatap Ratna dengan pandangan yang sama: dingin, datar, dan kosong. Ia tidak terlihat marah, tidak terlihat tersinggung, tidak terlihat apa-apa. Kebekuan itu justru membuat Ratna semakin gila dan semakin marah. Ia ingin melihat reaksi, ia ingin membuat Ardiansyah merasa bersalah, ia ingin membuat Ardiansyah merasa kehilangan dirinya.

Namun, Ardiansyah hanya menghela napas panjang, napas yang terdengar sangat lelah, seolah hanya dengan menatap wanita di hadapannya itu saja sudah membuatnya merasa kotor dan lelah. Ia membuang muka sedikit, lalu melirik sekilas ke arah Pak Joko yang berdiri gemetar di belakang Ratih.

"Kau..." suara Ardiansyah terdengar rendah, berat, dan tenang, namun setiap katanya memiliki kekuatan yang mampu menghancurkan jiwa Ratna. "Siapa kau? Dan apa hakmu untuk bicara seperti itu padaku di sini?"

Ratna tersentak hebat, matanya terbelalak tak percaya. "Ardiansyah... kau... kau bertanya siapa aku? Kau lupa padaku? Aku Ratna! Ratna! Wanita yang dulu kau nikahi! Wanita yang dulu kau cintai lebih dari nyawamu!"

Ardiansyah menggeleng pelan, senyum tipis dan sinis mengembang di bibirnya, senyum yang jauh lebih mengerikan daripada amarah.

"Ah... jadi kaulah Ratna," ucap Ardiansyah pelan, seolah baru saja mengingat nama orang yang sudah lama mati. "Aku kira namamu sudah hilang dari ingatanku selamanya. Ternyata kau masih ada. Masih hidup, dan masih berani tampil di hadapanku."

Ardiansyah menjeda ucapannya, lalu menatap wanita itu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan yang paling menyakitkan.

"Kau bilang dulu aku milikmu? Kau bilang wanita di sampingku ini hanya pengganti?" Ardiansyah tertawa kecil, tawa yang dingin dan menyakitkan. "Dengar baik-baik, Ratna. Dulu... dulu sekali, memang ada laki-laki bodoh yang bernama Ardiansyah. Laki-laki yang terlalu polos, terlalu tulus, dan terlalu percaya pada cinta. Laki-laki itu memang mencintai seorang wanita bernama Ratna. Tapi wanita itu... wanita yang kau sebut dirimu itu... wanita itu membuang cinta itu. Wanita itu membuang laki-laki itu saat laki-laki itu sedang jatuh tersungkur, difitnah, dan tidak punya apa-apa. Wanita itu memilih laki-laki lain yang dia pikir lebih kaya, lebih hebat, dan lebih menjanjikan duniawi. Wanita itu mengkhianati sumpah setianya, mengkhianati kasih sayang, dan bahkan mengkhianati darah dagingnya sendiri."

Suara Ardiansyah mulai meninggi, bergema ke seluruh ruangan, membuat semua orang menahan napas.

"Jadi, jangan pernah kau berani berkata 'dulu kau milikku'. Karena kalau kau membuang sesuatu, maka benda itu bukan lagi milikmu. Sejak hari kau melangkahkan kaki keluar dari hidupku demi laki-laki itu..." Ardiansyah menunjuk tajam ke arah Pak Joko yang hampir saja jatuh pingsan, "...sejak saat itu pula, aku sudah bukan lagi milikmu. Aku sudah mati bagimu, dan kau sudah mati bagiku."

Ardiansyah menarik tangan Bunga mendekat ke dadanya, menatap wanita itu dengan penuh cinta dan hormat, berbanding terbalik dengan tatapannya pada Ratih.

"Dan wanita ini... Bunga Rahayu... Wanita ini bukan pengganti. Wanita ini adalah penyelamatku. Wanita ini yang ada saat aku hancur lebur. Wanita ini yang tidak pernah bertanya apa yang aku punya, tapi bertanya apa yang aku butuhkan. Wanita ini yang menyayangi anakku, anak yang kau buang seolah sampah. Wanita ini... adalah satu-satunya wanita yang berhak berdiri di sini, berhak mendampingiku, dan berhak atas segalanya. Jangan pernah samakan dirimu yang penuh kebohongan dan kejahatan dengan kemurnian hatinya. Kau tidak pantas sekadar memijak tanah tempat dia berdiri."

Ratna berdiri terpaku, mulutnya ternganga namun tidak ada suara yang keluar. Air mata mulai mengalir deras di pipinya, bukan karena sedih, tapi karena amarah dan rasa malu yang tak tertahankan. Ia merasa dipermalukan, merasa diinjak-injak harga dirinya, padahal dialah yang datang menantang duluan.

"Dan satu hal lagi..." Ardiansyah kembali menatap Ratna dengan kebekuan yang kembali menyelimuti wajahnya. "Jangan pernah lagi kau panggil namaku dengan nada seperti itu. Jangan pernah kau berani mengganggu ketenangan kami. Karena bagiku, kau tidak lebih dari bagian terburuk dari masa lalu yang sudah berhasil aku kubur dalam-dalam. Kau bukan siapa-siapa. Kau tidak punya hak apa pun lagi atas hidupku, atas perusahaan ini, apalagi atas anakku, Salwa."

Ardiansyah memberi isyarat kecil, dan seketika dua orang petugas keamanan berbadan tegap mendekat, berdiri di samping Ratih seolah siap mengantarnya pergi kapan saja.

"Untuk malam ini, aku masih membiarkanmu berada di sini hanya karena kau tamu undangan. Tapi ingat... satu langkah saja kau berbuat onar atau menyinggung keluargaku lagi... kau dan suamimu, serta segala usaha yang kalian bangun dengan cara kotor itu... akan aku pastikan lenyap dari muka bumi ini dalam sekejap mata. Mengerti?"

Kalimat terakhir itu diucapkan dengan nada sangat pelan namun penuh ancaman maut yang nyata. Ardiansyah tidak menunggu jawaban. Ia kembali membuang muka, memutar punggungnya menjauhi Ratna seolah wanita itu sudah tidak ada lagi di hadapannya. Ia kembali menggandeng tangan Bunga di satu sisi, dan tangan Salwa di sisi lain, lalu mulai melangkah kembali dengan penuh kewibawaan, meninggalkan wanita yang dulu pernah menjadi segalanya baginya itu berdiri gemetar, hancur, dan dikalahkan sepenuhnya di tengah pandangan ratusan pasang mata.

Ratna terhuyung mundur, hampir saja jatuh jika tidak ditahan oleh Pak Joko yang sudah pucat pasi dan berkeringat dingin. Dunianya runtuh total. Harapan kosong yang dulu ia simpan di sudut hatinya bahwa Ardiansyah mungkin masih menyisakan rasa cinta atau penyesalan lenyap sudah. Yang tersisa hanyalah kenyataan pahit: ia telah membuang emas sejati demi debu, dan sekarang emas itu bersinar terang di tangan wanita lain yang jauh lebih mulia, sementara ia sendiri hanya bisa menatapnya dari kejauhan dengan penuh penyesalan yang abadi.

Dan di belakang langkah ayahnya, Salwa sempat menoleh sedikit ke belakang. Ia menatap ibunya itu sekilas dengan pandangan yang sama persis seperti ayahnya: dingin, asing, dan penuh penghakiman. Pandangan yang berkata:"Kau baru merasakan sedikit saja rasa sakitnya, Ibu. Tunggu saja... hukuman sesungguhnya baru akan dimulai."

bersambung ,,,,

1
Emily
CK narasi nya lebay bahkan di ulang ulang dan berulang ulang
Emily
heleh..ujung ujungnya balikan setelah si cewe nikah an bercerai
Safarniaty
👍seruu
Alit Liet
ceritanya bagus tidak berbelit2
Alit Liet
bab 23 nya mana
Jetva
Yogie..kamu sayang tp kamu talak 3...jelas kamu tak bisa lagi kembali padanya...lelaki koq otaknya kecil..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!