Sheza diculik ketika usianya 7 tahun, dan bibinya meninggal diduga karena telah menyelamatkannya saat itu. Karena dianggap berhutang nyawa, dia benar-benar harus merelakan tempat dan posisinya digantikan sang sepupu Karen. Kedua orang tuanya mengabaikannya, memprioritaskan Karen.
Bahkan tunangannya Alex, juga melakukan hal yang sama. Hingga malam itu, satu minggu sebelum bertunangan, Sheza melihat Alex dan Karen berciuman di villa mereka, villa yang katanya dibeli Alex untuk Sheza.
Sejak saat itu, Sheza sudah tak berharap lagi pada keluarga dan tunangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Bertemu Lagi
Di kantor tempatnya bekerja, entah kenapa tiba-tiba saja bosnya memberikannya banyak sekolah pekerjaan. Sheza merasa ini ada yang tidak beres.
"Pak, ini bukan pekerjaan saya...!"
"Kalau tidak mau mengerjakannya, resign saja!" celetuk bosnya.
Sheza mendengus pelan. Semua baginya terlalu kebetulan, dan terlalu terlihat kamuflasenya. Bosnya yang baru ini, baru bekerja satu bulan. Tapi satu bulan ini, yang menjadi bulan-bulanannya hanya Sheza.
Dan malam ini, di hari dimana dia harus hadir untuk makan malam. Kebetulan sekali juga bosnya memberikannya pekerjaan yang sangat banyak.
Sheza benar-benar bukan orang yang suka diatur oleh orang berhati picik.
Brakk
Sheza membanting dokumen persis di depan bosnya.
"Aku resign!" ujar Sheza yang langsung meraih tasnya dan pergi dari ruangan itu.
Sheza mengemudikan mobilnya menuju ke villa, tempat makan malam diadakan. Ponselnya sejak tadi berdering, panggilan itu dari Alex, ruangannya.
[Sheza, kamu dimana? makan malam sudah mau di mulai. Paman dan bibi sudah datang, kata mereka kamu yang bersikeras datang sendiri]
"Aku sudah di jalan, sepuluh menit lagi aku sampai!"
[Sheza, apa mau aku jemput? katakan posisi kamu dimana?]
"Tidak usah, aku sudah hampir sampai!"
[Baiklah, hati-hati. Aku menunggu mu]
Sheza memutuskan panggilan telepon itu. Setidaknya setelah mendengar kata-kata manis dari Alex. Ada senyum tipis, meskipun hanya sedikit di wajah Sheza. Ya, setidaknya dia masih punya Alex. Seseorang yang akan menjadi masa depannya.
Cittt
Sheza yang baru saja memikirkan Alex, terkejut dengan kedatangan beberapa orang yang menghadang mobilnya.
Lebih dari 5 orang, dan semuanya membawa tongkat kayu.
Dua dari lainnya pergi mendekati mobil Sheza, mengetuk jendela kaca mobil Sheza dengan tongkat kayu yang ada di tangan mereka.
"Keluar!"
Kawasan villa itu cukup jauh dari kota. Tempatnya cukup sepi, tapi biasanya yang tidak punya kartu akses tidak akan bisa masuk.
Lagi-lagi Sheza di buat terkekeh pelan. Rasanya tidak sulit menebak siapa yang ada di balik semua ini. Siapa lagi kalau bukan sepupunya yang kata ayah dan ibunya suci dan berhati mulia itu.
Mau Sheza adukan kebusukan Karen seperti apapun pada orang tuanya. Kedua orang tuanya tidak akan pernah percaya. Meski Sheza menghadirkan bukti nyata di depan mata kedua orang tuanya.
Duk Duk Duk
"Keluar atau ku pecahkan kaca mobil ini!"
Di jalan utama, terlihat sebuah mobil mewah melaju cepat. Tapi kemudian, mundur perlahan melihat mobil Sheza keluar dari dalam mobil.
"Tuan, apa tuan mengenal wanita itu...?"
"Turun dan bantu dia..."
Duk
Bugh
Tapi belum selesai pria itu memberikan perintah pada anak buahnya. Dia menaikkan alisnya melihat Sheza memukul dengan cepat satu orang di sampingnya sampai jatuh.
"Sepertinya tidak perlu, kita lihat dulu!" kata pria itu kemudian.
Dan di tempatnya, Sheza meraih tongkat dari pria yang sudah dia buat jatuh terkapar di aspal itu.
Sheza membuka pintu dengan kuat, membuat pria itu terpental, lalu menendangnya dengan sangat kuat sampai pria itu terjatuh ke aspal dengan cukup keras.
"Maju!" tantang Sheza.
Menjadi seseorang yang diabaikan oleh keluarganya. Membuatnya harus bisa melindungi dirinya sendiri. Sheza belajar taekwondo selama 3 tahun ketika dia kuliah di universitas yang ada asramanya.
Setidaknya kalau hanya preman jalanan, dia pasti bisa mengatasinya.
"Boleh juga! makin semangat saja kalau yang harus di rusak cewek modelan begini!"
Rahang Sheza mengeras. Karen sudah benar-benar menyentuh batas kesabarannya.
Bugh
Kesal sekali pada Karen, Sheza melampiaskannya dengan memukul kuat pria yang bicara sembarangan di depannya.
Dua lainnya maju, satu lagi di tendang dengan kuat oleh Sheza, yang satu lagi di dorong untuk menjatuhkan pria yang ada di belakangnya.
Karena memang hanya preman kampung biasa. Sheza bisa membuat ketiganya jatuh dengan cepat. Yang tiga lagi bersiap maju, tapi salah satunya berbuat curang. Dia mengambil sesuatu dari sakunya, menaburkannya ke arah Sheza.
"Uhukkk..." Sheza tersedak bubuk putih itu.
Dan salah satunya tidak mau kehilangan kesempatan. Langsung memukul Sheza dari belakang.
Bugh
Duk
Sheza jatuh berlutut, matanya masih pedih Dan dia merasa bubuk itu bukan sembarangan bubuk. Tubuhnya menjadi sangat tidak nyaman.
Seorang preman menggunakan kesempatan itu untuk mengayunkan tongkat kayu itu ke arah Sheza.
Namun sebelum tongkat itu turun, sebuah tangan lain muncul mencengkeram kuat pergelangan si preman.
Hentakan itu tertahan di udara.
Preman itu menoleh, wajahnya berubah kesal. Tapi ketika tatapan pria di depannya tak kalah dingin, rahangnya juga tampak mengeras.
Tanpa banyak kata, pria memutar pergelangan tangan si preman dengan cepat.
Krekkk
Suara persendian patah membuat preman itu menjerit.
"Agkkhhhh!"
"Enam lawan satu, kalian sungguh tidak tahu malu!" suara pria itu rendah tapi sangat tegas.
Yang lain langsung siaga. Empat dari mereka menggenggam tongkat kayu, sementara dua lainnya maju dengan tangan kosong, mencoba mengepung. Preman pertama menyerang, mengayunkan tongkat lurus ke arah kepala pria itu.
Dengan refleks cepat, pria itu memiringkan tubuh, membiarkan ayunan itu meleset tipis di samping wajahnya. Dalam satu gerakan balasan, pria itu menyikut perut, membuat pria itu terhuyung, lalu disusul tendangan rendah yang menyapu kakinya hingga jatuh terjerembab.
Dua orang sekaligus maju dari sisi kanan dan kiri. Jendra melangkah mundur setengah langkah, mengatur jarak, lalu menangkap salah satu tongkat yang mengarah ke bahunya. Tangannya mencengkeram kayu itu, menarik kuat hingga si pemilik kehilangan keseimbangan. Dalam sekejap, tongkat itu berpindah tangan.
Tanpa jeda, pria itu membalik tubuh, menghantamkan ujung tongkat ke perut preman lain. Dua menyerang bersamaan, satu dari depan, satu dari belakang. Pria itu seperti sudah membaca gerakan itu. Dia melangkah maju, mendekat ke penyerang depan, lalu menunduk tepat saat tongkat dari belakang melintas di atas kepalanya.
Bugh
Tongkat itu justru menghantam rekannya sendiri. Kesempatan itu tak disia-siakan. Pria itu menghantamkan sikunya ke rahang si preman di depannya. Preman terakhir menggenggam tongkatnya erat, tapi langkahnya mundur perlahan. Wajahnya sudah tak seberani tadi. Pria itu menatapnya datar, tongkat itu akhirnya diayunkan juga.
Namun, dalam satu gerakan cepat, pria itu mencengkeram kerah preman terakhir dan menjatuhkannya ke tanah dengan bantingan keras.
Brukk
Semua preman terkapar tak berdaya di atas aspal.
Pria itu segera mendekati Sheza yang terduduk lemas di samping mobilnya.
"Kamu tidak apa-apa..."
"Tolong, tolong aku. Tubuhku tidak nyaman, tolong bawa aku ke rumah sakit!" kata Sheza meminta bantuan pria yang menolongnya itu.
"Kalau ke rumah sakit, mungkin akan terlambat..."
"Tolong jangan sentuh aku, aku akan bertunangan. Aku akan ingat kebaikanmu, tolong bawa aku ke rumah sakit!"
'Dia akan bertunangan?'
***
Bersambung...