Tiga tahun lamanya Andini mencurahkan seluruh pengabdiannya sebagai istri saleha, namun ia justru dihempaskan ke titik terendah dalam hidupnya. Ia diusir tanpa membawa uang sepeser pun oleh Reno, suaminya sendiri, yang lebih memilih Siska karena pengakuan kehamilannya. Setelah kenyang menerima hinaan sebagai perempuan mandul yang sekadar menumpang hidup, Andini bersumpah untuk bangkit dari puing-puing kehancurannya.
Saat Andini akhirnya berhasil bertransformasi menjadi sosok wanita karier yang mandiri, elegan, dan sulit digapai, Reno datang kembali sambil merangkak penuh penyesalan. Namun, sebuah map cokelat yang telah disiapkan Andini siap meruntuhkan sisa-sisa kesombongan pria itu. Sebuah rahasia medis yang mencengangkan akhirnya terungkap: Reno sebenarnya mandul, dan anak yang selama ini ia puja-puja hanyalah buah dari pengkhianatan Siska. Inilah saatnya karma instan mulai bekerja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Sidang Arbitrase Internasional
Kemegahan yang terasa dingin menyelimuti ruang sidang utama Singapore International Arbitration Centre (SIAC) di kawasan elit Maxwell Road. Dinding kayu ek yang bersanding dengan panel kedap suara bernuansa abu-abu arang menciptakan suasana hukum yang begitu menyesakkan. Di tengah ruangan, sebuah meja oval besar menjadi pembatas bagi dua pihak yang bertikai, lengkap dengan jajaran mikrofon perak serta tumpukan dokumen tebal yang menyandang segel hukum internasional.
Di sisi kanan meja, Andini Larasati duduk dengan keanggunan yang tak tergoyahkan. Ia mengenakan setelan blazer tenun modern berwarna biru dongker yang dipadukan dengan hijab sutra senada. Tidak ada gurat ketegangan di wajahnya. Tangannya bertumpu tenang di atas meja, tepat di samping Farhan Al-Fatih yang mendampinginya dengan setelan jas hitam three-piece suit khas penguasa korporasi. Aura kepemimpinan Farhan terasa begitu dominan, seolah menegaskan bahwa ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh atau menjatuhkan istrinya di forum terhormat ini.
Pemandangan di seberang mereka justru tampak kontras. Tante Sofia duduk dengan punggung tegap yang terlihat dipaksakan. Meski perhiasan berlian masih berkilau di leher dan jemarinya, bayangan hitam di bawah matanya tidak bisa menutupi fakta bahwa wanita paruh baya itu tidak bisa tidur nyenyak selama berminggu-minggu. Di sampingnya, tim pengacara senior asal Inggris yang disewa dengan tarif ribuan dolar per jam tampak sibuk membolak-balik berkas pembelaan dengan raut wajah tegang. Karina sendiri tidak diperbolehkan hadir di ruang sidang dan harus menunggu di ruang karantina karena status hukumnya yang sedang ditangguhkan oleh otoritas imigrasi.
"Sidang arbitrase internasional dengan nomor register SIAC-2026-0891 mengenai sengketa pembekuan aset global dan dugaan spionase korporasi antara Al-Fatih Group melawan Apex Horizon Ltd, dinyatakan dibuka," ujar sang Arbiter Utama, seorang pria paruh baya keturunan Inggris-Singapura yang memiliki reputasi tanpa cela di dunia hukum internasional. Palu sidang diketuk sekali, suaranya menggema tegas di seantero ruangan.
Richard Sterling, pengacara utama Tante Sofia, langsung berdiri dan membetulkan posisi kacamatanya. Ia memulai argumen pembuka dengan kelancaran seorang orator profesional. "Yang Mulia Majelis Arbiter, klien kami, Nyonya Sofia Al-Fatih, adalah seorang investor sah yang menanamkan modalnya melalui Apex Horizon Ltd demi pengembangan sektor properti domestik di Indonesia. Pembekuan aset sepihak yang dilakukan oleh Al-Fatih Group bukan sekadar pelanggaran terhadap hak privasi korporasi, melainkan bentuk arogansi bisnis yang dipicu oleh sentimen pribadi keluarga. Tidak ada satu pun bukti valid yang menunjukkan bahwa Apex Horizon terlibat dalam tindakan ilegal pencucian uang ataupun manipulasi pasar sebagaimana yang dituduhkan," papar Richard dengan nada suara yang meyakinkan.
Tante Sofia tersenyum tipis mendengar pembelaan itu. Ia melirik ke arah Andini, mencoba melemparkan tatapan intimidasi yang biasa ia gunakan di ruang rapat direksi Jakarta. Namun, Andini tidak bergeming sedikit pun. Wanita itu justru membalas tatapan Tante Sofia dengan senyuman tenang—sebuah senyuman dari seorang ratu yang menyadari bahwa lawannya sedang melangkah di atas papan catur yang salah.
Farhan memberikan isyarat kepada Ahmad, kepala divisi legal Al-Fatih Group yang duduk di barisan belakang. Ahmad segera bangkit berdiri sambil membawa sebuah flashdisk dengan enkripsi tingkat tinggi, lalu menyerahkannya kepada petugas sidang untuk ditampilkan pada layar monitor utama Majelis Arbiter.
"Terima kasih, Yang Mulia," buka Ahmad dengan bahasa Inggris yang fasih dan lugas. "Jika pihak lawan mengeklaim bahwa Apex Horizon Ltd adalah entitas investasi yang sah, maka kami ingin mengajukan bukti baru yang belum pernah dibuka di persidangan mana pun. Ini adalah salinan digital manifes transaksi internal dan rekaman komunikasi server dari Apex Horizon yang berhasil kami amankan melalui kerja sama resmi dengan otoritas moneter siber."
Layar monitor besar di ruang sidang menyala, menampilkan bagan alur keuangan yang rumit namun terlihat jernih. Aliran dana puluhan juta dolar dari rekening pribadi Tante Sofia di London tampak berputar-putar melewati beberapa perusahaan cangkang atau shell companies di Panama sebelum akhirnya mendarat di rekening Apex Horizon di Singapura. Dana tersebut digunakan khusus untuk membeli surat utang perusahaan Reno dengan bunga yang sengaja dinaikkan secara tidak wajar.
"Seperti yang Majelis Arbiter lihat, dana ini tidak pernah dialokasikan untuk pembangunan properti. Uang ini sengaja diputar untuk mencekik likuiditas perusahaan saudara Reno, mantan suami dari Ibu Andini Larasati. Dan di sini..." Ahmad mengetuk layar laptopnya, membuka sebuah dokumen percakapan instan yang telah diverifikasi secara forensik. "Terdapat instruksi langsung dari perangkat pribadi yang terdaftar atas nama Karina, keponakan dari Nyonya Sofia, yang memerintahkan agensi humas bayaran untuk menggoreng isu kebangkrutan tersebut demi menghancurkan reputasi Nadir Label dan menggoyang stabilitas saham Al-Fatih Group di bursa efek."
Wajah Richard Sterling mendadak pias. Ia segera menunduk dan berbisik dengan nada mendesak kepada Tante Sofia, yang kini senyumnya sudah sirna sepenuhnya. "Ini adalah bukti siber, Yang Mulia! Kami meragukan validitas dan keaslian dokumen percakapan tersebut! Bisa saja dokumen itu direkayasa oleh pihak penggugat!" sanggah Richard dengan suara meninggi, mencoba mencari celah untuk menyelamatkan argumennya yang mulai runtuh.
"Kami sudah memperkirakan sanggahan Anda, Mr. Sterling," sahut Ahmad dengan ketenangan yang mematikan. Ia berbalik ke arah pintu masuk dan memberikan isyarat kepada petugas keamanan. "Oleh karena itu, kami tidak hanya membawa bukti digital. Kami membawa saksi hidup, pelaku utama yang terlibat langsung dalam pusaran konspirasi ini."
Pintu kayu besar di bagian belakang ruang sidang terbuka perlahan. Dua petugas imigrasi Singapura melangkah masuk, mengawal seorang pria berkemeja putih rapi namun wajahnya tampak kuyu karena kelelahan fisik dan mental. Tante Sofia mendadak menegakkan punggungnya dengan mata membelalak sempurna, napasnya seolah tertahan di tenggorokan saat melihat siapa yang datang.
Reno.
Pria itu berjalan dengan pandangan lurus ke depan, melewati kursi Tante Sofia tanpa menoleh sedikit pun, lalu mengambil posisi di kursi saksi di ujung meja oval. Kehadiran Reno di Singapura adalah kartu as yang sengaja disimpan oleh Farhan dan Andini hingga detik terakhir persidangan ini.
"Sumpah saksi telah diverifikasi oleh otoritas terkait," ujar Arbiter Utama sambil menatap Reno dengan tajam. "Saksi Reno, silakan berikan keterangan Anda terkait keterlibatan Apex Horizon Ltd dalam kepailitan perusahaan Anda."
Reno menarik napas dalam-dalam, menggenggam tangannya sendiri untuk meredam getaran di jemarinya. Ia sempat melirik Andini yang menatapnya dengan tenang, memberikan secercah kekuatan moral yang ia butuhkan untuk menebus kesalahannya.
"Terima kasih, Yang Mulia Majelis Arbiter," ujar Reno, suaranya menggema lewat mikrofon perak di depannya. "Saya berdiri di sini untuk menyatakan bahwa seluruh dokumen siber yang ditunjukkan oleh Al-Fatih Group adalah seratus persen akurat. Perusahaan saya dihancurkan secara sengaja oleh Apex Horizon di bawah arahan langsung dari Karina dan Sofia Al-Fatih. Saya memiliki bukti fisik draf kontrak asli serta rekaman suara telepon saat Karina menawarkan bantuan modal yang ternyata adalah jebakan untuk mempailitkan saya. Tujuannya hanya satu, yaitu memaksa saya menyerang nama baik mantan istri saya, Andini Larasati."
Suasana di dalam ruang sidang SIAC itu mendadak mendingin hingga ke titik beku. Di bawah lampu benderang ruang sidang internasional, benteng kebohongan dan konspirasi yang dibangun Tante Sofia dan Karina selama berbulan-bulan dari London, kini resmi runtuh berantakan tanpa ada lagi tempat untuk bersembunyi.