NovelToon NovelToon
DARI TUKANG PAKIR HINGGA LEGENDA

DARI TUKANG PAKIR HINGGA LEGENDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

tepat di depan sebuah pusat perbelanjaan besar, berdiri seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun.
Tubuhnya ramping, kulitnya agak gelap karena sering terpapar sinar matahari, namun sorot matanya memancarkan keteguhan yang jarang dimiliki anak-anak muda seusianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Di Bawah Bayang Kecurigaan

Langkah kaki Rian menjauh, meninggalkan Serli yang terpaku di lorong kosong itu. Kata-kata Rian tadi masih bergaung keras di telinganya, menusuk jauh ke dalam hati nuraninya yang selama ini ia coba kubur dalam-dalam.

"Apa yang kau bangun di sana... dibangun di atas kebohongan dan darah orang yang pernah mencintaimu." Kalimat itu terasa seperti kutukan yang kini menghantuinya setiap detik.

Serli mengusap kasar air mata yang sempat menetes, menarik napas panjang untuk menenangkan diri, lalu kembali memasang topeng dingin dan berwibawa yang sudah menjadi kebiasaannya. Ia tidak punya pilihan lain selain terus berjalan di jalan yang sudah ia pilih—jalan yang berliku, berbahaya, dan penuh pengkhianatan.

Saat ia kembali ke gedung pencakar langit Darmawan Group, suasana di sana terasa berbeda. Udara terasa lebih berat, dan tatapan para staf serta karyawan yang biasanya penuh hormat kini berubah menjadi pandangan penuh tanya dan bisik-bisik yang tak enak didengar. Serli berjalan lurus menuju ruangan kerja Darmawan, firasat buruk mulai merayap di benaknya.

Belum sempat ia mengetuk pintu, pintu itu terbuka dari dalam. Darmawan berdiri di ambang pintu, wajahnya tidak lagi menampakkan senyum kemenangan yang biasa ia perlihatkan.

Tatapannya tajam, dingin, dan penuh kecurigaan—tatapan yang membuat Serli merinding, mengingatkannya pada posisinya yang sebenarnya: ia bukan mitra, melainkan hanya alat yang bisa dibuang kapan saja.

"Masuk, Serli," ucap Darmawan singkat, lalu berbalik masuk kembali ke ruangannya yang luas dan dingin.

Serli mengikuti dari belakang, hatinya berdebar kencang. Ia tahu Darmawan pasti sudah mendengar kabar tentang seminar tadi, tentang kemunculan Rian, dan tentang perusahaan-perusahaan kecil yang mulai mengganggu dominasi pasar mereka.

"Kau habis dari mana?" tanya Darmawan tanpa menoleh, tangannya merapikan tumpukan berkas di meja besarnya dengan gerakan yang kaku.

"Saya memeriksa salah satu cabang operasional di selatan, Pak. Ada sedikit kendala teknis yang perlu saya tangani," jawab Serli berbohong dengan tenang, meski jantungnya berpacu cepat.

Darmawan berbalik perlahan, menatap Serli lekat-lekat, seolah berusaha menembus kedalaman pikiran wanita itu.

"Benarkah? Padahal menurut laporan yang masuk ke meja saya, kau terlihat di pusat konvensi. Di seminar yang dipimpin oleh... siapa lagi kalau bukan Rian."

Darah Serli seolah berhenti mengalir. Ia tidak menyangka Darmawan mengawasinya sedemikian ketat. Ia menelan ludah, berusaha tetap tenang.

"Ya, Pak. Saya ke sana. Saya ingin melihat langsung apa yang sedang direncanakan oleh Rian. Saya ingin tahu seberapa besar ancaman yang dia miliki, agar kita bisa menyusun strategi untuk mematikannya secepat mungkin."

Darmawan melangkah mendekat, jaraknya semakin dekat hingga Serli merasa tertekan. "Kau yakin hanya itu alasanmu, Serli? Kau tidak pergi ke sana karena rindu? Karena kau masih menyimpan perasaan pada pemuda itu yang dulu kau cintai sebelum kau mengkhianatinya untukku?"

Suara Darmawan meninggi di akhir kalimatnya. Ia melempar selembar foto ke meja—foto yang diambil diam-diam saat Serli dan Rian berhadapan di lorong belakang. Terlihat jelas wajah Serli yang sedih dan Rian yang penuh amarah.

"Lihat ini! Kau terlihat seperti wanita yang sedang meminta maaf, bukan seperti musuh yang sedang memata-matai!" bentak Darmawan, amarahnya mulai meluap. "Aku mengangkatmu menjadi orang nomor dua di perusahaan ini.

Aku memberimu kekayaan, kekuasaan, dan posisi yang kau impikan. Semua itu sebagai ganti pengabdianmu, sebagai ganti janjimu untuk menghancurkan Raka dan keturunannya sampai ke akar-akarnya. Tapi sekarang? Aku mulai ragu dengan kesetiaanmu."

Serli menunduk, menggenggam tangannya erat-erat di samping tubuh. "Saya setia kepada Anda, Pak. Dan saya membenci Rian sama seperti saya membenci ayahnya. Apa yang Anda lihat itu hanya sandiwara saya saja, untuk membuat dia lengah, agar kita bisa menjatuhkannya selamanya."

Darmawan terdiam sejenak, menatap Serli dengan curiga, lalu perlahan amarahnya mereda, digantikan oleh senyum licik yang mengerikan. Ia menepuk bahu Serli pelan.

"Bagus kalau begitu. Tapi ingat satu hal, Serli... aku tahu segalanya tentangmu. Aku yang membesarkanmu, aku yang mengatur hidupmu, dan aku yang memegang masa depan keluargamu. Jangan pernah berpikir untuk bermain mata di belakangku. Karena jika kau berkhianat, nasibmu akan jauh lebih buruk daripada nasib Rian dan ayahnya."

Ancaman itu terucap begitu ringan, namun maknanya begitu dalam dan mematikan. Serli mengangguk patuh, meski di dalam hatinya ia semakin benci dan muak dengan semua ini. Ia sadar, ia terperangkap dalam sangkar emas yang ia bangun sendiri.

"Baiklah. Sekarang dengar rencanaku," lanjut Darmawan, kembali ke kursi kebesarannya. "Rian ternyata memiliki teknologi baru yang sangat berbahaya bagi kita. Kau gagal membawanya saat kau pergi dulu. Itu kesalahan besar."

"Saya tidak tahu itu ada, Pak. Dia menyimpannya sangat rahasia..." jawab Serli membela diri.

"Sudah tidak penting lagi alasanmu," potong Darmawan. "Yang penting sekarang, teknologi itu tidak boleh sampai berkembang. Besok akan ada rapat umum pemegang saham besar. Kita akan melancarkan serangan terakhir. Kita akan menuduh Rian melakukan pencurian kekayaan intelektual dan penipuan industri. Kita punya semua bukti palsu yang sudah disiapkan tim hukum kita. Kali ini, Rian tidak hanya akan bangkrut, tapi dia akan masuk penjara seumur hidup. Baru setelah itu aku akan tenang."

Serli mendengarkan dengan diam, rasa bersalah semakin menyesakkan dadanya. Ia tahu tuduhan itu palsu, ia tahu betapa kerasnya Rian bekerja, betapa cerdas dan jujurnya pemuda itu. Tapi ia juga tahu, Darmawan tidak akan segan-segan melakukan apa saja demi tujuannya.

"Dan kau, Serli," tambah Darmawan sambil menatap tajam. "Kau yang akan menjadi saksi kunci. Kau yang akan bersaksi di depan semua orang, menceritakan bagaimana Rian dulu sering membocorkan data, bagaimana dia tidak jujur. Kesaksianmulah yang akan menjadi paku terakhir di peti matinya."

Hati Serli hancur lebur. Di momen itu, ia diminta bukan hanya membiarkan Rian jatuh, tapi ia diminta menjadi orang yang mendorongnya ke dalam jurang dengan tangannya sendiri. Menghancurkan satu-satunya orang yang pernah tulus mencintainya, orang yang ia khianati, dan orang yang kini satu-satunya yang bisa membebaskannya dari belenggu Darmawan.

"Pak... apakah tidak ada cara lain? Kesaksian saya... orang-orang mungkin akan berpikir saya membalas dendam karena kita pernah berhubungan dulu. Itu bisa merusak kredibilitas perusahaan kita," coba Serli mencari jalan keluar.

Darmawan tertawa sinis. "Justru itu yang akan membuatnya meyakinkan. Semakin dekat kau dengannya dulu, semakin meyakinkan saat kau buka kedok aslinya. Ini perintahku, Serli. Lakukan, atau keluargamu akan menanggung akibatnya. Paham?"

Serli keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai, kepalanya terasa berat dan berputar. Di satu sisi ada rasa takut akan ancaman Darmawan, di sisi lain ada rasa sakit yang tak terlukiskan membayangkan harus berdiri dan bersaksi melawan Rian.

Sementara itu, di ruang kerja sederhananya, Rian sedang tidak diam. Bersama Bram dan tim kecilnya, ia sedang meneliti berkas-berkas lama yang ia temukan kembali dari gudang penyimpanan. Berkas-berkas ini adalah bukti sejarah, jejak masa lalu ayahnya, dan juga jejak kejahatan Darmawan yang sudah tersembunyi selama puluhan tahun.

"Pak Rian," panggil Bram dengan suara bergetar karena antusiasme. "Lihat ini. Ini dokumen resmi dari puluhan tahun lalu. Ternyata keluarga Serli... hancur bukan karena bencana atau kebetulan seperti yang diceritakan Darmawan. Keluarganya bangkrut dan ditangkap karena difitnah oleh Darmawan sendiri. Dia yang merencanakan semuanya, supaya dia bisa mengambil alih aset mereka, dan sekaligus menguasai Serli sejak kecil sebagai alat balas dendam."

Rian menatap dokumen itu lekat-lekat. Kemarahan membara di dadanya, bukan lagi pada Serli, tapi pada Darmawan yang begitu kejam memanfaatkan nasib buruk orang lain demi ambisinya.

"Jadi Serli tidak benar-benar jahat..." gumam Rian pelan. "Dia korban. Dia dibohongi, dimanipulasi, dan dikendalikan seumur hidupnya. Dia mengira dia membalaskan dendam keluarganya, padahal dia sedang bekerja untuk orang yang menghancurkan keluarganya itu sendiri."

Pemahaman itu mengubah segalanya. Rian sadar, pertempuran ini bukan hanya soal bisnis atau kekuasaan lagi. Ini adalah pertempuran untuk mengungkap kebenaran, membebaskan Serli dari kebohongan yang mengungkungnya, dan menjatuhkan Darmawan ke tempat yang seharusnya.

"Besok adalah hari penentuan, Bram," ucap Rian dengan tekad bulat. "Di rapat umum itu, Darmawan akan mencoba menghancurkan saya habis-habisan. Dia akan menggunakan Serli sebagai senjatanya yang paling tajam."

"Kalau begitu apa rencana kita, Pak? Kita sudah kalah jumlah dan modal," tanya Bram khawatir.

Rian tersenyum, senyum yang penuh keyakinan. Ia memegang dokumen bukti yang baru saja ditemukannya, serta dokumen rahasia lain yang membuktikan semua kecurangan dan pencurian yang dilakukan Darmawan selama bertahun-tahun.

"Kita tidak akan bertarung dengan uang, Bram. Kita akan bertarung dengan kebenaran. Besok, di depan seluruh dunia bisnis, saya akan membongkar semuanya. Dan Serli... dia akan dihadapkan pada pilihan terberat dalam hidupnya: tetap menjadi boneka, atau akhirnya berani mengambil keputusan yang benar, meski terlambat."

Malam itu, kedua kubu bersiap untuk pertempuran besar esok hari. Di satu sisi ada kekuasaan, kebohongan, dan ambisi. Di sisi lain ada kebenaran, keadilan, dan cinta yang belum sepenuhnya hilang, meski tertutup rasa sakit.

Dan di tengah-tengah semuanya, ada Serli, yang berdiri di persimpangan jalan, menyadari bahwa besok adalah hari di mana ia harus memilih nasibnya sendiri—apakah akan terus hidup dalam bayang-bayang kebohongan, atau berani menyeberang ke sisi kebenaran, walau harus menanggung risiko nyawa.

1
Indra P.
lanjutkannnn
Indra P.
mantappp.....inspirasi yg hebatt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!