SINOPSIS
Gretta Alesia Nobara, 18 tahun, pindah ke SMA Binara 2 untuk melarikan diri dari trauma perundungan di sekolah lama. Ia mengubah penampilannya agar lebih percaya diri dan bertekad memulai hidup baru dengan fokus pada pelajaran.
.
Gian Leminzo cowok pemalas di kelas bahkan sering tidur saat guru menerangkan, di snagat tampan dan di sukai banyak cewe tapi dia selalu menghiraukan cewek-cewek yang mendekatinya.
Namun pertemuan Gretta dengan Gian menjadi sebuah hal yang tidak terduga di antara keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 TRAGEDI PINTU ROBOH
Atmosfer di dalam apartemen malam itu mendadak berubah mencekam. Jika beberapa menit lalu tempat itu terasa hangat oleh aroma masakan, kini hawanya berubah sedingin kutub utara, namun diiringi letupan lava kemarahan. Gian berdiri di depan pintu kamar Reo dengan berkacak pinggang, napasnya memburu bagai banteng yang siap menyeruduk.
“REOOO! APA KAMU MENDENGARKU, HAH?!” teriak Gian, suaranya menggelegar hingga membuat pajangan dinding sedikit bergetar.
Dari balik pintu kayu yang tertutup rapat, terdengar suara sahutan yang teredam, terdengar begitu santai dan tanpa dosa hingga membuat urat di dahi Gian berdenyut-denyut.
“Ahhh, sudahlah... kamu ikut serta saja, Gian! Gak usah ribet!” teriak Reo dari dalam kamarnya, masih asyik menatap layar ponsel yang terus berbunyi ting-ting-ting dari grup chat baru mereka.
Mendengar jawaban yang luar biasa meremehkan itu, tingkat kesabaran Gian langsung merosot tajam ke angka nol. Dengan langkah tegap yang berdentum keras, Gian mendekati pintu kamar Reo. Tanpa ampun, ia mulai menggedor-gedor pintu itu dengan kepalan tangannya.
BAM! BAM! BAM! BAM!
“Keluar tidak?! Atau aku dobrak pintu kamarmu sampai hancur!” pekik Gian kesal, matanya sudah menyala-nyala penuh amarah.
“Sudahlah, ikut aja napa, Gian? Jangan kayak orang angkuh deh!” sahut Reo lagi, masih mencoba bertahan di benteng pertahanannya.
“Cepat bukaaa!!! Jangan sampai aku hilang kesabaran ya, Reo!” teriak Gian.
“Aduh, lagian kamu kan tidak ada rencana pas libur nanti! Kapan lagi kita liburan bareng anak-anak? Ini kesempatan emas!” pekik Reo dari balik pintu, mencoba menyuarakan logika dan meluluhkan hati Gian yang sekeras batu karang.
Namun, Gian tidak butuh logika. Gian butuh keadilan bagi privasinya yang baru saja dirampas.
Mendengar Reo yang masih saja mengoceh dari dalam, Gian mengambil satu langkah mundur. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh tenaga di kaki kanannya. Tanpa aba-aba, tanpa hitungan mundur, Gian langsung melayangkan sebuah tendangan maut ke arah pintu kamar Reo.
BRRAAAKKKKKK!!! CRASH!!!
Suara hantaman keras itu terdengar begitu dramatis. Engsel pintu besi itu menyerah kalah, jebol seketika dari kusennya. Pintu kayu yang cukup berat itu tumbang ke depan, melayang, dan langsung mendarat dengan sukses di atas tubuh seseorang yang ternyata sedang berdiri tepat di balik pintu tersebut.
“UWARGHHH!”
Itu adalah suara Reo. Malang seribu malang, Reo yang sedari tadi berdiri bersandar di pintu sambil menguping, tidak siap menerima serangan dari Gian. Alhasil, tubuhnya langsung ambruk ke lantai, tertimpa dengan sempurna oleh pintu kamarnya sendiri. Reo kini tampak seperti korban gempa bumi yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan, hanya menyisakan tangan dan kakinya yang menggapai-gapai udara dengan tragis.
Interogasi di Ruang Tamu
Hening sejenak. Gian menatap pemandangan di depannya dengan napas tersengal-sengal. Rasa kesalnya sedikit tergantikan oleh rasa puas, namun ia belum selesai.
“Reooo... kamu berani-beraninya ya memasukkan nomorku di grup rencana gila kalian!” ujar Gian dengan nada suara yang sengaja ditekan rendah, terdengar sangat mengintimidasi.
Dengan santai, Gian melangkah maju, lalu menepis pintu yang copot itu dari atas badan Reo yang terkapar lemas. Tanpa memberi waktu bagi Reo untuk mengumpulkan jiwanya yang hampir terbang, Gian langsung meraih kerah baju Reo dengan satu tangan. Ia menarik tubuh Reo itu, menyeretnya dengan dramatis melintasi lantai koridor hingga ke ruang tamu, seolah-olah Reo adalah sekarung beras pasaran.
BRUK!
Gian mendorong Reo hingga terduduk di atas sofa ruang tamu. Gian berdiri tegak di depan Reo, melipat tangan di dada dengan tatapan menghakimi.
“Jawab! Kenapa kamu masukkan aku tanpa seizinku? Kamu tahu kan aku tidak suka perkumpulan berisik seperti itu?!” pekik Gian marah.
Reo, yang posisi duduknya masih sedikit miring, mendadak memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Wajahnya berkerut, matanya terpejam rapat, dan ia mulai meracau dengan suara lemas yang sangat dibuat-buat.
“Awww... sakit banget... pinggangku mau patah... kepalaku juga... ahhh, berdarahhh... ehhhhh tiba tiba kepalaku pusing kerena hantaman pintu...”
Kepala Reo terkulai ke belakang, bersandar di sofa dengan mulut sedikit terbuka. Ia berpura-pura pingsan demi menghindari amukan badai Gian.
Gian memutar matanya malas. Ia melangkah mendekat lalu mengguncang-guncang tubuh Reo dengan kasar. “Reoo! Gak usah pura-pura! Aku tahu kamu cuma akting ya! Bangun gak?!”
“Iya, iya! Aku tidak pura-pura! Ini beneran sakit banget, Bodoh!” pekik Reo mendadak melek, merutuki guncangan tangan Gian yang membuat otaknya makin berputar. “Kepalaku habis ketiban pintu kayu, kamu pikir rasanya kayak dijatuhin kapas?! Sakit tauk!”
Reo mengusap dahinya, dan ketika ia melihat jarinya, ada setetes darah segar di sana. “Tuh, liat! Berdarah beneran kan!”
Melihat warna merah di jari Reo, kilatan amarah di mata Gian mendadak padam, digantikan oleh sedikit rasa bersalah yang coba ia sembunyikan rapat-rapat. Walaupun pembawaannya sedingin es batu di kutub, bagaimanapun juga Gian tetap saja peduli pada Reo ini.
“Iya, maaf. Aku tidak sengaja,” jawab Gian dingin, meskipun langkah kakinya langsung bergerak cepat menuju laci di bawah televisi untuk mencari kotak P3K.
Pengobatan yang Sadis
Gian kembali dengan kotak obat di tangannya. Ia duduk di dekat Reo, membuka tutup botol obat merah dengan gerakan efisien.
Sebuah senyuman tipis yang terlihat sedikit jahat dan penuh intrik muncul di bibir Gian. “Tahan yah... pasti sedikit sakit,” bisiknya dengan nada yang sengaja dibuat menyeramkan.
“Iya, hati-hati! Sakit tau, jangan ditekan!” saut Reo was-was, matanya melirik ngeri pada kapas yang sudah dibasahi obat merah.
Dengan perlahan dan hati-hati, Gian mulai menepuk-nepuk luka di dahi Reo. Di tengah keheningan proses pengobatan itu, Gian akhirnya bertanya dengan nada suara yang jauh lebih tenang, namun tetap menuntut penjelasan.
“Kenapa kamu menambahkan aku ke grup itu? Aku benar-benar tidak ingin ikut dengan kalian, Reo. Aku lebih baik menjaga apartemen,” ujar Gian pelan, jemarinya bergerak telaten mengobati kepala Reo yang terluka.
Reo terdiam sejenak, menatap langit-langit apartemen, lalu sebuah ide jail melintas di otaknya. Dengan wajah tanpa dosa, ia menjawab spontan, “Emmm... biar kamu bisa bermesraan dengan Gretta.”
DEG!
Tangan Gian membeku. Kata 'Gretta' seperti sebuah tombol pemicu bom di dalam kepalanya. Secara refleks, akibat rasa terkejut dan malu yang bercampur aduk, tangan Gian yang memegang kapas langsung menekan keras-keras tepat di atas luka robek di dahi Reo.
“AW AW AW!!! PELAN-PELAN DONG! SAKITTT!” pekik Reo histeris, air matanya hampir keluar akibat rasa perih yang luar biasa menembus tengkoraknya. Ia refleks menepis tangan Gian dengan kesal.
Gian sendiri langsung melotot, wajahnya mendadak memerah sampai ke telinga. “Apa katamu?!”
“Sudahlah! Aku obatin sendiri aja! Bisa-bisa aku mati pendarahan kalau kamu yang obatin!” ujar Reo sewot. “Ambilkan cermin kecil di sebelahmu itu!”
Gian, dengan perasaan dongkol yang tertahan di dada, meraih cermin kecil di atas meja dan menyodorkannya pada Reo. Reo menerimanya dengan jengkel, lalu mulai mengaca dan menepuk-nepuk lukanya sendiri sambil meringis.
“Tidak, kamu bilang apa tadi? Gretta?” pekik Gian, berusaha keras menaikkan volume suaranya untuk menyembunyikan kepanikan dan perasaannya yang sebenarnya. “Maaf ya, aku tidak suka dengan cewek kayak dia! Berisik, merepotkan!”
Senjata Pamungkas dan Akhir Perdebatan
Reo hanya melirik Gian dari balik cermin dengan senyuman meremehkan. Ia tahu betul kartu as Gian.
“Sudahlah, kalau kamu tidak suka ya sudah, gak usah ngegas,” ujar Reo santai, mengembalikan cermin itu ke meja dan tak lupa menaruh perban kecil di dahinya. Namun, sedetik kemudian, wajah Reo berubah serius dan penuh kelicikan.
“Pokoknya, kamu harus ikut kemping. Titik. Gak ada penolakan. Kalau kamu sampai tidak ikut... aku bakal melaporkanmu ke Tante Nesa!” ancam Reo terang-terangan. “Aku akan bilang kalau anaknya yang kejam telah menyiksa keponakan yatim piatunya yang malang ini sampai kepalanya bocor dan pintu kamarku lepas menghantam tubuhku yang mungil ini, betapa sakit pinggang ku!”
Mendengar nama 'Tante Nesa' disebut, nyali Gian yang tadinya setinggi langit langsung ciut seketika. Kebetulan, mereka berdua adalah sepupu. Orang tua Reo sudah meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan sejak Reo masih berusia 12 tahun. Sejak saat itu, Reo tinggal dan dibesarkan oleh keluarga satu-satunya yang tersisa, yaitu mama Gian. Dan di mata Mama Gian, Reo adalah anak emas yang tidak boleh terluka seujung kuku pun. Jika Mama Gian tahu dahi Reo bocor karena tendangan Gian, tamatlah riwayat Gian. Bisa-bisa kartu ATMnya di bekukan.
“Berani sekali kamu mengancamku pada Mama!” ujar Gian kesal setengah mati. Karena gemas, ia mengulurkan tangannya dan mengacak-ngacak rambut Reo dengan sangat brutal.
“Ah! Sakit tauk! Rambutku jangan dirusak, badut!” pekik Reo dengan nada manja yang sengaja dibuat-buat agar terlihat mengemaskan.
“Iya, maaf, gak sengaja,” jawab Gian ketus dan santai, mengulangi kalimat Reo sebelumnya.
Reo terbelalak, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Dengan santai kamu minta maaf?! Setelah apa yang kamu lakukan sampai pintu kamarku lepas dari tempatnya, hah?!” Reo menggeleng-gelengkan kepalanya, meratapi nasib pintunya yang kini tergeletak tak berdaya di lantai koridor.
Gian mengembuskan napas pendek, menyerah pada keadaan. Menghadapi Reo yang bersekutu dengan mamanya adalah misi bunuh diri.
“Iya, besok aku benerin pintunya,” jawab Gian kesal, memijat pelipisnya yang mulai terasa pening. “Gimana? Kau mau ikut tidak? Atau perlu kuiket terus kuseret biar mau?” tanya Reo.
Gian mengalihkan pembicaraan, yang secara tidak langsung mengonfirmasi bahwa ia terpaksa ikut kemping.
Mata Reo langsung berbinar cerah. Rasa sakit di dahinya mendadak hilang tanpa bekas. “Benarkah?! Kamu beneran ikut?!” saut Reo kegirangan.
“Sudahlah, kau sana! Jauh-jauh dariku, aku mau tidur,” ketus Gian, berbalik di depan pintu kamarnya sendiri. “Jangan lupa beresin piring kotor bekas makanmu tadi, dan letakkan kembali kotak P3K itu di tempatnya!”
Reo memberikan sikap hormat dua jari dengan senyum lebar yang sangat menyebalkan. “Siap, Boss!”
Gian hanya mendengus, masuk ke kamarnya, dan menutup pintu dengan bantingan keras, meninggalkan Reo yang tersenyum kemenangan di ruang tamu, siap meluncurkan serangan obrolan berikutnya di grup chat kemping.