Berawal dari pertemuan di sebuah pernikahan menjadi kisah cinta yang rumit. Kisah antara Devika Nala Arutala dengan Raditya Arya Wijaya. Bagi Arya, Nala bukan hanya masa kini namun juga masa lalu. Masa lalu yang tak mungkin bisa ia lupakan begitu saja.
Berawal dari pertemuan tanpa sengaja di sebuah pernikahan. Sekian lama kembali bertemu, Arya mengetahui sebuah rahasia tentang kisah mereka di masa lalu, membuat tekadnya yang padam menjadi membara.
Pertemuan mereka bukanlah hanya sebuah kebetulan, namun takdir. Bertemu kembali, mengulang kisah. Jika dahulu berakhir menyedihkan, maka kini haruslah indah. Air mata yang dulu tumpah haruslah berganti menjadi pelangi.
Waktu mungkin saja berjalan, namun hati selalu tahu tempat mereka pulang. Bunga yang layu mampu kembali mekar, sama seperti manusia. Ada saatnya kita layu untuk merenung dan mekar untuk bersinar. Cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, ia hanya layu untuk mengajarkan kita cara merawatnya dengan lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 - Benang Merah
Di dalam pesawat, Arya memandangi lautan awan yang menghiasi langit. Tampak sangat lembut tumpukan awan itu. Dirinya begitu tak sabar sampai di Jakarta, mempersiapkan segalanya. Menyiapkan sebuah sangkar emas untuk Vika-nya. Vika-nya akan menjadi burung yang sangat menawan dan anggun serta akan terjerat dengannya. Membayangkan hal itu, Arya menutup matanya. Fantasinya akan masa depan yang ia inginkan begitu dalam. Kevin yang duduk di samping Arya merasa merinding saat melihat obsesi dari bosnya sangat kentara.
“Kau akan selalu bersamaku setelah ini, sayang.”
...****************...
Hari Pernikahan
Pagi dan siang nanti adalah acara akad si kembar. Dekorasi ruangan bertema adat Jawa begitu kental. Para pengantin wanita memakai kebaya putih dan mempelai pria memakai beskap dengan warna yang senada, yaitu putih. Prosesi acara begitu hikmat. Meskipun berlangsung 2 akad sekaligus, namun acara tetap terasa khidmat.
Jika semua sedang bergembira, berbeda dengan Arya. Memakai beskap berwarna hijau senada dengan keluarga besarnya, Arya tampak berbeda. Matanya bergerak liar menelusuri setiap inci gedung pernikahan. Namun yang ia temukan hanya Dipta yang sedang berbicara dengan keluarganya di dampingi Maya. Sosok dicarinya tak kunjung ia temukan.
Dimana Vika-ku? Apa Dipta benar-benar menyembunyikannya? batin Arya panas. Rahangnya mengeras. Ia merasa Dipta sengaja menjauhkan adiknya agar tidak bertemu dengannya. Namun, dirinya tak mengerti alasan dibalik itu jika pemikiran itu benar. Di masa lalu, hubungan antara dirinya dengan Vika sangat tersembunyi. Vika hanya bercerita bahwa dirinya telah menceritakan soal hubungan mereka tanpa menunjukkan fotonya. Bahkan Dipta tampak biasa saja selama ini. Tak ada gejolak apapun saat mereka bertemu, baik itu kantor polisi semasa menjadi polisi hingga saat ini.
“Dipta, katanya adikmu pulang. Dimana dia?” tanya Arya basa-basi
Dipta tertawa melihat rasa penasaran yang kental dari wajah temannya itu. Sejak dulu, dirinya memang selalu menceritakan adiknya itu pada Arya tanpa menunjukkan foto Nala. Mungkin rasa penasaran Arya sedang melambung tinggi, hingga temannya yang dingin ini mau bertanya kepadanya.
“Dia tak bisa hadir di acara akad. Dia ada pekerjaan yang tak bisa ia tinggal. Resepsi nanti baru bisa hadir,” jelas Dipta
Tak hanya Dipta yang keheranan, Maya dan para orang tua juga terheran-heran melihat Arya yang penasaran dengan seseorang. Bahkan kedua pasang pengantin itu saling pandang melihat keanehan Arya.
“Ada apa dengan Bang Arya?” heran Agas
“Gue nggak tau, yang jelas Bang Arya lagi aneh.”
“Yang, rencana kita jadi?” tanya Citra pada Agas
Agas melirik ke arah Arsyad seolah meminta persetujuan. Memang kedua pasangan pengantin itu memiliki rencana tersembunyi di acara pernikahan mereka. Rencana menjodohkan saudara dan sahabat dari masing-masing pihak. Mereka berpendapat sosok ceria seperti Nala sangat dibutuhkan untuk masuk ke dalam kehidupan Arya yang dingin.
“Jadi!” ujar si kembar bersamaan. Apalagi mereka menangkap rasa penasaran Arya terhadap Nala. Bukankah itu menunjukkan awal yang bagus.
Malam Hari, Resepsi Pernikahan
Gedung pernikahan itu disulap menjadi taman bunga yang megah bernuansa biru dan putih, warna favorit kedua couple itu. Arsyad dan Agas tampak gagah berdiri menunggu kedatangan mempelai wanita dengan jas hitam yang mereka kenakan. Tak lupa bunga mawar putih di saku jas Agas dan mawar biru di saku jas Arsyad. Arya yang berdiri di belakang Agas dan Dipta berdiri di belakang Arsyad tak kalah tampan. Jas biru navy sangat pas dengan tubuh atletis keduanya. Kesan menawan sungguh tak terbantahkan.
“Gugup?” bisik Dipta tempat di telinga Arsyad. Arsyad hanya mengangguk sebagai jawaban.
Tak hanya mempelai pria saja yang merasa gugup, Arya juga merasakan hal yang sama. Dengan sengaja ia memperhatikan penampilannya, menunjukkan penampilan yang sempurna. Rambut yang tertata rapi, dan aroma parfum oceanic yang sengaja ia semprotkan lebih banyak—berharap mampu menarik perhatian Vika-nya, Nala.
Sebuah lagu di putar. Mempelai wanita masuk ke dalam ruangan. Mempelai wanita memakai gaun putih yang sangat indah. Di tangan kedua wanita membawa buket bunga. Citra dengan mawar putih dan Zara dengan mawar biru, sesuai dengan bunga yang terpasang pada pengantin pria.
Di belakang mempelai wanita, para bridesmaids juga tampil cantik dengan gaun berwarna hijau sage. Nala tampil dengan rambutnya disanggul modern, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah cantiknya. Sebuah tusuk konde dengan kristal zamrud milik neneknya berkilau di sana, menambah kesan ningrat yang tak terbantahkan. Begitu juga dengan Maya, memakai gelang giok berwarna hijau dari nenek. Semua orang terpana tak hanya pada mempelai pengantin, tetapi juga pada pengiringnya.
Mereka berjalan perlahan menuju area utama resepsi. Menarik perhatian para tamu. Begitu juga dengan Arya. Arya begitu terpana dengan penampilan menawan milik Nala. Sangat cantik hingga Arya lupa cara bernapas.
"Bang, kau melamun?" Suara Agas menyentaknya saat tak sengaja melihatnya tampak melamun.
“Tidak.” Elakan dari Arya hanya menjadi angin lalu bagi Agas. Dalam sekali lihat, Agas tau bahwa sepupunya itu terpana pada salah satu pengiring wanita. Dan tatapannya itu tertuju pada satu orang, tepat di belakang Citra, Nala.
Saat mempelai wanita mendekat, mempelai pria mengulurkan tangan mereka untuk menjangkau pasangan mereka. Para pengiring segera berjalan ke arah mempelai pengantin. Arya yang berdiri di samping Nala, membuat degupan jantungnya menjadi cepat. Harum melati yang menenangkan tercium.
Di tengah acara, Dipta berjalan mendekati Dipta. Arya yang saat itu berada dalam lingkar keluarga besarnya menyadari kehadiran Dipta.
“Wah, Dipta siapa si cantik ini?” tanya Hanifah yang terpesona dengan wajah ayu milik Nala.
“Tante, om, kakek, nenek, kenalkan, ini adikku yang baru pulang dari luar negeri. Nala, ini Arya, teman lama kakak sekaligus sepupu dari Arsyad dan Agas. Itu Tante Hanifah dan Om arif orang tua Arya. Dan itu Kakek Gatot dan Nenek Lestari.”
“Salam kenal, tante, om, kakek, nenek, mas.” Nala sedikit membungkuk menunjukkan kesopanan. Arya mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan.
“Arya,” ujarnya lirih
“Nala, mas,” ucapnya lembut sambil mengulurkan tangan.
Arya membeku. Mata itu... mata yang dulu menatapnya dengan penuh cinta, kini hanya menatapnya dengan kesopanan formal seorang asing. Tak ada binar pengenalan. Tak ada getaran rindu.
Nala sedikit memiringkan kepalanya, tampak bingung saat melihat Arya yang terpaku melihatnya. “Mas Arya?” ujarnya sambil melambaikan tangan satunya yang tak dijabat Arya.
“Ah iya?”
“Bisa dilepas?” ucapnya sambil menunjukkan tangannya yang masih dipegang erat oleh Arya. Padahal jabatan tangannya telah ia lepas, namun Arya tak kunjung melepasnya.
Deg. Jantung Arya seolah dihantam godam besar. Ia melepaskan jabatannya dengan perasaan hancur.
“Ah, maaf Nala!”
“Tak masalah, mas.”
Namun, saat tangan Nala turun, mata elang Arya menangkap sesuatu di pergelangan tangan gadis itu. Sebuah gelang perak tipis dengan bandul huruf 'R'.
“Gelang yang bagus.” Pujinya dengan sengaja, memancing sesuatu yang membuatnya penasaran.
Nala memperhatikan gelang yang terpasang di tangannya. Gelang dengan tali hitam dan bandul perak berbentuk huruf R. Tanpa Nala sadari, tangannya bergerak mengelus bandul gelang itu dan tersenyum.
“Terima kasih!”
“Ada arti khusus?” tanya Arya yang kembali memancing
“Aku kurang tau. Aku tak mengingatnya. Hanya saja, aku tak tega untuk melepasnya”
Mendengar itu, senyum samar muncul di wajah Arya. Itu gelang pemberiannya. Tanda bahwa Vika adalah miliknya. Gelang itu masih di sana, melingkar manis di kulitnya, seolah setetes harapan mulai muncul.
Berbeda dengan Arya, Dipta memandang aneh Arya. Instingnya mengatakan bahwa Arya sengaja menanyakan hal itu, seolah ingin mencari tau sesuatu.
“Bro,” panggilnya
“Tenang, santai bro. Aku hanya penasaran dengan gelangnya. Namanya tak berhubungan dengan awalan R, namun memakai gelang huruf R. Just it.”
Kemudian Arya memilih memisahkan diri dan bergerak ke sudut ruangan. Melirik ke arah Kevin untuk segera mengikutinya.
"Kevin, cari tahu semuanya. Sekarang!" perintah Arya di sudut ruangan yang sepi.
...****************...
Acara mencapai puncaknya saat kedua pasangan pengantin—Arsyad-Zara dan Agas-Citra—berdiri di atas pelaminan dengan buket bunga. Para tamu lajang berkumpul, namun si kembar telah berbagi lirik nakal satu sama lain. Mereka punya target utama: Nala.
"Satu... dua... tiga!"
Arsyad-Zara dan Agas-Citra melempar buket mereka secara bersamaan. Namun, pemandangan itu membuat para tamu terkesiap. Kedua buket bunga itu ternyata tidak terbang terpisah; ada seutas tali merah yang mengikat erat kedua tangkai buket tersebut, menciptakan jembatan warna yang kontras di udara.
Nala yang sedang berdiri terpaku, tidak sempat menghindar. Salah satu buket mendarat tepat di dekapannya, namun tarikan tali merah itu menyeret buket pasangannya ke arah lain.
Bruk!
Tepat sebelum ia limbung, sebuah lengan kokoh melingkar di pinggangnya dari belakang, sementara sebuah tangan besar lainnya menangkap buket yang satunya lagi.
Wangi oceanic itu kembali menyerbu indra penciuman Nala. Dingin, segar, dan sangat maskulin.
Seluruh gedung seketika riuh dengan sorakan dan tepuk tangan. Nala mendongak dan mendapati wajah Arya hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya. Posisi mereka seolah sedang berpelukan, dengan masing-masing membawa buket bunga yang terikat benang merah.
Wajah Nala memerah sempurna, panas menjalar hingga ke telinganya. Ia mencoba melepaskan diri, namun cengkeraman Arya pada pinggangnya semakin menguat.
“Mas Arya... bisa dilepaskan? Semua orang melihat,” bisik Nala gugup