"Menjadi asisten pribadi seorang CEO paling dingin di ibu kota bukanlah rencana awal hidupku."
Bagi Kenzo, perfeksionisme adalah segalanya. Baginya, asisten bukan sekadar pembantu, tapi mesin yang harus bekerja 24/7 tanpa celah. Namun, kedatangan asisten barunya yang "tak terduga" mulai mengacaukan ritme hidupnya yang kaku.
Ia tidak menyangka bahwa di balik kopi yang selalu pas suhunya dan jadwal yang tertata rapi, asistennya menyimpan rahasia besar yang bisa menjungkirbalikkan dunia bisnisnya. Setiap babak baru dalam hubungan mereka hanyalah awal dari lapisan misteri dan percikan rasa yang lebih dalam.
Akankah hubungan profesional ini tetap pada jalurnya, atau justru terjebak dalam permainan perasaan yang tak berujung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamar Pengantin yang Sesungguhnya
Langkah kaki Kenzo terasa begitu ringan saat dia menggendong Nabila melewati lorong koridor menuju pintu masuk penthouse pribadinya. Nabila sudah lelah protes. Sepanjang jalan dari pelabuhan sampai masuk ke dalam lift khusus, dia hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang super merah di ceruk leher Kenzo.
Begitu pintu jati besar itu terkunci otomatis dengan bunyi klik yang solid, Kenzo perlahan menurunkan Nabila. Bukannya langsung melepas, tangan kekar Kenzo justru tetap melingkar di pinggang ramping Nabila, mengunci tubuh gadis itu di antara dadanya dan pintu kayu di belakang mereka.
"Kenzo... lepasin dulu, ih. Aku mau mandi, gerah banget dari siang kena angin pelabuhan," bisik Nabila, matanya bergerak panik ke segala arah asal tidak menatap mata elang suaminya yang sekarang kelihatan sangat intens.
Kenzo tersenyum tipis, jenis senyuman yang selalu berhasil membuat lutut Nabila lemas. "Enggak ada lari-lari lagi hari ini, Nyonya Aditama. Handphone gue udah mati, handphone lo udah dipegang Surya, dan pintu ini nggak bakal kebuka sampai besok pagi. Lo tahu artinya apa?"
"A-apa?" Nabila menelan ludah, detak jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat.
"Artinya... waktu lo sepenuhnya cuma buat gue." Kenzo menunduk, mengecup kilat ujung hidung Nabila sebelum akhirnya melepaskan kungkungannya dan membiarkan istrinya itu bernapas lega. "Mandi gih. Gue juga mau mandi di kamar sebelah. Jangan lama-lama, atau gue yang jemput lo ke dalam."
Nabila langsung melesat masuk ke dalam kamar mandi utama tanpa menengok lagi. Di bawah guyuran air hangat, Nabila menyentuh dadanya yang masih bergemuruh. Rasa takut, cemas, dan sedih karena drama video palsu sang ayah seolah luruh bersama air yang mengalir. Dia merasa sangat beruntung. Di saat pria lain mungkin akan memilih mundur karena rumitnya masa lalu keluarga mereka, Kenzo justru maju paling depan dan menjadikannya prioritas utama.
Tiga puluh menit kemudian, Nabila keluar dengan mengenakan piyama satin berwarna merah marun yang longgar. Rambut hitamnya yang setengah basah dia biarkan terurai di bahu. Begitu dia melangkah ke area tempat tidur, suasananya sudah berubah total. Lampu utama kamar sudah dimatikan, digantikan oleh cahaya temaram dari lampu tidur di sudut ruangan dan deretan lilin aromaterapi yang mengeluarkan wangi vanila yang menenangkan.
Kenzo sudah menunggu di sana. Pria itu menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, hanya mengenakan celana panjang hitam dan kaos oblong putih polos yang pas di badannya, mengekspos bentuk tubuhnya yang atletis. Di tangannya ada sebuah pengering rambut (hair dryer).
"Sini duduk," panggil Kenzo sambil menepuk area kasur di depannya.
Nabila berjalan pelan lalu duduk membelakangi Kenzo. Tanpa sepatah kata pun, Kenzo menyalakan pengering rambut itu dengan kecepatan rendah. Jemari tangan Kenzo yang besar dan hangat perlahan menyisir rambut Nabila yang basah, mengeringkannya dengan sangat telaten dan lembut. Perlakuan manis yang tak terduga dari seorang CEO yang biasanya kasar dan dingin ini membuat mata Nabila berkaca-kaca karena terharu.
"Kenzo..."
"Hmm?"
"Makasih ya udah selalu ada buat aku dan Ayah. Aku nggak tahu harus bales semua kebaikan kamu pakai apa," ucap Nabila tulus di sela-sela suara pelan pengering rambut.
Kenzo mematikan alat itu lalu menaruhnya di meja nakas. Dia membalikkan tubuh Nabila agar mereka saling berhadapan. Kenzo menangkup wajah Nabila dengan kedua tangannya, ibu jarinya mengusap lembut pipi mulus istrinya.
"Gue nggak butuh lo bales pakai apa-apa, Bil. Cukup lo tetep di samping gue, jangan pernah kepikiran buat kabur naik taksi lagi di tengah malam kayak kemarin. Itu udah lebih dari cukup buat gue," kata Kenzo dengan suara yang sangat rendah dan lembut, sarat akan rasa sayang yang mendalam.
Nabila mengangguk, tersenyum manis dengan sisa air mata di sudut matanya. "Aku janji nggak bakal kabur lagi."
Kenzo mendekatkan wajahnya perlahan. Kali ini, tidak ada keraguan, tidak ada interupsi dari telepon Surya, dan tidak ada ancaman video palsu. Buku jari Kenzo mengusap bibir Nabila sebelum menyentuhnya dengan kelembutan yang memabukkan, sebuah ciuman yang menjadi segel atas janji suci pernikahan mereka yang sesungguhnya. Nabila memejamkan matanya, membalas ciuman itu sambil mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh Kenzo.
Malam itu, di kamar pengantin yang sesungguhnya, badai yang sempat mengguncang di luar sana benar-benar lenyap. Hanya ada kehangatan dan penyatuan dua hati yang telah melewati begitu banyak rintangan berdarah. Sang singa akhirnya berhasil mendapatkan pawang hatinya seutuhnya, dan tak ada satu pun orang di dunia ini—termasuk kakeknya—yang bisa merebut hal itu darinya.
Keesokan paginya, cahaya matahari fajar menembus gorden kamar yang sedikit terbuka. Nabila terbangun dengan posisi kepala yang bersandar nyaman di dada bidang Kenzo. Tangan kekar suaminya itu masih memeluk pinggangnya dengan sangat posesif, bahkan dalam keadaan tidur sekalipun.
Nabila tersenyum geli, dia iseng memainkan jari-jari tangan Kenzo. Namun, saat matanya beralih ke arah meja nakas, dia melihat sebuah amplop putih besar berselimut pita emas tiba-tiba sudah ada di sana. Padahal semalam amplop itu sama sekali tidak ada.
Nabila pelan-pelan melepaskan pelukan Kenzo agar tidak membangunkan suaminya, lalu meraih amplop misterius itu. Di bagian depannya, tertulis sebuah kalimat pendek dengan tinta emas yang elegan:
"Pernikahan yang sah membutuhkan restu yang sah. Datanglah ke alamat ini jika kamu ingin tahu akhir dari permainan catur kita, Kenzo. - Wijaya Aditama."
Nabila menahan napasnya. Sang Kakek ternyata bergerak lebih cepat dan lebih dekat daripada yang mereka duga. Dia bahkan bisa menyusupkan surat ke dalam kamar privasi mereka tanpa ketahuan oleh sistem keamanan Aditama yang super ketat.